
Tok … tok … tok …
Raisa membuka matanya saat mendengar suara ketukan pintu. Diego dan Raisa yang tadinya sama-sama berbaring, tanpa sengaja malah ketiduran hingga saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 19.30 WIB.
Sudah pasti yang mengetuk pintu itu adalah keluarganya ataupun pelayan yang akan mengajak mereka untuk makan malam. Sehingga Raisa pun langsung saja mengalihkan tangan kekar seorang pria yang berada di sampingnya dan sedang memeluk tubuhnya itu, lalu segera ia beranjak dari tempat tidur dan membukakan pintu kamar. Benar saja ternyata salah satu pelayan di rumah itu yang mengetuk pintu.
"Maaf Nona Raisa saya mengganggu, Nyonya mengajak Nona Raisa dan Tuan Diego untuk makan malam," ucap bibi.
"Oh iya Bi, tadi aku dan Kak Diego ketiduran. Sebentar ya aku akan membangunkan Kak Diego dulu, nanti kami akan turun," jawab Raisa.
"Ya sudah Nona, kalau begitu saya permisi dulu," ucap Bibi.
"Iya Bi, terima kasih ya," ucap Raisa.
"Sama-sama Nyonya," jawab bibi lalu ia pun meninggalkan kamar tuannya tersebut.
Sedangkan Raisa menghampiri Diego yang masih tampak tertidur dan mulai membangunkannya.
"Kak, ayo bangun," ucap Raisa sembari mengguncang pelan tubuh suaminya itu hingga terbangun.
"Aku masih ngantuk Sayang, lagi pula ini kan sudah malam, lebih baik kita lanjutkan tidur saja ya," ucap Diego dengan mata yang masih terpejam. Ia juga menarik tubuh Raisa agar berbaring kembali.
"Tapi Kak Mama mengajak kita makan malam, lebih baik kita makan dulu ya. Nanti baru kita lanjutkan untuk tidur ya," tukas Raisa.
"Memangnya ini jam berapa Sayang?" Tanya Diego.
"Jam 19.30 WIB Kak," jawab Raisa.
Meskipun terasa sangat berat, pada akhirnya Diego pun membuka matanya dan langsung terduduk, serta memeluk Raisa yang duduk di tepi ranjang.
"Kak lepaskan, ayo sekarang kita ke ruang makan. Kasihan Mama dan Denis pasti sudah menunggu kita," ucap Raisa yang melepaskan pelukan Diego dan kini sudah berdiri serta menarik tangan suaminya tersebut.
Sehingga Diego pun beranjak dari tempat tidur dan kini mereka melangkahkan kaki menuju ke ruang makan.
_____
"Raisa, saat ini 'kan usia kandunganmu sudah memasuki 8 bulan, itu artinya tidak lama lagi kau akan segera melahirkan. Apakah semuanya sudah dipersiapkan?" Tanya Siska saat mereka baru saja selesai makan malam, tetapi masih berkumpul di ruang makan.
"Oh iya Ma, sebagian sudah tapi seperti perlengkapan alat mandinya, sabun-sabun, bedak, rencananya besok pas weekend kita mau belanja. Kak Diego kau jadikan mengantarku untuk belanja kebutuhan anak kita?" Jawab Raisa dan bertanya kepada suaminya.
"Oh iya Sayang, besok ya?" Tanya Diego.
__ADS_1
"Iya lah Kak besok. Bukannya besok kau libur dan tidak ke kantor," tukas Raisa.
"Aku benar-benar minta maaf ya Sayang, kau 'kan tahu sendiri saat ini aku sedang memiliki masalah di perusahaan, jadi besok pagi-pagi aku harus ke kantor. Aku tidak bisa libur, tapi aku janji hanya sebentar saja nanti aku akan pulang dan menjemputmu. Aku akan usahakan untuk pulang cepat," ucap Diego.
"Oh begitu ya Kak. Ya sudah kalau memang kau sibuk tidak apa-apa, biar aku saja yang pergi sendiri. Aku akan meminta Kak Ramzi untuk mengantarku, aku juga mau ke rumah sakit melihat Kak Aron, boleh 'kan?" Ucap Raisa.
"Sayang no, aku bilang tidak ya tidak. Jangan sampai kau pergi sendiri tanpa aku," sergah Diego.
"Aku tidak pergi sendiri Kak, aku akan meminta Kak Ramzi untuk mengantarku. Besok Denis 'kan juga libur sekolah, jadi Kak Ramzi tidak mengantar Denis dan bisa mengantarku," ucap Raisa.
"Tidak Sayang, kau tidak boleh pergi jika tidak bersama denganku. Kecuali memang ada hal yang benar-benar darurat. Kau tunggu saja di rumah, aku akan usahakan untuk pulang cepat. Aku janji akan mengusahakannya agar aku bisa mengantarmu untuk berbelanja, lagi pula ini bukan hanya sekedar mengantarmu tapi aku ingin ikut andil," ucap Diego.
"Ya sudah kalau begitu Kak, aku akan menunggumu," jawab Raisa.
"Raisa, sebaiknya kau menunggu Diego saja. Apalagi yang paling terpentingnya sudah disiapkan 'kan seperti pakaian sesuai kebutuhan yang akan dibawa saat melahirkan," ujar Siska.
"Iya Ma sebagian memang sudah. Kemarin ada yang aku beli bersama Kak Diego dan ada juga yang aku pesan online," ucap Raisa.
"Syukurlah, berarti hanya tinggal kekurangannya sedikit saja. Menurut Mama memang lebih baik dan lebih aman kau pergi dengan Diego, mungkin ada yang lain yang ingin kalian beli dan membutuhkan pendapat bersama. Apalagi jenis kelaminnya perempuan 'kan, pasti Diego sangat ingin memilih untuk anak perempuannya," ujar Siska.
"Iya Ma aku akan menunggu Kak Diego pulang kok besok, aku janji tidak akan pergi tanpa Kak Diego," ucap Raisa.
"Syukurlah jika kau menurut apa kataku, setidaknya aku akan lebih tenang untuk menyelesaikan masalah di perusahaan," ucap Diego.
"Iya Sayang, terima kasih banyak ya atas doamu," ucap Diego.
"Ye asik … sebentar lagi adik bayinya lahir, berarti aku akan punya teman dong. Tapi kenapa sih adik bayinya perempuan?" Tukas Denis yang tadi terlihat bahagia tiba-tiba saja tampak murung.
"Loh memangnya kenapa Denis, atau kau tidak suka jika adiknya itu perempuan," tukas Diego.
"Bukannya aku tidak suka Pa, tapi berarti aku tidak punya teman untuk bermain bola dong. Bukannya anak perempuan itu suka bermain boneka, masak-masakan, tidak mungkin bermain robot-robot atau bermain bola," ujar Denis.
"Siapa bilang, kalau hanya sekedar bermain boleh kok, tidak ada yang melarang. Buktinya Mama bisa bermain bola denganmu, hanya saja sekarang perut Mama sudah besar, jadi Mama kesulitan jika harus menendang bola," ucap Raisa
"Oh iya juga ya Ma, apa nanti setelah adiknya sudah lahir aku boleh mengajaknya bermain bola?" Tanya Denis.
"Tentu saja dong boleh, sekarang Oma saja ya dulu yang menemanimu main bola," sahut Siska, sehingga membuat semuanya tertawa bahagia.
*****
Keesokan hari, meskipun pagi-pagi sekali Diego harus pergi karena harus melanjutkan misinya mencari tahu siapa orang yang telah bermain-main dengannya serta mengancamnya itu, tetapi kali ini ia menyempatkan diri untuk sarapan terlebih dulu bersama keluarganya agar ibu dan istrinya tersebut tidak curiga. Setelah sarapan Diego pun langsung saja pergi tetapi ia tidak menuju ke perusahaannya, melainkan menuju ke kediaman Ayah mertuanya, Sastro.
__ADS_1
Setibanya di kediaman Sastro, Diego yang di saat itu sudah ditunggu langsung saja masuk ke dalam rumah dan menemui Ayah mertuanya yang berada di ruang depan.
"Diego, ini benar-benar masalah yang serius dan Ayah yakin jika kau terlibat pasti karena Ayah," ucap Sastro.
"Tidak Ayah, aku sangat yakin ini semua pasti ada sangkut pautnya juga dengan Darrel. Karena Darrel itu membenciku, aku juga tidak tahu sebenarnya apa masalahnya sampai dia ingin menghancurkanku dan aku sangat yakin jika Darrel dan Eros itu bekerja sama. Jadi ini bukan kesalahan Ayah, tetapi kesalahanku sendiri," ucap Diego.
"Tapi jika bukan karena dendam Erros terhadap Ayah, dia tidak mungkin mengajak Darrel untuk bekerja sama. Ayah benar-benar minta maaf Diego, karena Ayah kau jadi terkena masalah dan sekarang keluargamu juga dalam bahaya, termasuk Anak dan cucu-cucu Ayah," ucap Sastro.
"Ayah, aku tidak pernah menyalahkan Ayah. Sudahlah Ayah, yang penting sekarang kita harus cepat bertindak agar kita cepat mengetahui siapa dalang dibalik ini semua. Apa benar jika ini semua adalah perbuatan Erros?" Ucap Diego.
"Ya sudah lebih baik kita pergi sekarang," ucap Sastro.
"Iya yah," Jawab Diego.
Sastro dan Diego menggunakan satu mobil yaitu mobil Diego dan segera saja mereka pergi menuju ke suatu tempat.
____
"Diego, apa kau tidak bisa membawa mobil lebih cepat lagi?" Tukas Sastro karena melihat Diego terlihat begitu hati-hati, padahal kondisi jalanan tidak terlalu ramai.
Sudah pasti ini bukanlah kemampuan menyetir Diego di saat ia mengendarai mobil sendirian, tetapi memang saat ini ia menjaga mertuanya tersebut.
"Lebih baik kita pelan-pelan saja Yah, yang penting selamat sampai tujuan. Aku tidak mau Ayah kenapa-napa karena kecerobohanku," ucap Diego.
"Diego, apa karena Ayah ini memiliki penyakit jantung, jadi kau takut Ayah akan terkena serangan jantung di sini jika kau melaju kencang? Sudahlah kau tenang saja, Ayah sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Ayah masih bisa menjaga jantung Ayah dengan baik," ucap Sastro, sehingga Diego pun menambah kecepatan mobilnya tersebut.
Akan tetapi tiba-tiba saja ada kejadian tak terduga di mana saat itu terlihat segerombolan sepeda motor yang mengejar dan menghalangi jalan mereka saat melewati jalanan yang cukup sepi. Kira-kira ada 6 motor dengan jumlah 12 orang karena mereka saling berboncengan.
"Woi berhenti an jing!!" Teriak salah satu di antara mereka yang saat ini posisinya sudah berada di samping mobil Diego.
Bukan hanya berteriak tetapi orang tersebut terlihat mengetuk-ngetuk kaca mobil sambil sesekali menyerempet mobil Diego dengan motornya, sehingga Diego kesulitan untuk menyetir.
"Syit! Siapa Mereka?" Umpat Diego.
"Diego siapa mereka? Sepertinya mereka sengaja ingin menghalangi jalan kita karena sudah tahu kita mau ke mana," kata Sastro.
"Aku tidak tahu mereka siapa, tapi yang Ayah katakan itu benar sudah pasti mereka adalah bagian dari Erros," ucap Diego.
"Jumlah mereka sangat banyak, kita tidak mungkin menang melawan mereka. Jadi ebih baik tambah kecepatan mobilmu dan menghindar dari mereka Diego," titah Sastro.
Diego menganggukkan kepalanya, akan tetapi di saat ia baru saja hendak melaju, salah satu dari pengendara motor tersebut secara mendadak memberhentikan motornya tepat di depan mobil Diego.
__ADS_1
Cheat …
Bersambung …