
Puk...puk...puk...pak Can menepuk nepuk telapak tangannya sambil tersenyum puas,kini ruangan tempat kemudi kapal telah dia kuasai dengan penuh.Nahkoda kapal yang masih merupakan bagian dari anak buahnya tuan Frank sudah diikat dipojokan ruang kemudi setelah sebelumnya tengkuk belakang si nahkoda dipukul terlebih dahulu sampai nahkoda itu pingsan.
Krek...krek...pak Can merenggangkan kedua lengan dan jari jari tangannya terlebih dahulu,
lalu kemudian mulai melihat kearah alat navigasi kapal laut ini.Seperti sudah ahli melakukannya,pak Can mulai menarik tuas untuk mengurangi kecepatan laju kapal dan tak lupa jangkar kapal juga diturunkan kebawah laut.Tentunya itu semua untuk menghentikan laju kapal yang kini sudah mulai memelan itu,pak Can melirik kearah nahkoda kapal yang terletak disudut ruang kemudi untuk memastikan tidak ada pergerakan setelah itu tangan kanan Shasa itu kembali sibuk pada kegiatannya dengan peralatan kemudi kapal laut itu.
*Seharusnya saat ini saya mencari keberadaan nona muda sekarang,tapi tak apa menggantikan tugas nahkoda kapal itu lebih seru.Lagi pula nona muda pasti bisa mengurus diri sendiri dan entah kenapa,saya malah merasa nona muda sedang bersenang senang sekarang*batin pak Can.
Laki laki itu kembali melirik kearah layar navigasi kapal,terlihat disana titik yang menunjukkan pergerakan menuju mendekat kearah kapal itu.
*Lagi pula sepertinya bantuan akan segera sampai*lanjut pak Can membatin.
Disisi lain__
Kreng...Shasa berhasil mendorong tubuh besar Astor sampai membentul sell besi penjara dengan cukup kuat.
Stt..Shasa mendesit setelah telapak tangannya menyentuh pipi bagian kanannya yang berhasil sedikit tergores tipis oleh pisau milik Astor bersamaan dengan pergerakan Shasa saat mendorong tubuh Astor tadi,darah segar terlihat jelas menempel ditelapak tangan gadis itu.
Shasa tidak merasa ketakutan atau gimana gimana saat melihat darahnya sendiri seperti itu,gadis itu malah semakin tersenyum lebar setelah mencium aroma darah yang berasal dari pipinya itu.Sangat berbeda dengan reaksi teman temannya yang terlihat meringis melihat pipinya yang tergores dan darah yang mulai mengalir sedikit demi sedikit disana, terutama Kayla yang tampak mulai memucat melihat darah itu.Kalian masih ingatkan,kalau sahabat Shasa yang satu itu fobia sama darah?
Astor terlihat bangun dari posisinya kemudian berdiri tegak kembali menghadap Shasa.
"Tenagamu ternyata lebih kuat dari yang dulu gadis kecil"ujar Astor kepada gadis yang tengah menjadi lawannya itu.
"Tentu saja,itu hasil dari latihan saya.Refleks anda juga ternyata lumayan tuan Astor,harus saya akui anda kini masuk daftar orang tercepat yang berhasil melukai saya sampai berdarah dalam duel.15 menit? Anda harus bangga untuk itu"ujar Shasa masih dengan senyuman sumringahnya.
__ADS_1
"KALIAN!BERHENTILAH SALING MEMUJI DAN LANJUTKAN DUELNYA!"suara tuan Frank yang tiba tiba merusak suasana.
"Hei! Pak Tua! Bisahakah Anda Menutup Mulut Busuk Anda?!"ujar Shasa kesal.
"Tuan Frank Sialan!Kali Ini Aku Setuju Dengan Bocah Ini!"Astor ikut ikutan mengumpati tuan Frank,tak peduli laki laki itu siapa dan bagaimana responnya nanti.
"Mari lanjutkan gadis kecil"ajak Astor kepada Shasa.
Buk...
buk...
Srek...
Buk...
Bruk...disuatu kesempatan,Shasa berhasil menendang pergelangan tangan Astor sehingga membuat pisau kecil digenggeman tangan laki laki itu terjatuh dan dengan cepat Shasa menendang keras pisau itu sampai kepinggir sell diseberang.
Ditengah duel antara Shasa dan Astor,tuan Frank yang sejak tadi menikmati bentrok kedua orang itu tiba tiba langsung terfokus pada suara salah seorang anak buahnya yang terdengar dari alat komunikasi radio kecil yang terpasang ditelinganya.
"Tuan Frank,bantuan dari sandra kita datang.
Mereka berhasil menemukan kita,jumlah mereka banyak dan sebagian besar anggota sudah mereka singkirkan"
Tuan Frank langsung menyergitkan kaget bagaimana bisa ada yang menemukan letak kapal mereka ini dengan mudah,laki laki paruh baya berdarah asing itu melirik kearah gadis yang tengah duduk terikat dengan rantai dikursi disebelahnya itu.Cks sepertinya ia telah terlalu meremehkan gadis muda pewaris Wyle itu,ini tak boleh terjadi dan rencananya tak boleh gagal total.
__ADS_1
Dengan emosi laki laki itu langsung menendang keras kursi yang diduduki oleh Ariel tanpa peringatan terlebih dahulu.
Akh...Stt...Ariel meringis kesakitan karena tubuhnya yang terbentur keras kelantai secara tiba tiba,belum lagi karena rantai yang mengikat sebagian badannya membuatnya terasa jauh lebih sakit.Tentu saja kursi itu langsung roboh karena kaki kursi bahkan Leo dan Rion-pun terlihat kaget dengan pergerakan tiba tiba dari musuh mereka itu.
"Hei apa yang kau..."
Buk....sebuah pukulan hampir mendarat kewajah Shasa,untung saja gadis itu sempat menghindar.
"Fokus pada duelnya bocah,dirimu juga dalam bahaya sekarang"ujar Astor terus berupaya menyerang Shasa berulang kali tanpa ampun.
Cks...Shasa mendecih kesal,lawannya itu benar.Ia tak bisa membantu sahabatnya itu sekarang.
Karena sudah tak terikat dengan kursi lagi,Ariel mencoba bangun meski masih ada rantai yang sangat membatasi pergerakannya.
Buk...Akh...usaha gadis itu tak berhasil,malah ia terdengar meringis kesakitan lagi
*Sial!kaki kiri gue kayaknya terkilir deh*batin Ariel yang merasakan ada yang salah dengan kaki kirinya.
Tak mempedulikan Ariel yang tengah sekuat tenaga menahan kesakitan,tuan Frank malah mendekat kearah gadis itu dan langsung menarik serta memaksa Ariel untuk berdiri.
"Katakan!bagaimana bisa mereka mengetahui kalian berada disini?!"ujar tuan Frank dengan penuh penekanan.
Bukannya langsung menjawab,Ariel malah langsung tersenyum mendengar pertanyaan dari laki laki sialan dihadapannya itu.
"Akhirnya mereka sudah datang"ucap gadis itu sambil tersenyum miring.
__ADS_1
Bruk...tubuh Ariel kembali terlempar keatas lantai dan tentu itu sangat menyakitkan namun berbeda dengan yang tadi,kali ini gadis itu tak meringis atau bersuara sama sekali.Ariel terlihat hanya memasang muka datar dan tampak jauh lebih tenang,ia malah melirik kearah sell sebelah dimana kembaran serta teman temannya yang lain berada.
*Mereka akan aman sekarang*batin Ariel merasa lega.