The Twin'S : Aurel And Ariel

The Twin'S : Aurel And Ariel
Chapter 126


__ADS_3

Ditempat yang berbeda tapi dalam waktu yang sama Ariel duduk dibarisan kursi yang terletak diarena lapangan tembak,kursi yang sama yang ia tempati saat menonton latihan Shasa dan Leo tempo hari.Gadis itu terlihat diam tak bergerak memandang kosong kearah lapangan,dia tak sendiri disana tapi ada Rion yang duduk disebelahnya menemani gadis itu.Leo hanya diam saja duduk dengan tenang disebelah Ariel,cowok itu tau kalau gadis disebelahnya itu sedang tak ingin diusik sedikitpun.Awalnya Leo tadi sebenarnya berniat untuk pergi saat menyadari kondisi Ariel yang sepertinya hendak menyendiri tapi saat ia hendak beranjak dari sana,tanpa diduga gadis itu menahan lengannya seperti meminta agar dirinya tak beranjak dari sana.Oleh karena itulah Leo memutuskan untuk tetap disana,untukmenemani gadis yang sepertinya kalut dalam sebuah pemikiran.


"Tapi jika dibandingin dengan nasib Riri,nasib gue lebih beruntung dari dia"ujar Shasa setelah sempat hening beberapa saat,kita kembali lagi kepada Rion dan Shasa yang berada diatap.


"Kenapa lo bisa bilang gitu?"tanya Rion menoleh kearah Shasa dan Shasa menatap balik cowok itu sebentar.


"Ya setidaknya gue masih diberi kesempatan untuk menerima segalanya,sedangkan Riri enggak"jawab Shasa,ia mengubah posisinya menjadi berbaring diatas beton menatap ke atas langit malam.Rion juga mengikuti Shasa melakukan sama persis dengan apa yang gadis itu lakukan.


"Gue beruntung karena terlahir dengan memiliki kedua orang tua yang memberi gue waktu untuk menerima takdir,memberi gue waktu untuk mengenal serta mengenal diri gue sendiri,gue diberi waktu sampai gue punya kesadaran sendiri untuk ngambil semua tanggung jawab itu,dan gue beruntung punya Riri sebagai sahabat yang bisa gue dijadiin contoh"lanjut Shasa sedangkan Rion memilih untuk diam mendengarkan gadis itu sampai benar benar selesai bicaran.


Huf...Shasa menghela nafas pelan kemudian melanjutkan kembali perkataannya lagi


"Tapi Riri berbeda,dia gak pernah punya kesempatan untuk menerima semua yang gue sebutin tadi.Sejak sangat masih kecil didalam dirinya selalu ditanamkan tuntutan untuk bisa menjadi seseorang yang selalu terlihat sempurna dari sisi manapun oleh papanya,tanpa mempedulikan apa saja yang Riri rasakan dalam dirinya sendiri.Sebagai anak salah satu kepercayaannya papanya Riri,ayah lo pasti pernah ceritakan gimana keras dan tak bisa ditentang dari seorang tuan Wyle yang notabenya papanya Riri.


Siapa pun gak berani melepaskan sahabat gue itu dari belenggu papanya sendiri,bahkan termasuk mama dan kembarannya sendiri"lanjut Shasa.


"Sampai segitunya ya?gue gak nyangka Riri yang keliatan cuek dan acuh banget,menyimpan semua itu"gumam Rion sebagai respon,cowok itu tak tau harus berkata apalagi setelah mendengar semua cerita Shasa itu.

__ADS_1


"Semua orang yang baru pertama kali atau jarang ketemu sama Riri pasti ngira dia orang yang sangat cuek,acuh,dingin,tertutup,dan gak pribadi yang gak tersentuh.Semua ada benernya tapi itu semua dia lakuin buat menutupi gimana rasa kacau,bingung, hancur,dan sakitnya yang dia rasakan didalam dirinya.Sebagai sahabat yang ngenal dia dari kecil,gue rasa Riri sejak dulu gak pernah bisa punya kesempatan untuk memahami dan mengenal bagaimana dirinya sendiri."ujar Shasa,gadis itu seperti punya kesempatan bagus mengeluarkan semua isi pemikiran tentang sang sahabat yang selama ini ia simpan sendiri kepada Rion.


"Berat banget kayaknya jadi Riri,kalau gue ada diposisi dia pasti gue udah lama nyerah.Pasti Riri kuat banget sampai gak pernah nyerah"ucap Rion.


Huah...Shasa menguap,sepertinya gadis itu sudah diserang rasa kantuk.


"Siapa bilang?Riri pernah nyerah kok,tapi..."perkataan Shasa tertahan sejenak


"Tapi apa?"tanya Rion yang berbaring disebelahnya.


"Tapi takdir belum kasih izin buat nyerah"lanjut Shasa,suara gadis itu terdengar memelan.


"Huf lain kali aja deh gue tanyain maksud lo"ujar Rion pelan kepada Shasa yang sudah tertidur itu,malam memang sudah sangat larut jadi wajar gadis itu sudah tak bisa menahan rasa kantuknya sehingga tertidur disini.


Rion segera bangkit dari posisi berbaringnya,


ia mengangkat tubuh Shasa dengan cara seperti tadi.Rion hendak memindahkan Shasa kedalam kamar gadis itu,dari pada terlalu lama tertidur diatas atap bisa bisa gadis itu jadi sasaran nyamuk nantinya.

__ADS_1


Keadaan ditempat Leo dan Ariel juga tak jauh berbeda,Ariel tertidur dalam lamunannya dan kepalanya tanpa sengaja jatuh bersandar dipundak Leo yang duduk disebelahnya.


Leo sempat tersentak akan hal itu dan hampir spontan berdiri namun untungnya tak jadi karena ia menyadari kalau Ariel tertidur,suara dengkuran halus dan bunyi nafas Ariel yang terdengar menderu beraturan menandakan gadis dipundaknya itu sudah tertidur cukup nyenyak.


"Apa yang kamu pikirin tadi sih Riel,sampai sampai tertidur gini?"gumam Leo pelan sambil mengusap halus pucuk kepala gadis itu.


Leo bergerak perlahan mengubah posisinya,ia membawa Ariel yang tengah tertidur itu dalam gendongannya.Setelah gadis itu sudah berada dalam posisi yang nyaman dalam gendongannya,barulah ia mulai melangkahkan kakinya perlahan mengantarkan Ariel kedalam kamar gadis itu.


Setelah selesai mengantar Ariel kekamar,Rion saat ini memasuki kamarnya sendiri.Pemuda itu memasuki kamarnya yang sudah sejak lama tersedia didalam markas ini,ia bersih bersih serta mengganti bajunya dengan baju yang lebih santai dikamar mandi.Setelah selesai melakukan mengganti pakainnya Rion tak langsung memulai istirahatnya malam ini,ia duduk ditepi ranjang kemudian membuka sebuah laci dimeja kecil disebelah tempat tidurnya itu.


Tangan pemuda itu meraih dua lembar foto yang terlihat cukup lama,didalam foto pertama terlihat dua orang laki laki dengan usia yang jauh berbeda yaitu seorang anak laki laki kecil dan seorang laki laki biasa disana.Sedangkan dalam foto satunya terlihat laki laki dewasa yang sama namun kali ini terlihat laki laki dewasa itu terlihat berdiri menggandeng seorang anak kecil perempuan,sepertinya usia anak perempuan itu hampir sama dengan anak laki laki difoto yang pertama.


Rion memejamkan matanya sebentar kemudian hup...huf...menghirup dan membuang nafasnya pelan baru kemudian membuka kedua matanya kembali,pemuda itu terlihat menatap kedua lembar foto ditangannya itu dengan tatapan yang sangat sendu sambil berkata lirih.


"Sekarang setelah bertemu dengannya,aku tau apa arti semua perkataanmu dulu.Aku tau sudah paham semuanya,kenapa kau selalu mengatakan kalau gadis kecil disebelahmu itu jauh lebih memerlukan keberadaanmu disampingnya dari pada hadir disampingku"


Leo menyimpan kedua foto itu kembali ketempatnya semula kemudian berbaring diatas tempat tidurnya menatap kearah langit langit kamar

__ADS_1


"Aku mengerti sekarang,paman"gumam Leo pelan sebelum akhirnya mata pemuda itu terpejam.


__ADS_2