
Tiga Minggu setelah kejadian itu, hari ini Alisa ke sekolah untuk mengambil surat kelulusan. Berdua dengan Papa nya, Alisa segera memasuki kantor kepala sekolah.
Disana sudah berkumpul seluruh wali murid yang berprestasi, termasuk kedua orang tua Madan.
Sedangkan Madan nya tidak terlihat disana. Alisa tau itu. Jika Madan tidak bisa kembali, karena tugas sekolahnya, disana lumayan berat.
Belum lagi, Madan menjabat sebagai Asisten dosen. Jadilah tugas yang seharusnya di kerjakan oleh dosen, tapi digantikan oleh Madan.
Karena dosen tersebut berhalangan hadir.
Setelah semua wali murid berkumpul, kepala sekolah membuka acaranya. Dengan sedikit sambutan dan sepatah kata yang di tujukan untuk murid yang berprestasi.
Setelah sambutan itu selesai, kini tiba waktunya untuk mengumumkan tentang juara setiap kelas dan juara umum tentunya.
Setiap satu dibagi menjadi empat. A \= unggul, B \= inti, C \= sedang, D \= lumayan. Alisa masuk dalam kelas inti.
Tahun pertama ia dipindahkan ke kelas unggul, tapi Alisa menolaknya. Ia tetap ingin di kelas inti. Walaupun ia pintar.
Kepala sekolah menolak, karena setiap siswi yang berprestasi harus masuk ke kelas A. Alisa punya alasan yang kuat kenapa ia tidak ingin di kelas A.
Setelah mendengar alasan yang tepat dari Alisa, barulah kepala sekolah menyetujui nya.
Dan sekarang tiba waktunya untuk pengumuman kelulusan mereka.
Alisa deg-degan ingin tahu apakah ia lulus atau tidak.
''Baiklah, seperti yang sudah-sudah. Tahun ini tetap seperti tahun yang dulu. Orang ini sangat sayang pada peringkat nya! Hingga tidak mau bergeser sedikit pun dengan yang lain. Ada dua kandidat yang menjadi juara umum disini! Disetiap kelas pastilah ada juara kelasnya.''
''Siswa siswi yang berprestasi ini sangat disayangkan jika tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Oleh sebabnya, saya mohon kepada yang akan saya bacakan namannya, agar melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Sangat disayangkan, jika harus berhenti sampai disini.''
''Untuk mempersingkat waktu, Juara umum untuk siswa yang berprestasi, sejak dari kelas satu hingga saat ini, di dapatkan oleh Anak kita.. Madan Al Farizi! Sedangkan juara umum untuk siswi didapatkan oleh anak kita.. Alisa Febriyanti! Kepada wali murid tersebut kami persilahkan keatas panggung untuk mengambil hadiah beserta rapot hasil ujian nya.'' ujar bapak sekolah.
Alisa yang mendengar nama nya disebut, terkejut. Mata nya menatap ke depan tanpa berkedip.
''Sayang.. anak Papa! Kamu juara umum, Nak! Selamat sayang! Papa bangga padamu! Papa ke depan dulu ya??'' uacap Pak Yoga seraya berlalu meninggalkan Alisa mematung disana.
Hatinya merasa haru. Pandangan matanya mengabur, karena air mata sudah berkumpul disana. Alisa memejam kan kedua mata nya.
__ADS_1
Tes!
''Alhamdulillah ya Allah.. akhirnya aku berhasil! Kak Madan.. kita berhasil Kak.. kita menjadi juara umum sekarang! Andai kakak disini.. hiks..'' lirih Alisa.
Ia menunduk, menatap tangannya. Tak sadar jika matanya memandang cincin pemberian Madan.
''Cincin ini.. cincin yang akan mempertemukan kita kelak! Sampai dimana hari itu tiba, maka cincin ini akan tetap ada bersamaku! Jika suatu saat putri dan putra kita berjodoh, maka kupastikan! Cincin pemberian mu inilah yang menjadi mahar mereka berdua. Ini adalah bukti cinta yang tak terbalas yang kau berikan padaku! Semoga kelak, kita berjumpa lagi, kak..'' lirih Alisa.
Pak Yoga yang melihat Alisa menunduk, menepuk bahunya pelan.
''Mari, Nak.. kita pulang! acara nya sudah selesai! Papa tadi sudah serah terima dari kepala sekolah untuk kau di ajukan masuk universitas mana! Ayo.. nanti kita bicarakan dirumah.'' ujar pak Yoga, seraya berlalu.
Alisa mengangguk dan mengikuti papanya dari belakang.
Tiga puluh menit kemudian.
Mereka berdua tiba dirumah saat Mama Alina kedatangan tamu.
''Assalamualaikum...''
''Waalaikum salam.. Pa! Udah pulang??'' tanya Mama Alina.
Deg!
Seseorang disana mematung melihat perubahan dari raut wajahnya. Alisa pun juga demikian.
Alisa merasa hawa yang tidak mengenakkan ketika melihat Emil ada di dalam sana. Ia menatap sebentar, kemudian menunduk.
''Pa...'' tegur Mama Alina.
Pak Yoga menoleh, ''sudah lama Pak??''
''Baru lima belas menit yang lalu, Pak! Baru pulang dari sekolah, Pak??'' sahut Pak Daman.
''Ya, saya baru saja pulang dari sekolah Alisa, ada apa ya, Pak??'' tanya pak Yoga, walaupun ia sudah tau maksud dan tujuannya apa. Tapi masih tetap ingin tau jawabannya langsung dari pak Daman.
''Baiklah.. jika sudah berkumpul, maka sekarang lah saatnya untuk membicarakan hal ini. Kedatangan kami kesini adalah.. untuk mengurus segala sesuatu tentang pernikahan mereka berdua! Dua Minggu dari sekarang! Bagaimana, Pak??'' tanya Pak Daman.
__ADS_1
Deg!
Deg!
Alisa terkejut mendengar ucapan Pak Daman, yang sebentar lagi akan menjadi Abang ipar nya.
Keringat dingin mengucur di dahinya. Ia takut, jika kejadian yang sama akan terulang lagi. Berulang kali Alisa menghela nafasnya.
Emil yang melihatnya heran. Sedangkan Mama Alina, menegur Pak Yoga.
''Pa... sebaiknya di bicarakan dengan baik-baik ya.. ingat! Putri kita!'' tunjuknya dengan sorot mata menunjukkan Alisa yang sudah pucat.
Pak Yoga menghela nafasnya.
''Baiklah kalau begitu saya akan menelpon seluruh keluarga saya untuk berkumpul malam ini disini!'' ujarnya seraya menatap Alisa yang menunduk.
''Tapi.. alangkah baiknya, bagaimana kalau bapak saja yang memutuskan nya! Bukan kah bapak adalah wali dari Alisa?? Jadi bapak saja yang memutuskan masalah ini.'' ujar pak Daman.
Pak Yoga menahan amarah yang mau meledak. Sekuat mungkin ia menahannya, Pak Yoga mencoba menahan dengan mengepal kan kedua tangan yang ada di pahanya.
Mama Alina yang melihat, menggenggam tangan besar itu, agar merasa tenang. Pak Yoga gusar.
Emil tau itu. Tapi tekad nya sudah bulat. Ia akan tetap menikahi Alisa dengan atau tidak persetujuan dari Pak Yoga.
''Aku akan tetap menikahi Alisa! dengan atau tanpa persetujuan pak Yoga. Walaupun ku tau, dia adalah orang tuanya, tapi aku tetap akan menikahi Alisa.!'' gumamnya dalam hati.
''Saya tidak bisa memutuskan sendiri tentang masalah ini! Saya harus membicarakan dulu dengan keluarga saya! Karena jika saya tidak mengabarkan hal ini kepada mereka, maka mereka akan marah kepada saya! Karena Alisa ini bukan hanya putri ku saja, tapi putri keluarga besar kami. Diantara kakak-kakak sepupu nya, dia lah yang akan menikah terlebih dulu. Jadi.. biarkan saya mengabarkan hal ini kepada keluarga besar terlebih dahulu.'' imbuh nya seraya menatap Emil.
Emil mengangguk. ''Ya, silahkan Pak! saya akan menunggu kabar selanjutnya! Dua Minggu dari sekarang acara ini akan segera kami adakan. Jadi saya mohon.. restuilah pernikahan kami, Pak! Karena tanpa restu orang tua.. hidup kamu tidak akan bahagia..'' lirih Emil di ujung kalimatnya.
Pak Yoga tersenyum sinis saat Emil mengatakan restu orang tua.
'Sampai kapanpun! aku tidak merestui hubungan kalian berdua! karena kau! bukankah pemuda yang tepat untuk putriku! firasat ayah tidak akan pernah salah dalam menilai!'
💕
Ada yang seperti Pak Yoga ini??
__ADS_1
TBC