
Kriet...pintu ruangan kerja milik tuan Wyle dibuka dari luar,hal ini membuat kedua laki laki berbeda usia yang tengah berbincang didalam ruangan langsung otomatis melihat kearah pintu masuk.Disana sudah terlihat seorang gadis memakai gaun berwarna biru muda berdiri didepan pintu,wajah datar tanpa ekspresi dari gadis itu jelas tergambar.
"Ah sepertinya anda tak perlu menunggu sampai nanti tuan,orangnya sudah disini"ujar Leo yang menjadi yang pertama bersuara, pemuda itu beranjak dari tempat duduknya dan mulai melangkah mendekat kearah gadis cantik dipintu itu.
Tap...tap...tap...Leo berhenti tepat disebelah gadis dingin yang belum 48 jam telah resmi menjadi kekasihnya itu.
"Masuklah,bicara dengan papamu.Aku tunggu ditaman belakang mansion ini"ujar pemuda itu yang terdengar seperti berbisik itu,ia menyenpatkan untuk tersenyum manis.
Setelah itu Leo melanjutkan langkahnya keluar dan menjauh dari ruangan itu, memberikan waktu kepada ayah dan anak itu untuk bicara guna menyelesaikan semua hal yang perlu diselesaikan.
Ariel terdiam sejenak untuk memikirkan maksud perkataan kekasihnya itu barusan,ia kemudian menatap kearah dalam ruangan atau lebih tepatnya kearah sang papa yang sepertinya tengah menunggunya melangkah masuk kedalam ruangan.Ariel menggelengkan kepalanya pelan menandakan itu tak mungkin,gadis itu mulai memutar arah hendak pergi dari namun itu tak jadi karena suara sang papa.
"Jangan pergi dulu nona muda,ayo masuk"suara sang papa yang meminta,ah bukan meminta tapi lebih tepat menyuruh dari nada bicaranya.
Aurel kembali berbalik arah dan dengan berat hati,gadis itu mulai melangkah masuk kedalam ruangan yang sangat tidak ia sukai ini.Bukan ruangannya sih,tapi mungkin kenangan setiap ia berada didalam ruangan ini dulu yang membuatnya tak menyukai berada disana.Sumber penderitaan,masalah, pekerjaan,beban serta tekanan baru pasti selalu ia dapatkan setiap dipanggil keruangan ini.
Kini disinilah Ariel,berdiri ditengah ruangan itu dengan kedua tangan yang terlipat didepan.Ekspresi datar serta tatapan nan sangat dingin ia gunakan untuk menatap sosok yang entah masih bisa ia anggap sebagai papanya atau bukan,tiga menit dalam posisi berdiri saling berhadapan itu namun belum ada yang membuka suara sedikitpun.
"Bicaralah,saya tak punya waktu untuk meladeni anda sekarang"ujar Ariel dingin.
Tuan Wyle menatap serta memperhatikan putri bungsunya yang tengah berdiri dihadapannya saat ini itu dengan seksama,ia tak menyangka gadis kecil yang ia didik dengan keras sejak dahulu kini ternyata sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.Perasaan bersalahnya langsung muncul kembali setelah menyadari kalau ia saat ini tak bisa menemukan sedikitpun cahaya tatapan seorang anak dimata sang putri,ia hanya menemukan tatapan seorang gadis yang tengah seperti menatap musuh besar atau orang yang mengancam didalam mata putri bungsunya itu saat ini.
"Anda hanya akan diam saja?"suara dingin putrinya itu kembali terdengar memasuki indra pendengarannya.
"Maaf"
Ariel langsung terkaget dan merasa ada yang salah dengan indra pendengarannya, meskipun mulut orang yang tengah berdiri dihadapannya itu bergerak tapi gadis itu tak yakin orang itu benar benar baru saja mengatakan salah satu kata terlarang itu. Maaf tidak nungkin papanya mengucapkan kata itu barusan terlebih padanya,itu akan menjatuhkan harga diri laki laki yang berstatus sebagai orang tuanya itu.
"Sepertinya telinga saya terganggu saat ini,anda tak mungkin mengatakan hal itu bukan?"tanya Ariel memastikan.
Bruk....tuan Wyle langsung menjatuhkan diri dan bersujud diatas kaki putri bungsunya
__ADS_1
"Maaf,maafkan papa nak.Maafkan papa putriku"ujar tuan Wyle memohon sambil bersujud dikaki putrinya itu.
Tap...tap...tap...
Ariel langsung tanpa sadar melangkah mundur dan menjauh dari papanya itu,ia menatap sang papa yang tengah menatap kearahnya dengan mata memerah.
"Anda pasti sedang sakit,ya anda pasti sedang kurang sehat tuan Wyle"ujar gadis muda itu.
Tuan Wyle beranjak bangkit dari posisinya dan melangkah mendekat lalu langsung memeluk tubuh putrinya yang kini tengah terdiam mematung ditempat.
"Papa sedang tidak sakit putriku,papa memang benar benar mau meminta maaf atas semua kesalahan yang papa lakukan selama ini mepadamu"ujar tuan Wyle dengan lembut dan tulus.
"Papa kini sadar telah melakukan kesalahan besar kepadamu selama bertahun tahun,papa juga tahu kamu akan kesulitan memaafkan papa dan melupakan semua hal kejam yang selama ini papa lakukan secara sadar kepadamu nak.Tapi papa mohon,beri papa kesempatan untuk memerbaiki semuanya. Papa mohon dan sekali lagi papa minta maaf kepadamu"lanjut tuan Wyle.
Ariel merapatkan bibirnya yang tengah bergetar hebat menahan tangisan,mata gadis itu memerah dan mungkin akan segera berair.
Benar,ia tidak salah dengar ternyata meskipun masih sulit untuk ia percayai.Tidak ada bentakan,nada keras,tidak ada ancaman, paksaan,semuanya tidak ada,gadis itu kini hanya bisa mendengar suara lembut dan lirih dari papanya.Tidak ada tamparan,cambukan, atau pukulan bahkan todongan senjata,hanya ada pelukan hangat seorang papa yang sudah sangat lama tidak pernah bisa ia rasakan sekaligus sangat ia rindukan dan inginkan.
Kini gadis itu hanya bisa diam membisu tak tahu harus merespon apa,Ariel bahkan tak sadar kalau papanya sudah tidak memeluknya lagi.Putri bungsu keluarga Wyle itu masih sibuk pada pikiran dan memahami semua perasaan serta hal yang baru saja terjadi.
"Putriku,kamu tidak apa apa?"tanya tuan Wyle yang mulai merasa khawatir melihat respon putrinya itu.
"Riri mau memaafkan papa bukan?"tanya laki laki paruh baya itu.
Ariel mendongak keatas menatap papanya dengan tatapan yang sulit diartikan,membuat papanya gugup menunggu bagaimana responnya
"Aku tidak tahu,aku bingung,saya butuh waktu sendiri"ujar Ariel.
Tap...tap...tap...gadis muda itu sesegera mungkin melangkah dengan cepat meninggalkan ruangan papanya dengan perasaan yang sangat campur aduk,Ariel merasa sangat bingung dan masih sedikit kaget.
Tuan Wyle menatap nanar punggung putrinya yang pergi dengan cepat dari ruangannya,laki laki itu menunduk sebentar sembari menyingkirkan setetes air mata yang tak sengaja keluar dari sudut matanya menggunakan ibu jarinya sendiri.
__ADS_1
*Sepertinya kesempatan untuk mendapatkan maaf dari putrimu sendiri sangat tipis Wyle*batin tuan Wyle.
~Taman belakang mansion~
"Bagaimana pembicaraan kalian?"tanya Leo menyambut kehadiran Ariel ditaman belakang mansion.
"Kurasa aku sedang bermimpi"gumaman gadis yang baru datang itu terdengar oleh Leo.
"Maksudmu?"tanya Leo
"Kamu pasti tak percaya,orang itu tadi meminta maaf kepadaku.Ah ini sangat sangat tak masuk akal,orang itu baru saja dengan sukarela menurunkan ego dan harga dirinya dengan cara bersujud dikaki pewarisnya. Bukankah itu tak masuk akal"oceh Ariel dengan raut wajah kebingungan.
Leo yang mengetahui kalau gadis itu tengah linglung-pun langsung membawa sang kekasih kedalam pelukannya,ia mengusap usap pucuk kepala gadis itu dengan lembut mencoba menetralkan segala jenis emosi yang tengah dirasakan oleh Ariel.
"Kamu sedang tidak bermimpi Riel,papamu memang meminta maaf kepadamu barusan.
Tuan Wyle sebelumnya bahkan memintaku untuk mengajarkannya cara meminta maaf yang baik dan benar,tadi saat aku diajak keruangannya sebelum kamu datang"ujar Leo menjelaskan dengan lembut.
"Benarkah?aku sedang tak bermimpi?"tanya Ariel yang langsung melonggarkan pelukan dan menatap Leo dengan polos.
"Hm ya,kamu sedang tak bermimpi"ujar Leo sambil mengangguk.
"Tapi masih sulit dipercaya"gumam Ariel pelan namun lagi lagi Leo masih dapat mendengarnya.
"Kamu pasti sedang merasa campur aduk sekarang,bukankah begitu?"tanya Leo,gadis itu dengan cepat mengangguk.
"Itu wajar,kamu berhak kaget dan bingung bahkan mungkin syok akan hal itu.Karena kamu tak pernah menduga sebelumnya"ujar Leo.
"Jadi bagaimana keputusanmu,mau memberikan papamu kesempatan hm?"tanya Leo yang penasaran akan keputusan sang kekasih.
"Aku ingin,tapi masih sulit setiap mengingat semua dimasa lalu"ujar Ariel menatap dengan tatapan kosong.
__ADS_1
"Baiklah tak usah dipikirkan sekarang kalau kamu masih kebingungan,beri ruang dirimu untuk berfikir dulu.Lagi pula laki laki tua menyebalkan itu itu tidak akan bisa marah,jika harus menunggu lama untuk mendapatkan jawaban putrinya"ujar Leo dengan entengnya memanggil tuan Wyle dengan panggilan laki laki tua menyebalkan.