
Tanpa sadar Siska pun meneteskan air matanya melihat kehangatan antara anak dan ibu tersebut. Rasanya ia sangat ingin sekali mempercayai Raisa seperti dulu lagi, tapi entah kenapa hatinya itu selalu saja menolak.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang? Padahal aku bisa melihat bagaimana sifat Raisa yang begitu tulus menyayangi Denis, Diego, maupun menyayangiku. Tapi kenapa sulit sekali bagiku untuk mengembalikan rasa percaya ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku hanya butuh bukti bahwa Raisa tidak melakukan itu semua, untuk menyangkal bukti yang pernah aku lihat waktu itu. Dan kalaupun memang benar Raisa dulu adalah wanita yang seperti itu, tapi saat ini dia sudah berubah karena dia sudah menikah dengan Diego, mereka akan memiliki anak, seharusnya aku bisa menerima kenyataan itu, seharusnya aku bisa menerima Raisa apa adanya, toh aku juga bukanlah manusia yang suci. Biarkan sajalah masa lalunya itu, yang penting masa depannya. Bukankah setiap orang berhak untuk mempunyai kesempatan kedua?" Batin Siska.
Ternyata di saat itu Denis dan Raisa tidak sengaja melihat dan sedang menatap ke arahnya.
"Oma, kenapa Oma berdiri di sana? Sini Oma!" Panggil Denis yang membuat Siska pun tersadar dari lamunannya.
Lalu Siska pun melangkahkan kakinya mendekati menantu dan cucunya tersebut.
"Ma, ada apa? Apa Mama baik-baik saja?" Tanya Raisa.
"Iya, Mama baik-baik saja," jawab Siska yang tak bisa mengelak. Karena bagaimanapun juga ia sudah tertangkap basah telah memperhatikan mereka berdua. "Oh ya ini minumanmu," ucapnya seraya memberikan segelas minuman untuk Raisa.
"Terima kasih ya Ma. Kenapa jadi Mama yang membawanya ke sini, aku jadi merepotkan Mama," ucap Raisa.
"Tidak apa-apa Raisa, Mama sekalian ke sini juga 'kan," jawab Siska.
"Oma habis menangis ya atau mata Oma kelilipan?" Tanya Denis dengan polosnya.
"Iya, Oma tadi dari dapur dan tidak sengaja kelilipan. Jadi Oma tadi berhenti di situ sebentar untuk membersihkan mata Oma," ucap Siska beralasan.
"Sini Oma biar aku tiup," ucap Denis yang langsung saja mendekati Omanya tersebut lalu meniup matanya dengan sangat pelan.
Mendapat perlakuan seperti itu membuat Siska merasa sangat terharu. Seharusnya dalam kondisi seperti ini ia menjadi nenek dan mertua yang paling berbahagia di dunia karena mempunyai cucu yang begitu pintar, baik dan penurut, serta menantu yang begitu menyayanginya.
"Ma, Mama baik-baik saja 'kan? Kalau ada apa-apa kasih tahu aku ya Ma, siapa tahu aku bisa bantu Mama," pinta Raisa.
"Iya Raisa. Tapi Mama memang tidak apa-apa, Mama baik-baik saja," jawab Siska.
"Mama yakin tidak ada apa-apa?" Tanya Raisa lagi, sehingga membuat Siska pun tampak terdiam.
"Denis, apakah PR-mu sudah selesai?" Tanya Raisa.
__ADS_1
Raisa mengerti pasti sebenarnya ada yang ingin disampaikan oleh Siska, hanya saja tidak mungkin mereka berbicara di depan anak kecil.
"Iya Ma, aku sudah selesai kok mengerjakan PR-nya," jawab Denis.
"Kalau begitu, bagaimana kalau Denis sekarang ke kamar dulu. Sudah waktunya tidur siang 'kan? Dari pulang sekolah, baru selesai makan langsung mengerjakan PR, belum istirahat sama sekali," kata Raisa.
"Iya Ma, aku belum tidur siang," jawab Denis.
"Ingat tidur siang itu wajib walaupun hanya-"
"1 jam." Denis menyambung ucapan ibunya tersebut.
"Anak pintar. Ya sudah kalau begitu Denis harus istirahat dulu ya, nanti sore bangun tidur kita main lagi, bagaimana?" Ujar Raisa.
"Iya Ma. Mama, Oma, Denis ke kamar dulu ya istirahat," ucap Denis.
"Iya Sayang, selamat istirahat ya," ucap Raisa sembari mengusap rambut Denis dan mencium keningnya.
Sedangkan Siska hanya mengangguk dan tersenyum saja, lalu Denis pun segera saja pergi menuju kamar meninggalkan ibu dan juga neneknya tersebut.
_____
"Ma, ada apa? Sekarang Denis sudah tidak ada bersama kita, pastinya akan lebih aman jika memang ada yang ingin Mama sampaikan ke aku. Supaya Denis tidak mendengarnya dan Denis juga tidak akan berbicara kepada Kak Diego, aku juga tidak akan mengatakan hal ini kepada Kak Diego jika Mama tidak menginginkannya. Tolong beritahu aku Ma, supaya beban di pikiran Mama lebih ringan," ucap Raisa seakan mengetahui ada yang sedang dipikirkan oleh Siska.
"Kau benar Raisa, memang saat ini ada sesuatu yang sedang Mama pikirkan yang tak lain adalah tentang kau sendiri," ucap Siska.
"Ada apa Ma? Apakah karena sampai sekarang Mama belum bisa menerima kehadiranku atau sampai sekarang Mama masih menganggap buruk tentang masa laluku itu. Apa yang harus aku lakukan Ma supaya Mama percaya? Bukti apa yang harus aku berikan kepada Mama karena memang semua bukti-bukti yang dibawa oleh Mami Sheila dan Clarissa itu benar, hanya saja mereka tidak tahu kelanjutannya bagaimana. Karena memang aku dan Kak Diego telah mengelabui Mami Sheila, kalau Mami Sheila tahu aku tidak bekerja untuknya pasti dia akan marah waktu itu. Terbukti waktu aku mengatakan akan berhenti dari pekerjaan itu, Mami Siska tak terima karena aku telah terikat kontrak, padahal aku sama sekali tidak tahu kapan aku menandatangani kontrak tersebut. Untungnya Kak Diego menyelamatkanku Ma, dia membayar semua denda dengan jumlah banyak. Untuk itu aku bersedia bekerja menjadi pengasuh Denis tanpa bayaran, tapi ternyata Kak Diego tetap membayarku tetapi sudah dipotong hutang," ucap Raisa panjang lebar, berharap Siska akan mengerti.
"Raisa, sebenarnya Mama percaya dengan ucapanmu. Hanya saja Mama tidak tahu kenapa hati ini terasa sangat sulit untuk menerima. Tapi meskipun benar kau memang mempunyai masa lalu seperti itu, itu 'kan hanya masa lalu, yang Mama lihat sekarang di masa sekarang kau adalah wanita yang baik, jujur, tulus, kau begitu menyayangi Diego dan Denis setelah lama mereka kehilangan sosok wanita yang berada di dekat mereka selain Mama. Sedangkan Mama sadar umur Mama sudah tidak lama lagi, Mama sudah semakin tua, Mama percaya denganmu kalau kau bisa menjaga Diego dan Denis dengan baik. Maafkan Mama Raisa, mulai sekarang Mama akan menerima apapun masa lalumu. Mama aku mencoba untuk percaya lagi denganmu, apakah kau mau menerima maaf Mama dan memberi Mama kesempatan?" Tanya Siska dengan air matanya yang menetes sehingga membuat Raisa pun juga tak tahan untuk mengeluarkan air matanya, merasa sangat terharu bahagia mendengar ucapan Siska.
"Ma, jangan berbicara seperti itu. Umur Mama masih panjang, Mama pasti masih bisa untuk hidup lebih lama bersama dengan Kak Diego, Denis dan aku Ma. Mama juga tidak perlu minta maaf karena Mama tidak salah dan tentu saja aku mau Ma, justru aku merasa sangat senang karena inilah yang aku inginkan," ucap Raisa. Lalu keduanya pun saling berpelukan erat.
Raisa tak menyangka baru saja 1 bulan ia menjalani rumah tangga bersama Diego, Siska sudah mulai bisa menerima kehadirannya lagi yang membuat Raisa benar-benar sangat bahagia.
__ADS_1
*****
Diego yang baru saja pulang kerja dan masuk ke dalam kamar, langsung disambut oleh sang istri yang langsung membukakan jasnya tersebut dengan wajah yang penuh dengan senyum sumringah. Meskipun Diego merasa sangat senang dan tentunya senyuman itulah yang selalu dirindukannya saat ia sedang tidak bersama dengan sang istri, tetapi membuat Diego menjadi bertanya-tanya ada apa dengan istrinya tersebut. Karena tidak biasanya Raisa selalu tersenyum seperti itu.
"Kak Diego, kenapa kau melihatku seperti itu?" Tanya Raisa yang sadar sedari tadi diperhatikan oleh suaminya.
"Sayang, kau kenapa? Seharusnya aku yang bertanya, dari tadi kau senyum-senyum terus seperti itu. Apa ada sesuatu yang membuatmu begitu bahagia atau jangan-jangan kau sedang dekat dengan pria lain ya? Awas aja kalau itu terjadi aku akan membunuh pria itu," tuding Diego asal.
"Ih Kak Diego kau jangan sembarangan bicara ya, nanti kalau benar-benar terjadi bagaimana, memangnya kau rela," ujar Raisa.
"Tentu saja tidak. Terus kau kenapa? Tidak biasanya kau seperti ini," tukas Diego.
"Seharusnya kalau melihat istrinya senang, bahagia ya suaminya juga ikut senang. Ini kenapa malah merasa heran seperti itu sih," ujar Raisa.
"Iya, tapi 'kan senang atau sedih itu semua ada penyebabnya. Memangnya salah kalau aku mau tahu kenapa istriku tiba-tiba saja bahagia seperti ini," tukas Diego.
"Ya aku bahagia karena aku sudah melihat kepulangan suamiku, suami yang aku rindukan, suami yang sedari tadi aku pikirkan. Seperti itu Kak," ucap Raisa.
"Tapi kenapa ya rasanya ada sesuatu yang aneh dan ada yang kau sembunyikan dariku," ujar Diego menatap curiga.
"Tidak ada apa-apa Kak. Sudah ah, sekarang kau mandi dulu karena air panasnya juga sudah aku siapkan. Nanti kita turun untuk makan malam," titah Raisa.
Diego mengernyitkan dahinya, masih tak mengerti. Tetapi ia mengikuti perintah istrinya tersebut dengan langsung mandi dan setelah itu mereka langsung saja menuju ke ruang makan.
_____
"Malam Sayang, ayo sini makan. Mama sudah masak makanan kesukaanmu," ucap Siska.
"Malam Ma, terima kasih ya Ma. Tapi seharusnya Mama tidak perlu repot-repot seperti itu," ujar Diego.
"Diego, kenapa kau ini kegeeran sekali. Siapa bilang Mama masak makanan untukmu, maksud Mama itu Mama masak makanan kesukaan menantu Mama, Raisa," ucap Siska.
Lalu Siska dan Raisa pun saling menatap dan tersenyum, seakan menertawai Diego. Membuat Digo semakin kebingungan dan tak mengerti.
__ADS_1
Bersambung …