
~Francis~
(semua percakapan saat keterangan tempat difrancis,anggap saja menggunakan bahasa francis)
Aurel saat ini berada didalam mobil yang diutus oleh kedua orang tuanya untuk menjemputnya dibandara,mobil itu tentunya tidak dikendarai olehnya sendiri tapi ada sopir keluarganya yang memegang dan mengendalikan kemudi serta seorang bodyguard yang duduk disebelah sopir.
Sebenarnya Aurel tau pasti kalau bukan seorang bodyguard saja yang ditugaskan oleh orang tuanya untuk menjaganya sejak tiba dibandara tadi,pasti ada beberapa orang bodyguard lainnya yang saat ini pasti berada dimobil lain yang terus mengikuti mobil yang ia naiki saat ini.
Perasaan gadis muda itu saat ini sedang sedikit kalut karena pikirannya terus saja tertuju pada sang kembaran yang berada diIndonesia,jujur saja kalau bukan karena untuk menghadiri acara perusahaan mamanya,Aurel tak akan mau berada jauh dari kembarannya itu.
"Nona apakah anda baik baik saja?"tanya bodyguard yang ada disana saat menyadari raut kegelisahaan sang majikan muda.
"Ya,saya baik baik saja"jawab Aurel berusaha menetralkan pikirannya.
Mobil yang menjemput dan membawa Aurel beserta mobil mobil lain dibelakangnya memasuki area mansion utama keluarga Wyle,setelah mobil terparkir sempurna baru kemudian seorang kepala pelayan langsung membukakan pintu untuk Aurel.
"Selamat pulang kemansion nona"ucap sang kepala pelayan untuk menyambut kepulangan salah satu nona muda keluarga tempatnya bekerja itu,sedangkan Aurel hanya tersenyum saja sebagai balasan.
"Papa dan mama ada dimansion?"tanya Aurel kepada ketua pelayan yang berjalan disebelahnya saat masuk kedalam mansion.
"Tuan dan Nyona ada didalam nona"jawab ketua pelayan.
"Selamat datang anak mama,mama sangat merindukanmu"ujar Hera langsung menyambut putrinya dengan pelukan hangat.
"Rere juga sangat merindukan mama"balas Aurel yang juga memeluk sang mama.
__ADS_1
"Selamat datang kembali Aurel"ujar tuan Wyle yang juga ikut menyambut kedatangan salah satu putri kembarnya,Pria berwajah dingin dan minim ekspresi itu berdiri disamping Hera sang istri.
"Halo papa,Aurel merindukan papa"sapa Aurel sedikit menundukkan kepalanya sebentar untuk menyapa papanya,sedangkan tuan Wyle mengeluarkan sedikit senyumannya sebentar untuk membalas ucapan putrinya itu .
"Ayo duduk sayang"ajak Hera menggandeng tangan putrinya untuk duduk disofa.
Aurel dan mamanya pun memilih duduk disalah satu sofa untuk berbincang bincang sebentar,sedangkan Papanya Aurel sendiri memilih untuk berpamitan keruang kerjanya karena masih memiliki banyak pekerjaan yang harus diurus.
"Sayang sekali adikmu tak ikut,padahal mama juga sangat merindukannya"ujar Hera terlihat sedih karena putri bungsunya memilih untuk tak ikut pulang.
"Mau bagaimana lagi ma,mama sendiri bagaimana antinya kembaran Rere itu untuk pergi keacara acara fasion.Berbeda kalau ada pameran mobil,dijamin Riri akan ikut"ujar Aurel pada mamanya.
"Kembaranmu itu memang fotocopy-an papamu.Padahal selama mama mengandung kalian berdua,mama selalu berdoa supaya anak mama kelak tidak ada yang mewarisi sifat papamu itu kecuali sifat setia dan sabarnya"ujar Hera.
"Udah takdir ma,mau bagaimana lagi"saut Aurel.
"Kehidupan Rere dengan Riri,Kay,dan juga Shasa selama disana baik,kamu berempat cukup bisa beradaptasi dengan baik.Kami mendapat satu sahabat baru namanya Mia dan tentunya dia anak perempuan yang baik,ramah,meski sedikit bar bar seperti Kay,
Mia juga terlahir kembar"
"Sahabat baru kalian berempat itu juga terlahir kembar?"tanya Hera tak percaya.
"Hm,Tapi kembaran Mia adalah seorang anak laki laki,namanya Miko dan sifatnya tak jauh berbeda.Miko memiliki 4 orang sahabat yang menjadi teman kami juga"jelas Aurel kepada mamanya.
"Wah mama tak menyangka kalian juga punya teman pria,apakah keempat pemuda itu tampan?"tanya Hera terlihat sangat eksaitid.
__ADS_1
"Untuk apa mama menanyakan itu,mama tak berniat menjadikan brondong simpanan mamakan?"tanya Aurel.
"Hus jangan ngomong seperti itu,kalau papamu denger bisa bisa besok kelima teman priamu itu hanya tinggal namanya saja.Lagi pula papamu sudah lebih dari cukup bagi mama"ujar Hera memperingati putrinya untuk tak berbicara sembarangan.
"Lagian untuk apa mama nanya mereka tampan atau tidak?"tanya Aurel
"Gak ada sih,trus gimana dengan Riri?"tanya Hera kali ini menanyakan kabar terbaru putrinya yang satu itu.
"Kalau Riri?jujur saja sifatnya masih sebelas dua belas waktu masih tinggal disini ma,cuma sesekali udah bisa ngomong orang lain kecuali sama sahabat sahabat kita"jelas Aurel.
"Benarkah seperti itu?"
"Iya ma,walaupun ekspresi dan kata yang keluar masih seadanya"jawab Aurel.
"Mama cukup senang mendengarnya"ucap Hera.
"kalau begitu sampai disini dulu ngobrolnya, sekarang Rere harus istirahat dulu.Pasti kamu kelelahan karena lamanya perjalanan"ujar Hera menyuruh sang putri untuk beristirahat.
"Baik ma,kalau gitu Rere pergi istirahat kekamar Rere juga ya"pamit Aurel mengecup kedua pipi mamanya baru kemudian langsung menuju ke kamarnya untuk istirahat.
Setelah putri sulungnya itu pergi ke kamar untuk istirahat,Hera bangkit dari sofa kemudian berjalan kearah salah satu ruangan dimansion itu dimana disana banyak terdapat berbagai macam foto keluarganya dipajang.
Mata perempuan dua anak itu tertuju kepada salah satu foto yang memotret dirinya,sang suami,dan sikembar Aurel-Ariel.Senyumannya yang tadi terukir mendadak hilang tergantikan wajah sendu melihat wajah putri bungsunya Ariel yang tampil tanpa ekspresi,bukan hanya difoto dalam bingkai itu tapi juga foto lainnya.
Rasa bersalahnya pasti langsung muncul setiap melibat Ariel putrinya,Kalau bukan karena dirinya yang terlalu melepas gadis mungil itu terlalu dini masuk dalam didikan keras sang suami dan pasti anaknya itu akan bisa atau cukup mudah untuk mengukir sebuah senyum dibibir mungilnya.
__ADS_1
Hera saat ingat betul kapan dirinya sadar akan kesalahan itu,itu tepat saat dimana ia hampir kehilangan putrinya Ariel untuk selama lamanya karena anaknya itu melakukan sebuah percobaan bunuh diri didalam kamar.Beruntung saat itu putrinya ditemukan dengan cepat sehingga tak terlambat diberi pertolongan,meski Ariel harus terbaring tak sadarkan diri selama beberapa hari dirumah sakit.Saat melihat tubuh putrinya yang terbaring tak berdaya saat itu,Hera langsung sadar kalau ia terlalu membiarkan Ariel kecil berusaha bertahan sendirian dari didikan keras tak berperasaan suaminya,meski sudah terlambat ia sadar kalau tidak seharusnya putri kecilnya itu merasakan itu semua.Karena kesalahan itu sekarang Ariel tumbuh menjadi anak yang sangat tertutup,tak tersentuh,bahkan seringkali untuk dirinya sendiri sebagai ibu gadis itu.