
~Kayla~
Seorang remaja perempuan memasuki apartement disusul seseorang laki laki dibelakangnya,gadis remaja itu langsung menghepaskan diri duduk diatas sofa ruang tamu apartement itu.
"Belum juga gue bolehin duduk,main duduk aja lo bocah"ujar laki laki itu.
"Berisik Robert,gue capek dan bakal tambah capek kalau nunggu lo suruh duduk"saut remaja perempuan itu.
"Robart Robert aja lo,gue itu kakak lo ya Kay bukan teman sepantaran lo.Sopan dikit kenapa?"ujar laki laki yang bernama Robert dan ternyata remaja perempuan itu adalah Kayla.
"Halah gak usah ngajarin gue sopan santun padahal lo sering manggil Papa pakai nama aja gak pakai embel embel ini itu"ujar Kayla kepada kakak laki lakinya itu.
"Bener juga sih,tapi kalau mama denger bisa gawat lo.Pasti langsung dikurung lo dimansion trus disiapin guru tatakrama"ujar Robert pada adik satu satunya itu.
"Makanya gue milih nginep di apartement lo aja kak,daripada ikut ke kediaman keluarga kita yang ada dinegara ini"ujar Kayla kepada saudaranya,ia menyandarkan kepalanya kepundak Robert.
"Jadi ceritanya lo lagi menghindari aturan keluarga kita gitu makanya ke apartement gue karena merasa disini lo pasti bebas bertingkah?"tanya Robert,laki laki itu mengelus kepala adik perempuannya itu dengan lembut.
"Iya,lagian gue mau numpang main game disini.Lo pasti punya perangkat game di apartement lo kak"jawab Kayla.
"Kalau soal game mah,pasti ada"ujar Robert.
"Nahkan benar tebakan gue"ujar Kayla terlihat senang.
"Dimana lo taruh?"tanya Kayla langsung menanyakan dimana kakaknya itu menyimpan semua perangkat game yang dimaksud.
__ADS_1
"Ada dikamar tapi main gamenya nanti aja,ngobrol ngobrol dulu sama kakak disini.Udah lama kita gak punya waktu ngobrol berdua kayak gini"ujar Robert.
"Oke deh"saut Kayla setuju,ia yang tadi sudah berniat beranjak dari sofa langsung membatalkan niatnya itu.
"Gimana rasanya tinggal diIndonesia?jauh dari pengawasan papa sama mama?"tanya Robert pada adiknya.
"Kakak mau jawaban jujur atau enggak?" bukannya langsung menjawab pertanyaan kakaknya itu,Kayla malah bertanya dulu.
"Jawaban jujurlah"jawab Robert.
"Jujur gue ngerasa bebas banget kak,gak ada pengawasan ketat soal tatakrama dan bertindak yang harus dipatuhi sebagai anak dari keluarga elite.Dan yang pasti Kay udah gak pernah lagi denger mama ngoceh soal rencana perjodohan dengan temen temen sosialitanya lagi"jawab Kayla dengan senyuman yang terukir diwajahnya.Robert merasa jawaban adiknya sangat murni dari hati.
"Baguslah kalau kamu ngerasa gitu,kakak harap kamu bisa terus ngerasa bebas dan gak terkekang lagi"ucap Robert dengan tulus.
"Kakak sendiri gimana?udah punya pacar buat calon kakak ipar gue belum?"tanya Kayla yang mengambil giliran untuk bertanya soal saudaranya itu.
"Dih lo kurang bersosialisasi pas kuliah atau emang dasarnya gak laku kak?"tanya Kayla sedikit heran,padahal kakaknya ini udah menginjak usia dua puluh lima tahun ini tapi masih betah ngejomlo.
"Banyak yang suka sama gue tapi emang dasarnya belum ada yang nyantol dan cocok aja buat gue"jawab Robert.
"Lagian kamu kayak gak tau aja sesibuk apa kakak pas masih jadi mahasiswa kedokteran sama pas Koas"lanjut laki laki itu.
"Iya juga sih,tapi ngomong ngomong setelah ini itu artinya lo bakal kerja di rumah sakit keluarga dong?"tanya Kayla.
"Menurut lo aja gimana?gue sih maunya kerja dirumah sakit lain aja tapi papa udah ngotot dari beberapa hari sebelum kelulusan gue, supaya kakak lo ini mengisi jabatan yang udah dia sediain"jawab Robert.
__ADS_1
"Lo ada niat ambil kuliah lagi buat dapet gelar dokter spesialis gak?"tanya Kayla.
"Kata papa sih seharusnya gitu,tapi gue rada males buat kuliah lagi"jawab Robert kali ini terlihat sangat lesu.
"Kakak sebenarnya beneran pengen jadi dokter dari hati atau karena disuruh papa sih?"tanya Kayla melihat wajah lesu kakanya itu.
"Kalau boleh jujur sama lo sih awalnya kakak kepaksa,Papa yang maksa kakak buat kuliah kedokteran supaya ada yang mewarisi profesi keluarga kita.Soalnya papakan gak mungkin ngarepin lo soal itu"jawab Robert.
"Maaf ya kak coba aja seandainya gue gak punya fobia sama darah,pasti lo punya kesempatan buat ngejar cita cita lo yang sebenarnya"ucap Kayla merasa bersalah.
"Gak papa kok,tapi itukan dulu sekarang mah beda lagi.Gue udah ikhlas kok jadi dokter, kalau dipikir pikir jadi dokter lumayan keren juga trus bisa bantu banyak orang lagi"ujar Robert pada Kayla,ia tau kalau adiknya itu merasa bersalah pada dirinya.
"Lagian kalau seandainya papa tetap maksa lo jadi dokter,gue juga pasti gak bakal tinggal diam.Gue gak mau lo ngerasa tersiksa sama fobia lo itu tiap hari kalau lo beneran jadi dokter"lanjut Robert.
"Tapi gue itu suka ngerasa aneh dan bertanya tanya sama diri gue sendiri tau gak lo kak"ujar Kayla.
"Ngerasa aneh kenapa?"tanya Robert.
"Kok bisa ya gue punya fobia parah banget sama yang namanya darah,padahal orang tua dan keluarga gue rata rata dokter semua?"ujar Kayla.
"Gak ada yang gak mungkin,udah pasti itu takdir lo.Lo gak ditakdirin buat ngejalanin profesi yang sama kayak keluarga lo,mungkin aja itu jalan supaya lo gak terlalu terkekang dan ditutut harus jadi dokter"ujar Robert pada Kayla.
Dalam hati gadis itu membenarkan apa yang dikatakan kakaknya itu,ia tak bisa membayangkan berapa besar beban dan tuntutan keluarga yang bakal ia terima kalau seandainya ia tak punya fobia akan darah. Kayla bisa menjamin dirinya bakal dipaksa terus belajar untuk menjadi seorang dokter yang harus menaati semua prosedur dan tata tertib yang berlaku,Kayla juga bisa menjamin pasti dirinya tak akan bisa menjalani kehidupan remaja sebebas sekarang kalau fobianya tidak ada.
Kayla bukannya benci akan profesi dokter, malah ia sebaliknya selalu merasa kagum kepada orang orang yang menggunakan jas putih yang sangat identik dengan dokter itu.
__ADS_1
Ia masih ingat bagaimana dirinya selalu membanggakan profesi ayahnya yang sangat keren bisa menyelamatkan nyawa banyak orang kepada teman TKnya dulu,bahkan Kayla dulu sangat berharap untuk menjadi seperti ayahnya dimasa depan.
Tapi setelah hari demi hari ia lalui dan dirinya tumbuh menjadi remaja,Kayla menyadari itu bukan sesuatu yang cocok dengannya.Bukan hanya fobianya yang parah akan darah tapi kepribadiannya yang sangat ingin bebas tanpa ingin terikat oleh aturan aturan apapun membuat Kayla merasa tidak ada sedikitpun dalam dirinya yang bisa membuatnya cocok untuk jadi dokter,Kayla memutuskan menghapus mimpi masa kecilnya itu selamanya.