Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Lunas!


__ADS_3

''Ya sudah, tapi jika kamu macam-macam selama tinggal disini, jangan salahkan Ayah! Jika Ayah akan mengusir mu!''


Deg!


Tama mengepalkan kedua tangannya. ''Tidak akan! Ayah kan tau seperti apa Mak Alisa selama ini mengajari Abang?? Ayah tak perlu khawatir! Abang tidak akan membuat masalah hingga kalian berdua berpisah nantinya!''


Deg!


Emil terkejut. Gantian sekarang ia menatap Tama dengan raut wajah dingin nya.


''Ingat janjimu Tama! Kau hanya orang lain disini! Jadi jangan macam-macam! Cukup menurut dengan apa yang aku katakan!'' tukas Emil.


''Ya, ayah tak perlu khawatir! Aku bukan Ayah yang bisa menyakiti hati perempuan dengan cara memukuli fisik serta melukai batinnya! Seharusnya Ayah sadar, jika bukan karena Mak Alisa, mungkin Ayah sudah tidak ada di dunia ini! Ayo, Mak??'' ajaknya pada Alisa.


Emil terkejut lagi dengan ucapan Tama. ''Apa maksudmu Tama?!''


''Ayah tau apa maksudku! Jangan terlalu memandang remeh Mak Alisa, Yah.. sekarang Ayah bisa merendahkan nya! Tapi ingat! Suatu saat nanti, Ayah akan menyesal! Ingat itu! Aku tau diri jika aku ini bukan putra kalian! Tapi karena Mak lah aku masih berada disini! Terimakasih jika dulu Ayah pernah tidur dirumah bersama Mama ku! Itu mencerminkan diri Ayah yang sebenarnya seperti apa! Ayo, Mak kita pergi. Cukup sudah bahasan pagi ini. Masih ada lagi nanti malam akan Abang bahas!'' Imbuhnya, dengan segera menarik Alisa pergi dari sana.


''Adrian Pratama!!!!'' pekik Emil dengan begitu merah.


''Astaghfirullah.. Ayah ternyata tidak pernah berubah...'' lirih Lana dengan mata berkaca-kaca.


Setelah itu mereka semua pergi dengan meninggalkan Emil masih dalam keadaan marah.


Sedangkan Alisa termangu seorang diri. Setelah belanja di warung Mpok Atun, ia duduk menyendiri seperti kata Tama tadi saat ia mengantar Alisa ke warung Mpok Atun.


''Mak nggak usah pulang kerumah! Kali ini Mak, harus dengar apa kata Abang ya? Jika Mak sendiri tidak ada yang menolong Mak nanti. Jadi sampai Abang pulang sekolah, Mak harus tunggu Abang disini. Nanti Abang jemput, Mak!''


''Tapi Nak.. kulit risoles nya harus dibuat dulu..''


''Mak tenang aja! Nanti pulang sekolah Abang bantuin! Janji!''


''Ya sudah, Mak tunggu Abang disini. Apa... Ayah tau dengan tempat ini??''


''Ayah tidak tau dengan tempat ini! Hanya Abang yang tau! Tidak ada yang akan mengganggu Mak disini! Kawasan ini punya Abang!''


''Maksudnya??''


''Suatu saat Mak akan tau. Cup. Abang ke sekolah ya, Mak?? Assalamualaikum..''


''Waalaikum salam..''


Lamunan itu buyar saat mendengar suara dentingan ponsel jadul milik Alisa.


Alisa membuka pesan itu dan membacanya. Setelah membacanya berulang kali, ia jadi bingung dan sangat shock akan kenyataan dari konfirmasi sebuah Bank.


Yang menyatakan jika hutang Mak Rima sudah lunas. Sudah clear! Tidak ada hutang piutang lagi.

__ADS_1


Alisa melamun lagi.


Ia berfikir, siapa kiranya yang telah melunasi hutang-hutangnya? Apakah Emil? Ah, mana mungkin?? Linda?? Apalagi.


Saat masih melamunkan tentang pelunas itu, ponsel Alisa berdenging lagi. Pertanda pesan masuk lagi.


Ia membuka dan membacanya. Lagi, Alisa terhenyak dari duduknya. ''Mama?? Banyak sekali?? Uang dari mana?!'' Pekik Alisa di tengah sawah itu.


Ya, saat ini Alisa sedang berada di sebuah pondok di tengah sawah jauh dari rumahnya. Dekat dengan rumah Linda.


Entah apa maksud dari Tama membawa Alisa kesana. Ia pun tak tau. Belum usai dengan rasa terkejutnya, kini Alisa terkejut lagi dengan pesan baru masuk dari Alvian.


Dek... Abang lihat bang Emil sedang berboncengan dengan seorang gadis belia. Ia mengarah kerumah kalian. Dan sekarang mereka berada dirumah mu, juga Tama ada disana.


Tama sedang mengamuk dengan Emil. Kamu dimana?? Pulang ya? Atau kalau nggak Abang susulin kamu??


Isi pesan itu benar-benar membuat Alisa membatu. Alisa masih melamun saat Alvian tiba disana.


''Dek!!!''


''Hah?! Abang?! Ngapain?! Sama siapa? hah?!'' sentak Alisa pula.


Alvian terkekeh. ''Ayo pulang, Emil sama Tama sedang adu gelut! Jika kamu nggak lerai bakalan hancur tuh anak sama Emil!''


Alisa terkejut. ''Oke! Ayo kita pulang! Aku ingin tau ada apa dengan mereka berdua.'' sahut nya dengan segera berjalan dengan tergesa.


Alisa tak ingat dengan kehamilan nya. Tiba di depan motor, Alisa meminta kunci pada Alvian dan ia yang membawa nya.


Cuma lima menit saja, Alisa dan Alvian sudah tiba dirumah. Dari luar saja sudah terdengar suara gaduh dan barang yang di banting.


Mendengar itu Alisa berlari di ikuti oleh Alvian di belakang nya.


Pyaaaarrrr..


''Astaghfirullah!! Tama!!!! Hentikan Nak!!!'' pekik Alisa, ia begitu terkejut melihat Tama yang sedang mengamuk saat ini.


Tama menoleh, ia terkejut dengan kedatangan Alisa. Tapi itu sebentar, setelah itu ia melempar lagi sebuah gelas, tepat mengenai kepala Emil.


Duggg.


''Aaaaskkkhhtt... sialaaaannn... anak kurang ajar!!! Pergi kau dari rumah ku!!!'' pekik Emil, membuat Tama semakin tersenyum mengerikan.


Ia mengambil gelas lagi dan melemparnya tepat mengenai gadis yang duduk di sebelah Emil


''Aaaarrrggghh... sakkiiiiitttt!!!'' pekik gadis itu.


Alisa dan Alvian mematung melihat sikap Tama. Alisa mendekati Tama, tapi di cegah oleh Alvian.

__ADS_1


''Jangan Dek... Tama sedang dalam mode tidak bisa di ganggu ..'' cegah Alvian.


''Tak apa Bang.. Tama putraku, aku tau seperti apa dirinya.'' setelah mengatakan itu Alisa melangkah menuju Tama yang sedang kalap ingin melempar Emil dengan gelas yang lain lagi.


''Tama??''


Tama bergeming, tangannya masih sibuk ingin melempar gelas itu.


Pyaaaarrrr..


''Nak??'' lirih Alisa dengan mata yang sudah mengembun.


Tama tak peduli. Ia mengambil gelas itu dan melemparnya sekaligus disamping Emil dan gadis itu.


Pyaaarrrr..


Pyaaaarrrr..


Pyaaarrrr..


''Hiks.. menjauh Mak! Abang lagi menghukum dua orang yang sedang berzina dirumah Mak!''


Deg!


Alisa mencelos mendengar ucapan Tama. ''Sayang?? Abang?? Dengarkan Mak, Nak!''


''Nggak!! Abang nggak mau dengerin Mak! Orang ini berdua salah! Abang sudah bilang sama Mak! Tinggalin orang ini! Orang ini jahat Mak! Berulang kali Mak disakiti oleh nya! Kenapa Mak diam saja?!'' sentak Tama


Grep!


Alisa memeluk Tama erat hingga pemuda tanggung itu jatuh terduduk dan bersimpuh di kaki Alisa.


Ia menangis tersedu. Begitu juga dengan Alisa. Emil dan gadis yang entah siapa itu terdiam melihat dua orang beda usia itu.


Cup!


Alisa mengecup kening Tama dengan sayang. ''Mak... hiks... kita pergi dari sini ya?? Abang nggak kuat melihat Mak disakiti terus .. hiks..'' Isak Tama, Alisa mengusap kepala Tama dengan sayang.


''Sayang.. Mak nggak bisa pergi dari sini. Karena ini adalah rumah Mak! Dan juga pria yang tadi kamu lempari itu suami Mak, Nak..'' lirih Alisa masih dengan mengusap kepala Tama.


''Mak tau, padahal malam ini Abang mau bilang, jika seluruh hutang Mak yang di pinjam oleh nenek sihir itu sudah lunas!''


''Hah? Lunas??''


💕


Habis dah tuh si Emil di timpuk Tama sama gelas! 🤣🤣

__ADS_1


Hukum Karma itu euuuyyy! eh?


TBC


__ADS_2