
*seorang gadis kecil sedang menatap sendu kearah taman yang baru saja dilewati oleh mobil yang ia naiki,gadis kecil itu ingin sekali masuk kedalam taman itu dan ikut bermain dengan anak anak lain seusianya.
"apa yang sedang anda pikirkan nona muda"tanya seorang pria yang sedang menyetir mobil yang gadis kecil itu naiki.
"Nic,tak bisakah kita berhenti sebentar ditaman yang baru kita lewati?"tanya gadis kecil itu penuh harap.
"Maaf nona muda,tapi tuan besar memerintahkan saya untuk membawa anda keperusahaan dalam lima belas menit"jawab pria itu menatap gadis yang ia panggil nona muda itu dari kaca spion.
"kenapa papa selalu menyuruh ku untuk keperusahaan sepulang sekolah?Kenapa juga Nic selalu menuruti permintaan papa?akukan ingin bermain juga seperti teman teman sebayaku"ujar gadis kecil itu terdengar sangat lirih.
"Tuan melakukan itu semua supaya nona bisa menjadi penerus yang hebat suatu saat nanti.Dan saya tentu harus menuruti semua perintah tuan karena saya adalah bawahannya"jelas pria itu.
"Tapikan papa bilang kalau Nic bekerja untukku,seharusnya Nic hanya mendengar perkataanku bukan perintah papa"ujar sang gadis kecil protes.
"saya memang bekerja untuk anda nona muda,tapi tuan besar tetap yang memegang kekuasaan tertinggi untuk memberi perintah kepada saya"ujar sang pria.
"Cih...papa sungguh tak adil"gumam gadis muda itu mendecih.
"Nic bagaimana caranya supaya aku bisa lebih berkuasa dari papa?"tanya gadis muda itu spontan.
"Maka jadilah lebih kuat dari tuan,nona muda"
"Jadilah lebih kuat nona muda"
"jadilah lebih kuat nona muda"
"jadilah lebih kuat nona muda"
Kata kata itu terus berulang dikepala gadis kecil itu*.
Hah...hah...hah...Ariel terbangun seketika dari tidurnya dan langsung terduduk,nafasnya tersengal sengal.Itu semua hanya dalam mimpinya,mimpi yang mengulang kembali sepotong dari memory masa kecilnya dengan seseorang yang sudah lama tak terlihat.
Ariel mengusap wajahnya kasar dengan telapak tangannya,setelah nafasnya kembali normal kemudian gadis remaja itu meraih gelas yang berisi air putih diatas nakas dekat tempat tidurnya.Ariel meminum air putih digelas itu sampai tandas kemudian meletakkan gelas itu kembali ketempatnya,ia melihat jam dinding yang terpasang tepat didinding didepannya,jarum jam masih menunjukkan pukul 03.05 dini hari.
__ADS_1
"Aku harus ke kamarnya Shasa"gumam Ariel pelan,ia segera menyibakkan selimut kemudian turun dari atas tempat tidurnya memakai sendal lalu langsung pergi menuju kekamarnya Shasa yang letaknya tak begitu jauh dari temannya.
Sesampai dikamar Shasa,Ariel memasuki kamar secara perlahan supaya tidak membangunkan sahabatnya itu.Ia kembali menutup pintu kamar kemudian berjalan mendekat kearah tempat tidur Shasa,dengan perlahan Ariel menaiki tempat tidur itu dan masuk kedalam selimut mengambil posisi berbaring disamping Shasa yang tengah tertidur pulas setelah ia mulai memejamkan matanya untuk melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda tadi.
~Pagi harinya~
Shasa membuka kedua matanya saat merasakan ada seseorang yang berbaring disebelahnya*Ternyata Riri,kirain siapa*ujar Shasa dalam hatinya setelah melihat wajah Ariel yang tengah tertidur lelap disebelahnya.
Dengan perlahan Shasa turun dari tempat tidurnya kemudian langsung berjalan dan masuk kekamar mandinya,Shasa mencuci muka menggosok gigi dan kemudian terakhir mandi pagi.
Setelah beberapa lama didalam kamar mandi,Shasa keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian yang berbeda.Ia melihat kalau sahbatnya itu juga sudah bangun dan saat ini sedang duduk diatas tempat tidur,berusaha mengumpulkan kesadaran penuh sehabis bangun tidur.
"udah bangun Ri?"tanya Shasa kepada sahabatnya itu,Ariel mengangguk mengiyakan.
"Kenapa tidur dikamar gue?"tanya Shasa kemudian
"Gue mimpi sampai kebangun trus pindah kesini"jawab Ariel dengan sesingkat mungkin.
"Pasti mimpi tentang Nic ya?"tanya Shasa duduk ditepi tempat tidur melihat kearah sahabatnya itu.
"Nebak aja"jawab Shasa
"Lagian sejak saat itu,mimpi yang sampai bisa mengusik tidur lo cuma mimpi tentang Nic doang gak ada yang lain"lanjut Shasa
"Btw lo mimpiin Nic tentang apa?"tanya Shasa kepada sahabatnya itu.
"Ngulang potongan memory masa kecil gue"jawab Ariel.
"Udah gak usah dipikirin lagi,mimpi itu datang pasti karena lo kangen banget sama Nic"ujar Shasa menenangkan Ariel.
"Gitu ya?"tanya Ariel.
"Iya,Nic itu punya pengaruh besar dalam hidup lo meskipun dia gak terlalu lama kerja jadi penjaga,asisten,sekaligus pelatih lo"jelas Shasa
__ADS_1
"Nic emang seberpengaruh itu ke gue ya?"gumam Ariel pelan.
"Tentu aja,gue masih inget pas kita masih kecil tepatnya pas perayaan tahun baru lo doa apa"ujar Shasa
"Lo doa supaya Nic aja yang jadi papa lo bukan om Wyle,gue sampai tercengang denger isi doa lo yang itu hahaha..."lanjut Shasa,mengingat doa konyol sahabatnya itu.
Sejak saat itu Shasa akhirnya tau kalau sahabatnya yang sangat realistis sejak bocah itu terkadang bisa bersikap konyol juga.
"Mana ada gue doa kayak gitu"ujar Ariel membantah kalau ia pernah berdoa kayak gitu,padahal dalam hatinya ia sedang menahan malu mengingat kejadian itu.
"Gue tau lo pasti inget,bunyi doa lo masih tersimpan diotak gue"ujar Shasa
"Tuhan bisa gak tuhan ganti papanya Riri yang sekarang jadi Nic aja,Riri rela kasih semua stok permen Riri kalau tuhan mau kabulin Hahaha...."buk...aduh...muka Shasa yang tengah memperagakan sahabatnya itu dulu langsung dilempar bantal oleh Ariel dengan keras sampai membuat Shasa mengaduh kesakitan.
"Sialan lo"umpat Ariel langsung beranjak dari atas kasur dan Brak..suara pintu kamar mandi ditutup keras olehnya dari dalam.
"Heh Ri,Rusak nanti pintunya!"ujar Shasa sedikit kencang kepada sahabatnya itu.
"BODO!"saut Ariel dari dalam kamar mandi.
"Wah marah sahabat gue kayaknya"gumam Shasa pelan,kemudian ia langsung menggidikkan bahunya memilih tak peduli saja.Ia bergerak merapikan tempat tidur kemudian duduk didepan cermin menyisir rambut dan memulai kegiatannya memakai produk perawatan untuk kulitnya.
"SHA,PINJEM BAJU SAMA HANDUK LO"teriak Ariel dari dalam kamar mandi.
"IYA,PAKEK AJA"saut Shasa
"AMBILIN"pinta Ariel.
"Punya sahabat pendiem,sekalinya ngomong
Kok sering nyusahin sih"dumel Shasa terpaksa bangkit dari tempat duduknya, menuju kearah lemari mengambil pakaian lengkap dan sebuah handuk bersih untuk Ariel.
"Nih!"ujar Shasa menjulurkan pakaian dan handuk dengan tangannya melalui pintu kamar mandi yang sedikit dibuka oleh Ariel.
__ADS_1
Ariel menerima semua itu kemudian brak...pintu kamar mandi langsung ditutup kembali dengan keras didepan mukanya,Shasa mengusap dadanya pelan supaya tidak emosi melihat tingkat sahabatnya itu.