
Madan gemas melihat reaksi gadis itu. Ia maju selangkah didepan Alisa dan menatap gadis itu dalam, langsung menuju manik mata hitam itu.
''Masih belum percaya ya?? jika ini kak Madan mu My future Wife??'' bisiknya tepat ditelinga Alisa.
Alisa membulatkan matanya. Mulutnya menganga.
''Be-beneran i-ini ka-kak Ma-madan????'' tanya Alisa.
Madan tersenyum lembut.''Ya, ini adalah aku! aku nyata sweety! bukan halusinasi mu!!'' serunya pelan, agar yang tidak mendengarnya.
Blushhh.
Ada yang merona euuy.. tapi bukan buah jambu bukan juga kepiting rebus. Wajah Alisa memanas hingga ke telinganya.
Madan gemas melihat itu. Ia menyentuh hijab Alisa yang miring.
Deg!
''Kak...''
''Apa...? cuma benerin hijabnya aja kok, kamu pikir Kakak ngapain, hem?''
Alisa salah tingkah didepan Madan. Ia tergelak melihat Alisa salah tingkah karena perbuatannya.
Para siswi yang melihat itu bersorak Sorai.
''Uhuuuyyyyy... kesemsem eeuuuyy..!''
''Pinhin jugaaa... kak Madan...''
''Aku padamu... huhuhu...
Dan masih banyak lagi sorak soraknya, membuat Alisa tambah panas. Ia jadi malu dengan itu semua.
''Ishhh... malu atuh kak! jauh dikit Napa?!'' ujarnya sewot, tapi malu.
Madan tergelak lagi. Lagi dan lagi para siswi bersorak Sorai. Ketampanan Madan memang patut diacungi jempol.
Semua siswi disekolah itu sangat mengidolakan Madan. Sang ketua OSIS, juga juara umum disekolah mereka.
Alisa dan Madan, mereka berdua terkenal sebagai juara umum disekolah. Dan mereka juga digadang-gadang akan menjadi panutan disekolah itu jika sampai mereka berjodoh.
''Ayo kebelakang sebentar, ada yang ingin kakak sampaikan padamu!'' ujarnya, seraya tersenyum melihat Alisa.
''Oke.''
''Ayo. Kamu duluan, nanti kakak nyusul. Kakak mau pamit sebentar sama panitia nya, jika ingin membawa mu sebentar saja.''
Alisa mengangguk. Kemudian mereka berpisah. Alisa kebelakang, sedangkan Madan ia masuk kembali ke aula. Tak lama setelahnya, ia keluar dan menuju kebelakang dimana Alisa berada.
Sesampainya disana, ia melihat gadisnya sudah duduk manis disebuah batu pembatas disekeliling pohon.
__ADS_1
Batu itu sengaja dibuat, guna untuk para siswa dan siswi, ketika mereka istirahat karena akan duduk disana.
Dibawah pohon rindang, semilir angin mengibad hijab Alisa. Madan memandang nya tanpa kedip.
Sungguh indah pemandangan didepan matanya.
Masyaallah.. cantiknya...
Madan bergegas mendatangi Alisa.''Maaf ya sweety.. kakak lama!'' Alisa menoleh.
Ia tersenyum hangat kepada pemuda tampan itu.''Nggak Kak.. belum lama juga, kok!''
Madan tersenyum, ia mendekat dan duduk disebelah kanan Alisa. Hatinya begitu bahagia melihat pujaan hatinya begitu sumringah saat tau kedatangannya
''Kapan Kakak datang? Alisa kok nggak tau??'' tanya nya bingung.
Madan tersenyum, bibir itu terus saja mengukir senyum. Tapi senyum itu sebentar lagi akan sirna.
''Kakak sengaja nggak memberitahumu, alasannya adalah biar surprise! dan tebakan Kakak, benerkan? Kamu kaget, berarti usaha Kakak nggak sia-sia dong..'' ujarnya jumawa.
Alisa mengerutkan dahinya. ''Maksudnya?? Kakak yang sengaja mengadakan acara ini gitu? biar bisa pulang dan ketemu sama aku lagi??''
Madan tersenyum lebar. ''Kamu benar sweety! memang Kakak yang mengadakan nya! semenjak perpisahan kita enam bulan yang lalu, sekarang Kakak baru bertemu denganmu! Kakak ingin menyampaikan sesuatu padamu, jadi dengarkan baik-baik, oke??'' ujarnya, membuat Alisa mengangguk.
Alisa deg-degan, ia jadi penasaran apa yang akan dikatakan oleh Madan padanya. Masalah sekolah kah? Atau masalah hati??
Hati??? Alisa membulatkan matanya. Mulutnya menganga. Iya memandang Madan, yang juga memandang i dirinya.
Alisa masih saja dengan mulut menganga nya. Madan terkekeh.
''Di tutup atuh mulutnya sweety! kamu mau laler masuk kedalam mulut mu dan menjadi sarang penyakit??''
Alisa menggeleng cepat. Membuat pemuda itu semakin terkekeh.
''Ishhh.. Kakak kok ketawa sih? ishh..'' desis Alisa.
Madan berhenti tertawa. Ia mulai serius saat ini.
''Sweety... sebelumnya maaf, jika ini mendadak untukmu! tapi kakak tak bisa menunda lagi. Beberapa hari yang lalu, kakak bermimpi jika kamu pergi dengan pemuda lain, bergandengan tangan. Jalan bersama sambil tertawa bahagia, kakak ada disitu tapi kamu tak melihat kehadiran kakak disana. Mulanya kakak nggak percaya dengan mimpi itu! tapi setelah tiap malam kakak sholat tahajud dan istikharah, benar! mimpi itu datang lagi. Yang lebih menyakitkan, kakak melihatmu bersanding dengan pemuda lain..'' ucapnya lirih, seraya menahan sesak di dada.
Deg!
Alisa terkejut, bagaimana mungkin mimpi itu bisa dialami oleh Madan?? Sedangkan dirinya tidak mengatakan apapun pada pemuda itu. Ia jadi tak enak hati pada Madan.
Madan menatapnya dalam.
''Sweety... kakak tau, ini terlalu cepat untukmu, tapi biarkan kakak mengungkapkan sesuatu yang selama ini terpendam. Kakak mau, kalau kamu menjadi calon istri Kakak, dimasa depan. Kakak akan menunggu mu sampai lulus kuliah, baru setelahnya kakak akan meminang mu secara langsung untuk dijadikan istri! Apakah kamu bersedia Lis??''
Deg!
Deg!
__ADS_1
Lagi, lagi dan lagi Alisa terkejut dengan perkataan Madan. Madan melamarnya untuk yang kedua kalinya.
Alisa bingung sendiri, gimana cara menjelaskan nya, jika sekarang dirinya sudah diikat oleh pemuda lain, selain dirinya.
Mata Alisa memanas, bibirnya bergetar. Ingin berbicara, tapi bibirnya terasa Kelu. Ia menunduk, tak berani menatap Madan yang juga sedang menatap dirinya. Alisa meremat tangannya dengan gelisah.
Tangan Alisa berubah menjadi dingin. Madan yang melihat Alisa gelisah, mengambil tangan itu dan menggenggam nya. Alisa tersentak.
Ia mendongak, mendapati Madan yang tersenyum hangat padanya. Sesak rasa di dadanya. Tanpa dipinta, bulir bening mengalir di pipi mulusnya.
Madan diam, ia berfikir ada apa dengan gadisnya itu? Mengapa ia menangis? Apakah segitu bahagia nya, ia melamar gadis itu hingga membuatnya menangis?? Madan tersenyum.
''Sweety...''
''Kak....'' mereka bersama an untuk berbicara.
Madan tersenyum. Lagi dan lagi menggores hati Alisa. Alisa meringis merasakan sakit dihatinya.
Jauh dalam lubuk hatinya, sebelum ia bertemu dengan Emil, ia terlebih dahulu menyukai Madan. Sejak pertama kali melihatnya, Alisa sudah menyukai pemuda itu.
Parasnya yang tampan, suara nya yang lembut ketika berbicara dan juga keramahannya, membuat hati nya bergetar untuk pemuda itu.
Tapi sekarang sudah terlambat.
Cinta nya yang tersembunyi untuk Madan hanya dia yang tau, ternyata cinta dalam diamnya itu terbalaskan. Tapi sayang, disaat pemuda itu datang, ia sudah terlebih dahulu menerima pinangan pemuda lain.
Alisa sesegukan.
''Sweety.. jangan nangis.. kamu kenapa?? Apakah ada yang salah dengan perkataan Kakak??''
Alisa menggeleng. Ia masih saja terus menangis. Madan bingung dibuat nya.
''Hai sweety! lihat kakak'' ujarnya seraya membalikkan tubuh Alisa menghadapai padanya.
''Katakan! apa yang ada didalam hatimu! jika kamu menangis kakak tidak tau sayang! tolong jangan buat kakak takut? kakak meras seperti telah menyakiti kamu! sweety! katakan, apa yang ada didalam hatimu!'' tegas Madan.
Alisa berhenti menangis.''Kakak yakin hiks.. tidak akan marah dengan ucapan kau nantinya??''
''Nggak akan!'' tegasnya.
''Maafkan Alisa Kak..'' lirih Alisa dengan terus menangis.
Madan masih tetap diam. Ia masih ingin mendengar kelanjutan dari ucapan gadis pujaan hatinya itu.
''Alisa nggak bisa jadi istri masa depan kakak..''
Deg!
💕
Hayoo.. bang Madan terlambat kan??
__ADS_1
TBC