Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Membawa Keberuntungan.


__ADS_3

Roy membalikkan badannya dan merasa sangat terkejut melihat seseorang yang saat ini berdiri di hadapannya.


"Sena, kenapa kau bisa ada di sini?" Tanya Roy yang melihat kehadiran wanita tersebut.


"Memangnya kenapa? Ada yang salah, bukankah kau sendiri yang memberikan alamat ini padaku. Jadi tidak salah 'kan jika aku ke kantormu," kata Sena.


"Iya memang tidak salah, tapi kenapa kau tidak mengabariku dulu. Apa kau tadi mendengar semua percakapanku?" Tanya Roy.


"Ya tentu saja aku mendengarnya. Rencanamu gagal lagi 'kan?" Tukas Sena.


"Silahkan duduk," ucap Roy yang mempersilahkan Sena duduk di sofa dalam ruangannya itu. "Ya begitulah, kalau mengandalkan anak buah semuanya tidak ada yang becus. Memang lebih baik aku yang turun tangan langsung. Kau sendiri bagaimana? Apa yang mau kau lakukan sekarang?" Hardik Roy.


"Setelah Kemarin aku ke sana dan tidak bertemu Diego sama sekali, aku jadi tidak bersemangat untuk ke sana lagi," sahut Sena.


"Kau ini bagaimana sih, kau sendiri 'kan sudah tahu jika Diego itu bekerja, seharusnya kau datang di waktu yang tepat. Malam hari atau paling tidak sore hari di saat Diego mau pulang ke rumah, ini kau malah datang siang-siang seperti itu. Sudah pasti Diego tidak akan ada di rumahnya," ujar Roy.


"Ya kau benar. Oke kalau begitu aku akan atur lagi waktunya untuk ke sana malam hari," kata Sena.


"Lebih cepat lebih baik. Jadi ada apa kau datang ke sini menemuiku, tidak mungkin 'kan karena kau merindukanku," tanya Roy yang menggoda wanita di hadapannya itu.


"Ck, kau terlalu percaya diri. Aku hanya ingin bermain saja karena kebetulan lewat sini dan sebenarnya aku juga mempunyai rencana," jawab Sena.


"Rencana apa?" Tanya Roy.


*****


Raisa tampak mondar-mandir di depan ruang tamu karena menunggu suaminya yang belum juga tiba di rumah. Ia benar-benar merasa sangat khawatir meskipun Jason sudah mengatakan jika Diego baik-baik saja dan sedang berada di perjalanan pulang ke rumah.


Hingga beberapa saat kemudian terdengar suara mobil dan Raisa pun segera saja keluar dari rumah, ia hanya melihat mobil Jason yang berada di sana tetapi juga merasa lega karena di saat itu terlihat Diego yang keluar dari mobil tersebut.


"Kak Diego," ucap Raisa yang langsung saja menghamburkan pelukan pada tubuh suaminya itu. Seakan melepaskan rasa rindu karena sudah lama tidak bertemu.


"Sayang, kau Kenapa? Apa kau mengkhawatirkanku? Maaf ya aku pulang terlambat dan tidak mengabarimu," kata Diego.


"Tidak apa-apa Kak yang penting sekarang kau sudah pulang dan kau baik-baik saja," jawab Raisa yang melerai pelukannya, barulah di saat itu ia melihat ada luka yang diperban pada tangan suaminya itu.


"Kak tanganmu kenapa?" Tanya Raisa merasa sangat cemas.


"Oh tidak apa-apa Sayang, ini hanya luka kecil saja. Jangan dipikirkan ya," jawab Diego.


"Jangan bohong Kak, lalu mobilmu ada di mana?" Tanya Raisa menatap curiga. "Kak Jason cepat katakan ada apa, kau tidak mungkin berbohong padaku 'kan Kak?" Raisa beralih bertanya kepada sang bodyguard karena tidak mendapatkan jawaban dari Diego.


"Jadi Nyonya-"


"Jason lebih baik kau cepat menjemput mobilku, ajak Aron atau Ramzi terserah kau saja," Titah Diego yang menyela ucapan Jason begitu saja. "Sayang sekarang kita masuk dulu ya, biar aku jelaskan di dalam," ajaknya.


"Baik Tuan," jawab Jason yang langsung saja melakukan perintah tuannya tersebut.

__ADS_1


"Ya sudah ayo Kak," jawab Raisa lalu berjalan masuk ke dalam rumah bersama suaminya itu.


"Mama mana Sayang?" Tanya Diego.


"Ada di kamar," jawab Raisa.


"Syukurlah, kalau Anak-Anak?" Tanyanya lagi.


"Ada di kamar kita. Aku tadi menitipkan baby Diesa ke kakaknya sebentar, Diesa bermain di dalam baby box-nya jadi sudah pasti aman," kata Raisa.


_____


Setibanya di kamar, Raisa dan Diego melihat Denis yang sedang bermain dengan Diesa dan terlihat adiknya begitu senang dan tertawa karena ulah sang kakak.


"Wah … Kak Denis benar-benar sangat pintar ya menjaga adik. Adiknya happy seperti itu loh," kata Raisa.


"Mama, Papa," ucap Denis.


"Iya Sayang, bagaimana adiknya baik-baik saja 'kan. Tidak rewel atau menyusahkan Kak Denis?" Tanya Diego.


"Sama sekali tidak Pa. Adik sangat senang, adik pandai bermain. Buktinya Adik tertawa terus," jawab Denis.


"Ya itu karena Kak Denis juga yang pintar mengajak adiknya bermain," ucap Raisa.


"Iya dong Ma. Aku masih ingin bermain dengan Adik, boleh tidak?" Tanya Denis.


"Mau Ma, aku mau," jawab Denis begitu antusias.


Diego pun sama sekali tidak keberatan karena memang sudah lama mereka tidak tidur bersama dengan Denis, semenjak punya adik bayi.


"Kak, Katakan padaku sebenarnya ada apa, kenapa kau bisa sampai terluka seperti ini? Kau tidak bisa membohongiku Kak," tanya Raisa sembari membantu suaminya tersebut membuka jas kerjanya, lalu keduanya pun duduk di sofa sengaja menjauhi anak-anak.


"Aku memang tidak bisa berbohong pada mu. Ya sudah aku akan menceritakannya," ucap Digo lalu menceritakan kepada istrinya apa yang tadi terjadi tadi saat di perjalanan pulang.


"Ya ampun Kak pantas saja perasaanku tidak enak, kenapa kau itu nekat sekali sih Kak. Lalu bagaimana dengan telapak tanganmu Kak, Dokter bilang apa, tidak ada sesuatu yang bahaya 'kan?" Raisa menimpali dengan beberapa pertanyaan karena ia merasa sangat khawatir.


"Tidak Sayang, buktinya aku baik-baik saja 'kan sekarang. Aku juga diperbolehkan pulang karena ini hanya luka kecil, kau tenang saja ya. Meskipun terluka tapi aku merasa puas karena bisa membantu kepolisian untuk menangkap para preman yang katanya memang selalu saja membuat masalah di jalanan," ucap Diego.


"Kau memang sangat pantas dikatakan sebagai pahlawan Kak, bukan hanya pahlawan keluarga saja tapi pahlawan untuk semua orang. Tapi lain kali kau jangan berbuat nekat seperti itu lagi ya, jangan bertindak sendirian," kata Raisa.


"Iya Sayang kau tenang saja. Lagi pula ini hanya goresan kecil saja kok di telapak tangan, kalau tadi aku tidak menangkapnya sudah pasti perutku yang akan tertusuk," ujar Diego.


"Masih saja menganggap ini luka kecil, bahkan tanganmu sampai terlihat kaku seperti ini Kak. Kau ini benar-benar membuatku gila Kak, aku benar-benar mengkhawatirkanmu," tukas Raisa dengan mata berkaca-kaca.


"Sayang, kau jangan menangis ya. Maaf karena aku sudah membuatmu khawatir," ucap Diego yang langsung saja meraih tubuh istrinya itu ke dalam dekapannya.


"Janji ya Kak kau jangan berbuat hal itu lagi, aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu," pinta Raisa.

__ADS_1


"Iya Sayang, aku janji lain kali tidak akan membuatmu khawatir seperti ini lagi. Apalagi sampai kau menangis," ucap Diego.


"Ya sudah lebih baik sekarang kau mandi saja Kak, nanti aku akan menemanimu makan malam. Kau pasti sudah sangat lelah 'kan," ucap Raisa.


"Iya Sayang, tapi sepertinya aku tidak bisa membuka bajuku sendiri apalagi menggosok tubuhku, padahal aku sudah sangat gerah ingin mandi. 'Kan tanganku sakit, bagaimana kalau kau membantuku," kata Diego yang mengerlingkan matanya menggoda sang istri.


"Ya sudah ayo, aku akan membantumu. Tapi bagaimana dengan Denis, nanti Denis malah berpikir yang bukan-bukan," kata Raisa tanpa memperdulikan godaan suaminya itu.


"Memangnya anak kecil bisa berpikiran yang bukan-bukan seperti apa Sayang? Lagi pula kau 'kan kau hanya membantuku saja karena kata dokter luka ini tidak boleh terkena air dulu, lalu bagaimana caranya aku menyiram dan membersihkan tubuhku dengan tangan satu," tukas Diego.


"Ya sudah kalau begitu. Tunggu sebentar ya," ucap Raisa lalu menghampiri Denis. "Kak Denis, maaf ya Mama harus merepotkanmu lagi. Boleh 'kan Mama titip Adik Diesa, Mama mau membantu Papa dulu di kamar mandi, lihat tangan Papa terluka dan tidak boleh terkena air, apalagi sabun. Kau bisa 'kan tetap berada di sini menemani Adik, sebentar saja," ucap Raisa.


"Memangnya tangan Papa kenapa Ma?" Tanya Denis yang memang belum tahu karena dari tadi Diego menyembunyikannya.


"Tidak apa-apa Sayang, hanya luka kecil saja tapi memang tidak boleh terkena air dulu. Jadi tidak keberatan 'kan kalau Kak Denis menjaga Adik dulu," kata Denis.


"Iya Pa, aku sama sekali tidak keberatan kok, aku malah senang bermain dengan Adik," jawab Denis. Lalu Raisa dan Diego pun bergegas menuju ke kamar mandi.


_____


Setelah membuka baju, kaos dalam, celana dan hanya meninggalkan segitiga pengaman yang menutupi kepemilikan Diego, Raisa pun mulai membantu Diego dengan menyiram serta menggosok tubuh suaminya itu. Meskipun terkadang Diego selalu saja usil dan mengganggunya tetapi ia sama sekali tak memperdulikannya. Raisa tetap fokus memandikan suaminya itu seperti anak kecil.


"Sayang. kita mandi sama-sama yuk," ajak Diego.


"Ih apaan sih Kak, aku 'kan sudah mandi. Lebih baik fokus sama dirimu sendiri saja," tukas Raisa.


"Sayang. kenapa kau hanya menggosok tubuhku saja. Kau tidak lihat ini adikku sudah bangun karena ulahmu. Tapi kau malah tetap membiarkannya di dalam sarang," protes Diego pantang menyerah.


"Ya sudah kau saja yang membersihkannya, masa harus aku juga," ujar Raisa.


"Jangan begitu dong Sayang, bantuin ya, please!" pinta Diego dengan wajah manja tetapi Raisa sama sekali tak menggubris pikiran mesum suaminya itu.


Setelah di rasa cukup bersih, kini Raisa pun memberikan handuk kepada suaminya itu dan keluar dari kamar mandi.


"Sayang, ini belum dibuka," kata Diego.


"Buka saja sendiri Kak, sekalian kau bersihkan dengan tangan kirimu itu, tidak mungkin 'kan tidak bisa," sahut Raisa.


"Sayang, lihat saja ya aku tidak akan melepaskanmu nanti malam," kata Diego.


"Kau tidak akan bisa berbuat apapun Kak malam ini, ingat ada Denis yang tidur bersama kita," ucap Raisa.


"Aku tidak peduli ada Denis atau tidak, kau tidak akan mungkin bisa lepas dariku," ucap Diego yang merasa jika lukanya itu membawa keberuntungan karena tubuhnya akan selalu disentuh oleh sang istri dengan penuh kelembutan.


Sedangkan Raisa yang keluar dari kamar mandi itu hanya geleng-geleng kepala saja karena tingkah laku suaminya itu.


"Kekanak-kanakan," ucap Raisa mengulas senyum tipis di sudut bibirnya.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2