
Deruman mesin mobil terdengar dijalanan pada saat hari mulai baru saja memasuki fase malam dan matahari yang baru saja berganti tugas dengan sang rembulan, beberapa mobil van melaju beriringan untuk pergi kesuatu tempat yang menjadi tujuan mereka.
Salah seorang dari dua gadis yang ikut dalam rombongan itu terlihat menatap jauh kearah luar jendela mobil,raganya memang ada disana namun pikirannya jelas tak berada ditempat itu melainkan berada ditempat yang jauh.Tempat yang tidak seorangpun tahu kecuali mungkin gadis itu sendiri,gadis lain disebelahnya menyadari hal itu.
"Apakah pikiranmu menjadi tak menentu seperti biasa?"tanya gadis itu kepada sahabatnya itu.
Gadis yang sejak tadi menatap kearah luar jendela mobil itu menoleh akan suara itu
"Ya,tidak terkendali seperti biasa"jawab gadis itu.
"Bagaimana dengan dirimu Sha?Apa didalam sana dia sudah memberontak?"kini giliran gadis itu yang bertanya kepada sahabatnya.
"Hm,tebakanmu juga benar Ri.sisi iblisku sudah berontak tak sabar,ku harap aku bisa memuaskannya disana"jawab Shasa tampak sangat tenang,tak seperti biasanya.
"Berdoalah,rencana kita berjalan lancar"ujar Ariel.
"Baiklah,meski ini doa yang sedikit buruk"saut Shasa.
Leo dan Rion yang juga berada dimobil yang sama dengan kedua gadis itu tampak diam saja sejak tadi,tapi bukan diam biasa.Kedua pemuda itu bukan tidak mendengar percakapan dua gadis itu,mereka mendengar dengan sangat jelas.Mendengar Shasa dan Ariel berbicara dengan tutur kata yang berbeda saat berbicara satu sama lain dengan tenang dan lembut seperti ini bukannya membuat hati mereka menghangat,
melainkan membuat keduanya merinding karena kedua pemuda itu tahu kalau ada emosi mengerikan yang siap meledak dibalik ketenangan keduanya.
"Sepuluh menit lagi kita akan sampai"ujar Rion memecah keheningan,pemuda itulah yang bertugas menyetir mobil yang keempatnya gunakan.
Rombongan mobil mobil itu mulai memasuki area yang sepi dan mulai terlihat pepohonan, tempat tujuan mereka memang jauh dari pusat kota yang ramai.Tentu saja begitu, apalagi mengingat tempat itu bukanlah tempat yang ramah bagi masyarakat umum alias berbahaya.
"Cek cek cek...nona dan tuan,mobil pertama sudah memasuki area.."suara seseorang terdengar dari alat komunikasi yang terpasang dimobil itu.
"Kontrol situasi dan menyebarlah"
Leo memberi perintah.
"Baiklah,akan kami laksanakan tuan tut..tut..tut..."sautan terdengar dari alat komunikasi kemudian sambungan terputus.
Citt...Mobil yang dinaiki Rion-Ariel-Shasa-Rion berhenti tepat didepan sebuah bangunan, disana juga sudah terlihat kumpulan anak buah mereka yang tadi sampai dukuan.
__ADS_1
"Kita sudah sampai,ayo turun"ajak Leo kepada yang lain.
"Hm/Oke/Ya"saut Ariel,Shasa,dan Rion bersamaan.
Keempat pemuda pemudi itu turun dari dalam mobil dan kemudian langsung berjalan lalu mengambil posisi tengah tengah para anak buah mereka,pada malam itu mereka semua memakai pakaian serba hitam.
Shasa menatap dan mengamati gedung tua didepan yang mirip seperti markas mereka, keningnya menyergit heran kenapa bangunan itu tampak tak memiliki kehidupan yang hidup didalamnya.
"Pak Can"panggil gadis itu memanggil tangan kanannya.
"Ya nona"saut pak Can dengan sigap.
"Kita semua tak salah tempatkan?"tanya Shasa.
"Tidak nona,ini tempat yang tepat"jawab pak Can.
"Jelas ini tempatnya oon,gue sama lo kan udah mastiin kemarin"ujar Rion yang berdiri disebelah Shasa.
"Lagian ini tempat kok kayak senyap ba..."
"SEMUANYA,BERSIAP!"pak Can langsung memberi perintah.
Serempak semua anak buah yang ikut kesana langsung siaga memegang senjata masing masing dan mulai mencari tahu arah asal tembakan itu.
"ITU DISANA DIATAS GEDUNG"seru salah satu diantara mereka,sontak semuanya langsung melihat kearah yang dimaksud dan langsung terlihat seorang penembak disana.
DOR...DOR...DOR...Shasa mengeluarkan tembakan tepat pada sasaran,penembak itu terlihat ambruk.
DOR...DOR...DOR...DOR....suara tembakan yang lebih banyak terdengar,kali ini berasal dari area dalam gedung.Tidak ada satupun tembakan yang mengenaiki mereka seakan sengaja hanya memberikan tembakan pancingan saja.
"Nona beri kami perintah"pinta pak Can kepada Ariel.
"Maju,habisi semua yang ada didalam"ujar Ariel memberi perintah dengan tenang namun terkesan dingin.
"KALIAN DENGAR PERINTAHNYA,MAJU!" seru pak Can kepada yang lain.
__ADS_1
Tap...tap...tap...suara derap langkah sepatu langsung terdengar jelas,para anak buah itu beserta pak Can langsung menyerbu masuk kedalam bangunan itu.
"Biarkan tikus tikus kecil itu mereka yang urus,kita berempat kecuali Shasa berpencar dan temukan buronan utama kita"ujar Ariel.
"Kenapa kecuali Shasa?"tanya Rion heran.
"Ini waktunya Shasa bersenang senang"jawab Ariel langsung tersenyum menyeringai kearah Shasa dan Shasa langsung membalas dengan senyuman yang serupa.
Rion seketika merinding melibatnya.
"Ayo masuk"ajak Leo melangkah terlebih dahulu.
Buk...buk...srek....Akh....dor...dor...Brak...suara perkelahian langsung terdengar saat memasuki area dalam gedung tua itu,rupa rupanya cukup banyak anak buah musuh yang sudah siap siaga menunggu mereka masuk.
Shasa yang melihat itu langsung menyeringai, tidak ada lagi wajah bercayaha bak malaikat.
Sekarang yang ada hanya seringaian mengerikan bak iblis yang terlihat.Ia mengambil pisau lipatnya dan langsung bergerak menerjang siap membantai siapapun musuh yang berani menghadapinya,
Rion jadi ngeri ngeri gimana gitu melihat tiga mayat bersimbah darah sudah tergeletak oleh ulah Shasa.
Dor...Dor....Buk...Buk...Buk...Brak...
Meninggalkan Shasa dan para anak buah dilantai bawah,Rion sendiri langsung memilih bergerak kearah timur gedung sedangkan Leo memilih kelantai dua,Ariel sendiri juga memilih kelaintai tiga.Keempatnya benar benar berpencar mengandalkan insting masing masing.
Ariel menaiki anak tangga beton satu persatu, ia sudah hampir sampai kelantai tiga gedung setelah sebelumnya ia berpisah dengan Leo yang akan menelusuri lantai dua.Hening,itu yang Ariel rasakan saat dilantai tiga berbeda sekali saat diarea lantai tiga tadi yang nampak banyak anak buah musuh menanti.
Meski begitu Ariel sama sekali tidak mengendurkan kewaspadaannya sama sekali, malahan ia semakin waspada karena menurutnya semakin tenang wilayah musuh maka akan lebih bahaya.
Dengan berbekal pistol yang sudah digenggam ditangan,Ariel memeriksa satu persatu ruangan dilaintai tiga.Namun meski sudah hampir setengahnya ia telusuri tapi belum ada tanda tanda keberadaan orang yang ia cari,sampai akhirnya Ariel sampai disebuah ruangan yang nampak berbeda dari ruangan ruangan lain yang telah ia periksa.
Sorot mata Ariel menajam setelah melihat banyak foto dirinya dan semua keluarganya yang tertempel disalah satu sisi dinding ruangan itu,coretan tinta merah juga banyak terlihat dipermukaan foto itu.
Dengan perlahan lahan,Aurel memeriksa isi ruangan itu dengan hati hati bahkan sampai kedalam laci laci meja yang ada disana.
Kening gadis itu mengerut dan langsung nampak kaget melihat isi sebuah map coklat yang ia temukan didalam laci meja paling bawah.
__ADS_1
*Tunggu,kenapa ada foto teman teman yang lain disini*batin Ariel kaget.