
''Tapi Nak.. bagaimana kita bisa hidup? Kalian akan di hina karena tak punya Ayah..'' lirih Alisa lagi masih dengan sesegukan.
''Lebih baik Abang tidak punya Ayah! Daripada punya Ayah tapi tidak mau mengakui jika kami adalah anaknya! Darah dagingnya! Begitu juga dengan nenek tua itu! Bahkan ia menyangkal kebenaran yang ada didepan matanya! Tidak perlu memohon kepada orang yang sudah tertutup hatinya Mak!. Abang yakin kok. Setelah ini, Mak akan lebih sukses dari sekarang! dan Mak akan mendapatkan lelaki yang sangat baik yang menerima kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri Mak! Dan disaat itu terjadi, maka Abang lah yang akan mendatangi dua orang ini untuk memberikan undangan pernikahan Mak itu nanti! Ayo! Adek dari tadi haus, ingin nyusu sama Mak! Mak tak ingat adek lagi?''
''Astaghfirullah! Annisa..'' lirih Alisa.
Ia menatap Emil yang juga sedang menatapnya. ''Terimakasih selama ini telah menerima wanita sepertiku, Bang Milham Syahputra! Aku tegaskan pada kalian berdua. AKU BUKAN PEMBAWA SIAL seperti yang selalu kalian tuduhkan! Aku wanita terhormat! Aku akan membuktikan nya pada kalian berdua! Tak ada manusia yang terlahir sebagai pembawa sial! Tidak ada yang ingin terlahir dan disebut dengan pembawa sial. Manusia ketika dilahirkan itu fitrah.''
''Terimakasih karena sudah memberikan ku banyak pengalaman selama hidup berumah tangga dengan mu. Terimakasih karena telah memberikan ku anugerah yang begitu besar di dalam hidupku! Anak-anak ku, mereka adalah mutiara hatiku. Dimana banyak orang yang tidak bisa mendapatkan nya tapi aku diberikan amanah seperti ini. Sekali lagi terimakasih! Selamat tinggal Bang Milham Syahputra Ayah kandung dari ketiga anak ku! Ayo Nak, kita pulang! Besok kita harus pergi dari rumah itu! Biar mereka yang menggunakan rumah itu. Mak tak butuh harta. Yang mau adalah anak-anak Mak ikut bersama Mak. Itu sudah cukup untuk Mak. Ayo.. aku pamit! Assalamualaikum.. mantan suami!''
Deg!
Serasa diremas jantung Emil ketika Alisa mengatakan itu dengan lembut namun tegas di dalam setiap ucapan nya.
Alisa bangkit dan berbalik meninggalkan Emil dan Nenek Rima yang mematung melihat kepergian mereka.
Lana menoleh sambil berjalan. Ia menatap Emil dan Nenek Rima dengan wajah datarnya. Sedangkan Ira tidak menoleh sama sekali begitu juga dengan Alisa.
Maya dan Alvian mengikuti mereka berempat. Mereka terus berjalan hingga di ujung jalan itu mereka menghilang.
Tinggallah Emil dan Nenek Rima mematung melihat kepergian mereka.
Tiba dirumah mereka, Maya dan Alvian juga ikut masuk. ''Mbak... ikut kami ya? Jangan pergi dari sini! Aku akan kesepian tanpa Mbak..'' pinta Maya dengan air mata beruraian.
''Tinggal lah dirumah kami Lis.. sementara kamu belum mendapatkan tempat tinggal yang baru. Atau kau ingin pulang ke Aceh?'' tanya Alvian.
__ADS_1
Alisa menoleh dan tersenyum namun sendu. ''Tidak usah ya May..Mbak akan pergi dimana ada tempat menerima Mbak tanpa melihat Mbak sebagai wanita pembawa sial lagi. Cukup sudah selama ini Mbak selalu di tuduh sebagai wanita Pembawa Sial oleh mereka. Mbak akan pergi dari sini besok. Jika kamu ingin tidur disini bersama Mbak, boleh kok! Kamu juga boleh Bang! Jadikan ini semua kenangan untuk kita semua.'' Seloroh Alisa.
Namun ditanggapi lain oleh Maya. Wanita beranak dua itu menangis meraung mendengar ucapan Alisa.
Alisa terkekeh, namun air mata itu mengalir deras di pipinya. Begitu juga dengan Alvian. Alisa menoleh pada Alvian.
''Bang.. aku titip kunci rumah ini sama kalian ya? Mana tau nanti mantan suamiku datang ke rumah ini untuk mengambil barang-barang nya. Aku akan pergi tapi tidak membawa apapun dari rumah ini. Karena isi dari rumah ini bukanlah hak ku. Tapi hak nya. Aku tidak akan pulang ke Aceh karena suatu hal. Biarlah kami berempat disini. Yang penting aku selalu mendapat kabar jika kedua orang tuaku dalam keadaan sehat.''
''Besok ku berikan sama Abang kuncinya sebelum aku pergi. Ayo Nak, siapkan koper baju kalian berdua.''
Ira dan Lana mengangguk patuh. Dengan segera mereka berdua menyusun baju mereka ke dalam koper.
Setelah selesai, kini Ira beralih pada baju Alisa dan Annisa. Ia dibantu Lana memasukkan baju Mak nya kedalam koper milik Alisa.
Koper mini yang sengaja ia beli untuk pulang kampung tahun depan. Rencananya.
Semua itu akan tertunda lagi. Entah kapan semua itu bisa terlaksana. Cuma Tuhan lah yang tau.
Selesai dengan menyusun pakaian mereka, kini ke delapan orang itu tidur lesehan di dalam ruang tamu Alisa.
Dengan semua anak-anak tidur bersama. Sedangkan Alvian tidur bersama Maya di sebelah Alisa.
Karena Maya tidak mau tidur jauh dari Alisa. Mereka tidur dalam keadaan pikiran yang melalang buana entah kemana.
Memikirkan nasib masing-masing setelah ini.
__ADS_1
Pagi harinya.
Jam delapan pagi Alisa keluar dari rumah itu bersama ketiga anaknya. Di ikuti Maya dan Alvian di belakang Alisa.
Ira dan Lana mengikuti nya dari belakang. Dengan segera Ira mengunci pintu rumah itu dan menyerahkan nya pada Alisa kuncinya.
''Ini Mak!''
''Ya, Bang.. aku titip kunci rumah ini sama Abang ya? Jika nanti Mantan suamiku datang kesini untuk mengambil barang nya, berikan kuncinya. May... jangan sedih atuh.. kapan-kapan kita kan bisa bertemu lagi? Kalau masih ada umur sih.'' Seloroh Alisa.
Alvian tersenyum sedangkan Maya merengut sebal. Mata nya semakin sembab karena tidak berhenti menangis.
Sedangkan Alisa sedari tadi malam, air mata itu sudah kering dan tidak ada lagi. Karena baginya, jika sudah selesai tidak perlu di tangisi lagi.
''Ya sudah kalau begitu, kami pergi sekarang. Kami akan singgah di sekolah Ira untuk konfirmasi kalau Ira keluar dari sekolah itu dan akan pindah nanti di tempat yang lain. Nomor ponsel Abang udah ku simpan! Begitu juga dengan nomor ponsel mu May! Aku pergi! Assalamualaikum..''
''Waalaikum salam.. Mbak...''
''Waalaikum salam..'' sahut Alvian dan Maya bersamaan.
Ia menangis tersedu saat melihat Alisa pergi dari rumah itu. Sebelum menjauh, ia menoleh ke belakang sekali lagi.
''Selamat tinggal Bang Milham.. terimakasih untuk semuanya.. dan akan selalu ku ingat tentang kisah kita dulu. Ku jadikan itu kenangan di dalam memori ku. Semoga kau selalu bahagia dengan kehidupan mu yang baru. Aku pergi.. selamat tinggal mantan suamiku.. Ayah kandung dari ketiga anakku..'' gumam nya sembari menoleh kebelakang melihat rumah yang selama dua belas tahun ini ia tinggali bersama sang suami.
Semua nya tinggal kenangan. Yang tersisa hanyalah rasa sakit dan terluka akibat ulah dari sang suami yang selama ini selalu ia sebut di dalam doa nya.
__ADS_1
TBC