
Pagi hari tiba namun tidak seperti biasanya cerah tapi sejak pagi pagi tadi hujan sudah mengguyur bumi dengan cukup deras,Ariel menatap kearah luar melalui kaca balkon kamarnya yang tertutup sambil berdiri.
Matanya memperhatikan butiran butiran hujan yang mengalir di permukaan kaca,
Sebenarnya sudah hampir lima belas menit ia berada dalam posisi seperti itu.
Tepat dibelakangnya atau lebih tepatnya di atas tempat tidur,terlihat saudari kembarnya yaitu Aurel yang masih terbaring tidur dengan sangat nyenyak.Ariel sendiri memang sudah cukup lama terbangun karena suara jam alarm yang ia setel tadi malam,jika memilih untuk tidur lagi sebenarnya bisa apalagi hari masih cukup pagi dan hari ini juga mereka masih belum masuk sekolah karena izin 4 hari yang mereka ambil masih berlaku serta cuaca yang cukup sejuk tentu saja sangat mendukung untuk tidur.Tapi semua itu ia langsung urungkan karena Ariel sendiri lebih tertarik memandangi hujan yang turun dengan deras membasahi permukaan bumi dari pintu balkon kamarnya yang kebetulan dari kaca yang cukup transparan.
Aurel menggeliat di atas kasur karena merasa kedinginan,dengan setengah sadar ia berusaha memperbaiki letak selimut agar dapat membalut tubuhnya dengan sempurna supaya ia tidak merasa kedinginan lagi.
Namun saat hendak tidur lagi ia baru sadar kalau kembarannya sudah tidak ada disampingnya lagi,ia melihat sekeliling kamar untuk menemukan kembarannya itu.
"Emang seru banget ya ngeliatin hujan,
Sampai sampai lo gak ngerasa kedinginan gitu dek?"ujarnya setelah menemukan keberadaan Ariel.
"Bukan seru sih tapi lebih ke menenangkan aja"saut Ariel langsung membalikkan badannya,kini pandangannya tertuju pada Aurel yang masih di atas tempat tidurnya dengan berbalut selimut tebal.Bisa ia pastikan saudari kembarnya itu pasti merasa kedinginan.
"Apanya menenangkan cuma mandangin hujan yang turun aja?"tanya Aurel yang tidak mengerti menenangkan dari segi mananya yang disebut Ariel.
"Lo gak bakal paham,yang lo paham kan cuma soal fassion aja sama kayak mama"ujar Ariel pada Aurel.
"Emang gak paham makanya gue nanya baru lo jawab dengan cara dijelasin biar paham" ucap Aurel.
"Gak bisa dijelasin,lo kedinginan ya?"tanya Ariel,ia memilih untuk menjelaskan apa yang ia maksud menenangkan dari memandang hujan karena itu memang sulit buat dijelasin dengan kata kata.
__ADS_1
"Iya gue kedinginan,lo gak liat badan gue udah dibalut sama selimut lo sekarang"jawab Aurel.
"Butuh tambahan selimut gak biar gue ambilin?"tanya Ariel.
"Boleh tuh"ujar Aurel sambil mengangguk membenarkan kalau ia memang butuh selimut tambahan,soalnya jujur saja kalau selimut yang sekarang ia pakai memang jenis yang tipis.
"Bentar biar gue ambilin"ucap Ariel,dengan segera ia beranjak dari tempatnya berdiri saat ini menuju kearah lemari berukuran besar yang terdapat di kamarnya itu.
Ariel membuka pintu lemari sebelah kanan dengan perlahan tangannya mengambil sebuah selimut tebal yang terlibat didalam lemari kemudian setelah mendapatkan apa yang ia cari barulah ia menutup kembali pintu lemari itu kembali seperti semula.
"Nih"ujarnya menyerahkan selimut itu pada Aurel,dan tanpa basa basi Aurel menerima selimut itu dan membalut kan nya untuk menutupi seluruh badannya kecuali kepalanya.
"Lo gak kedinginan apa pakai piyama lengan pendek kayak gitu mana celana selutut juga?"tanya Aurel yang melihat Ariel seperti gak merasa kedinginan sedikitpun.
"Padahal kita kembar tapi kenapa ya gue payah banget ngehadapin suhu dingin kayak gini,sedangkan lo sendiri punya tolerir tinggi banget sama cuaca dingin kan gak adil banget tuh"ujar Aurel sedikit menekuk mukanya merasa tidak adil.
"Apanya yang gak adil,gue tolerir tinggi sama dingin tapi enggak dengan panas"ucap Ariel tidak setuju dengan omongan kembarannya.
Apa yang ia katakan memang benar kalau Aurel memang sangat sensitif terhadap kedinginan sejak kecil sampai sekarang tapi itu tidak berlaku kalau suhu cuaca yang panas,malah akan sebaliknya dirinya yang termasuk sangat tahan akan suhu dingin akan sangat susah mentolerir suhu udara saat panas dan tentu saja itu masih berlaku sampai sekarang.Oleh sebab itulah sebenarnya ia tipe orang yang lebih suka keluar malam dari pada siang hari karena untuk menghindari panasnya matahari.
"Iya sih tapi itukan dulu waktu kita masih kecil,sekarang keliatannya lo gak terlalu terpengaruh tuh kalau cuaca lagi panas banget"ujar Aurel.
"Siapa bilang?masih kok,cuma gue gak nunjukin aja"saut Ariel.
"Tetap aja gue keliatan lebih lemah dari lo,buktinya gue sampai gak tau kalau lo kepanasan banget sedangkan gue,lo bisa liat sendiri gimana udah menggigil kedinginan sekarang"ucap Aurel terlihat sedih.
__ADS_1
"Mana ada lo lemah"sanggah Ariel cepat,ia bisa menebak kalau kembarannya itu mulai berpikir terlalu jauh hingga menimbulkan berlebihan.
"Tapi kalau dipikir pikir gue yakin kalau gue emang lemah banget jadi kakak lo,buktinya lo lebih sering berperan melindungi gue dari pada gue melindungi lo padahal kan gue itu dihitungnya kakak lo karena lebih dulu lima menit lahir dari pada lo.Papa juga selalu bilang kalau lo anak dia yang paling kuat dan paling bisa diandalkan untuk melakukan apapun bahkan sejak kecil gitu"ujar Aurel panjang lebar.Benarkan tebakan Ariel kalau kembarannya itu pasti memikirkannya terlalu jauh dan bahkan mulut Aurel masih terus mengoceh tak jelas tak lupa mukanya yang ditekuk.
Huf...Ariel menghela nafasnya pelan terlebih dahulu
"Hei lo itu gak lemah,buktinya kakak bisa jadi kakak yang paling pengertian dan paham banget sifat aku kayak gimana"ujar Ariel menggenggam tangan sang kakak dengan erat.
"Tapi waktu itu gue gak bisa cegah lo buat bunuh..."perkataan Aurel terhenti karena Ariel yang memeluk tubuh gadis itu dengan cepat.
"Hei bukannya kita udah sepakat buat gak membahas ataupun mengungkit tentang kejadian itu?Dan juga itu bukan salah kakak,
kakak bahkan gak ada sangkut pautnya dengan percobaan bunuh diriku itu"ujar Ariel menenangkan Aurel yang masih ada di pelukannya itu,ia yakin kalau kembarannya itu sedang menangis karena terdengar jelas suara sesegukan Aurel.
"Maaf"ucap Aurel sambil sesegukan,suara gadis itu terdengar sangat pelan nyaris tak terdengar tapi Ariel yang memiliki pendengaran yang tajam tetap bisa mendengarnya dengan baik.
"Udah gak usah nangis lagi,lagian tadi perasaan kita bahas hujan deh kok malah merembet kemana mana"ujar Ariel pada Aurel.
"Iya juga ya,maaf pikiran kakak entah kenapa hari ini jadi kayak gini.Pasti karena hujan"ucap Aurel meminta maaf.
"Hm,jangan suka berfikir berlebihan lagi.Mendingan sekarang lo tidur lagi,kakak masih ngantuk kan?"suruh Ariel.
"Ya"jawab Aurel,gadis itu kembali memejamkan matanya di pelukan kembarannya itu untuk tidur kembali.
*Lo gak lemah Re cuma lo emang gak di takdirin buat berada dalam tekanan dan bahaya,karena itu takdir gue dari dulu dan akan selalu begitu*ujar Ariel dalam pikirannya sambil memandang sendu wajah saudari kembarnya yang kembali terlelap dalam pelukannya.
__ADS_1