Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Berubah


__ADS_3

Sepulang nya Alisa dari tempat Emil bekerja, kini ia sedang membersihkan seluruh rumah. Mulai dari menyapu, mengepel, mengelap debu di kaca jendela, mencuci baju nya yang kotor dan juga memasak untuk dirinya sendiri.


Alisa sengaja menyibukkan dirinya dengan pekerjaan agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan.


Inilah resiko nya bila menikahi mantan Playboy. Seribu satu manusia bisa merubah lebih baik.


Seperti Emil. Walaupun katanya berubah, kata nya ya, namun ia tetap melakukan hal itu juga. Tak ingat istri, tak ingat pulang ke rumah.


Saat Alisa sedang mencuci terdengar suara pintu di ketuk dan ucapan salam. Alisa tau suara siapa itu.


Dengan langkah berat, ia membuka pintu. Terlihat Emil disana sedang menatapnya dalam.


Alisa yang paham, menggamit tangan Emil untuk di Salami nya. Setelah nya ia berlalu, dan mulai menyibukkan diri dengan pekerjaan nya.


Emil yang melihat Alisa diam, menghembuskan nafasnya. Sangat sulit untuk berbicara walau sepatah kata.


Karena tidak tahan di diamkan, Emil mendatangi Alisa dan membantu nya untuk membilas cucian kotor Alisa.


''Dek.. ini baju Abang kotor semua.. di cuci ya??'' ucapnya masih dengan menatap Alisa.


Alisa menoleh sekilas, dan mengambil cucian kotor Emil dan merendam nya. Tanpa memperdulikan Emil yang berdiri mematung di sebelah nya.


Karena tidak tahan, Emil memeluk Alisa dari belakang.


Grep.


Alisa tersentak, dan berhenti dari membilas cucian nya.


''Maafkan Abang dek.. Abang salah.. tolong maafkan Abang.. Abang khilaf..'' bisik Emil di telinga Alisa.


Alisa yang mendengarnya hanya diam saja. Tidak menyahuti sama sekali.


''Maafkan Abang dek..'' ucap Emil lagi masih dengan menyurukkan kepalanya di leher Alisa.


''Tidak ada yang perlu di maafkan! Disini akulah yang bersalah! karena tidak bisa membuat suami ku betah tinggal di rumah bersama ku. Jadi jika pun Abang pergi, itu berarti karena diriku! Awas! aku sedang nyuci! Istirahat lah, Abang pasti capek kan? Maaf jika tadi aku menyusul mu kesana. Aku hanya khawatir saja, tidak lebih. Maaf jika kedatangan ku tadi, mengganggu mu dengan pacar mu! Maaf.. sebaiknya Abang istirahat, bukan kah Abang nanti malam akan pergi bersama nya?? Istirahat lah! Nanti kalau udah waktunya ku bangunkan!'' imbuhnya tanpa melihat Emil sama sekali.


Mendengar perkataan Alisa, hatinya tercubit. Dengan sangat terpaksa Emil bangkit dan pergi keluar dari rumah nya.


Ia pergi ke tempat dimana hati nya bisa tenang, walau hanya sesaat.


Setelah melihat Emil pergi, pertahanan yang tadi di jaga oleh Alisa kini runtuhlah sudah. Ia menangis sendirian di kamar mandi.


Tangannya terus bergerak untuk membilas cucian, sedangkan air mata tiada hentinya untuk mengalir.


Lama Alisa menangis, tanpa sadar jika Emil sudah ada di belakangnya. Ia berdiri mematung disana.

__ADS_1


Alisa tidak tau dengan keberadaan Emil. Ia terus saja terisak. Sesekali menyusut ingusnya. Emil yang melihatnya terkekeh.


Namun setelah sadar, jika dialah yang membuat Alisa jadi menangis, ia berhenti untuk terkekeh.


''Dek...''


''Astaghfirullah!!'' Alisa terjingkat kaget.


Disangka tak ada orang disana, ternyata Emil sudah lama berdiri di belakangnya. Alisa terus saja sibuk dengan menjemur cucian nya.


Emil yang melihat itu mendatangi nya dan membantunya. Setelah selesai, Emil menarik tangan Alisa untuk dibawa ke dalam pelukannya.


Alisa diam, Namun masih terisak. Emil semakin kuat memeluk nya. Setelah dirasa cukup puas, Alisa melepaskan pelukan Emil.


''Aku ingin bicara!'' ucapnya sembari menatap Emil.


''Ya, mari kita bicara. Banyak yang harus di ungkapkan disini. Ayo.. kita ke kamar.'' sahutnya.


Alisa berlalu sedang Emil mengikuti nya dari belakang. Sesampainya di kamar yang hanya beralaskan tikar barum, Alisa duduk dengan menyenderkan dirinya ke dinding.


''Apa yang ingin adek biacarakan? Abang siap mendengarkan!'' ucap Emil, ia tatap wanita yang telah ia lukai hatinya.


''Jika Abang belum puas dengan masa lalu Abang, maka pergilah! lepaskan aku. Biarkan aku hidup sendiri disini. Abang bisa bebas tanpa terikat dengan ku. Abang bisa melakukan apapun yang Abang suka. Tapi tolong.. lepaskan aku dari kertas tali yang mencekik ku ini. Sakit bang, jika harus berhadapan langsung sdenagn saingan mu! Siaplah aku? Aku hanya gadis biasa, yang tidak bisa melakukan apapun seperti para gadis mu itu. Jadi aku mohon.. tolong.. lepaskan aku!'' pintanya dengan sangat.


Emil yang mendengarnya mengeraskan rahang nya.


Alisa tersentak mendengar ucapan Emil. Tak disangka, ternyata Emil ini keras kepala juga pikirnya.


''Kenapa??''


''Karena kau adalah tanggung jawab ku!'' sahutnya.


''Jika memang aku tanggung jawab mu, mengapa kau mengabaikan tanggungjawab mu selama seminggu ini?? Kemana Abang saat aku membutuhkan? Adakah Abang berpikir jika aku sendiri dirantau orang?? Bagaimana jika aku di perkosa oleh orang yang tidak aku kenal? Apa Abang bisa menerima keadaan ku nantinya yang telah dinodai pria lain?? Sungguh! kau egois bang!'' ucap Alisa, dengan air mata yang sudah beruraian di pipi tirus nya.


''Ya, aku memang egois! Demi mendapatkan mu, aku rela taruhan dengan temanku! karena apa? karena ku menginginkan mu!''


Alisa terkekeh sumbang membuat Emil kesal.


''Demi sebuah taruhan, kau rela membuang istri mu begitu?! Setelah kau mendapatkan apa yang kau mau, sekarang kau bebas kemana pun tanpa ada yang melarang mu begitu?! Abang tau tidak arti tanggung jawab apa??'' ujar Alisa, dengan suara bergetar.


Emil diam.


''Sekarang apa yang kau inginkan? Kalau pun kau ingin aku memulangkan mu, aku tidak mengijinkan! Bukankah, papa mu menolak hubungan kita??''


Deg.

__ADS_1


Alisa menatap Emil dengan raut wajah terkejut. Emil terkekeh.


''Tidak usah terkejut begitu .. aku tau semuanya tentang mu! bahwa kau juga tidak bisa pulang, karena janji mu pada papa mu, iyakan??''


Lagi dan lagi Alisa terkejut. Namun setelah nya ia ikut terkekeh bersama Emil. Emil yang melihat Alisa terkekeh terdiam.


''Ya. Aku memang tidak bisa pulang ke kampung ku. Apa yang bisa aku lakukan selain menerima perlakuan mu pada ku?? Aku harus menerima mu dengan lapang dada. Seperti apa dirimu, dan seburuk apa kelakuan mu dibelakang ku, bukankah aku harus menerima nya??''


Emil diam. Ia tatap Alisa yang raut wajahnya berubah menjadi sendu.


''Aku harus apa? jika kedua orang tuaku tidak menerima ku karena diri mu?? Aku harus apa?? Dan... ya! sekarang terserah padamu, jika Abang masih ingin memakai diriku, silahkan! jika tidak pun tidak masalah! Bukankah sudah menjadi sebuah tradisi, jika habis manis sepah di buang?? aku tidak bisa merubah kelakuan mu, aku tidak bisa memaksa mu untuk menerima ku apa adanya.. karena aku bukanlah bidadari seperti diluar sana yang bisa membuat mu bahagia.. jika Abang lebih memilih wanita lain.. silahkan! aku ikhlas! Terserah apa yang ingin Abang lakukan sekarang. Siapakah aku Dimata mu??'' lirih Alisa dengan tertunduk.


Emil tergugu dengan ucapan Alisa. Benar katanya, siapa Alisa Dimata nya?? Setelah selesai dengan pembicaraan nya, Alisa bangkit dan menuju kamar mandi untuk mandi.


Kini Emil dan Alisa seperti perang dingin. Emil dengan kehidupan nya, Alisa dengan kesendirian nya.


Setelah pembicaraan serius mereka, kini Alisa merasakan jika Emil benar-benar berubah.


Sedikit demi sedikit Emil menunjukkan sisi lain pada dirinya. Alisa selalu di marahi nya, di bentaknya.


Bahkan saat ingin meminta hak nya, Emil selalu memaksa. Apa yang ia bisa perbuat selain hanya bisa diam dan menangis meratapi hidup nya.


Sungguh Emil begitu tega menyiksa batinnya. Sanggup ia pergi ketika malam Minggu dengan perempuan lain sedang Alisa sendirian dirumah.


Saat seseorang menyampaikan bahwa Emil sedang jalan berdua dengan perempuan lain diluar sana, Alisa tidak bisa berbuat apapun. Selain menutupi aibnya suami nya.


Hingga berbulan-bulan lamanya, Emil juga tidak pernah berubah. Bahkan lebih parah.


Hari ini Alisa begitu lemas, kepalanya pusing sedari bangun tidur. Perutnya terasa di aduk-aduk hingga ingin muntah.


Saat melihat Alisa begitu pucat, Emil mendatangi nya dan bertanya.


''Ada apa dengan mu?? Kalau sakit itu berobat, jangan diam saja! Sana pergi!'' titahnya membuat Alisa diam.


Tidak menyahuti ucapan Emil yang sudah berlalu pergi untuk bekerja.


''Bahkan saat aku sakit pun kau tidak peduli dengan ku. Sungguh miris hidupku.. ku pikir bisa hidup nyaman bersama mu, ternyata...''


Kepala nya pusing, penglihatan nya berkunang-kunang, gelap dan semakin gelap dan..


Bruukk..


Alisa terjatuh terkapar di lantai yang dingin. Sedingin hati suaminya untuk dirinya sekarang.


💕

__ADS_1


TBC


__ADS_2