Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Hangatnya Keluarga.


__ADS_3

Semakin lama Diego terlihat semakin rakus mencumbu bibir istrinya tersebut, seakan tak memberi Raisa celah untuk bernafas sehingga membuat istrinya itu pun tampak memberontak meminta untuk dilepaskan. Hingga pada akhirnya Diego sadar lalu keduanya berhenti sejenak untuk sekedar mengambil nafas lalu mengulanginya lagi dengan sangat lembut, saling me lu mat, mengakses rongga mulut pasangan masing-masing secara bergantian dan sesekali bertukar saliva.


Tanpa melepas pagutan bibir mereka, Diego melepas pakaian yang dikenakan oleh istrinya tersebut dan mencampakkannya di sembarang tempat. Setelah Raisa polos tanpa sehelai benang pun yang melekat, kini giliran Diego yang membuka pakaiannya dan hanya meninggalkan segitiga yang menutupi sang junior tetapi terlihat jelas ada sesuatu yang menyembul di baliknya, seakan sesak dan minta untuk dilepaskan, membuat Raisa pun menjadi cekikikan melihatnya.


Melihat istrinya tersebut tampak terkekeh, membuat Diego menghentikan aktivitasnya lalu menatap sang istri dengan penuh keheranan.


"Sayang, kenapa kau tertawa?" Tanya Diego mengernyitkan dahinya.


"Aku hanya lucu melihat itu Kak," jawab Raisa yang menunjuk ke arah bawah, menuntun Diego untuk melihatnya.


"Kenapa kau harus merasa lucu? Bukankah ini salah satu penyebab yang membuat kau mencintaiku?" Goda Diego mengerlingkan sebela matanya.


"Ih siapa bilang, kenapa kau mengatakan seperti itu Kak," bantah Raisa.


"Akui saja pasti kau menyukai permainanku 'kan. Pasti karena aku ini duda hot yang membuatmu terpesona dan semakin mencintaiku," ujar Diego asal.


"Jadi maksudmu aku ini telah Terpikat Pesona Hot Duda, begitu? Sudah seperti judul novel saja," ujar Raisa.


"Memangnya ada judul novel seperti itu?" Tanya Diego.


"Nanti biar aku yang tulis Kak," tukas Raisa.


"Sayang, kau ini ada-ada saja," ucap Diego.


Lalu Diego pun kembali mencumbui istrinya tersebut, menyesap pu ting bukit kembar, layaknya seperti bayi besar yang sedang kehausan.


"Agh … ."


Raisa men de sah, merasakan sensasi yang luar biasa di saat Diego meremas sebelahnya serta tangan Diego yang aktif meraba tubuh sang istri hingga mencapai ke lembah yang sudah sangat basah karena ulahnya. Tidak hanya itu saja, Diego juga memainkan ujung pada lembah tersebut dan memasukkan jarinya ke dalam lubang lembah kenikmatan, lalu bermain-main di sana, memaju mundurkan jarinya sehingga membuat Raisa pun kembali men de sah tiada henti.


Melihat Raisa yang terlihat sangat puas akan permainannya, membuat Diego semakin bersemangat untuk melanjutkan ke aksi selanjutnya. Kini ia pun membuka segitiga yang melindungi miliknya tersebut sehingga terlihatlah ular kobranya yang di saat itu siap untuk mematuk mangsanya. Raisa sudah tak mampu lagi berkata-kata, ia melengkungkan tubuhnya merasakan sesuatu cairan yang keluar dari miliknya tersebut, ya Raisa sudah melakukan pelepasan yang pertama terlebih dulu karena ulah suaminya itu.

__ADS_1


"Kau sudah siap Sayang, aku akan melanjutkan permainan yang sesungguhnya," ucap Diego tersenyum.


Raisa hanya menanggapinya dengan mengangguk dan tersenyum menatap ke arah suaminya tersebut.


Kini giliran Diego hendak memanjakan miliknya yang di saat itu sudah meronta-ronta meminta untuk segera dipuaskan, langsung saja ia memasukkan miliknya tersebut ke dalam goa milik sang istri.


Jleb!


"Agh … Sayang." Raisa kembali men de sah.


"Ough Sayang, ini terasa sangat nikmat," ucap Diego diiringi suara desahannya juga.


"Ayo Kak yang cepat, aku sudah tidak tahan lagi," ucap Raisa.


Sehingga Diego pun mulai memompa miliknya dengan tempo cepat hingga keduanya sama-sama mencapai puncak kenikmatan yang hakiki.


Setelah lelah melakukan pertarungan sengit di atas ranjang, kini Diego pun membaringkan tubuhnya di samping istrinya tersebut. Raisa sendiri masih tampak ngos-ngosan mengatur nafasnya setelah permainan panas yang mereka lakukan. Setelah itu keduanya langsung saja menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena memang tadi mereka belum mandi.


Jangan ditanya lagi jika sudah mandi berdua, tentunya Digo pasti akan meminta mengulangi perbuatan mereka. Meskipun awalnya Raisa tidak mau, tetapi karena sentuhan-sentuhan manja yang diberikan oleh Diego, membuat Raisa pun tak berdaya dan menuruti apa yang menjadi permintaan suaminya tersebut.


Selesai makan malam, tiba-tiba ponsel Sastro berdering ada panggilan video dari anak tirinya yang berada di luar negeri, yaitu Kenzie. Sehingga segera saja Sastro menjawab telepon tersebut di depan keluarganya tersebut, termasuk kelvin yang berada di sana.


"Halo Pi, apa kabar? Papi sehat 'kan?" Tanya Kenzie setelah melihat wajah ayahnya tersebut.


"Kau ini, jarang sekali menghubungi ayahmu sendiri. Apa kau sudah melupakan orang tuamu?" Tanya Sastro yang malah menimpalinya dengan omelan.


"Ya ampun Pi, santai saja lah. Kenapa juga Papi harus marah-marah seperti itu, Papi 'kan tahu kalau Anak laki-laki Papi ini sangat sibuk. Lagipula bukankah sekarang sudah ada Kak Raisa di rumah, Papi sudah tidak memerlukan aku lagi 'kan karena Papi sudah bertemu dengan Anak Papi itu," ucap Kenzie yang membuat Raisa pun tersentak lalu mendekati ayahnya tersebut.


"Heh Kenzie kau itu bicara apa, bagaimanapun juga kau itu tetap Anak Ayah. Seharusnya kau sangat peduli dengan kondisi Ayah, kau tahu 'kan bahwa kondisi kesehatan Ayah juga tidak baik-baik saja. Seharusnya kau itu lebih sering menghubungi Ayah, bukan seminggu sekali atau bahkan sebulan sekali." Raisa yang ikut mengomeli adiknya itu.


"Aduh … sudah dong Pi, Kak, aku tidak membutuhkan ceramah kalian. Sekarang aku menyempatkan diri untuk menelepon karena aku ingin menanyakan kabar kalian, kalian semua sehat-sehat saja 'kan? Di mana Kakak iparku dan di mana keponakanku yang lucu," Tanya Kenzie.

__ADS_1


Sehingga Sastro pun mengarahkan kamera ponselnya itu ke arah Diego yang tampak sinis memandangnya. Lalu Denis yang tersenyum serta melambaikan tangannya ke arah om-nya tersebut dan tentunya dibalas oleh Kenzie.


"Pi, coba deh Papi kasih ponselnya ke Kakak ipar, aku ingin bicara dengannya," ucap Kenzie.


Lalu segera saja Sastro memberikan ponselnya tersebut tetapi Raisa yang memegangnya dan mengarahkan kamera pada wajah sang suami.


"Ada apa?" Tanya di Diego ketus.


"Ups, santai dong Kak. Apa kau pikir aku akan merebut kakakku darimu? Tenang saja itu tidak akan pernah terjadi. Karena aku tahu ternyata Raisa adalah Kakakku dan kau adalah Kakak iparku, ya sudah aku akan mengikhlaskan kalian berdua bahagia," ucap Kenzie.


"Jadi maksudmu sebelumnya kau berniat ingin merebut Raisa dariku hah?" Tukas Diego.


"Ya kira-kira seperti itu lah, tapi ya sudahlah. Lagipula di sini juga banyak kok wanita yang mengejarku, aku rasa aku bisa mendapatkannya dengan sangat mudah. Untuk saat ini aku tidak memikirkannya dulu, aku hanya memikirkan perusahaan ini, aku harus memajukan perusahaan ini, perusahaan yang telah diberikan oleh Papi untukku. Jadi aku tidak akan mungkin merusak kepercayaan Papi," ucap Kenzie.


"Ish kau ini, untung saja kau sudah mengurungkan niatmu, jika tidak aku pasti akan membunuhmu. Jangan pernah berfikir untuk merebut Raisa dariku, karena aku tidak akan mungkin pernah merelakannya. Aku tidak akan mungkin pernah membiarkan kau hidup jika kau berani melakukannya," ucap Diego dengan sangat santai tapi serius.


"Tidak perlu terlalu serius seperti itu Kak, bawa enjoy saja supaya kau tidak terlalu terlihat tua. Apa kau tahu jika terlalu banyak marah-marah maka urat-urat di wajah akan tertarik dan membuat kau semakin cepat tua, jadi kau harus lebih banyak tersenyum," ledek Kenzie.


"Kau ini benar-benar ya, kalau kau berada di sini pasti aku sudah menghabisimu," hardik Diego yang membuat Raisa dan Denis terkekeh.


"Sudah Kak, kau itu tidak perlu marah-marah seperti itu. Benar apa yang dikatakan Kenzie bahwa kau terlihat semakin tua jika marah-marah terus," ujar Raisa yang membuat Diego pun tampak murung.


Sedangkan Sastro yang mendengar akan hal itu hanya tersenyum saja. Ya meskipun semenjak Sastro mengetahui jika Raisa anak kandungnya, Kenzie belum pernah pulang ke Indonesia lagi, tetapi mereka sudah saling berkomunikasi dan Kenzie sudah mengetahui hal itu juga menerima Raisa sebagai kakaknya. Malah Kenzie yang selama ini tidak memiliki saudara merasa sangat senang, tetapi seperti itulah sikap Kenzie yang memang sudah terkenal tengil, yang suka membuat orang lain kesal meskipun sebenarnya hatinya sangat baik dan sangat menyayangi keluarganya.


Karena Diego sudah enggan berbicara dengan Kenzie, saat ini pun ponsel tersebut dialihkan kepada Denis yang ingin berbicara dengan om-nya itu.


"Om Kenzie, Om Kenzie kapan ke sini lagi? Aku sudah merindukan Om Kenzie, aku ingin bermain dengan Om Kenzie," ucap Denis.


"Oh ya? Aku juga merindukanmu. Kau tenang saja anak manis, mungkin akhir tahun ini Om akan ke sana, kau tunggu saja ya. Nanti Om akan membawakan oleh-oleh mainan untukmu yang banyak," ucap Kenzie.


"Hore … terima kasih ya Om. Aku akan menunggu kepulangan Om Kenzie," ucap Denis.

__ADS_1


Meskipun berhubungan dari jarak jauh, tetapi keluarga tersebut bisa merasakan bahagia dan hangatnya dalam satu keluarga. Setelah telepon berakhir, keluarga tersebut masuk ke dalam kamar masing-masing untuk beristirahat karena hari juga sudah malam.


Bersambung …


__ADS_2