
"Halah manis banget omongan kembaran Rere yang satu ini,itu terus yang kemarin sama yang percobaan bunuh diri beberapa tahun lalu itu gimana?"tanya Aurel.
"Ya itu-kan keadaannya mepet,trus yang percobaan bunuh diri itukan udah dibahas selesai pembahasannya dulu.Gak usah diungkit lagi Re"ujar Ariel.
"Iyain deh biar kembaran senang"ujar Aurel mengalah kali ini,ia kembali membenamkan diri memeluk kembarannya.
"Aku kangen banget tau gak sama kamu Ri" gumam gadis itu.
"Sama kok aku juga"Ariel kembali membalas pelukan dari kembarannya itu.
Kedua bersaudari kembar itu diam diposisi mereka saling berpelukan itu beberapa menit,
mereka sama sama memejamkan mata masing masing untuk memberikan kehangatan dan melepaskan rindu satu sama lain.Bagimanapun,beberapa bulan ini adalah waktu terlama keduanya berpisah dan dengan jarak tempat yang jauh pula.
"Udahan yuk pelukannya Ri,kita harus gabung kepesta dibawah"ujar Aurel kepada Ariel sambil melepaskan pelukannya.
"Bukannya udah selesai ya?"tanya Ariel.
"Selesai apaan,pestanya aja baru dimulai setengah jam yang lalu.Lagian lo juga harus ketemu sama sahabat kita yang lain,mereka juga pasti kangen sama lo"ujar Aurel.
"Kirain udah bubar,yaudah yuk"ajak Ariel.
"Ganti baju dulu Ri,gak mungkinkan lo gabung dengan cuma makai baju kaos oblong sama celana pendek.Mana masih muka bantal lagi,oh iya kamu sampai dimansion jam berapa?kok gue gak lihat tadi?"tanya Aurel heran.
"Ya jelas gak liatlah,lo kan nginep dihotel.Gue sampai tadi sore,harusnya sih lebih kita lebih cepat sampai disini.Tapi gak itu si Leo nunda keberangkatan dari swiss,oh iya tunggu bentar ya"ujar Ariel.Gadis itu langsung beranjak dari atas tempat tidur meninggalkan kembaran,berjalan menuju kearah kamar mandi.
"eh tunggu,lo tau dari mana gue disini"tanya Ariel yang sudah hampir masuk kedalam kamar mandi.
"Mama"jawab Aurel singkat,Ariel mengangguk kemudian melanjutkan langkahnya.
"Jangan lama lama ya Ri"ujar Aurel,Ariel tak menyaut lagi.
Sembari menunggu kembarannya yang tengah bersiap siap,Aurel mengamati seluruh isi kamar Ariel dengan seksama.
Hal yang pertama kali yang menjadi pusat perhatiannya adalah kotak hitam yang ada diatas lemari besar disana,gadis itu masih ingat kalau kotak hitam itu adalah awal dimana ia mengetahui sisi kehidupan lain sang saudarinya.Sisi kehidupan yang tidak pernah ditunjukkan Ariel selama ini kepadanya,Aurel mengalihkan pandangannya dari arah sana kemudian beralih kepada dua buah pas foto kecil berbingkai yang ditaruh diatas nakas kecil disamping ranjang tempat tidur.
Tangannya bergerak mengangkat kedua pas foto itu dan melihat dengan seksama apa yang terekam disana,didalam bingkai pertama terdapat foto dirinya dan juga Ariel yang jika ia tak salah ingat diambil tepat pada perayaan ulang tahun mereka yang ketujuh belas tahun.Wajah dingin nan pasrah dari Ariel didalam foto itu,dapat menjelaskan kalau kembarannya itu dalam keterpaksaan olehnya untuk bisa bersada dalam flas kamera saat itu.Ya Aurel sangat tahu kalau kembarannya itu memang tak begitu suka tertangkap dalam sebuah foto,ia selalu ingin ngakak mengingat hari itu.
Kini pandangannya beralih pada bingkai kedua,ia seketika langsung memiringkan kepalanya tak percaya dengan apa yang ia lihat didalam foto yang sudah pasti masih baru diambil itu.Sedetik kemudian Aurel langsung terkekeh setelah yakin kalau dirinya memang tak salah lihat
*Ah,rupanya hati sedingin kutub selatan itu ada juga yang mampu melelehkannya* batin gadis itu,Aurel kemudian bersemirik memikirkan sesuatu.
"Ayo kita pergi"suara Ariel membuat Aurel menoleh,ia bisa melihat kembarannya itu sudah tampil dengan cantik menggunakan gaun biru muda.Simple namun elegan,itu adalah dua kata yang tepat menggambarkan penampilan sang kembaran.
__ADS_1
"Gaun yang bagus,Riri.Cocok untukmu yang cantik"puji Aurel dengan tulus.
"Thanks,mama yang menyiapkannya tadi"ujar Ariel.
"Btw Ri,foto ini bagus juga"ujar Aurel sambil menunjukkan foto pada bingkai kedua.
Ariel yang tadinya tampak santai langsung terlihat kaget,gadis itu dengan cepat bergerak merebut bingkai itu dari tangan kembarannya dan menyembunyikannya didalam laci nakas.
Bruk...Klik..laci itu ditutup dengan cepat dan tak lupa dikunci.
"Cks cks cks,memangnya ada apa dengan foto itu?aku hanya memuji hasil jepretannya yang bagus,tapi kenapa kamu panik gitu?"tanya Aurel terdengar polos namun ekspresi gadis itu tengah menggoda kembarannya itu.
"Tidak usah banyak nanya,ayo turun kebawah.Yang lain pasti sudah menunggu"ujar Ariel langsung menarik lengan kembarannya itu keluar dari kamarnya.
"Kenapa buru buru,ah pasti tidak sabar ingin cepat bertemu dengannya bukan?"tanya Aurel kembali dengan nada menggoda.
"Diam"pinta Ariel.
"Aduh,sepertinya ada yang malu"Aurel lanjut menggoda sang kembaran.
"Aurel Wyle"ujar Ariel.
"Baiklah baiklah,aku diam"ujar Aurel akhirnya berhenti dengan tingkahnya,udah alarm bahaya satu soalnya kalau Ariel udah memanggilnya dengan nama lengkap.
*Malu banget gue,itu foto kenapa ada disitu sih?siapa yang naruh coba?ah iya kan lo yang naruh Ariel Wyle*batin Ariel saat ini.
"Nah ini dia,dua orang yang sejak tadi kita cari dan tungguin"suara Rion langsung terdengar menyambut Aurel dan Ariel,setibanya mereka dilantai bawah dimana pesta malam itu diadakan.
"ARIEL/RIRI"suara para sahabat mereka langsung terdengar memanggil nama Ariel.
Ariel hanya menoleh kearah mereka dengan "Hai"sapanya datar lengkap dengan wajah lempeng tampa ekspresi yang khas.
Puk..
Aurel langsung menepuk jidatnya melihat sang kembaran yang langsung berubah hampir 360° dari saat mereka hanya berdua tadi.
*Balik lagi nih kembaran gue,kesetelan pabrik*batin Aurel pasrah,ia akhirnya berinisiatif menarik lengan Ariel dengan pelan untuk bergabung dengan para sahabat mereka.
"Aduh Riri,kita semua kangen banget sama lo"ujar Mia yang langsung memeluk Ariel bersama dengan Kayla dan Shasa.
"Mana,tiga bulan lo gak ada kabar lagi"ujar Mia.
"Gue kira lo gak mau pulang,telepon gue gak pernah mau lo jawab dua hari ini"lanjut Shasa.
__ADS_1
"Hm"ujar Ariel hanya merespon singkat.
Tuk...tuk...tuk...tiga sentilan langsung menyasar keningnya masing masing satu dari tiga sahabatnya.
"Duh.."ringis Ariel langsung mengusap usap keningnya yang terkena sentilan.
"Sialan emang lo jadi sahabat,kita udah mencurahkan isi hati sepenuh hati.Lo malah jawab dengan deheman singkat doang"dumel Shasa,keluarlah sisi bar bar gadis imut ini.
"Tau gitu,gue gak usah repot repot sedih dari kemarin"dumel Mia.
"Apalah yang bisa gue harapin dari lo Riri Riri"ujar Kayla mencoba untuk sememaklumi mungkin sifat minim ekspresi dan respon dari sahabatnya itu,meski ia kesel juga.Lagi pula kedua orang tuanya lagi disini,harus dikit jaga sikap dan gak mengeluarkan kata kata kasar dan sumpah serapah kepada sahabatnya itu.
"Sorry semuanya,gue baru bisa gabung sekarang.Soalnya gue harus nyidak bocah ini dulu tadi"ucap Aurel kepada para sahabatnya.
"Gak masalah kok Rel"saut Miko.
setelah itu terjadilah bincang bincang diantara para sahabat itu tentang Ariel,namun Ariel tak terlalu mempedulikan hal itu.Gadis itu lebih memilih memperluas arah pandangnya guna mencari seseorang,yang tidak terlihat diantara para tamu.
"Ri,lo gimana selama diSwiss?"tanya Kayla.
"Riri,Ariel Wyle"panggil Kayla berulang kali.
"Hah,kenapa Kay?"tanya Ariel yang baru tersadar kalau Kayla berbicara padanya.
"Lo cari apaan sih,sampai gak konek gitu Ri diajak ngomong?"tanya Mia kepada Ariel.
"Lo lagi cari dia?"tanya Rion yang memperhatikan gerak gerik Ariel sejak tadi.
"Hm"saut Ariel.
"Dia tadi izin pergi bentar keruangan tuan Wyle,tuan Wyle alias papa lo yang ngajak"ujar Leo.
"Buat apa?"tanya Ariel.
"Gak tau,tapi kayaknya penting deh dari raut wajah mereka"jawab Rion.
Tanpa basa basi,Ariel langsung melangkah meninggalkan para sahabatnya yang tengah memasang wajah cengo dan heran serta bingung padanya.Tujuan gadis dingin itu kini adalah keruangan yang menjadi salah satu tempat yang paling tidak Ariel sukai dimansion megah keluarganya ini,ruang kerja papanya.
"Loh itu Riri mau kemana?langsung nyelonong gitu pergi?"tanya Shasa heran.
"Biarin aja,lagi ngekhawatirin doi-nya paling"ujar Aurel.
"HAH MAKSUD LO?!"
__ADS_1