The Twin'S : Aurel And Ariel

The Twin'S : Aurel And Ariel
Chapter 189


__ADS_3

"Kesempatan Emas,apa maksudmu Astor?"tanya sang ketua kepada anggotanya itu,itu adalah Astor.


"Ini kesempatan emas ketua,kalau kita berhasil menyelesaikan pekerjaan kita yang ini.Bukankah itu bisa membuat calon calon klaen lain bisa menilai kita sangat baik,dan itu artinya nama kelompok kita akan naik pula. Jika itu terjadi maka Serpent tidak akan dipandang sebelah mata lagi,ini adalah jalan toll bagi Serpent menuju kejayaan"ujar Astor muda penuh ambisi.


~FlasBack Off~


Astor tak menyangka profokasi penuh ambisi yang dirinya sampaikan itu ternyata adalah awal dari kehancuran kelompok kecil mereka,


awal penyebab kematian sadis para teman temannya.


Hihihi....


Shasa tertawa kecil setelah menyadari Astor termenung ditengah ambang hidupnya


"Apa yang terjadi tuan Astor?padahal sejak tadi sudah dua kali anda memperingati saya untuk fokus pada lawan saja,tapi kenapa anda malah termenung seperti ini?"tanya Shasa yang masih berdiri tegap menatap kebawah dimana Astor terduduk diatas lantai.


Astor segera tersadar dari lamunan kenangan masa lalunya,laki laki itu mendongak dan menatap gadis muda itu dengan tatapan sedikit kosong.


"Ah saya tahu apa yang terjadi,pasti merasa devaju bukan?"tanya Shasa kembali berbicara.


"Jika dimasa lalu anda memohon untuk dibebaskan karena alasan orang tua,tapi sepertinya kali ini saya tidak akan bisa menerima alasan apapun"


"Huh,asal anda tahu kalau anda adalah satu satunya boneka saya yang saya berikan kesempatan kedua untuk bertahan.Saya bahkan melanggar prinsip untuk tak membiarkan target lolos hidup hidup,tapi semuanya tak berguna.Anda tetap memilih untuk berakhir pada pisau ditangan saya" lanjut Shasa panjang lebar,gadis itu terlihat bicara sambil mengamati ketajaman pisau kecil digenggamannya.


"Kalau begitu tunggu apalagi,kenapa nona belum membunuh saya?Ayo bunuh saya sekarang juga"ujar Astor,sepertinya laki laki itu sudah tak punya niatan melawan untuk mempertahankan kehidupannya lagi.


Shasa tersenyum kosong mendengar perkataan yang terdengar penuh keputus asaan itu,biasanya ia selalu suka mendengar kalimat keputus asaan dari semua boneka yang pernah ia ajak bermain.Namun kali ini jujur saja ia agak kecewa mendengarnya, mengingat bagaimana kepercayaan diri dan tekat Astor diawal yang terdengar sangat kuat.

__ADS_1


*Ternyata hanya begitu saja*batin Shasa.


Ia mulai mengangkat pisau ditangannya tinggi tinggi bersiap menghujami Astor dengan benda tajam itu membuat semua orang yang menyaksikan itu menahan nafas,bahkan Astor yang melihat itu langsung menutup mata bersiap menerima serangan itu.


*Apa yang terjati*batin Astor setelah sekian detik kemudian ia belum merasakan sakit apapun,laki laki itu kembali membuka kelopak matanya dan ia melihat pisau yang berada tepat didepan mukanya tertahan oleh yang memegangnya.


"Ke-kenapa?"tanya laki laki itu sedikit terbata bata.


Shasa kembali berdiri tegak kembali setelah sebelumnya gadis itu sedikit membungkuk- kan tubuhnya.Gadis tujuh belas tahun itu menoleh kearah sisi lain Sell tepatnya ke Sell sebelah dan menatap para sahabatnya satu persatu dan berakhir pada Kayla,wajah gadis itu tampak memucat dan gemetaran.


"HEI OM YANG ADA DISEBELAH SANA!"teriak Shasa pada seorang anak buah tuan Frank yang sejak tadi berdiri menjaga pergerakan keenam sahabatnya disana, kenapa cuma satu?karena sisanya tadi ikut keluar menyusul tuan Frank.


"Gue Tahu Kita Musuh,Tapi Bisa Gak Minta Tolong Buat Tutup Mata Sahabat Saya Yang Paling Pucat Itu.Dua Fobia sama Darah Soalnya,Tolong Dong Om"ujar Shasa seenak jidat meminta tolong pada anak buah musuhnya sendiri,tapi siapa sangka om om itu ternyata malah mau mengikuti perkataan Shasa.Penjaga itu langsung mendekat dan menutup kedua mata Kayla menggunakan telapak tangan dengan rapat.


"Thanks Om,nanti saya kasih tiket jaminan selamat 20% deh"ujar Shasa.


Gadis itu kembali kepada Astor,ia bergerak turun menyenyajajarkan tingginya dengan Astor.Kedua lututnya ia gunakan sebagai tumpuan dilantai,kemudian ia menatap Astor.


Astor menatap gadis muda itu dengan seksama memastikan perkataan gadis itu tidak bercanda


"Akan dikabulkan?"tanya Astor ragu ragu.


"Bisa diusahan,katakan Satu?"saut Shasa.


"Bisa taruh abu jasad saya ditempat dimana abu rekan rekan saya berada?"tanya Astor kepada gadis itu,ia sendiri bahkan tak yakin itu bisa.


"Tentu,saya masih mengingat dimana abu mereka berakhir.Saya sengaja mengingatnya jika sewaktu waktu anda kembali berniat untuk mengunjungi mereka,tapi anda malah menghilang sejak keluar dari rumah sakit waktu itu"ujar Shasa,Astor langsung tertegun mendengar perkataan gadis itu barusan.

__ADS_1


Ditengah ketertegunan Astor,Shasa meraih salah satu tangan Astor dan meletakkan pisau ditangannya kepada genggaman laki laki itu.


"Tapi sepertinya anda tidak akan hanya sekedar mengunjungi mereka saja,tapi juga akan segera berkumpul bersama mereka"ujar Shasa yang bergerak untuk berdiri kembali.


"Ambil kembali harga diri anda dan Serpent dari saya"ujar gadis itu setelah berdiri.


Astor menatap pisau ditangannya itu,ia menggengam pegangan pisau itu dengan kedua tangannya,laki laki itu mengangkat kedua tangannya keatas dan menyejajarkan ujung runcing bagian tertajam pisau tepat didepannya.


JLEB...darah langsung muncrat setelah pisau kecil itu Astor hujamkan tepat diulu hatinya sendiri,dengan perlahan tubuh laki laki itu mulai ambruk kesamping.


Semua yang ada disana spontan memejamkan mata melihat peristiwa itu,Shasa bisa mendengar suara muncratan darah dan aroma anyir dari darah segar menelusup keindra penciumannya.


Dor...


ditengah suasana itu,sebuah suara tembakan terdengar.Itu adalah Rion yang baru saja berhasil merusak kunci rantai yang tepat berada diantara kedua pergelangan kakinya, rantai yang mengikat pemuda itu langsung longgar dan bisa cukup mudah dilepaskan setelahnya.Rion juga segera membebaskan Leo dari ikatan Rantai yang serupa setelah dirinya berhasil bebas.


"Leo"panggil Shasa yang saat ini tengah diam terduduk diatas lantai,kelihatannya tenaga gadis itu habis terkuras.


"Ya"saut Leo.


"Riri"ujar Shasa.


Leo langsung mengangguk mengerti maksud gadis itu,ia segera berlari keluar dari dalam Sell itu dan meninggalkan ruangan dua Sell itu.Pemuda itu pergi secepat mungkin menyusul serta mencari kemana tuan Frank membawa Ariel beberapa waktu yang lalu.


"Dan kau,tolong lepas mereka dan urus juga orang itu.Aku pengen isi energi dulu"ujar Shasa kepada Rion,setelah itu ia langsung merebahkan diri telentang dipermukaan lantai.Tak peduli dengan darah yang ada disana akan mengenai dirinya.


Tak mau mengganggu aktivitas gadis yang katanya sedang mengisi energi itu,Rion berjalan menuju ke sell sebelah dengan pistol milik Astor yang sejak tadi ditangannya.

__ADS_1


"Kau,dari pada melawan dan berakhir mati.Lebih baik bantu lepaskan tali ikatan teman teman saya,aku akan menambah voucher keselamatanmu 20%"suruh Rion kepada satu satunya penjaga yang ada disana.


Tentu mendengar kata selamat,penjaga itu langsung menurut.Lagi pula jika melawanpun ia jelas tidak akan punya kesempatan menang,bosnya saja bisa kalah apalagi dirinya sendiri.


__ADS_2