
~Markas~
Didalam sebuah ruangan dengan penerangan yang remang remang,namun ditengah tengah ruangan itu terdapat cahaya yang terang dari lampu gantung khusus.Tepat dibawah cahaya lampu itu terlihat sebuah tempat tidur yang sangat mirip dengan tempat tidur kecil yang biasanya digunakan untuk memeriksa keadaan pasien saat dirumah sakit,seperti yang ada dibawah ini.
Seorang perempuan muda tampak berbaring diatas bangsal itu dengan mata yang terpejam dan mulut yang terbuka lebar, seorang pemuda duduk disebuah kursi disamping dan menghadap bangsal itu.
Kedua tangan pemuda itu terlihat memakai sarung tangan yang biasa dipakai petugas medis,disalah satu tangannya memegang capitan kecil dan dan sebuah kaca mulut atau Spiegel yang berfungsi untuk melihat permukaan gigi yang sulit dilihat langsung.
Kedua alat itu terlihat terarah masuk kedalam mulut sigadis yang tengah berbaring dibansal itu,entah apa yang sedang mereka lakukan.
Beberapa saat kemudian,pemuda itu meletakkan semua peralatan ditangannya dan membuka kedua sarung tangannya lalu meletakkannya diatas sebuah meja didekatnya.
"Akhirnya selesai juga"ujar pemuda itu tampak lega.
Remaja perempuan yang berbaring dibangsal tadi terlihat menutup mulutnya dan kedua mata gadis itu juga mulai terbuka,kepalanya dimiringkan kesamping melihat kearah pemuda yang tengah menatapnya.
Kemudian ia segera mengangkat berat badannya untuk bergerak duduk,pemuda itu juga membantu dengan mengangkat perlahan bahu gadis itu.Si gadis terlihat menggerak gerakkan lidahnya menelusuri gigi dan gusinya sendiri
"Bagaimana Riel,benda itu tak terlalu mengganggumu bukan?"tanya pemuda itu kepada gadis itu.
"Tidak,hanya sedikit dan aku akan terbiasa" jawab gadis itu,dia adalah Ariel dan pemuda yang bersamanya merupakan Leo.
"Kenapa kamu milih menyimpan benda kecil itu didalam mulutmu sih,ditempat lainkan bisa?"tanya Leo yang masih bertanya tanya dengan ide aneh gadis dingin dihadapannya ini.
"Aku sudah memasangnya ditempat lain,ini sebagai jaga jaga"jawab Ariel dengan santai namun masih dengan muka datarnya.
Gadis itu menurunkan kedua kakinya sehingga ia sekarang duduk persis didepan dan menghadap Leo,kedua kakinya menggantung kebawah.Ariel dan Leo sekarang duduk saling berhadapan,namun Leo harus sedikit mendongakkan kepalanya untuk bisa melihat wajah gadis itu karena posisi Ariel saat ini lebih tunggu darinya.
"Kamu sudah mengirim benda itu kepada orang itu?"tanya Ariel yang perlu sedikit menunduk untuk bisa melihat wajah Leo.
__ADS_1
Pemuda itu terlihat mengangguk sambil tersenyum
"sudah,aku juga udah tulis tersembunyi untuk memberitahu kegunaan benda itu nanti kalau plan B yang kamu buat harus dilaksanakan" jawab Leo mengiyakan.
"Bagus"ucap Ariel mendengar jawaban Leo itu.
Leo menatap dalam tepat kearah kedua bola mata Ariel sambil tersenyum manis,gadis yang sedang ditatapnya itu terlihat menaikkan sebelah alis matanya seperti bertanya kenapa pemuda itu menatapnya begitu.
"Riel,kalau misi ini bener bener udah selesai.
Kamu mau gak aku ajak pergi kesuatu tempat?"tanya Leo yang mengerti maksud pergerakan alis gadis dihadapannya itu.
"Kemana?"tanya Ariel dengan raut wajah datar,dalam hati gadis itu merasa heran akan pertanyaan tiba tiba cowok dihadapannya itu.
"Kesuatu tempat yang bikin kamu bisa ngerasain kedamaian dan terhindar dari tugas dan beban kamu setidaknya buat sementara waktu"jawab Leo.
"Kemana?"Ariel mengulangi pertanyaan yang sama,namun kali ini dari nada bicara tersirat rasa penasaran.
"Swiss"ujar Leo menyebutkan salah satu tempat paling tenang didunia itu.
"Mau ya,nanti biar aku yang atur dan sekalian sama izin dari tuan Wyle juga yang urus"ujar Leo masih dengan tatapan dan senyuman yang sama.
"Papa bakal kasih izin?"tanya Ariel,terlihat guratan keraguan yang jelas dimata wajah gadis itu jika sudah menyangkut tentang papanya.
"Tentu saja tuan Wyle akan memberi izin, bukankah kalau kita berhasil maka papamu harus memberi kita semua hadiah.Lagi pula jika tuan Wyle benar benar tak memberimu izin untuk berlibur sejenak,aku seorang Leo Nicolas yang akan siap pasang badan berdebat dengannya"ujar Leo nampak terlihat sangat yakin dengan perkataan yang dilontarkan.
"Kamu berani?tidak takut papa akan memenggal kepalamu karena berani mengajaknya berdebat?"tanya Ariel masih tak begitu yakin.
"Tentu saja,lagi pula aku ini anak didik kesayangan papamu.Mana mungkin tuan Wyle menghabisi muridnya yang hebat dan keren ini"ujar Leo sangat percaya diri.
"Sangat percaya diri dan meski tak begitu meyakinkan,tapi ayo"ujar Ariel kepada Leo.
__ADS_1
"Ayo apa nih?"tanya Leo
"Ayo pergi ke Swiss"jawab Ariel,gadis itu bahkan tersenyum tipis beberapa saat.
Hanya beberapa detik,namun Leo masih bisa menangkap senyuman gadis itu.
*Seorang Leo bisa membuat seorang Ariel anaknya tuan Wyle senyum dong*batin cowok itu bangga.
"Kalau begitu pembicaraan dan pekerjaan kita diruangan ini sudah selesai,ayo keluar.Bukankah kita harus memeriksa persiapan terakhir untuk penyergapan nanti malam"ajak Leo kepada Ariel.
"Hm"saut Ariel sambil menganggukkan kepalanya pelan.
Leo beranjak berdiri dari kursi tempa pemuda itu tadi duduk sedangkan Ariel turun dari atas bangsal kecil tempatnya berada,Leo mematikan lampu gantung khusus yang menjadi satu satunya penerangan didalam ruangan itu sehingga ruangannya dan Ariel berada itu menjadi gelap gulita.Kedua remaja itu berjalan menuju kepintu keluar ruangan yang letaknya sudah mereka hafal,meskipun dalam keadaan gelap gulita seperti ini.
~Arena latihan~
Buk...buk...buk...
Suara orang orang yang tengah latihan berkelahi terdengar jelas saat kita memasuki area tempat arena latihan dimarkas Leo-Ariel-Rion-Shasa,kelihatannya orang orang berbadan besar dan sangar itu sangat berlatih keras.
Dipinggir arena latihan terlihat tiga orang yang terdiri dari dua laki laki berbeda usia dan satu gadis perempuan.Laki laki yang umurnya yang paling dewasa berdiri tepat diantara dua orang pemuda pemudi,ketiga orang itu adalah Rion-pak Can-Shasa.
"Wah sepertinya kita akan berhasil nanti malam pak Can,mereka semua terlihat cukup lumayan"ujar Shasa memecah keheningan yang terjadi sejak tadi diantara ketiganya.
"Jelas pasti berhasilah Sha,kan anak anak buah yang guekan keren keren"ujar Rion menyauti omongan Shasa,padahal gadis itu tidak sedang berbicara kepadanya.
"Kenapa lo yang nyaut sih,orang gue gak ngomong sama lo!"protes Shasa.
"Ya terserah guelah mau nyaut atau enggak, mulut mulut gue bukan mulut lo!"balas Rion.
"Tapikan yang gue ajak ngobrol bukan lo tapi pak Can,jadi seharusnyakan bukan lo yang nyaut"ujar Shasa.
__ADS_1
"Kan udah gue bilang itu terserah gue"ujar Rion.
Jadilah akhirnya kedua tom and jerry ini kembali terlibat dalam perdebatan yang sebenarnya tidak begitu penting untuk saat saat seperti ini,pak Can yang berdiri diantara kedua remaja itu hanya bisa menghela nafas berat.Meski baru berada dimarkas ini namun laki laki itu sudah mulai hafal kebiasaan nona mudanya yang sangat sering terlibat perdebatan dengan pemuda yang bernama Rion itu.