
Seketika Alisa terdiam dari tertawa nya. Ia merasakan pada perut bagian bawah ya semakin sakit.
Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit yang semakin kuat. Ia melihat jarum jam.
''Masih setengah sepuluh malam,'' gumam nya.
Tama terus saja memperhatikan Mak Alisa. Pasti ada yang tidak beres pikirnya. Ia tetap waspada, takut jika apa yang ia pikirkan benar adanya.
Ira dan Lana saling pandang. ''Mak?? Sakit perut kah?? Kita ke klinik ya?'' ajak Ira, Alisa menoleh dan tersenyum.
''Belum waktunya, masih lama kok. Udah, sebaiknya kalian tidur ya? Mak harus menghabiskan ini semua dulu. Kamu juga Bang! Besok sekolah kan??''
''Ya, tapi Abang yang akan temani Mak disini. Biar Abang yang bantuin Mak sampai selesai. Kalau ngantuk, nanti Abang tidur disini,'' tegasnya.
Alisa menghela nafasnya. ''Ya sudah, Kakak sama Abang juga tidur sana! Nanti kalau ada apa-apa, Mak bangunin.''
''Janji??''
''Janji!'' sahut Alisa, setelah itu kedua anaknya masuk ke kamar dan tidur.
Tinggal lah Alisa dan Tama sekarang berdua di depan tivi. Alisa menatap Tama dengan serius.
Tama yang merasa dirinya di tatap menoleh. Ia melihat Alisa, sedang menatapnya dengan serius.
''Ada apa, Mak?''
''Kamu bisa berjanji sama Mak, bang Adrian Pratama?''
Deg!
Tama terkejut. ''Janji apa Mak? Kalau bisa pasti akan Abang lakukan!''
''Mak ingin kamu menjaga ketiga adik mu dari segala bahaya yang akan menimpa mereka nantinya.''
''Maksudnya?''
''Kamu harus berjanji sama Mak, jika suatu saat adik-adik mu dalam bahaya dan membutuhkan bantuan mu, kamu harus mau membantu mereka. Sekalipun kamu terpaksa, kamu tetap harus menantu nya! Bisa kamu berjanji sama Mak, Bang?''
Tama mematung. Apa maksud dari ucapan Mak Alisa ini, pikirnya. ''Kenapa Mak berbicara seperti itu? Apakah Mak akan pergi meninggalkan kami berempat?''
''Bukan! Bukan itu yang ingin Mak dengar Adrian Pertama. Mak hanya ingin mendengar, kamu berjanji sama Mak. Bahwa jika suatu saat ketiga adik mu mengalami masalah yang cukup serius, kamu harus membantu mereka! Kamu bisa Tama??''
Lagi, Tama mematung mendengar ucapan Alisa. Ia melihat mata Alisa yang begitu berharap pada nya.
''Ya. Akan Tama lakukan! Sekalipun Mak meminta nyawa Tama, maka akan Tama lakukan!'' sahutnya mantap.
Alisa mengukir senyum manis di bibirnya. ''Itu yang ingin Mak dengar dari mu sayang.. Sssstttt... hufffttt...''
Tama membulatkan matanya. ''Mak sakit lagi? Kita ke klinik ya? Mumpung masih buka! Kalau udah tengah malam akan sulit, Mak!'' Ucap Tama panik.
__ADS_1
Ia mengusap perut Alisa yang semakin kencang menurut nya. ''Adek.. diam ya sayang ya? Mak kesakitan loh.. apa mau Abang sholawatin? Biar adek bobok??''
Alisa terkekeh di sela rasa sakit nya. ''Mana mau dia tidur Bang! Orang dia nya udah mau keluar ini! Seperti kata kakak tadi, adek mau launching! Auchh.. Sssttt... hufftt... hufffttt...''
Semakin lama rasa sakit itu semakin menjalar ke seluruh perutnya. Tama yang tau, sigap bangun dan mengeluarkan motor nya.
Ia berlari ke dalam kamar Alisa dan mengambil tas yang sudah Alisa siapkan jauh-jauh hari.
Alisa yang melihat nya terkekeh. Tama kembali setelah mengambil tas perlengkapan Alisa. Ia mengangkat nampan yang berisi risol dan ia simpan ke dalam ke dalam kulkas.
Semua sudah siap, kini ia mendorong motor nya menuju pintu rumah. Pintu terbuka, dengan segera ia menyangga motor nya dan berlari masuk ke dalam.
Tiba disana ia melihat Alisa semakin kesakitan. Tama dibuat panik akan hal itu. Tapi ia tidak berbicara.
Mulutnya terkunci rapat. Tapi tangan dan kakinya yang menjadi saksi. Bagaimana tidak, jika tangan dan kakinya gemetaran seperti Tremor.
Tapi ia paksakan. ''Ayo Mak!''
Alisa mengangguk dan berdiri. Ia berjalan perlahan. Saat rasa sakitnya menghampiri, ia mencengkram tangan Tama begitu erat.
Alisa memejam kan kedua matanya dengan mulut terus menghirup dan membuang nafas. Wajah Tama semakin pucat sekarang.
Sekilas Alisa bisa melihat Jiak Tama sedang diserang panik. Tapi aneh nya pemuda labil itu, terdiam tanpa suara.
''Nak?''
Alisa perlahan berjalan dengan tertatih. Tama dengan sigap memeganginya. Tiba di motor ia menyuruh Alisa berdiri sebentar untuk menutup pintu dan menguncinya.
Setelah itu ia segera menstart motor nya dan mulai melajukan ke klinik bidan Novi. Lima menit mereka tiba disana.
Melihat Alisa datang, bidan Novi dengan segera membawa nya ke dalam. Tama menunggunya dengan was was.
''Selamat kan Mak ku ya Allah, adek ku juga..'' gumam nya sambil tangan terus diremasnya karena gugup dan takut.
Lama ia menunggu hingga tiga jam lamanya. Bidan Novi keluar, dan mendatangi nya.
''Tama!''
''Eh, Iya Buk! gimana Mak Alisa? Sudah melahirkan kah? Apa orang nya?'' cecar Tama.
Bidan Novi terkekeh mendengar ucapan putra angkat Alisa ini. ''Belum, Nak! Palingan besok pagi baru lahirnya. Masih lama. Sebaiknya kamu pulang saja, besok baru kembali lagi. Kabarkan hal ini pada ayah angkat sialan mu itu!'' ketus bidan Novi di ujung Kalimat nya.
Tama terkekeh. ''Saya akan pulang, tapi untuk mengabari kedua adik saya saja. Setelahnya saya akan kembali. Apakah Mak berpesan sesuatu?''
Bidan Novi tersenyum. ''Kamu lupa membawa dompet nya kan??''
''Hah? Astagfirullah! Benar! Saya lupa Buk! Ya sudah saya pulang dulu ingin mengambil dompet dan memberikan kabar ini kepada kedua adikku di rumah. Terimakasih Buk! Saya permisi.'' Imbuhnya kemudian ia berlalu meninggalkan bidan Novi yang tersenyum melihat tingkah putra Alisa itu.
Tiba dirumah, Tama membangun kan kedua adiknya dan memberikan kabar itu. Mereka berdua panik.
__ADS_1
Tapi Tama bisa menenangkan nya. Ira dan Lana ke klinik besok saja, katanya. Mereka berdua menurut.
Keesokan paginya.
Tepat pukul tujuh lebih dua puluh lima menit, akhirnya bayi Alisa lahir ke dunia. Tama yang baru saja tiba terkejut.
Begitu juga dengan Ira dan Lana. Mereka bertiga saling pandang. Akhirnya mereka tersenyum haru.
Mereka bertiga masuk ke ruang bersalin dengan wajah basah penuh air mata. Alisa yang melihat ketiga anaknya tersenyum walau masih lemah.
''Tama..''
''Iya, Mak!''
''Adzan kan adikmu. Kamu pengganti Ayah, Nak..'' lirih nya sembari tersenyum.
Tama mengangguk dan mulai mendatangi perawat untuk mengambil bayi itu. Perawat itu memberikan nya pada Tama, setelah sebelumnya ia berwudhu.
Pertama kali menyentuh bayi Alisa..
Deg, deg, deg.
Jantung Tama berdebar kencang. Ia menatap bayi perempuan yang sedang ada di tangan nya.
Tama menunduk dan mencium dahi bayi perempuan itu begitu lama. Alisa yang melihatnya terdiam.
Setelah selesai, Tama mulai menyandungkan suara adzan yang begitu mengalun lembut di telinga bayi perempuan Alisa.
Setelah selesai, Tama tersenyum tapi ada yang aneh. Ia menangis dan memeluk bayi itu.
Alisa masih saja melihat Tama dengan seksama. ''Mak?''
''Eh?'' Alisa terkejut. Baru saja ia melamun tentang Tama dan bayi perempuan nya itu.
Tama mendekati nya dan memberikan bayi perempuan itu pada Alisa. ''Siapa nama adek, Mak?'' tanya Lana begitu antusias.
Alisa tersenyum. ''Menurut bang Tama, siapa?''
Tama menatap bayi perempuan itu dengan tersenyum manis.
''Nisa. Annisa. Seperti nama surah dalam Al-Qur'an yang artinya Wanita atau Perempuan!''
💕
Masih ada lagi.
Ikutin terus kelanjutannya!
TBC
__ADS_1