The Twin'S : Aurel And Ariel

The Twin'S : Aurel And Ariel
Chapter 37


__ADS_3

"Bukannya kita kan punya satpam di rumah ini,kenapa bisa orang naruh paket itu didepan pintu?"tanya Ariel.


"Riri lupa, kan Riri yang berhentiin mereka kemarin"ujar Shasa menatap Ariel.


"Aku lupa"ujar Ariel.


*Gimana gue bisa lupa sih,kalau gue yang berhentiin untuk diganti,Ariel begok"gumam Ariel dalam hatinya.


"Riri"panggil Shasa


"YA"saut Ariel.


"Dari kemarin Shasa pengen nanya soal ini,Riri kok suruh semua pekerja di rumah berhenti?"tanya Shasa penasaran.


"Soal itu,gak tau juga sih.Tapi Riri cuman mau cari pekerja yang lebih bisa dipercaya aja"ujar Ariel.


"Emang sebelumnya enggak?"tanya Shasa lagi.


"Enggak,soalnya beberapa waktu lalu Riri nemuin ada yang retas sistem cctv rumah ini dan ada juga beberapa kamera tersembunyi yang sengaja ditaruh disini"jelas Ariel,Ariel tidak bohong soal ini kemarin sebenarnya entah kenapa ia iseng meretas cctv rumahnya melalui komputernya.Tapi ia menemukan sesuatu yang ganjal dimana cctv rumah tempat tinggalnya dan para sahabatnya itu terlihat diakses dari luar,padahal itu seharusnya tidak bisa karena semuanya hanya bisa diakses dari ruang data yang ada dirumahnya kecuali diretas oleh seseorang seperti yang dia lakukan saat itu.Tak lama berselang setelah itu ia juga tidak sengaja menemukan satu kamera kecil diruang tamu dan setelah ia cari lagi,ia juga berhasil menemukan beberapa lainnya yang tersebar di rumah.Hal inilah yang membuatnya yakin kalau pasti ada mata mata di rumah itu dan itu pasti salah satu pekerja disana,makanya ia langsung memecat semuanya.


"Hah,seriusan kok Riri gak bilang sama Shasa sama yang lain sih"ucap Shasa.


"Maaf Sha,Riri juga gak mau buat kalian bertiga khawatir apalagi sampai Rere tahu.Kamu tahukan kalau kembaran Riri itu orangnya mudah khawatir sama pemikir."ujar Ariel.


"Iya juga sih,trus kita harus gimana sekarang apalagi soal teror itu?"tanya Shasa kebingungan.


"Soal itu Shasa tenang aja nanti biar Riri yang urus"ujar Ariel.


"Oke"jawab Shasa.


"Tapi Ri,Shasa jadi penasaran apa tujuan mereka kirim teror ke rumah kita.Kitakan gak pernah terlibat masalah selama disini,iya kan?"ujar Shasa.


"Iya aku juga"saut Ariel seadanya,ia tak tahu harus berkata apa sekarang.


Setelah iyu keduanya diam dan masuk dalam pemikiran mereka sendiri sendiri

__ADS_1


*Jangan bilang yang ngirim teror itu orang itu,gue yakin pasti itu.Sst ternyata dia udah bergerak,gue sama yang lain juga harus bergerak cepat dan harus lebih waspada dan yang pasti mereka bertiga juga jangan sampai curiga.*pikir Ariel dalam hati.


*Apa ini ada hubungannya sama orang yang ngawasin rumah kemarin ya,Shasa harus bilang pak Can soal ini nanti*gumam Shasa dalam pikirannya sendiri.


"Shas"panggil Ariel.


"Ya,ada apa Ri?"saut Shasa


"Lo tadi gak lupakan ganti bajunya Kay,dia kan fobia sama darah jangan sampai nanti dia bangun ngeliat bajunya ada bercakan darah bisa bisa dia ketakutan lagi"ujar Ariel,ia baru ingat soal itu.


"Udah kok,udah Shasa ganti tadi pas nganterin Kay ke kamar"jawab Shasa.


"Dan satu lagi Sha,nanti kalau mereka berdua nanya soal paket teror itu,sebisa mungkin kita harus alihin pikiran mereka soal yang aneh aneh ngerti"pesan Ariel pada Shasa.


"Iya Ri"saut Shasa menyetujui dan mengangguk paham.


"Yau dah sekarang bantuin gue masak buat makan malam aja yuk,pasti mereka laper pas bangun tidur nanti"ajak Ariel pada Shasa.


"Oke,yuk"ujar Shasa.


Sedangkan sekarang dilantai atas tepatnya dikamar Aurel,gadis itu baru saja membuka matanya tersadar dari tidur.Aurel bangkit dari posisi tidurnya duduk di atas ranjangnya.


"Kok gue disini ya"gumam Aurel melihat sekelilingnya,ia tidak tahu sejak kapan ia berada didalam kamarnya.Karena seingatnya terakhir kali ia terlelap di sofa ruang tamu.


*Pasti Riri yang pindahin gue kesini*pikir Aurel.


Gadis itu segera beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi,untuk mencuci muka setelah ia berdiri memandangi wajahnya dari pantulan cermin wastafel.Matanya terlihat sedikit bengkak dan hidungnya juga memerah mungkin karena efek ia menangis tadi,Aurel membelalakkan matanya mengingat kejadian tadi siang.Ia segera bergegas menyelesaikan kegiatannya di kamar mandi dan setelah mengganti bajunya,gadis itu bergegas sesegera mungkin turun kelantai bawah.


"KAYLA!!"


"SHASA!!"


Teriak Aurel memanggil nama kedua sahabatnya,sambil sedikit berlari menuruni tangga.


"DAPUR!"Saut Shasa dan Aurel dari dapur.

__ADS_1


Mendengar sautan itu Aurel segera berjalan menuju dapur.


"Loh Riri juga udah pulang"ujar Aurel sedikit kaget melihat keberadaan saudari kembarnya disana,karena seingat dia Ariel tadi belum pulang.


"Hmm,aku di telfon Shasa tadi"ucap Ariel,yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Iya Shasa tadi yang telpon Riri biar cepat pulang Re"ujar Shasa.


"Tunggu,Kay mana?kok gak ada disini?dia baik baik ajakan?"tanya Aurel bertubi tubi tak melihat sahabatnya yang satu itu.


"Di kamarnya,pasti masih tidur Kay nya. Biarin aja soalnya tadi juga fobia nya sempat kambuh juga kan"jawab Shasa,menjelaskan keadaan Kayla.


"Riri udah tau kan soal paket teror itu?"tanya Aurel,dari nada bicaranya ia terdengar masih sedikit bergetar.


"Hmm"jawab Ariel.


"Paketnya masih disana sekarang?"tanya Aurel lagi,yang dia maksud adalah ruang tamu.


"Udah kita berdua bersihin,gak usah diinget inget lagi"ucap Ariel menatap saudari kembarnya itu,ia tahu Aurel pasti masih mengingat kejadian tadi.


"Ri"panggil Aurel pada kembarannya itu dan Ariel melihat kearah kembarannya itu sambil menaikkan satu alisnya sebagai isyarat ada apa memanggilnya.


"Ini gak ada kaitannya soal kamu atau papakan?"tanya Aurel sedikit menaruh curiga.


"Enggak kok,tenang aja"ujar Ariel


"Serius?"tanya Aurel memastikan lagi.


"Serius,lagi pula kakak kan tau sendiri aku udah lama gak terlibat soal bisnis papa"ujar Ariel meyakinkan kembarannya itu.


"Percaya aja sama Riri Re,Lagian kalau itu memang ada kaitannya sama bisnisnya paman Wyle pasti yang diteror duluan itu paman bukan kita.Plus kita pindah ke indonesia juga kan gak ada yang tahu"ujar Shasa mempercayai Ariel.


*Thanks Sha,walaupun argumen lo membingungkan tapi semoga Rere percaya*ujar Ariel dalam benaknya.


"Oke aku percaya,trus siapa dong yang kirim itu dan apa tujuannya?lalu kenapa isi surat ancamannya kayak gitu?"tanya Aurel beruntun.

__ADS_1


"Kita belum tau,tapi tenang aja aku udah kirim orang buat menyelidikinya"ujar Ariel kembali menenangkan Aurel.


__ADS_2