
~Ditempat Tuan dan Nyonya Wyle serta yang lain~
Empat buah mobil berhenti tepat didepan halaman gedung tua yang dijadikan Ariel dan yang lain markas,supir dari dua mobil yang terletak pada posisi tengah terlihat keluar dengan tergesa gesa dan langsung membuka pintu mobil bagian penumpang dari mobil yang kedua supir itu bawa.
Dari mobil pertama keluar Tuan dan Nyonya Wyle sedangkan dari mobil satunya keluar Tuan dan Nyonya Kimberly,seperkian detik kemudian dari dua mobil sisanya turun para bodyguard yang bertugas mengawal mereka sejak berangkat dari prancis kemarin.
"Ini tempat yang menjadi markas putri putri kita Wyle?"tanya Tuan Kimberly yang sibuk menelisik gedung tua dihadapannya.
"Hm"saut Tuan Wyle hanya berdehem.
"Cks,punya uang banyak tapi tidak bermodal sekali memilih markas.Bagaimana princes kecilku betah dengan tempat seperti ini,terlihat sangat kumuh"ujar Tuan Kimberly.
Tuan Wyle memilih diam tidak menyauti perkataan kawannya itu,karena jika ia sauti kawannya itu akan jauh lebih berisik nantinya.
"Ayo masuk"ajak tuan Wyle kepada semuanya, laki laki itu berjalan memimpin sambil menggandeng lengan istrinya.
"Berhenti Disana!Siapa Kalian?!"
terdengar suara seseorang mengintrupsi mereka saat mereka baru saja melangkahkan kaki memasuki area dalam markas itu,tak lama beberapa orang dengan jumlah sekitaran lima orang datang dan berdiri tepat dihadapan mereka sambil menodongkan senjata.Melihat hal itu Nyonya Wyle terlihat kaget dan semakin merapatkan diri kepada suaminya,sedangkan pasangan suami istri Kimberly terlihat santai saja.
"Wah kita dihadang,mau kubersihkan saja Wyle?"tawar Tuan Kimbery,yang entah sejak kapan dan dari mana asalnya sudah memegang sebuah pisau lipat ditangan kanannya.
"Tak perlu,mereka masih termasuk bawahanku"ujar Tuan Wyle menolak tawaran dari Tuan Kimberly.
"Yah sayang sekali,padahal gue udah bersiap bermain"ujar Tuan Kimberly terlihat kecewa.
"Erik simpan pisaumu itu sekarang,atau kamu mau aku menempelkan pisau itu dilehermu?!" ujar Nyonya Kimberly sambil menatap tajam suaminya.
"Iya iya,ini kamu saja yang simpan.Takut kelepasan lagi nanti akunya"ujar Tuan Kimberly langsung menyerahkan pisau lipat ditangannya kepada sang istri,takut istrinya ngamuk dia tuh.
Tuan Wyle menatap kelima orang yang menghadang langkahnya dengan tatapan dingin dan menakutkan,bahkan sampai membuat kelima orang yang ditatapnya itu merinding dan gemetar ketakutan seketika.
Tanpa basa basi pria itu mengambil sebuah kartu dari saku dalam jas yang dikenakan kemudian langsung menyodorkan kartu itu kepada lima orang yang menghadang jalan masuk,salah satu dari kelima orang itu langsung menerima kartu itu dan membacanya.
__ADS_1
"Selamat datang Tuan Wyle,maaf saya dan teman teman saya telah menghadang jalan anda untuk masuk"ucap orang itu langsung membungkuk hormat.
Mendengar perkataan rekan mereka itu, keempat orang lainnya langsung seketika ikut membungkuk setelah mengetahui siapa sosok dihadapan mereka itu.
"Tak perlu basa basi,antar saya dan yang lain menemui nona muda"ujar tuan Wyle yang hampir serupa dengan memberikan perintah.
"Maaf tuan tapi kami tidak bisa mengantar anda menemui nona muda untuk saat ini"jawab orang yang menerima kartu tadi.
"Kenapa tidak bisa?"tanya Tuan Wyle dingin.
"Maaf tuan tapi saya rasa,kami tak berhak untuk menjelaskannya.Tuan Rarendra-lah yang berhak untuk itu"jawab orang itu tanpa berani menatap kearah bosnya.
"Maksudmu Rarendra ada disini?"tanya Tuan Wyle terlihat heran mendengar kalau salah seorang kepercayaannya itu berada ditempat itu juga.
"Iya Tuan"jawab orang itu.
"Antar Saya menemui Rarendra sekarang" suruh tuan Wyle.
"Baik tuan,mari mohon ikuti kami"pinta orang itu.
Disebuah ruangan yang masih didalam gedung markas yang sama,terlihat tuan Rarendra yang tengah serius membahas sesuatu dengan beberapa orang bawahannya.
Tap...tap...tap...Kriet...suara derap langkah kaki lalu disusul suara pintu ruangan terbuka mengambil atensi semua orang diruangan itu tak terkecuali tuan Rarendra sendiri.
"Ada apa?kenapa masuk tanpa izin dan terlihat terburu buru?"tanya tuan Rarendra melihat kedatangan salah satu anak buahnya.
"Maaf tuan,tapi kita kedatangan seseorang yang sangat penting"ucap anak buah yang baru datang itu.
"Orang penting mana yang datang,sampai sampai kau berani mengganggu waktu diskusi kami?"tanya tuan Rarendra.
"Kami Yang Datang"suara dingin dan datar dengar dari balik pintu.Anak buah yang tadi seketika menyingkir dari depan pintu guna memberi jalan orang penting yang dimaksud.
Tuan Rarendra langsung terkesiap mengetahui siapa yang datang
__ADS_1
"Selamat datang Tuan dan Nyonya"ucap tuan Rarendra langsung membungkukkan badannya,begitu juga beberapa anak buahnya yang juga ada disana.
"Tuan Wyle,kenapa anda tidak mengatakan kalau anda datang?"tanya tuan Rarendra dengan sopan.
"Tak usah basa basi Rendra,dimana nona muda Wyle dan juga nona muda Kimberly sekarang?kami ingin menemui mereka"tanya Tuan Wyle kepada tuan Rarendra.
"Maaf tuan tapi anda tidak bisa menemui kedua nona muda sekarang"ujar tuan Rarendra.
"Kenapa tidak?"tanya Tuan Wyle dingin.
"Maaf tuan,tapi ada sesuatu yang terjadi dengan nona muda Wyle dan timnya saat melakukan penyerbuan kemarkasnya si pengkhianat Frank"ujar tuan Rarendra.
"Kejadian?"tanya Tuan Wyle.
"Kedua nona muda,putra saya Rion,dan juga Leo beserta tim mereka berhasil tertangkap oleh anak buahnya sipengkhianat frank.Dan bukan hanya mereka tapi putri tuan yang satunya serta nona muda Wyast serta beberapa teman sekolah mereka juga ikut tertangkap.Kami sedang berusaha melacak keberadaan mereka yang seperti menghilang ditelan bumi"ujar tuan Rarendra.
"Apa?"Bruk...
Nyonya Wyle yang kaget mendengar kabar kedua putrinya langsung jatuh pingsan, beruntung tuan Wyle segera menangkap tubuh sang istri sebelum menyentuh lantai.
"Hera"ujar Nyonya Kimberly yang kaget melihat temannya jatuh pingsin.
"Siapkan kamar sekarang juga"pinta Tuan Wyle yang sudah menggendong tubuh sang istri kepada tuan Rarendra.
"Mari tuan biar saya antar,Nyonya bisa memakai kamarnya nona muda yang ada disini"ucap salah satu anak buah yang ada disana kepada bosnya itu.
"Cepat"suruh Tuan Wyle.
"Rarendra,tetap disini.Kita bicarakan hal ini nanti setelah saya mengantar istri saya"ujar Tuan Wyle tegas sebelum benar benar pergi dari sana.
"Baik tuan"saut tuan Rarendra.
"Hah..sepertinya aku akan dapat masalah besar"gumam tuan Rarendra pelan.
__ADS_1
*Ah tunggu,setidaknya masih ada benda itu*
Batin tuan Rarendra melihat benda pergi panjang tipis yang tergeletak diatas meja dan masih dalam keadaan mati.