
Setelah menghubungi dokter, kepala preman pun kembali mendekati bosnya yang masih tampak memperhatikan Diego dan Sastro.
"Tuan, saya sudah menghubungi Dokter dan sebentar lagi Dokter itu akan tiba di sini," ucap kepala preman.
"Bagus, kau memang selalu bisa diandalkan dan bekerja dengan cepat," puji pria itu.
"Terima kasih banyak Tuan," ucap kepala preman.
"Ya sudah aku harus pergi sekarang karena masih ada urusan lain. Pastikan jika 2 tawanan ini baik-baik saja dan jangan sampai kabur," kata pria tersebut.
"Baik Tuan, saya pastikan mereka tidak akan pernah lolos dari gudang ini," kata kepala preman.
"Ya aku percaya padamu," ucap pria tersebut, lalu pergi meninggalkan gudang, bahkan meninggalkan rumah tua tersebut.
Sementara kepala preman masih berada di dalam untuk menjaga tawanannya. Akan tetapi tiba-tiba saja perutnya terasa mulas, sehingga ia pun pergi ke toilet dan tentunya ada preman lain yang berjaga di depan pintu.
"Diego, sepertinya ini sudah aman," ucap Sastro yang membuka matanya itu.
Karena terdengar jelas suara pintu yang terbuka dan tertutup, sehingga Sastro tahu jika saat ini kepala preman sedang keluar dari gudang dan tidak ada yang mengawasi mereka di dalam. Lalu Diego pun membuka matanya secara perlahan, sedari tadi ia dan ayah mertuanya tersebut hanya berpura-pura pingsan.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang Ayah?" Tanya Diego.
"Kita harus bisa keluar dari sini Diego. Sepertinya dari suara yang Ayah dengar, orang yang memerintahkan para preman tadi itu bukanlah Erros," kata Sastro.
"Sepertinya memang bukan Yah, aku juga mendengarnya," ucap Diego.
"Lalu siapa mereka? Diego apa kau baik-baik saja, apa kau benar-benar masih bisa bertahan?" Tanya Sastro yang merasa khawatir, mengingat Diego yang tadi dipukuli sebanyak 2 kali pada bagian perutnya.
Untung saja keduanya masih sadar, mereka hanya berpura-pura kalah dan pingsan untuk melanjutkan rencana agar mengetahui di mana markas para preman itu dan siapa dalang dibalik semuanya.
Kira-kira setengah jam yang lalu saat Diego dipukuli dan terlihat sangat lemah, sedangkan Sastro saat itu juga sedang dihajar oleh para preman lainnya sehingga tidak bisa menolong menantunya tersebut, di saat itu Diego dan Sastro terlihat saling memberi kode melalu mata.
Sehingga Diego yang tak mau mati konyol di tangan preman, apalagi misinya juga belum selesai tetapi ia juga tidak mungkin mampu untuk melawan lagi, pada akhirnya ia memutuskan untuk berpura-pura pingsan terlebih dulu.
"Diego!" Teriak Sastro yang berpura-pura syok dan hendak menghampiri menantunya tersebut.
Akan tetapi tiba-tiba saja ada seseorang yang memukulnya dari belakang yang menyebabkan Sastro ambruk begitu saja. Meskipun sebenarnya sangat sakit dan Sastro juga hampir pingsan, tetapi nyatanya ia tak selemah itu. Sastro masih tetap sadarkan diri, tetapi Sastro juga berpura-pura pingsan sama halnya seperti Diego dan sesuai dengan rencana mereka. Sehingga saat ini mereka bisa disekap di dalam gudang tua tersebut.
"Ayah tenang saja, aku masih bisa bertahan. Apalagi sebentar lagi Dokter juga akan datang. Aku sudah mempunyai rencana lain Ayah, kita pasti akan keluar dari gudang ini," ucap Diego.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu. Yang penting kita sudah tahu di mana markas preman yang tadi telah menghalangi jalan kita. Ayah sangat yakin jika ini semua berhubungan dengan Erros, hanya saja kita belum bisa menemukan buktinya. Tapi Diego kondisimu sangat lemah, kau tidak mungkin bisa melawan preman-preman itu. Jadi menurut Ayah lebih baik kita seperti ini saja dulu supaya lebih aman," ucap Sastro.
"Kita tidak bisa seperti ini terus Ayah, kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan terhadap kita nanti. Kalau kita terus berpura-pura pingsan pasti mereka akan curiga, mereka pasti akan terus membangunkan kita. Aku tidak bisa jika harus berpura-pura terus," ucap Diego.
"Ya kau benar juga, lalu bagaimana caranya kita bisa keluar dari sini. Oh iya apa kau tadi berhasil mengambil ponsel cadanganmu di mobil? Jika iya lebih baik sekarang hubungi seseorang dan meminta bantuan, kita tidak mungkin bisa kabur dari sini jika di luar sana banyak para preman. Paling tidak mereka harus dialihkan dulu," kata Sastro.
"Oh iya, kenapa aku bisa melupakannya. Ya sudah Yah, sekarang juga aku akan menghubungi salah satu bodyguardku," ucap Diego
Meskipun ponsel Diego dan Sastro setelah diambil, tetapi itu hanyalah ponsel yang tidak ada apa-apanya di sana. Para preman takut jika nantinya mereka tiba-tiba saja bangun dan menghubungi orang lain.
Akan tetapi saat di perjalanan menuju ke gudang dan Diego disekap di kursi belakang, ia mengambil ponsel cadangannya yang berada di mobilnya itu. Diego masih sangat beruntung karena ia telah menyembunyikan ponselnya yg asli pada celah kursi penumpang. Karena para preman tadi memang membawa Diego dan Sastro menggunakan mobil Diego.
Sebelum turun dari mobil untuk menghadapi para preman saat di jalanan tadi, Diego dan Sastro memang telah mempersiapkan segalanya jika kemungkinan buruk terjadi seperti saat ini.
Sialnya meskipun Diego bisa meraih ponsel yang ia letakkan di saku belakang celananya tersebut tanpa sepengetahuan para preman, tetapi ia juga tidak bisa menghubungi siapapun karena kesulitan untuk melihat ke arah belakang.
"Bagaimana ini Yah? Aku tidak bisa melihatnya, jadi bagaimana aku mau menghubungi anak buahku," tukas Diego.
"Kalau begitu coba kau hubungi Kelvin saja, apa kau bisa menekan nomor telepon? Biar Ayah yang akan membantu melihatnya," ujar Sastro.
"Aku coba dulu Yah," kata Diego.
"Ya benar Diego, sekarang angka terakhir 7," ucap Sastro.
Baru saja Diego berhasil menekan nomor Kelvin dan menghubunginya, tetapi belum sempat Kelvin menjawab dan Diego memberitahu kondisi apa yang sedang terjadi, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dan terlihat pintu gudang yang hampir terbuka. Sehingga Diego langsung saja memutuskan panggilan tersebut dan kembali menyimpan ponselnya secara buru-buru, lalu ia juga memejamkan matanya kembali. Sedangkan Sastro tetap terjaga karena tidak mau jika preman terlalu curiga dengan mereka.
Ternyata yang masuk ke dalam gudang tersebut adalah kepala preman yang telah kembali dari toilet.
"Kau sudah bangun tua bangka. Bagaimana, apakah kau senang berada di sini? Sudah aku katakan lebih baik kalian ikut secara sukarela tetapi kalian tetap nekat ingin melawan kami, akibatnya kalian menjadi seperti ini, wajahmu penuh luka-luka. Tapi kau tenang saja, sebentar lagi Dokter akan datang untuk mengobati kalian. Karena Bos-ku juga tidak mau jika kalian berdua mati begitu saja," kata kepala preman.
Sastro sama sekali tak menggubrisnya, ia hanya berpura-pura lemah seolah tak berdaya untuk meyakinkan preman jika dirinya dan Diego memang benar-benar tidak akan mungkin bisa kabur dari sana.
_____
Sudah hampir 1 jam lamanya menunggu, tetapi dokter belum juga tiba. Karena memang perjalanan dari rumah sakit menuju ke rumah tua tersebut jaraknya cukup jauh, membuat kepala preman cukup resah dan bolak-balik untuk melihat keluar apakah dokter yang diteleponnya sudah datang atau belum. Karena ia takut jika kondisi Diego akan semakin memburuk.
Hingga beberapa menit kemudian, dokter tersebut akhirnya tiba dan langsung saja kepala preman membawa dokter masuk ke dalam gudang.
"Dokter tolong periksa 2 pasien ini. Apalagi yang satu lagi dari tadi belum bangun juga, sepertinya dia terkena pukulan yang cukup keras. Pastikan jika dia tidak akan mati," titah kepala preman.
__ADS_1
"Baik Tuan, tapi sebaiknya Anda tunggu saja di luar agar saya bisa menanganinya lebih leluasa," ucap dokter.
"Baik, kalau begitu saya akan menunggu di luar," ucap kepala preman.
Setelah preman tersebut keluar dari gudang, dokter pun segera saja memeriksa keadaan Diego terlebih dulu.
"Tuan Diego, sebaiknya Tuan bangun sekarang. Saya tahu jika Tuan hanya berpura-pura pingsan," ucap dokter yang membuat Sastro dan Diego merasa terkejut.
"Dokter, bagaimana Dokter bisa mengenal Diego? Siapa Dokter sebenarnya?" Tanya Sastro.
"Jangan terlalu keras berbicaranya Tuan Sastro, bisa bahaya jika preman di luar mendengar kita," ucap dokter yang lagi-lagi membuat kedua pria tersebut merasa terkejut.
Selain mengenal Diego, ternyata dokter itu juga mengenali Sastro, sehingga Diego pun langsung saja membuka matanya untuk melihat siapa wanita tersebut.
"Dokter Thalia?" Ucap Diego yang mengenali dokter yang selalu menangani keluarganya, bahkan Dokter Thalia dan Raisa juga salah saling mengenal.
"Ya Tuan, saya adalah Dokter Thalia. Saya tahu saat ini Anda dan mertua Anda ini sedang disekap," ucap Dokter Thalia.
"Bagaimana Dokter bisa mengetahuinya?" Tanya Sastro yang dibuat bingung.
"Selain saya mendengarnya secara langsung di depan, saya juga bekerja sama dengan Tuan Kelvin untuk membebaskan kalian dari sini," kata Dokter Thalia yang membuat keduanya semakin tak mengerti.
"Kelvin siapa? Apa maksud Dokter sebenarnya?" Tanya Diego.
"Tadi kira-kira 500 meter dari tempat ini, saya dicegat oleh Tuan Kelvin dan dia tahu jika saya adalah Dokter yang akan datang ke gudang ini. Mungkin Tuan Kelvin hanya menebaknya saja, tetapi benar dan Tuan Kelvin mengatakan kepada saya jika di dalam gudang ini ada 2 orang yang menjadi tawanan. Tuan Kelvin meminta saya untuk membantunya, meminta saya berlama-lama menjaga kalian di sini, sementara Tuan Kelvin sedang menunggu bantuan untuk membebaskan kalian," ucap Dokter Thalia.
"Bagaiman Kelvin bisa tahu kita berada di sini," tukas Diego.
"Mungkin setelah tadi kau menelponnya, Kelvin langsung melacak tempat ini," ucap Sastro yang membuat Diego pun berpikir jika ucapan ayah mertua tersebut benar.
Lalu Dokter itu pun mengobati luka-luka luar yang terdapat pada tubuh Diego dan Sastro, setelah itu ia juga memberikan obat dari dalam untuk keduanya agar menghilangkan rasa nyeri. Terutama Diego, karena bagaimanapun juga ia sudah terkena pukulan yang cukup keras pada bagian perut yang begitu sensitif.
"Terima kasih banyak Dokter, tidak disangka jika bantuan akan datang secepat ini," ucap Diego.
"Sama-sama Tuan. Saya bersedia membantu Tuan Kelvin karena Dokter sama saja dengan Polisi yang sudah berjanji akan membantu orang yang kesusahan, tetapi saya juga tidak menyangka jika yang ditawan di sini adalah Tuan Diego yang saya kenal. Tadi Tuan Kelvin sudah mengatakan kepada saya bahwa yang menjadi sandera di sini adalah Tuan Diego dan Tuan Sastro, yang mana Tuan Sastro adalah Bos dari Tuan Kelvin dan Tuan Diego merupakan menantu dari Tuan Sastro," ucap Dokter Thalita.
Di saat itu pun terlihat pintu yang sedikit terdorong dan itu artinya ada seseorang yang hendak membuka pintu, sehingga membuat mereka langsung bungkam dan Diego kembali berpura-pura pingsan seperti semula.
Bersambung …
__ADS_1