
''Kak... dengarkan aku dulu.. aku tidak pernah melakukan hal senonoh itu dengan gadis itu! hanya Alisa yang pernah ku sentuh! tidak ada yang lain.. Dek... dengarkan Abang dulu..'' cegat Emil saat melihat Alisa berjalan gontai tanpa arah tujuan.
''Tunggu Dek.. dengarkan dulu penjelasan Abang.. tidak seperti itu sayang.. Abang berani bersumpah! Demi Allah Dek.. kamu salah paham!'' seru Emil masih dengan terus mencegat Alisa.
Tapi seakan Alisa tuli tidak mendengar kan ucapan Emil.
''Abang memang iya tidur di rumah nya! tapi tidak dengannya. Abang tidur dengan pak Jali di kamar lain. Malam kemarin karena Abang kurang enak badan makanya gadis itu datang dan memijat Abang. Karena Abang terlalu letih sampai Abang tertidur tidak sadar jika gadis itu juga tidur di sebelah Abang.. dengarkan dulu Dek..'' ucap Emil lagi masih dengan mengikuti Alisa.
Rita yang berada di belakangnya tersenyum mengejek. ''Sekali berbohong, maka selama nya akan berbohong. Kau sudah menodai pernikahan mu! Untuk apa kau menjelaskan sesuatu yang tidak mungkin di anggap benar! Apapun yang nampak Dimata itulah kenyataannya!''
Deg.
''Kak... dengar dulu..''
Rita berhenti. Dan menoleh pada Emil yang sudah putus asa membujuk Alisa.
''Maaf! sekali ini aku tidak bisa membantu mu! selesaikan masalahmu dulu dengan pe la kor itu! Baru setelahnya kau kembali. pada keluarga kami. Pergilah!'' ucap Rita dengan dingin.
''Dek!!!'' panggil Emil, ia melihat Alisa berjalan tak tentu arah.
Tatapan nya begitu kosong. Separuh hatinya melayang entah kemana. Begitu juga dengan pikirannya.
''Alisa!!!'' panggil Rita namun Alisa tidak mendengar nya. Saat ini telinga nya terasa berdenging.
Saat mengetahui sebuah fakta yang begitu mengejutkan dirinya. Tadi, saat ia berboncengan dengan seseorang yang diutus oleh pak Daman untuk membawa nya ketempat kerja Emil, pemuda itu bercerita jika Emil berhasil mengalahkan nya.
Pemuda itu bilang, Emil berani taruhan dengan nya jika Alisa akan menikah dengan Emil. Dan setelah itu Emil akan mengambil kesuciannya.
Setelah nya ia akan meninggalkan Alisa demi perempuan yang tadi ia temui. Dunia Alisa terasa runtuh seketika.
Ia tak pernah menyangka jika Emil memilihnya karena sebagai taruhan. Kesucian? Mengapa itu harus menjadi tolak ukur dari suatu hubungan.
Alisa tidak percaya dengan ucapan orang itu, namun tadi setelah tiba disana Alisa melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Emil sedang bersenda gurau disana.
Dengan Emil menyuapi gadis itu dengan manja. Penuh kelembutan di setiap tatapan dan sentuhannya.
Tapi dengan nya?? Jangan kan untuk kelembutan, keakraban seperti tadi saja jarang terjadi diantara mereka berdua.
Alisa terisak sepanjang jalan. Ia berjalan gontai.
''Aku harus ke mana... haruskah aku pulang?? Bagaimana dengan Papa?? Bahkan papa sudah mengatakan jika lelaki itu tidak pantas dengan ku! Sekarang aku harus apa? Kemana aku harus pergi? Tiada tempatku mengadu... Gilang... hiks.. hiks.. aku nggak sanggup GI .. bawa aku bersama mu.. hiks.. sakit...'' lirih Alisa dengan sesegukan yang terus mendera dirinya.
__ADS_1
Rita yang melihatnya pun menangis. Emil tiba di depan Alisa dengan nafas ngos-ngosan.
''Tunggu Dek.. Abang jelaskan du-''
''Apa yang ingin Abang jelaskan ha? hiks..Abang ingin bilang hiks.. jika Abang sudah berhasil mendapatkan kesucian ku kemudian membuang ku begitu hiks.. setelah nya Abang akan kembali sama cewek yang tadiii?? hiks.. kau jahat bang! benar kata Papa jika aku tidak bisa hidup bersama mu! aku tidak pantas dengan mu! aku kau jadikan taruhan demi kau bisa menikahi wanita lain.. hiks.. kau kejam bang... sangat kejam! hiks..''
Deg.
Deg.
''Apa?!? Apa kau bilang?! Emil sengaja menikahimu karena taruhan sebuah kesucian??''
Emil membatu. Ia mematung dengan ucapan Alisa. Sedangkan Rita mulutnya menganga lebar begitu juga dengan pak Daman yang mengikuti mereka dari belakang.
''Jawab Lis!!''
''Apa yang harus aku jelaskan kak? hiks.. inilah kenyataan nya! hiks.. dia sengaja menikahiku hanya untuk sebuah kesucian saja.. pantas saja papa tidak merestui pernikahan ini.. hiks.. aku harus apa.. haaaaa.. aku harus apaaa???'' jerit Alisa begitu pilu.
Emil masih diam mematung menatapi Alisa yang terus menangis memukul dada nya tanpa henti.
Sebulir bening mengalir di pipi pak Daman. Begitu juga dengan Emil. Ia tak menyangka jika perbuatan ini sudah di ketahui oleh isterinya.
Awalnya Emil berniat demikian, namun setelah berbulan-bulan mendekati Alisa, rasa cinta dan nyaman itu hadir tanpa di pinta.
Padahal hal itu sudah lama ia kubur dalam-dalam. Sejak hari dimana ia menikahi Alisa, hari itu pula ia membatalkan taruhan itu.
''Dari mana kau tau tentang masalah itu??'' tanya Emil dengan wajah datar.
Alisa menoleh, dan menatap Emil dengan tatapan sendunya.
''Kenapa?? Apa salahku pada mu hingga kau tega membuatku jadi barang taruhan?? Sehina itukah aku di mata mu?? Lalu, bagaimana dengan gadis yang sudah kau tiduri? Apakah kalian akan menikah setelah ini? Dan membuang ku begitu?!'' cecar Alisa.
Bukannya menjawab malah balik bertanya. Emil menatap dengan raut wajah dingin.
''Lihatlah! jika berbicara denganku selalu wajah itu yang kau tunjukkan! Tapi dengan gadis itu? kau mengusap kepalanya! kau menyuapinya! kau berbicara begitu lembut padanya? Apakah aku ini hanya sebatas pelampiasan mu saja? Setelah kau berhasil mendapatkan kesucian ku, sekarang kau ingin membuang ku begitu?! Aku tak menyangka, jika ini adalah sifat aslimu! kau akan baik jika kau membutuhkan tubuh ku! hiks.. hiks.. aku harus apa ya Robb.. haruskah aku mati saja? agar pemuda di depan ku ini bisa menikahi wanita yang lain.. pantas saja papa meragukan dirimu! Ternyata inilah yang ditakutkan oleh papa ku! Papaku benar! Pa...pa..'' lirih Alisa dengan bibir bergetar.
Sekuat tenaga ia menahan gejolak di hatinya agar tidak menghajar Emil dengan tangan nya sendiri.
Sedangkan Emil tercubit hatinya saat mendengar apa yang dikatakan oleh Alisa memang benar adanya.
''Pergilah! selesaikan urusan mu dengan gadis mu itu! Aku mengalah.. aku lebih memilih mundur.. jika kau ingin me madu diriku, aku siap! Tapi kau jangan pernah datang ke kontrakan ku setelah kau menikahi calon istri mu itu! Pergilah! mungkin inilah jalan yang harus ku lalui seorang diri. Hidup di rantau orang tanpa sanak saudara dan sekarang? Suamiku ingin menikah lagi dengan cintanya! Pergilah! aku mengizinkan mu menikahi pujaan hati mu itu!'' imbuh Alisa.
__ADS_1
Setelah nya ia mengambil tangan Emil dan mencium nya dengan takzim, tanpa di duga air mata itu menetes ditangan Emil.
Emil memegang tangan itu begitu erat. Ia pun ikut menangis. Namun apalah daya, ia sudah terikat janji dengan gadis lain.
Sekarang inilah yang harus ia terima. Ini konsekuensinya karena berani bermain api dibelakang istrinya.
''Aku pergi! semoga Abang bahagia.. assalamualaikum..'' lirih Alisa.
Emil hanya diam. Tangan itu ditarik paksa oleh Alisa, kemudian ia berjalan gontai tak tentu arah.
Sesekali Alisa menatap keatas dan tertawa. Sesekali juga menunduk dan menepuk dadanya begitu kuat dan menangis.
Rita yang melihatnya tidak tahan. Ia berlari mendekati gadis itu dan menangis bersama disana.
Berbeda dengan Emil. Ia menatap nanar pada mereka berdua.
''Aku sangat mencintai mu Dek.. nggak ada yang lain.. dia hanya orang lain.. aku terpaksa menerima nya karena pak Jali memaksa ku.. aku harus apa? Apa yang harus aku lakukan agar bisa mendapatkan mu lagi?? Aku harus apa??'' ucapnya begitu lirih ketika melihat Alisa yang begitu terpukul dan menangis di pelukan Rita.
''Aku tak menyangka jika seperti ini jadinya.. jika ku tau.. aku tak mau mengikuti ajakan pak Jali kemarin! Baiklah! jika ini yang kau inginkan! Aku akan melepasmu! Bukan aku yang memintanya! Tapi kaulah yang meminta nya!'' ucapnya geram dengan mengepalkan kedua tangannya.
Daman yang mendengar apa yang dikatakan Emil mendekati adik ipar nya itu.
''Emil.. seharusnya kau sebagai seorang suami dan adik bisa tegas dalam bersikap! jangan mudah dipengaruhi oleh orang lain! Lihatlah sekarang akibat dari perbuatan mu itu. Kedua wanita itu begitu terluka karena ulah mu! Tidakkah kau melihat, Jika gadis pilihan mu itu sangat kasar kepada kakak mu?? Berbeda dengan Alisa. Bukan aku membandingkan. Tapi aku hanya mengatakan apa yang aku lihat. Apakah benar kau sudah meniduri gadis belia itu? Apakah kau tidak melihat sikapnya kepada kakak mu?? Apakah itu calon istrimu nantinya?? Bagiamana bisa ia akan berbuat baik kepada mu, jika dengan kakak mu saja dia seperti itu! Bagiamana jika dia akan bertemu dengan Mak dirumah? Mampukah kau akan melerai mereka jika dari salah satu mereka nantinya bertengkar??''
Deg.
Bagai dihantam paluh Godam ke dadanya. Ternyata, kakak ipar nya ini memikirkan hingga sampai pada ibunya.
Sanggupkah Emil melerai jika nantinya istrinya, eh salah calon istrinya itu akan membuat keributan dengan ibunya?? Bukankah perangai gadis itu sama dengan ibunya??
Emil berdiri mematung. Matanya terpaku pada sosok gadis yang sedari seminggu ini telah mencuri perhatian nya dari Alisa.
Jika dibandingkan, memang Alisa lah yang terbaik. Ia rela pergi demi tidak memutuskan hubungan ibu dan anak.
Tapi bagaimana dengan gadis belia itu? Mampukah ia membuat hati ibunya luluh?? Jangan kan gadis itu, Alisa saja yang baik tidak mempan oleh ibunya.
''Ayo Mil.. tentukan pilihan mu! Apapun yang menjadi pilihan mu, itu adalah keputusan akhir dari semua ini. Pilihlah dengan hati mu! Karena hati tidak pernah berbohong. Berbeda dengan pikiran. Ingat Mil! Jangan biarkan hatimu dikendalikan oleh nafsu mu! Tapi nafsu mu lah yang di kendalikan oleh hati mu! Ambil keputusan mu!''
''Aku...''
💕
__ADS_1
Huh! kesal banget sama nih orang!
TBC