
Hari ini adalah hari ketiga, kedua orang tua Alisa pulang dari dinas desa. Mereka tiba di pagi hari.
Karena Alisa mengabarkan jika Emil sudah membeli tiket kemarin sore untuk keberangkatan hari ini.
Melihat ada rental di depan halaman rumahnya, Alisa bergegas keluar. Dirinya yang begitu lemah dari kemarin sudah kembali sehat.
Bagaimana tidak lelah, jika Siang malam Emil selalu menggempur nya tanpa henti. Jika bukan karena Alisa pingsan kemarin siang, pastilah Emil akan menggempur nya lagi hari ini.
Alisa di bawa berobat ke dokter oleh Emil, tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Emil sengaja menutupinya.
Takut akan terkena damprat Pak Yoga, karena sudah melukai putri kesayangan nya. Emil bergidik ngeri ketika membayangkan Pak Yoga mengamuk.
Padahal mah.. pak Yoga udah ngamuk dari kemarin. Sayang nya menantu baru itu tidak mengetahui nya. 😄😄
Alisa berlari kedepan menyongsong kedua orang tuanya yang baru saja tiba.
''Mama!'' panggil Alisa.
Mama Alina tersenyum. ''Assalamualaikum.. nak..''
''Hehehe.. Waalaikum salam.. Papa!'' serunya lagi.
Pak Yoga tersenyum, namun setelah melihat seseorang disana wajahnya kembali datar. Alisa yang melihat perubahan pada wajah Papa nya menoleh.
Ia melihat suaminya sudah berdiri disana dan berjalan menghampiri mereka. Alisa menghela nafsnya.
Berat melihat orang tercinta begitu jutek terhadap suaminya. Mau bilang apa? Jika memang itu sudah menjadi keputusan nya? Begitu juga dengan Pak Yoga.
''Baru sampai, Pa??'' tanya Emil basa basi.
''Ya.'' sahut pak Yoga.
Kemudian ia berlalu meninggalkan mereka bertiga disana tanpa menoleh lagi ke belakang.
Alisa memandang Mama nya, Mama Alina mengangguk.
''Ayo, nak.. bantu Mama bawakan ini ke dalam? Ayo Lis..''
''Oke.''
Emil mengikuti saja kemana Alisa membawa barang-barang itu. Setelah nya mereka kembali istirahat, karena waktu berangkat hanya tinggal beberapa jam lagi.
Sore harinya.
__ADS_1
Setelah sholat ashar, Alisa bersiap-siap. Dengan satu buah ransel besar juga tas selempang pemberian Ema kemarin, Alisa keluar.
Ia duduk dimana kedua orangtuanya berada. Sedangkan Emil sedang keluar untuk mencari sesuatu yang bisa di makan oleh Alisa saat di perjalanan nanti.
''Pa.. Ma.. Alisa pamit. Mohon doa restu nya untuk kelancaran kehidupan rumah tangga kami berdua.. Alisa tau.. berat untuk kalian berdua melepas ku. Tapi inilah takdirku. Pilihan ku. Alisa harap Mama dan Papa mengerti. Jika suatu saat terjadi sesuatu dengan pernikahan ku, aku Tak akan memberitahu kalian berdua. Karena ini adalah pilihan ku, maka aku sendiri yang harus menanggung resiko nya. Maaf jika selama ini aku menyakiti hati kalian berdua.. maaf jika aku menjadi anak yang pembangkang. Maaf telah mengecewakan harapan mama dan papa.. sekali lagi Alisa mohon maaf..'' lirih Alisa begitu pelan.
Mama Alina terisak, sedangkan Pak Yoga menghela nafas panjang.
''Kami tidak pernah sekalipun membencimu, Nak.. kami sebagai orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kehidupan mu. Butuh waktu bagi kami untuk menerima dirimu yang sudah menikah, nak.. bukan berarti kami tidak menginginkan mu.. percayalah.. sampai kapan pun kau tetap lah Putri kami.. sekarang atau pun nanti.. dan selamanya..'' ucap Mama Alina.
Sedangkan Pak Yoga hanya diam saja. Ia tidak berbicara sepatah katapun. Sampai Alisa berangkat meninggalkan kediaman Sebastian.
''Ayo kita berangkat. Travel nya sudah datang menjemput.'' imbuh Emil.
Dan di angguki oleh Alisa.
Alisa pergi membawa sekeping hati yang terluka. Berharap pernikahan ini akan menjadi ladang pahala untuknya.
Perjalanan ke Medan lebih kurang empat belas jam sampai ke tujuan menggunakan travel.
Emil lebih memilih jalur darat, juga lebih cepat sampainya. Berangkat sore sampai disana pagi hari.
Sampai di bukit Berastagi, Emil mencoba untuk membangunkan Alisa dari tidurnya.
Karena udara di Berastagi yang begitu dingin. Alisa membuka matanya. Pertama kali yang dilihat olehnya adalah gunung Berastagi yang di selimuti awan.
Bias matahari pagi memantul pada kaca jendela mobil travel yang dinaiki Alisa. Alisa terpana melihat pemandangan yang begitu indah dimatanya.
''Masyaallah cantiknya...'' ucap Alisa. Sambil terus menatap gunung Berastagi yang diselimuti awan.
Jika diperhatikan dengan seksama, gunung itu berwarna ungu seperti warna bunga lavender. Sangat cantik.
Seperti kata othor kolom langit, Pelangi berselimut awan. Ini mah beda.. ini bukit Berastagi berselimut awan 😄😄😄
Alisa begitu takjub melihatnya. Ia yang duduk di sebelah Emil, sampai minta bergeser untuk melihat pemandangan itu.
Emil terkekeh melihat Alisa. Matanya terus saja melihat pemandangan itu. Jalan yang berliuk-liuk seperti badan ular.
Serta tikungan yang curam menambah nilai plus Dimata Alisa. Pertama kali ke Medan yang ia rasakan adalah takjub akan maha kuasa Allah dalam menciptakan kesempurnaan.
(Pengalaman othor ketika pertama kali menginjak kan kaki ke Medan euuy 😄😄)
Banyak pohon-pohon tinggi menjulang, belum lagi tanaman bunga yang sengaja ditanam. Menambah ke asrian di wilayah itu.
__ADS_1
Rasanya sulit untuk dijabarkan dengan kata-kata. Alisa hanya pernah mendengar jika saudara sepupu nya ke Medan sempat singgah di bukit Berastagi.
Dan sekarang itu terbukti. Mereka mampir sebentar untuk sarapan pagi. Rumah makan Cinde Laras yang mereka singgahi.
Puas dengan sarapan paginya, sekarang mereka melanjutkan lagi perjalanan mereka. Butuh waktu dua jam lagi hingga mereka sampai dirumah keluarga Emil.
Satu kali turun angkot. Kemudian menuju ke rumah mertua. Disana para keluarga serta kakak ipar Alisa sudah menunggu mereka.
Sesampainya disana, Alisa di buat melongo. Bagaimana tidak, jika keluarga Alisa berbicara tidak layak nya kita berbicara dengan sopan.
Keluarga Emil berbicara dengan nada yang begitu tinggi namun tidak berkelahi. Mereka malah saling mengejek, kemudian tertawa bersama.
Pengalaman othor lagi nih... ketika pertama kali masuk dalam keluarga suami. 😄😄
Alisa dibuat bingung dengan bahasa percakapan mereka. Maklum lah kampung Melayu.
Tapi, tidak semua disana orang Melayu. Ada juga orang Jawa, Batak, Padang dan terakhir adalah Aceh. ( Ini mah othor euuuyyy..)
Suami dari kakak Emil menikah dengan orang Jawa. Sedangkan Abang tertua mereka menikah dengan orang Padang.
Alisa masih saja kebingungan melihat keluarga mereka yang terus berbicara dengan bahasa Melayu.
Karena bingung harus berbuat apa, akhirnya Alisa memilih untuk ke dapur dan melihat apa yang bisa dibuat disana.
Alisa tersenyum ketika mendapati piring kotor lumayan banyak. Alisa bergegas menggulung lengan bajunya.
Kemudian ia mulai membersihkan piring serta dapur yang masih berserakan. Alisa menyapu hingga mengepel.
Saat sedang asyik-asyiknya mengepel, seseorang menegurnya dari belakang.
''Kamu ngapain?? heh?!''
Deg.
''A-aaku...''
💕
Kita masuk ranah konflik ya.. bagi yang nggak sanggup baca.. mundur aja!
Hehehe.. just kidding guys..
Selamat membaca..
__ADS_1
TBC