
Semakin lama Diego terlihat semakin beringas mencumbu dan menggerayangi tubuh istrinya tersebut, bahkan Raisa sendiri sudah sangat sulit untuk menyeimbangi tubuh suaminya dalam kondisi duduk. Kini Diego pun melepas kacamata pelindung dan melemparnya ke sembarang tempat, sehingga memperlihatkan 2 gundukan sintal yang sangat menggoda. Segera saja Diego menyesapnya dengan rakus, layaknya bayi besar yang sedang kehausan. Membuat Raisa pun merasakan sensasi yang luar biasa diiringi de sa han yang keluar dari mulutnya.
Selanjutnya Diego melepaskan segitiga yang menutupi kepemilikan Raisa, lalu memain-mainkan jarinya di sana, sehingga terlihat semakin basah karena ulahnya.
Diego tersenyum melihat istrinya yang sepertinya sudah sangat menikmati permainan tersebut. Tanpa melepas tautan bibir mereka, Diego menggendong tubuh Raisa dan memindahkannya di atas tempat tidur. Kini Diego juga sudah tanpa polos tanpa sehelai benang putih, ia melanjutkan aksinya dengan memasukkan sang junior yang sudah tampak mengeras ke dalam goa yang sedari tadi sudah menunggunya dan menyambutnya hingga tenggelam sempurna.
Tidak membutuhkan waktu lama, keduanya sama-sama melakukan pelepasan dan mencapai puncak kenikmatan yang hakiki. Setelah itu Diego melepas miliknya dan berbaring di samping tubuh istrinya tersebut.
"Maafkan aku ya Sayang, aku tidak bisa menahannya lagi," ucap Diego seraya mencium kening istrinya tersebut.
"Iya Kak aku mengerti. Tapi sepertinya aku harus mandi sekarang, rasanya sudah sangat gerah," ucap Raisa.
"Aku ikut ya Sayang, kita bisa mengulanginya sekali lagi," ucap Diego.
"Apa? Kau jangan macam-macam ya Kak, aku sudah sangat lelah. Kau lupa kalau aku ini sedang berbadan 2, jadi aku tidak akan mungkin kuat jika harus melayani terus," gerutu Raisa yang membuat Diego pun terkekeh.
Diego menatap punggung kepergian istri tersebut yang tanpa menggunakan sehelai benang pun. Entah dalam keadaan tidak sadar atau memang Raisa sudah tidak malu lagi tidak berpakaian di depan suaminya, yang penting ia saat ini buru-buru ingin ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
*****
"Argh … ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak terima Raisa dan Diego sudah menikah, lalu mereka tinggal di satu rumah. Aku tidak bisa terima!" Teriak Clarissa sembari mengacak-acak isi di dalam apartemennya.
"Stop Clarissa, kau tidak usah melakukan hal konyol seperti ini. Semuanya sudah terjadi, Diego dan Raisa sudah sah menikah. Kau harus sadar jika apapun yang kita lakukan itu sama sekali tidak membuat mereka gagal menikah, cinta mereka begitu kuat. Apa sih yang ada di dalam pikiranmu saat ini," ucap Darrel yang sedari tadi mencoba untuk menenangkan Clarissa.
"Diam kau! Untuk apa kau masih berada sini, sudah aku katakan kau tidak usah menemuiku lagi. Apa yang kau lakukan itu sudah gagal Darrel," hardik Clarissa.
"Apa maksudmu? Aku sudah melakukan apa yang kau inginkan, aku sudah hampir membunuh Raisa dan itu semua hanya demi kau Clarissa. Aku berubah menjadi orang yang jahat semata-mata hanya karena rasa cintaku untukmu," ucap Darrel.
"Oh ya? Tapi apa kau pikir apa yang kau lakukan itu berhasil? Sama sekali tidak Darrel. Jadi jangan pernah menemuiku lagi apalagi berharap jika aku mau menikah denganmu," tegas Clarissa yang menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
Mendengar ucapan Clarissa malah membuat Darrel begitu sangat murka, lalu mencengkram tangan wanita itu dengan sangat kuat.
"Akh, lepaskan aku Darrel, sakit," rintih Clarissa.
"Kau jangan bermain-main denganku Clarissa. Apa kau lupa jika dulu aku bisa menyakitimu dan itu juga bisa aku lakukan sekarang. Jangan kau pikir karena rasa cintaku ini membuatku tidak berani untuk menyakitimu. Kau salah besar, bahkan membunuhmu saja aku berani," ucap Darrel yang kini membalas tatapan tajam tersebut, membuat Clarissa bergidik dan tak menyangka jika Darrel akan bersikap kasar lagi terhadapnya.
"Oke, oke, aku minta maaf. Sekarang lepaskan tanganku," ucap Clarissa dengan suaranya yang merendah, sehingga Darrel pun melepaskannya.
"Aku minta maaf, aku benar-benar kesal karena mereka bisa menikah dan hidup bahagia," ucap Clarissa lagi.
"Ya memang itulah kenyataannya. Kau juga tahu 'kan kalau Diego akan tetap menikahi Raisa karena ibunya juga sudah setuju," ucap Darrel.
"Tapi kata Mama Siska dia merestui itu hanya karena terpaksa dan mempunyai rencana lain. Sekarang aku ingin kau mencari tahu apa rencana Mama Siska," ujar Clarissa.
"Kok berani memerintahku lagi setelah apa yang kau lakukan padaku?" Cibir Darrel.
"Kau jangan bermain-main denganku Clarissa, ingat aku bisa melakukan apapun yang aku mau terhadapmu. Aku tahu selama ini kau telah mempermainkanku, tetapi karena aku begitu mencintaimu aku mencoba untuk mengalah. Tapi jangan salahkan aku jika rasa cintaku ini bisa membunuhmu." Darrel memperingatkan Clarissa, lalu ia pun segera saja pergi meninggalkan apartemen wanita tersebut.
"Brengsek! Kapan aku akan lepas dari pria ba ji ngan itu," umpat Clarissa di saat Darrel sudah tak terlihat lagi dari pandangan matanya.
*****
Pagi-pagi sekali Raisa sudah bangun dan merasakan tubuhnya begitu lelah. Karena semalaman tidak tahu berapa kali ia digerayangi oleh suaminya. Meskipun Raisa sudah meminta untuk tidak melakukannya, tetapi tampaknya Diego sama sekali tak memberi ampun. Walaupun Diego juga melakukannya dengan perlahan dan hati-hati karena mengingat anak yang ada di dalam kandungan Raisa, tetapi tetap saja Raisa merasa sangat kelelahan. Bahkan ia sampai tidak sadar di saat Diego menjamahi tubuhnya karena sudah ketiduran terlebih dulu.
Saat terbangun Raisa melihat Diego yang masih tampak tertidur nyenyak di sampingnya. Raisa tersenyum, ia masih tak menyangka jika saat ini telah menjadi seorang istri dari seorang duda yang sudah membuatnya terpesona dan jatuh cinta. Sama sekali tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Raisa, bahwa ia akan menikah dengan pria tersebut.
Secara perlahan Raisa mengalihkan tangan kekar Diego yang masih merangkul di tubuhnya agar tidak mengusik pria tersebut, lalu segera saja ia beranjak dari tempat tidur untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah itu ia langsung menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Ketika sarapan telah selesai dan tersaji di atas meja, Raisa pun menuju ke kamar Denis untuk membangunkan anak asuh yang saat ini sudah menjadi anak tirinya tersebut. Akan tetapi di saat Raisa membuka pintu dan melihat ke dalam kamar, ternyata di saat itu Denis sudah bangun dan sudah berada di dalam kamar mandi. Sehingga Raisa hanya menyiapkan pakaiannya saja dan ia letakan di atas tempat tidur sambil menunggu anaknya itu keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Kak Raisa, kenapa kau ada di kamarku? Oh iya aku lupa jika kau sudah tinggal di sini sekarang. Sekarang aku sudah bisa bangun sendiri tanpa dibangunkan oleh siapapun Kak," ucap Denis.
"Anak manis, kau benar-benar sangat pintar ya. Tapi mulai hari ini aku akan kembali mengurusimu lagi seperti biasa, pakah kau senang?" Tanya Raisa.
"Tentu saja aku senang Kak," jawab Denis.
"Ya sudah ini pakaianmu, ayo cepat di pakai. Aku akan membangunkan Ayahmu dulu, nanti kita akan sarapan bersama," tukas Raisa.
"Oke Kak, nanti aku akan langsung menuju ruang makan," sahut Denis.
Raisa pun keluar dari kamar Denis dan menuju ke kamarnya untuk membangunkan suami serta menyiapkan segala keperluannya di pagi hari.
Setelah selesai, kini Raisa dan Diego keluar dari kamar dan menuju ke ruang makan. Ternyata di sana sudah terlihat Siska dan Denis yang sedang menunggu mereka.
_____
"Pagi Ma," ucap Diego dan Raisa secara hampir bersamaan.
"Pagi," balas Siska. "Raisa, apa kau yang menyiapkan sarapan ini?" Tanyanya.
"Iya Ma, benar," jawab Raisa sembari mendudukkan dirinya di atas kursi.
"Lain kali kau tidak perlu menyiapkan sarapan, 'kan sudah ada Bibi. Biar saja Bibi yang menyiapkan sarapannya," larang Siska.
"Tidak apa-apa Ma," aku senang kok bisa menyiapkan sarapan untuk keluarga," ungkap Raisa.
"Sudah Mama katakan tidak usah ya tidak usah, kenapa kau ini bandel sekali," ujar Siska dengan nada membentak, sehingga membuat Raisa dan Diego pun merasa terkejut.
Bersambung …
__ADS_1