Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Masih Sama Seperti Dulu.


__ADS_3

"Kak, aku minta maaf ya. Apa cubitanku terlalu keras sampai kau merasa sakit seperti itu? Aku panggilkan Dokter ya Kak untuk memeriksa keadaanmu," ucap Raisa yang merasa sangat khawatir.


"Tidak perlu Sayang, aku tidak apa-apa. Apalagi cubitanmu itu sama sekali tidak ada rasanya, paling hanya membuatku geli," ujar Diego yang memaksakan untuk tersenyum agar istrinya tersebut tidak terus mengkhawatirkan keadaannya.


"Kau yakin Kak? Tapi kenapa aku lihat sepertinya kau sangat kesakitan tadi?" Ujar Raisa.


"Oh … itu, aku hanya merasakan perutku tiba-tiba sakit dan itu karena aku lapar. Aku belum makan sama sekali hari ini, hanya tadi pagi saja sarapan bersama kalian di rumah," ucap Diego beralasan, tanpa mengatakan hal yang sebenarnya terjadi kepada keluarganya.


"Kau yakin Kak? Kalau begitu aku akan mencarikanmu makan dulu ya. Atau aku akan meminta tolong Kak Ramzi atau Kak Jason untuk mencarinya, mereka ada di depan ruangan ini," kata Raisa.


"Lebih baik pesan online saja Raisa, ini 'kan sudah malam. Nanti minta tolong Ramzi atau Jason menjemputnya saja di bawah," tukas Siska.


"Oh iya Mama bener juga, aku akan memesannya. Ma, aku titip Kak Diego sebentar ya. Aku mau melihat keadaan Ayah sebentar, aku akan memesan makanan untuk Ayah sekalian dan aku akan kembali kesini lagi secepatnya, ucap Raisa.


"Ya sudah lebih baik kau pergi saja, biar Mama yang menjaga Diego di sini," jawab Siska.


"Terima kasih banyak ya Ma," ucap Raisa.


"Kau tidak perlu berterima kasih Raisa. Diego ini 'kan Anak Mama," tukas Siska.


"Kak, kau tidak apa-apa 'kan jika aku tinggal sebentar," ucap Raisa yang kini berbicara dengan suaminya.


"Kau ini bicara apa Sayang, tentu saja tidak apa-apa. Apalagi kau mau melihat keadaan Ayah. Lebih baik sekalian saja kau melihat keadaan Kelvin, tadi sepertinya Kelvin masih berada di ruang pemeriksaan," ucap Diego.


"Iya Kak, Ma, aku pergi dulu ya," ucap Raisa.


"Ma aku ikut Mama ya. Aku mau melihat Kakek," ucap Denis.


"Ya sudah ayo," ajak Raisa, lalu ia pun menggandeng anaknya tersebut dan keluar dari ruang rawat inap Diego.

__ADS_1


_____


Raisa dan Denis pun langsung saja masuk ke dalam ruang rawat inap Sastro yang tempatnya bersebelahan dengan ruang rawat inap Diego. Di saat itu Raisa terkejut karena melihat kelvin yang berada di sana menemani ayahnya.


"Kak Kelvin, kau baik-baik saja? Bukankah kau juga terluka," tukas Raisa. "Ayah, bagaimana keadaan Ayah?" Tanyanya yang kini menghampiri ayahnya tersebut.


"Kakek," ucap Denis pula, lalu bocah kecil itu pun menyalami Sastro dan juga Kelvin.


"Denis, Raisa, sejak kapan kalian ada di sini?" Tanya Sastro.


"Kira-kira 15 menit yang lalu kami sudah berada di sini Yah, tapi aku melihat Kak Diego dulu sebentar. Apa Ayah baik-baik saja?" Tanya Raisa.


"Ayah hanya mengalami luka-luka kecil seperti yang kau lihat ini Raisa, Ayah baik-baik saja. Bahkan sebenarnya malam ini Ayah sudah boleh pulang, tapi Dokter menyarankan besok pagi saja," kata Sastro.


"Lalu Kak Kelvin, apa kau juga baik-baik saja? Kenapa kau tidak dirawat?" Tanya Raisa.


"Kenapa aku harus dirawat? Aku baik-baik saja Raisa, buktinya aku berada di sini menemani Ayahmu," ucap Kelvin.


"Ya aku memang sempat berkelahi, tapi tidak ada luka serius, hanya luka-luka kecil seperti ini saja wajar 'kan. Aku ini seorang pria, bahkan aku boleh langsung pulang meskipun hari sudah malam. Tetapi aku memutuskan tetap berada di sini untuk menjaga Tuan Sastro," kata Kelvin.


"Terima kasih banyak ya Kak, kau benar-benar sangat baik," ucap Raisa yang dengan refleks memeluk kakak angkatnya tersebut.


Deg!


Membuat jantung Kelvin berdetak tak karuan. Padahal ia sudah berusaha untuk membuang rasa itu jauh-jauh terhadap Raisa, tetapi pada kenyataannya rasa itu tetap saja tidak pernah hilang.


"Iya sama-sama Raisa. Kau tidak perlu merasa sungkan, bagaimanapun juga aku sudah sangat lama tinggal bersama Ayahmu," ucap Kelvin.


Lalu Raisa melepaskan pelukannya dan kini ia menghampiri ayahnya Kembali.

__ADS_1


"Ayah aku benar-benar merasa sangat cemas dengan kondisi Ayah, tapi syukurlah Ayah sudah baik-baik saja. Oh iya apa Ayah dan Kak Kelvin sudah makan?" Tanya Raisa.


Kedua pria itu sama-sama menggelengkan kepalanya, yang itu artinya mereka memang belum makan.


"Ya sudah, kebetulan aku mau memesan makanan untuk Kak Diego dan aku juga akan memesankan makanan untuk kalian. Biasanya besok pagi baru kalian akan mendapatkan makanan dari rumah sakit," tukas Raisa.


"Terserah kau saja Raisa, cacing-cacing di dalam perutku juga sudah demo meminta untuk dikasih makanan," ucap Kelvin yang membuat Raisa terkekeh.


_____


"Diego, kau yakin hanya merasa lapar?" Tanya Siska yang berasa anaknya itu menyimpan sesuatu darinya.


"Iya Ma, kenapa Mama bertanya seperti itu?" Tanya Diego.


"Diego, Mama ini adalah ibumu. Mama yang sudah melahirkanmu, jadi Mama tahu persis Anak Mama ini berkata jujur atau sedang berbohong. Katakan kepada Mama, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Siska.


"Iya Ma, sebenarnya perutku terasa nyeri karena tadi aku sempat dipukuli beberapa kali oleh preman pada bagian perut. Bahkan kata Dokter kondisiku terbilang paling parah di antara Ayah dan Kelvin, untuk itu Dokter tidak mengizinkan aku pulang ke rumah dulu. Besok pagi Dokter akan memeriksa kondisiku lagi Ma," kata Diego.


"Ya ampun Diego, bisa-bisanya masalah seserius ini kau tidak mengatakannya kepada Mama dan Raisa. Kenapa kau harus sampai seperti ini, Mama sangat kasihan melihat kondisimu Diego. Padahal sebelum ayah Raisa hadir, kau tidak pernah mengalami hal seperti ini. Ini semua karena pria itu, selalu saja mencari gara-gara di manapun, masih sama seperti dulu," ucap Siska tanpa sadar, yang membuat Diego menatap kebingungan.


"Ma, apa maksud Mama dari dulu? Apa Mama sudah mengenal ayah Raisa sejak dulu?" Tanya Diego yang membuat Siska tersentak.


"Tidak, Mama tidak berkata seperti itu. Maksud Mama ya laki-laki itu selalu saja membuat masalah. Bukankah Tuan Sastro sendiri yang mengatakan telah berteman lama dengan yang namanya Erros itu, itu artinya memang sudah dari dulu 'kan dia mempunyai masalah sampai sekarang," ujar Siska.


Meskipun terdengar berbelit-belit dan masih merasa bingung, tetapi Diego pun mencoba untuk mempercayai ibunya dan tidak mempermasalahkan apa yang diucapkannya tadi. Sehingga membuat Siska merasa sangat lega.


"Ma aku minta tolong ya jangan beritahu soal ini ke Raisa dulu ya, aku tidak mau dia cemas Ma. Mama juga tahu 'kan kondisi Raisa saat ini seperti apa, belum lagi ayahnya juga terluka," pinta Diego.


"Iya, Mama mengerti. Mama juga kasihan melihat Raisa yang saat ini sedang mengandung tetapi selalu saja ada masalah dan Mama tetap saja menyalahkan jika ini semua karena kesalahan Tuan Sastro. Coba saja ayahnya Raisa itu bisa menyelesaikan masalahnya dengan sahabatnya itu, pasti kondisinya tidak akan menjadi seperti ini. Kalau hanya dirinya sendiri yang terancam tidak masalah, ini harus melibatkan banyak orang. Raisa yang sedang hamil, kau, Denis, Mama dan semua orang-orang terdekatnya pun akan menjadi incarannya," hardik Siska dengan emosi.

__ADS_1


"Ma, sudah Ma. Jangan berkata seperti itu, apalagi menyalahkan Ayah. Aku minta tolong Ma jangan sampai Mama menyalakan Ayah di depan Raisa, pasti dia akan sangat sedih," ucap Diego yang membuat Siska terdiam.


Bersambung …


__ADS_2