
Sebagai asisten baru, tentunya Kenzo tak mau banyak bertanya. Tapi tak bisa dipungkiri jika ia merasa sangat penasaran sehingga disaat Diego memintanya untuk keluar menuju ke meja kerjanya dengan diantar oleh Bunga serta langsung diberikan tugas pertama, Kenzo pun memberanikan diri untuk bertanya kepada sekertaris Diego itu.
"Nona Bunga, tadi Tuan Diego mengatakan padaku bahwa dia sangat membenci pengkhianat, apa maksudnya ya?"
"Maksudnya ya seperti itu, Tuan Diego memang membenci pengkhianat. Jadi kau jangan coba-coba untuk menjadi pengkhianat," ucap Bunga.
"Tapi menurutku ini bukan hanya peringatan, tetapi juga merupakan pengalaman. Aku bisa melihat dari raut wajah Tuan Diego saat mengucapkan kata itu," ujar Kenzo.
"Sebelumnya Tuan Diego pernah mempunyai asisten yang sudah sangat lama bekerja dengannya. Bisa dikatakan sejak pertama kali beliau terjun di dunia bisnis, setahuku seperti itu karena aku juga belum terlalu lama bekerja di sini dan aku hanya mendengar cerita dari orang lain," terang Bunga.
"Lalu?" Tanya Kenzo penasaran.
"Tapi tiba-tiba saja asistennya itu berkhianat. Dia bekerja sama dengan mantan istri Tuan Diego untuk menghancurkannya, tapi mereka salah karena Tuan Diego bukanlah tandingan mereka dan sekarang mereka berdua sudah berada di dalam penjara," sambung Bunga.
"Oh … pantas saja. Jadi maksudmu Tuan Diego itu seorang duda?" Tanya Kenzo lagi.
"Tadinya iya, malah selama 5 tahun menduda dengan menghidupi anak 1, berjenis kelamin laki-laki dari hasil pernikahannya dulu. Tapi sekarang beliau sudah menikah lagi dan sudah memiliki seorang anak perempuan," jawab Bunga.
"Wow ternyata sebesar itu ya pesona Tuan Diego sampai sudah menikah 2 kali," ucap Kenzo merasa kagum.
"Apa kalian berdua tidak mempunyai pekerjaan sehingga bergosip sambil berjalan."
Terdengar suara seseorang yang membuat Bunga dan Kenzo langsung membalikkan badan dan menoleh ke arah sumber suara yang tidak asing di telinga.
"Tuan Diego, maaf Tuan kami hanya-"
"Sudahlah aku tidak mau mendengarnya. Kau kembali saja ke tempat kerjamu dan kau asisten baru, ikut aku," titah Diego yang menyela ucapan Bunga begitu saja.
Sehingga Bunga pun langsung menuruti perintah tuannya, begitu juga dengan Kenzo yang langsung membuntuti Diego dari belakang hingga mereka tiba di parkiran mobil.
"Kau bisa membawa mobil 'kan?" Tanya Diego, karena itu adalah salah satu syarat wajib untuk menjadi asistennya.
"Bisa Tuan," jawab Kenzo.
Diego mencampakkan kunci mobil dan dengan tepat Kenzo menyambutnya, ia juga mengerti jika saat ini Diego memintanya untuk menyetir. Sehingga langsung saja Kenzo membuka pintu mobil untuk tuannya tersebut lalu ia pun menyusul masuk ke dalam dan menyalakan mesin mobil.
__ADS_1
"Kita mau ke mana Tuan?" Tanya Kenzo.
"Jalan saja dulu, nanti aku akan memberitahumu," tukas Diego.
"Baik Tuan," jawab Kenzo dan melajukan mobil.
Setelah urusannya di luar yang hanya sebentar itu selesai, Diego dan asistennya itu pun langsung kembali ke perusahaannya karena ada rapat yang harus Diego hadiri.
*****
"Menurutku kehadiran Suster baru ini pasti akan sangat mengganggu, karena bagaimanapun juga dia akan menjadi orang terdekat Nyonya Siska. Apa yang harus aku lakukan sekarang Tuan?" Ucap Ayumi yang berbicara lewat telepon, entah siapa yang diteleponnya saat ini.
"Baik Tuan kalau begitu, saya janji akan selalu berhati-hati."
Setelah telepon berakhir, Ayumi segera menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku seragam susternya itu.
"Bener juga ya, kehadiran wanita itu bisa aku manfaatkan. Aku bisa melakukan sesuatu tetapi tidak perlu mengotori namaku sendiri," gumam Ayumi, lalu ia pun membalikkan badannya dan betapa terkejutnya Ayumi karena melihat seseorang yang berdiri di hadapannya. "Kau? Untuk apa kau ada di sini, kau menguping pembicaraanku?" Tukas Ayumi yang terlihat sangat marah.
Saat ini Ayumi sedang berada di samping kolam renang dan tiba-tiba saja muncul Amira yang ada di belakangnya.
Tanpa menjawab apapun apalagi ucapan terima kasih, segera saja Ayumi mendorong stroller Diesa dan membawanya masuk ke dalam rumah, serta menemui Raisa yang saat itu berada di ruang keluarga bersama Denis dan Siska
"Kenapa Suster Ayumi begitu marah saat melihatku. Padahal aku sama sekali tidak menguping pembicaraannya, aku sama sekali tidak mendengar apa yang dibicarakan Ayumi melalui telepon," gumam Maira, lalu ia pun melangkahkan kakinya menuju ke ruang keluarga.
Ayumi langsung saja melakukan perintah Raisa seperti apa yang Maira katakan tadi, karena Raisa juga harus bersiap-siap. Begitu pula dengan Denis, karena Diego mengatakan akan membawa mereka ke suatu tempat sehingga mereka semua harus segera bersiap-siap. Sedangkan Maira menjaga dan menemani Siska karena memang belum waktunya ia pulang bekerja.
*****
"Kak, memangnya kita mau ke mana sih. Kenapa kita tidak ajak Mama juga?" Tanya Raisa saat mereka berada perjalanan menuju ke suatu tempat.
"Sayang, kau 'kan tahu sendiri bagaimana keadaan Mama yang sedang tidak sehat. Lagi pula aku sudah membicarakan soal ini dengan Mama kok dan Mama memang tidak mau ikut, Mama ingin istirahat saja di rumah," kata Diego.
"Iya juga sih Kak. Tapi seharusnya kita tidak perlu keluar seperti ini Kak, lebih baik kita di rumah saja menemani Mama," ujar Raisa.
"Tidak apa-apa Sayang, 'kan hanya sekali-sekali saja, quality time bersama keluarga kecil kita juga perlu. Kita juga selalu menghabiskan waktu di rumah bersama Mama, tidak lama juga kok kita meninggalkan Mama. Lagi pula Mama tidak sendirian, ada Jason dan Aron, ada satpam juga, ada Bibi yang selalu menjaga Mama. Jadi tenang saja ya, Mama pasti akan baik-baik saja dan kalau memang terjadi sesuatu pasti mereka akan segera mengabari kita," ucap Diego yang meyakinkan istrinya tersebut.
__ADS_1
"Iya juga sih Kak, kau benar. Oh ya Kak sebenarnya aku kasihan dengan Bibi karena Bibi itu 'kan sudah punya tugasnya sendiri, apalagi malam-malam seperti ini sudah waktunya istirahat. Bagaimana kalau kita memperkerjakan Suster Amira sampai malam? Maksudku sampai Mama makan malam dan minum obat saja, setelah itu Suster Maira bisa beristirahat. Kalau Suster Maira mau, lebih baik dia tinggal di rumah kita saja. Katanya Suster Maira itu belum menikah dan orang tuanya ada di kampung, jadi mungkin tidak masalah kalau dia tinggal di rumah kita," ucap Raisa.
"Kalau itu menurutmu yang terbaik aku setuju saja dan nanti lebih baik kau bicarakan dengan Suster Maira. Tapi memangnya kau tidak khawatir jika nanti Suster Maira tinggal di rumah kita," ucap Diego.
"Khawatir? Kenapa aku harus khawatir Kak?" Tanya Raisa kebingungan.
"Ya seperti yang kau katakan tadi bahwa Suster Maira itu masih single, bagaimana kalau nanti dia menggodaku. Kau 'kan tahu sendiri bahwa suamimu ini mempunyai pesona yang sangat tinggi, aku ini hot duda dalam segala aspek," bisik Diego di akhir kalimatnya, yang membuat Raisa pun merasa kegelian mendengar ucapan suaminya tersebut.
"Ih Kak Diego, kau ini bicara apa sih. Kenapa kau begitu narsis," hardik Raisa.
"Bukan narsis, tapi memang itu kenyataannya Sayang," ucap Diego dengan pedenya.
"Ya ya, oke aku akui itu. Tapi aku percaya walaupun nantinya dia menggoda suamiku, pasti suamiku tidak akan tertarik karena istrinya ini juga mempunyai pesona yang luar biasa. Jadi mana mungkin sih suamiku ini berpaling dengan wanita lain," ujar Raisa yang membuat keduanya saling melemparkan senyuman.
Begitu juga dengan Ramzi yang ikut tersenyum mendengarnya, ia juga ikut merasa bahagia atas tuannya tersebut.
"Ramzi kau tidak usah ikut-ikutan tersenyum, fokus saja menyetir," hardik Diego yang melihat senyuman Ramzi.
"Maaf Tuan, aku hanya ikut berbahagia melihat dan mendengar keromantisan Tuan dan Nyonya. Membuatku iri," ucap Ramzi apa adanya.
"Itu artinya kau harus cepat-cepat mencari jodohmu, jangan hanya memikirkan pekerjaan saja. Nanti kau akan tahu bagaimana pentingnya seorang istri," kata Diego yang membuat wajah Ramzi seketika berubah.
"Kak, kenapa kau sedih? Jangan-jangan kau pernah mempunyai pengalaman buruk tentang percintaan ya?" Tebak Raisa asal, tetapi memang itulah kenyataannya.
"Sayang, sudah tidak usah membahas itu lagi. Kasihan Ramzi," ucap Diego yang sebenarnya sudah mengetahui bahwa Bodyguard-nya itu mempunyai masa lalu yang buruk soal percintaannya.
"Oh. ya sudah kalau begitu. Maaf ya Kak Ramzi," ucap Raisa.
"Mama dan Papa sedang membahas apa sih dari tadi, membuatku bingung saja," ucap Denis.
"Anak kecil diam saja," sahut Denis.
"Lebih baik aku menjadi anak kecil saja selamanya, orang dewasa sangat merepotkan," gerutu Denis yang membuat Raisa, Diego dan Ramzi pun tertawa karena Denis begitu menggemaskan.
Bersambung …
__ADS_1