The Twin'S : Aurel And Ariel

The Twin'S : Aurel And Ariel
Chapter 141


__ADS_3

Didunia nyata Ariel yang tengah tertidur nampak mulai dibanjiri oleh keringat,nafas gadis itu yang tadinya normal terlihat mulai tak beraturan.


"Riri kenapa?"ujar Shasa panik melihat kondisi sahabatnya itu yang tiba tiba terlihat gelisah dalam tidur.


Tanpa tunggu lama dan banyak basa basi,Leo langsung mendekat kemudian naik keatas tempat tidur dan langsung membawa Ariel kedalam dalam pelukannya sama seperti saat ia menenangkan gadis itu saat menangis tadi.


"Lo ngapain bro?Nanti kena marah gimana?" tanya Rion melihat apa yang dilakukan temannya itu.


"Biarin aja,itu cara buat nenangin Riri"ujar Shasa kepada Rion.


Benar yang gadis itu katakan,Ariel kembali stabil setelah Leo memeluk sahabatnya itu,


Ariel sudah tak terlihat gelisah lagi dan nafasnya mulai beraturan kembali.


"Riri pasti selalu gitu kalau lagi mimpi tentang kenangan masa lalunya sama Nic paman lo"ujar Shasa kepada Leo


"Benarkah?"tanya Leo


"Hm,baik itu mimpi kenangan yang menyenangkan atau buruk"tambah Shasa.


"Satu informasi lagi yang gue dapat dari majikan kecil paman gue ini"gumam Leo mengusap pelan pucuk kepala Ariel yang masih tertidur.


"Kapan Riri bangun sih?gue jadi makin penasaran siapa orang yang difoto tadi sama sangkut pautnya sama kalian bertiga"ujar Rion tak sabar menunggu Ariel bangun.


"Tunggu beberapa menit lagi,gue yakin Riri bakal bangun kok"ujar Shasa menyauti perkataan Rion.


Lagi lagi perkataan Shasa itu bener terbukti beberapa menit setelahnya sudah terlihat kedua kelopak mata gadis itu mulai bergerak dan terbuka secara perlahan.


"Shasa"panggil Ariel pelan dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Ya Ri"saut Shasa semakin mendekat ke tepi ranjang disisi satunya kemudian duduk disana.

__ADS_1


Ariel terlihat bergerak perlahan melepaskan pelukan Leo darinya dan tentunya Leo yang mengetahui pergerakan gadis itu,langsung melonggarkan tangannya yang memeluk Ariel.Setelah itu Ariel langsung beralih memeluk Shasa yang duduk disisi pinggir tempat tidur yang lain,Shasa dengan senang hati memeluk sahabatnya itu karena ia tau kalau kondisi pikiran Ariel masih belum stabil.


"Riri tadi pasti bermimpi tentang Nic lagi kan?"tanya Shasa kepada Ariel meskipun dirinya sudah tau jawabannya.


"Hm"Ariel hanya berdehem sebagai jawaban.


"Shasa tau ini berat buat Riri,tapi jangan terlalu memikirkan tentang itu lagi apalagi sampai menjadikannya beban pikiran.Kondisi Riri pasti makin drop nantinya"ujar Shasa berbicara dengan sangat lembut kepada sahabatnya itu.


"Riri tau kok Sha,tapi makasih udah diingetin"saut Ariel mengikuti gaya bicara Shasa yang lembut.


"Bagus kalau Riri udah tau,sekarang ayo lepas pelukannya.Kita harus meminta penjelasan dari Leo dulu,bukan?"ujar Shasa menatap Leo.


"Benar juga"ujar Ariel terkesan dingin langsung melepaskan pelukannya dari Shasa dan berbalik menatap datar Leo.


"Huf...oke bakal gue jelesin"ucap Leo setelah menghela nafas berat.


"Nah ini yang gue tunggu"ujar Rion dengan semangat menarik kursi kayu yang ada dikamar Leo itu mendekat keranjang kemudian duduk diatas kursi itu,siap mendengar cerita Leo.


"Nama keponakan Nic itu Nico bukan Leo"potong Ariel.


"Memang,Nico itu nama panggilan masa kecil gue dam itu diambil dari nama belakang keluarga aku yaitu Nicolas.Nic nama panggilan paman yang kenal itupun juga asalnya dari nama itu,dulu aku juga awalnya heran kenapa baik paman bahkan papa dan mama aku gak pernah panggil gue dengan nama Leo yang merupakan nama asli gue sendiri.Tapi setelah kabar terakhir dari paman dan seseorang tiba tiba datang memberi penjelasan singkat serta nasih buku catatan peninggalan paman,aku mulai mengerti banyak hal dan juga identitas asli ketiga anggota keluarga gue yang udah pergi untuk selamanya"ujar Leo menjelaskan tentang jawaban dari pertanyaan Ariel itu.


"Maksud lo dan seseorang itu siapa?"tanya Shasa.


"Lo terutama Riel kenal banget siapa orang itu"jawab Leo sambil menatap tepat kearah mata Ariel dengan sangat dalam.


"Papa?"gumam Ariel pelan.


"Hm,Papa kamu tuan Wyle datang menemui aku keindonesia sehari setelah aku nerima surat terakhir sekaligus perpisahan dari paman Jerry"ujar Leo.


Setelah itu Leo mulai menceritakan pertemuannya dengan papa gadis itu untuk pertama kalinya

__ADS_1


~Flasback~


Leo kecil sedang duduk diatas tempat tidurnya,bocah itu sejak kemarin tidak mau meninggalkan kamarnya sendiri setelah menerima surat dari pamannya.


Isi surat yang ditulis langsung oleh pamannya itu membuat hati mungil bocah laki laki itu menjadi cemas dan sangat takut karena kata kata yang berarti perpisahan tertulis jelas diatas kertas itu,meski usia bocah itu baru sebelasan tahun namun Leo kecil bisa tahu kalau ada sesuatu yang akan terjadi dengan sang paman.


Tok...tok...tok...suara pintu kamar Leo kecil diketuk dari luar kamar.


"NICO TAK MAU MAKAN ATAUPUN KELUAR BIK"teriak Leo kecil,ia bisa menebak kalau yang mengetuk pintu itu pasti pengasuhnya.


"Bibik tidak meminta den Nico untuk makan kok,tapi bibik ingin memberitahu kalau ada temannya tuan Jerry yang datang dan ingin bertemu dengan aden"ujar pengasuh dari luar kamar.


"Tunggu,Nico Akan Keluar"saut Leo kecil.


"Baik den,tamunya sedang menunggu diruang tamu saat ini"ujar pengasuh itu,kemudian sayup sayup terdengar langkah kaki menjauh dari pintu kamarnya.


Leo kecil yang penasaran siapa teman pamannya yang datang itu langsung beranjak turun dari atas tempat tidur,ia membuka laci meja belajarnya kemudian mengambil pisau lipat kecil dan menaruhnya disaku celana.


Leo kecil mengingat pesan sang paman untuk selalu waspada kepada siapapun yang datang dan mengaku kenal sang paman ataupun mendiang kedua orang tuanya,pisau lipat kecil itupun sang paman yang memberikannya sebagai jaga jaga jika terjadi sesuatu.


Bocah laki laki itu memutar kunci kamarnya supaya pintu itu bisa dibuka dan ia bisa keluar dari dalam kamar,Leo kecil langsung melangkah menuju keruang tamu dengan sedikit waspada untuk menemui tamu yang katanya adalah teman pamannya.


"Ini yang namanya Nico tuan"ujar pengasuhnya Leo kecil,saat ia sampai diruang tamu.


"Jadi kamu keponakannya Nic"ujar tamu itu dari suaranya terkesan sangat dingin dan penuh wibawa.


Leo kecil mendadak merasa takut setelah melihat sosok yang menjadi tamu ditempat tinggalnya itu,apalagi setelah sang tamu mulai menatapnya dengan tatapan yang terlihat tajam dan dingin.


"Bisa tinggalkan kami berdua"ujar sang tamu kepada pengasuh.


"Baik tuan"jawab pengaduh itu langsung undur diri meninggalkan ruang tamu.

__ADS_1


__ADS_2