
"Gak tau buat jaga jaga aja,gue kayak punya firasat aja akhir akhir ini kalau itu senjata pasti berguna"jawab Shasa memberitahu alasan kenapa ia memberikan Ariel senjata itu,Ariel mengangguk mengerti dengan jawaban sahabatnya itu.
"Tapi cuma pistolnya aja,pelurunya gak ada?"tanya Ariel pada Shasa.
"Oh iya lupa"ucap Shasa menepuk keningnya sendiri,gadis itu segera kembali memasukkan kepala dan sebagian badannya kedalam mobil.
"Ini pelurunya"ujar Shasa menyodorkan sekotak peluru untuk pistol itu pada Ariel.
"Tanks"ucap Ariel langsung menerimanya tanpa ragu ragu.
"Lo simpan di mobil lo aja,jangan di rumah nanti ketahuan sama yang lain"saran Shasa pada Ariel untuk jangan menyimpan senjata pemberiannya didalam rumah.
"Oke,gue simpan di mobil aja"ujar Ariel,ia langsung menuju kearah mobilnya untuk menyimpan pistol dan pelurunya disana saja.
Setelah selesai baru ia menghampiri Shasa lagi.
"Sha,lo tau kan dengan lo ngasih senjata kayak gini ke gue itu artinya lo sama aja nyuruh gue buat langgar janji gue sama kalian semua khususnya lo?"tanya Ariel pada Shasa.
Shasa tersenyum mendengar perkataan Ariel itu,ia tahu pasti janji apa yang dimaksud sahabatnya itu.
"Lo memang pernah janji sama Kay,Rere,dan tante Hera kalau lo gak akan pernah terlibat dalam urusan bisnis papa lo sampai dan juga lo pernah janji sama gue untuk gak akan nyentuh serta gunain senjata lagi sampai minimal lo udah kuliah.Gue masih inget kok soal itu tapi,gue rasa saat ini gak papa kalau lo langgar janji lo sama gue karena menurut gue akan lebih bahaya buat lo kalau tetap pertahanin janji lo soal senjata"jelas Shasa menjawab pertanyaan Ariel padanya dengan sangat tenang sambil menatap kearah Ariel.
"SHASA!"
Fokus Ariel dan Shasa teralih setelah ada yang memanggil nama Shasa dan menurut suaranya itu pasti Kayla.
"SHASA ADA DI GARASI KAY"saut Shasa dengan berteriak juga agar Kayla bisa mendengarnya.
"Disini lo ternyata,gue cariin juga"ujar Kayla menghampiri Shasa di garasi.
"Kay memangnya ada perlu apa sama Shasa,kok sampai capek nyariin Shasa?"tanya Shasa pada Kayla.
"Gue mau pinjem headset atau air phone juga boleh"jawab Kayla memberi tau maksud tujuannya mencari Shasa.
"Tumben Kay izin dulu sama Shasa,biasanya Kay gak pernah izin tuh sama Shasa kalau mau pinjem apa apa?"tanya Shasa pada Kayla dengan sedikit heran.
"Tadinya sih mau gitu,tapi kamar lo dikunci jadi gue gak bisa masuk hehehe..."jawab Kayla diakhiri cengiran.
"Lo juga ternyata disini toh Ri pantesan tadi gue ke kamar lo nya gak ada,ngapain sih lo berdua di garasi?mau keluar?"tanya Kayla yang menyadari keberadaan Ariel juga disana.
"Oh itu tadi Shasa minta tolong sama Riri buat ngecek mesin mobil Shasa yang bunyinya aneh gak kayak biasanya"jawab Shasa dengan lancar tanpa halangan,tentu saja apa yang ia berbohong tentang semua itu dan Ariel yang mendengar begitu lancarnya Shasa memberi alasan hanya bisa kagum dengan sahabatnya itu.
"Oh gitu,jadi gimana?apa masalahnya mesin mobilnya Shasa Ri?"tanya Kayla pada Ariel,gadis itu langsung percaya begitu saja.
"Oh gitu,yau dah Sha gimana mau pinjemin gue atau enggak nih?"tanya Kayla yang kembali pada pembahasan awal.
"Boleh kok,yuk biar Shasa ambilin di kamar"ajak Shasa pada Kayla.
"Gitu dong,tapi lo tunggu bentar ya soalnya gue mau ambil cemilan di kulkas dulu buat dibawa ke kamar gue nanti"ujar Kayla.
"Iya Kay"jawab Shasa
Setelah itu Kayla langsung beranjak duluan dari garasi untuk pergi ke dapur dimana kulkas tempat cemilannya disimpan,setelah Kayla pergi duluan dari sana Shasa langsung berbalik menghadap Ariel lagi dan sorot matanya langsung berubah yang tadinya terlihat polos menjadi terlihat sangat serius seperti sebelum Kayla datang menghampiri mereka tadi.
"Ri,gue saat ini udah tau hampir semua hal yang lo kerjain selama ini termasuk misi dari tuan Wyle alias papa lo di indonesia.Lo gak perlu tau seorang Shasa ini tau dari mana tapi yang jelas gue bakal selalu ada dibelakang lo dari dulu bahkan sampai sekarang,terserah lo izinin atau enggak terlibat dalam masalah lo"ujar Shasa pada Ariel,gaya gadis itu berbicara terdengar sangat serius ditelinga Ariel.Sebenarnya Ariel cukup terkejut tentang pengakuan sahabatnya itu namun,disisi lain ia juga gak terlalu kaget juga setelah mengingat kembali latar belakang keluarga sahabat yang ada didepannya itu.
__ADS_1
"Lo keliatannya gak terlalu kaget,tapi satu hal yang harus lo tau kalau akan lebih baik lo libatin gue atau seenggaknya lo jelasin ke gue semuanya"ucap Shasa melanjutkan omongannya karena ia tau orang didepannya itu tidak berniat sama sekali mengeluarkan kata kata untuk menanggapi perkataannya.
"Shasa ayo! lo kok masih disini sih"Kayla kembali menghampiri ketempat mereka lagi.
"Tadi katanya Shasa disuruh tunggu,karena Kay mau ambil cemilan dulu gimana sih"saut Shasa sambil cemberut pada Kayla.
"Iya juga sih,maaf deh kalau gitu"ujar Kayla minta maaf.
"Yau dah,yuk lah"ajak Kayla pada Shasa.
"Iya,Kay jalan duluan Shasa mau tutup sama kunci mobil dulu"saut Shasa.
"Lo gak perlu putusin sekarang,pikir pikir aja dulu"ujar Shasa pada Ariel.
"SHASA AYOK BURUAN"teriak Kayla
"IYA KAY"saut Shasa langsung dengan segera pergi menyusul Kayla yang sudah tidak sabaran menunggunya.
Ariel menatap punggung Shasa yang berjalan meninggalkannya saat ini sendirian di garasi bergumam dalam pikirannya sendiri
*Sepandai pandai nya gue buat mengendaliin
ekspresi wajah maka Shasa lebih mahir,
untung aja gue tau kalau itu bakat turunan sekaligus hasil pelatihan akting dari momy nya yaitu nyonya Kimberly yang merupakan seorang mantan model ternama.Bisa bisa gue bawa dia ke pisikolog buat mastiin sahabat gue itu punya gejala bipolar atau enggak*itulah kira kira isi pikiran Ariel saat ini.
Ariel sama sekali tidak tidak memikirkan tentang Shasa yang mengakui kalau sahabatnya itu sudah mengetahui sebagian besar maksud sebenarnya tujuan kepindahan mereka ke Indonesia,Tapi malah mengagumi bagaimana Shasa dengan sangat ahlinya mengatur dan mengubah ekspresi serta gaya bicaranya saat berbicara dengan dirinya dan dengan Kayla tadi.Itu terlihat sangat bertolak belakang antara Shasa yang berbicara dengan polos sedikit terdengar imut dan saat sahabatnya itu berbicara dengan sangat serius,itu semua sangat hebat menurut Ariel.
"Gak tau buat jaga jaga aja,gue kayak punya firasat aja akhir akhir ini kalau itu senjata pasti berguna"jawab Shasa memberitahu alasan kenapa ia memberikan Ariel senjata itu,Ariel mengangguk mengerti dengan jawaban sahabatnya itu.
"Tapi cuma pistolnya aja,pelurunya gak ada?"tanya Ariel pada Shasa.
"Oh iya lupa"ucap Shasa menepuk keningnya sendiri,gadis itu segera kembali memasukkan kepala dan sebagian badannya kedalam mobil.
"Ini pelurunya"ujar Shasa menyodorkan sekotak peluru untuk pistol itu pada Ariel.
"Tanks"ucap Ariel langsung menerimanya tanpa ragu ragu.
"Lo simpan di mobil lo aja,jangan di rumah nanti ketahuan sama yang lain"saran Shasa pada Ariel untuk jangan menyimpan senjata pemberiannya didalam rumah.
"Oke,gue simpan di mobil aja"ujar Ariel,ia langsung menuju kearah mobilnya untuk menyimpan pistol dan pelurunya disana saja.
Setelah selesai baru ia menghampiri Shasa lagi.
"Sha,lo tau kan dengan lo ngasih senjata kayak gini ke gue itu artinya lo sama aja nyuruh gue buat langgar janji gue sama kalian semua khususnya lo?"tanya Ariel pada Shasa.
Shasa tersenyum mendengar perkataan Ariel itu,ia tahu pasti janji apa yang dimaksud sahabatnya itu.
"Lo memang pernah janji sama Kay,Rere,dan tante Hera kalau lo gak akan pernah terlibat dalam urusan bisnis papa lo sampai dan juga lo pernah janji sama gue untuk gak akan nyentuh serta gunain senjata lagi sampai minimal lo udah kuliah.Gue masih inget kok soal itu tapi,gue rasa saat ini gak papa kalau lo langgar janji lo sama gue karena menurut gue akan lebih bahaya buat lo kalau tetap pertahanin janji lo soal senjata"jelas Shasa menjawab pertanyaan Ariel padanya dengan sangat tenang sambil menatap kearah Ariel.
"SHASA!"
Fokus Ariel dan Shasa teralih setelah ada yang memanggil nama Shasa dan menurut suaranya itu pasti Kayla.
"SHASA ADA DI GARASI KAY"saut Shasa dengan berteriak juga agar Kayla bisa mendengarnya.
__ADS_1
"Disini lo ternyata,gue cariin juga"ujar Kayla menghampiri Shasa di garasi.
"Kay memangnya ada perlu apa sama Shasa,kok sampai capek nyariin Shasa?"tanya Shasa pada Kayla.
"Gue mau pinjem headset atau air phone juga boleh"jawab Kayla memberi tau maksud tujuannya mencari Shasa.
"Tumben Kay izin dulu sama Shasa,biasanya Kay gak pernah izin tuh sama Shasa kalau mau pinjem apa apa?"tanya Shasa pada Kayla dengan sedikit heran.
"Tadinya sih mau gitu,tapi kamar lo dikunci jadi gue gak bisa masuk hehehe..."jawab Kayla diakhiri cengiran.
"Lo juga ternyata disini toh Ri pantesan tadi gue ke kamar lo nya gak ada,ngapain sih lo berdua di garasi?mau keluar?"tanya Kayla yang menyadari keberadaan Ariel juga disana.
"Oh itu tadi Shasa minta tolong sama Riri buat ngecek mesin mobil Shasa yang bunyinya aneh gak kayak biasanya"jawab Shasa dengan lancar tanpa halangan,tentu saja apa yang ia berbohong tentang semua itu dan Ariel yang mendengar begitu lancarnya Shasa memberi alasan hanya bisa kagum dengan sahabatnya itu.
"Oh gitu,jadi gimana?apa masalahnya mesin mobilnya Shasa Ri?"tanya Kayla pada Ariel,gadis itu langsung percaya begitu saja.
"Oh gitu,yau dah Sha gimana mau pinjemin gue atau enggak nih?"tanya Kayla yang kembali pada pembahasan awal.
"Boleh kok,yuk biar Shasa ambilin di kamar"ajak Shasa pada Kayla.
"Gitu dong,tapi lo tunggu bentar ya soalnya gue mau ambil cemilan di kulkas dulu buat dibawa ke kamar gue nanti"ujar Kayla.
"Iya Kay"jawab Shasa
Setelah itu Kayla langsung beranjak duluan dari garasi untuk pergi ke dapur dimana kulkas tempat cemilannya disimpan,setelah Kayla pergi duluan dari sana Shasa langsung berbalik menghadap Ariel lagi dan sorot matanya langsung berubah yang tadinya terlihat polos menjadi terlihat sangat serius seperti sebelum Kayla datang menghampiri mereka tadi.
"Ri,gue saat ini udah tau hampir semua hal yang lo kerjain selama ini termasuk misi dari tuan Wyle alias papa lo di indonesia.Lo gak perlu tau seorang Shasa ini tau dari mana tapi yang jelas gue bakal selalu ada dibelakang lo dari dulu bahkan sampai sekarang,terserah lo izinin atau enggak terlibat dalam masalah lo"ujar Shasa pada Ariel,gaya gadis itu berbicara terdengar sangat serius ditelinga Ariel.Sebenarnya Ariel cukup terkejut tentang pengakuan sahabatnya itu namun,disisi lain ia juga gak terlalu kaget juga setelah mengingat kembali latar belakang keluarga sahabat yang ada didepannya itu.
"Lo keliatannya gak terlalu kaget,tapi satu hal yang harus lo tau kalau akan lebih baik lo libatin gue atau seenggaknya lo jelasin ke gue semuanya"ucap Shasa melanjutkan omongannya karena ia tau orang didepannya itu tidak berniat sama sekali mengeluarkan kata kata untuk menanggapi perkataannya.
"Shasa ayo! lo kok masih disini sih"Kayla kembali menghampiri ketempat mereka lagi.
"Tadi katanya Shasa disuruh tunggu,karena Kay mau ambil cemilan dulu gimana sih"saut Shasa sambil cemberut pada Kayla.
"Iya juga sih,maaf deh kalau gitu"ujar Kayla minta maaf.
"Yau dah,yuk lah"ajak Kayla pada Shasa.
"Iya,Kay jalan duluan Shasa mau tutup sama kunci mobil dulu"saut Shasa.
"Lo gak perlu putusin sekarang,pikir pikir aja dulu"ujar Shasa pada Ariel.
"SHASA AYOK BURUAN"teriak Kayla
"IYA KAY"saut Shasa langsung dengan segera pergi menyusul Kayla yang sudah tidak sabaran menunggunya.
Ariel menatap punggung Shasa yang berjalan meninggalkannya saat ini sendirian di garasi bergumam dalam pikirannya sendiri
*Sepandai pandai nya gue buat mengendaliin
ekspresi wajah maka Shasa lebih mahir,
untung aja gue tau kalau itu bakat turunan sekaligus hasil pelatihan akting dari momy nya yaitu nyonya Kimberly yang merupakan seorang mantan model ternama.Bisa bisa gue bawa dia ke pisikolog buat mastiin sahabat gue itu punya gejala bipolar atau enggak*itulah kira kira isi pikiran Ariel saat ini.
Ariel sama sekali tidak tidak memikirkan tentang Shasa yang mengakui kalau sahabatnya itu sudah mengetahui sebagian besar maksud sebenarnya tujuan kepindahan mereka ke Indonesia,Tapi malah mengagumi bagaimana Shasa dengan sangat ahlinya mengatur dan mengubah ekspresi serta gaya bicaranya saat berbicara dengan dirinya dan dengan Kayla tadi.Itu terlihat sangat bertolak belakang antara Shasa yang berbicara dengan polos sedikit terdengar imut dan saat sahabatnya itu berbicara dengan sangat serius,itu semua sangat hebat menurut Ariel.
__ADS_1