
Shasa dan Rion menyelesaikan pergelutan mereka,rambut keduanya terlihat berantakan akibat saling menarik satu sama lain dan nafas keduanya terlihat tak beraturan.
"Sha udahan yuk gelutnya,gue capek hah...hah..."ujar Rion dengan nafas terengah engah.
"Hah...hah...oke kita damai"saut Shasa setuju,lagi pula ia sudah sangat kelelahan untuk melanjutkan pergelutannya dengan Rion.
Kedua remaja itu sama sama merasa aneh seperti tidak ada orang lain disekeliling mereka,keduanya kompak melihat kiri kanan dan benar saja kalau dua rekan mereka yang lain yaitu Ariel dan Leo sudah tak ada disana.
"Lah Riri sama Leo kemana,kok gak ada?"tanya Shasa kepada Rion.
"Sialan tu bocah berdua main ninggalin kita aja,Leo pasti nganterin Riri ke kekamarnya nih"jawab Rion.
"Kamar,trus siapa yang bakal nunjukin kamar gue dimana?"tanya Shasa.
"Ya mau gak mau gue lah"jawab Rion.
"Emang lo mau?"tanya Shasa.
"Sebenernya sih kagak tapi kalau gak gue siapa lagi,yuk cepet gue antar"ajak Rion.
"Oke"ujar Shasa mengambil tas ranselnya yang sudah tergeletak dilantai.
"Mau gue bantuin gak nih bawa itu tas?"tawar Rion kepada Shasa.
"Gak usah,gue masih mampu bawa sendiri"tolak Shasa.
"Bagus deh,gue gak tambah repot jadinya"ujar Rion berjalan terlebih dahulu dan Shasa mengikutinya dari belakang.
Ditempat lain Leo sudah sampai mengantar Ariel sampai didepan kamar gadis itu.
"Ini kamar kamu Riel"ujar Leo menunjuk kearah sebuah pintu.
"Tasnya mau aku antar sampai dalam gak?"tanya Leo kepada Ariel,gadis itu menggeleng kemudian menjulurkan tangannya meminta tasnya kembali.
"Ah gak perlu ya,ini tasnya"ujar Leo memberikan tas yang ia bawa sejak tadi kembali kepemiliknya.
__ADS_1
"Sampai ketemu nanti"ucapnya sebelum pintu kamar didepannya benar benar ditutup oleh penghuni barunya,siapa lagi kalau bukan Ariel.Setelah itu Leo langsung beranjak dari depan kamar itu untuk pergi ketempat lain yang masih berada dalam gedung tua tempat markas mereka berada.
Ariel memasuki kamar yang akan ia huni beberapa hari kedepan dengan seksama,tas ranselnya tadi sudah ia taruh diatas tempat tidur.*Lumayan*pikirnya setelah melihat beberapa sudut kamarnya.
Saat sedang melihat kearah cermin,Ariel melihat sebuah kertas kecil yang tertempel dipermukaannya.Kerena penasaran dengan apa tulisan yang terdapat dikertas itu Ariel berjalan mendekat dan tangannya terangkat meraih kertas yang tertempel dipermukaan cermin itu,Ariel membaca isi pesan yang ternyata ditulis oleh Leo
*Selamat datang dikamar mu Riel,ini aku yang siapain semua loh.semoga kamu nyaman Hehehe(•‿•).
Dari:Teo yang tampan*
"Makhluk aneh"gumam Ariel setelah selesai membaca tulisan yang tertera dikertas kecil itu,ia menyimpan kertas itu didalam salah satu laci yang ada disana.
Kemudian bergerak kembali mendekat ketempat tidur meraih tas ranselnya untuk segera membereskan semua barang bawaan yang ia bawa,memindahkannya kedalam lemari kecil yang sudah tersedia.
~Skip~
Shasa keluar dari kamarnya yang berada dimarkas dengan membawa sebuah tas kecil entah apa isinya,yang jelas gadis itu terlihat melangkah dengan semangat sambil memeluk tas itu dengan wajah yang berseri seri.
"Hai guys"sapanya kepada ketiga rekannya yang lain yang sudah cukup lama menunggu kedatangannya dari tadi.
"Guekan harus siapain perlengkapan mainan gue dulu"ujar Shasa.
"Nah sekarang dimana mainan utama gue?"tanya Shasa terlihat sudah tak sabar.
"Ayo ikut"ajak Rion kepada yang lainnya,ia membawa Shasa,Leo,dan Ariel memasuki sebuah ruangan yang minim akan pencahayaan.
Ceklek...suara saklar lampu dinyalakan membuat sebuah bohlam lampu yang berada disalah satu sisi ruangan menyala sehingga memperjelas penglihatan,tepat dibawah bola lampu listrik yang menyala tadi terlibat seseorang yang diikat terduduk disebuah kursi kayu dan dalam keadaan tak sadarkan diri.Diantara sisi tempat seseorang itu berada dan tempat keempat remaja yang baru memasuki rungan itu berdiri terdapat dinding beton setengah kaca yang membatasinya, terdapat sebuh pintu akses penghubung dua sisi itu.
"Itu mainan lo"ujar Rion menunjuk kearah sisi lain ruangan.
"Wah akhirnya,perlengkapan tambahan yang gue minta udah disiapinkan?"tanya Shasa yang tampak memandang tahanan mereka itu dengan mata yang berbinar.
"Udah tenang aja"jawab Rion.
"Bagus,Ri titip hp gue"ujar Shasa langsung menyerahkan ponsel genggamnya kepada sang sahabat kemudian berjalan kearah pintu penghubung.
__ADS_1
"Kalian beneran gak ada yang niat ikut main?"tanya Shasa sebelum melewati pintu penghubung.Ariel,Leo,dan Rion kompak menggelengkan kepala mereka.
"Lo aja Sha,kita mah jadi penonton aja"ujar Leo.
"Oke"ujar Shasa langsung melewati pintu penghubung yang membuatnya berada disisi rungan lain dibalik dinding kaca.
Shasa berjalan mendekat kearah tawanan yang dalam keadaan terikat itu,ia meletakkan tas yang tadi ia bawa diatas meja kayu kecil disana.Diatas meja kayu itu terdapat dua ember kecil air es dan air garam sesuai permintaannya,tanpa ragu ia mengangkat ember berisi air es tadi dan langsung menyiramkannya keatas kepala tahanan didepannya itu.
Akh...suara tawanan itu kaget saat air es menyentuh kepalanya,membuat sang tawanan langsung terbangun seketika dan terlihat menggigil.
"Selamat sore tuan Lui yang terhormat"sapa Shasa sambil tersenyum
"LO,LEPASIN SAYA ANAK ANAK SIALAN!" teriak tuan Lui kepada Shasa setelah melihat orang orang yang membuatnya tertahan disini,berada diruangan itu.
"Ckk ckk ckk,sapaan gue gak dijawab dong.Malah kena teriakan"ujar Shasa dengan santai.
"APA MAU LO GADIS DIALAN?"seru tuan Lui.
"Gak ada kok om,saya cuma lagi mau main boneka bonekaan"jawab Shasa dengan tenang.
"Main boneka ya?!kalau begitu lepasin saya,saya bisa membelikanmu boneka yang banyak gadis kecil"ujar tuan Lui kepada Shasa.
"Kalau gue ngelepasin anda,gue gak bisa main boneka dong"ujar Shasa.
"Apa maksudmu?"tanya tuan Lui tak paham
"Karena bonekanya itu anda"ujar Shasa sekenanya,gadis itu berjalan ke arah meja kecil disana dan mulai mengeluarkan satu persatu isinya kemudian menyusunnya dengan rapi.
"Untuk apa semua itu?"tanya tuan Lui sedikit ketakutan melihat benda benda yang dibawa Shasa,bagaimana tidak beberapa diantaranya sangat mirip dengan pisau bedah serta beberapa jenis benda tajam lainnya.Setelah semua beres barulah Shasa memakai dua buah sarung tangan yang biasa digunakan oleh dokter saat melakukan operasi pasiennya.
"Gila,darimana tu bocah dapet semua itu?"tanya Rion sedikit kaget sekaligus kagum melihat semua peralatan milik Shasa itu.
"Tau tuh,jenis pisau dimarkas aja kalah lengkap sama yang dibawa Shasa"ujar Leo ikut kagum.
"Koleksinya"ujar Ariel datar.
__ADS_1