
Alisa menjerit sekuatnya ketika melihat Gilang pergi meninggalkan nya.Ia terbangun dari Isak tangisnya, Alisa terus saja menangis memanggil nama Gilang.
Bude yang melihatnya panik, sedangkan diluar sana keluarga Alisa sangat terkejut. Mereka semua berlarian kedalam kamar Alisa ingin melihat ada apa sebenarnya.
Brrrruuuaakkk
Pintu terdorong dari luar dengan kerasnya hingga menimbulkan suara berisik. Mereka semua berdiri mematung didepan pintu. Mereka terpaku melihat keadaan Alisa.
Alisa masih saja sesegukan, ia belum juga membuka matanya tapi Alisa sudah duduk sama seperti budenya. Ia terduduk disajadah dalam keadaan yang memprihatinkan.
Sajadah yang kusut, mukenah yang miring, matanya sembab, pipinya basah dengan air mata. Mereka semua melihat keadaan Alisa sangat kasihan , tapi apa yang harus mereka perbuat jika pak yoga sendiri menolaknya. Begitu juga dengan mama Alina.
Pakde mendekati bude dan bertanya ada apa melalui mata. Bude membalasnya dengan kedipan mata pertanda Alisa sedang tidak baik baik saja.
Bude menuntun Alisa untuk rebahan diatas tempat tidur. Alisa menurut, ia berjalan gontai dibantu dengan pakde Alisa tidur dengan posisi miring ke kanan membelakangi mereka semua.
Alisa masih saja sesegukan tapi matanya sudah tertutup. Rupanya ia tertidur ketika sujud disajadah nya. Belum lagi badannya terasa panas ia berkeringat menandakan dirinya sedang demam.
Bude tau jika Alisa demam karena semenjak semalam beliaulah yang mengurus Alisa. Setelah dirasa Alisa tenang, dan tidak menangis lagi barulah bude keluar dari kamarnya.
Pakde yang tak tahan melihat keadaan Alisa, segera ia menyuruh Hilman untuk memanggil pak Yoga. Mereka harus membahas ini dengan segera melihat kondisi Alisa yang memprihatinkan.
Sesaat kemudian pak Yoga beserta istrinya datang dan duduk disana dihadapan para keluarga nya. Pak yoga memandang kakak nya dengan wajah datar tanpa ekspresi, begitu juga dengan pakde Tarman beliau juga berwajah datar Namaun tegas.
Mama Alina diam saja ia tetap duduk disebelah suaminya. Dari semalam ia sama sekali tak melihat keadaan Alisa. Beruntung nya mereka semua disana jika tidak, Alisa saat ini pasti sudah dibawa kerumah sakit karena kedua orangtuanya tidak peduli padanya lagi.
Ini hal sangat serius pikir pakde. Jadi ia harus bertindak demi kebaikan Alisa. Terima atau tidak terserah mereka nantinya akan seperti apa. Yang penting sekarang adalah keadaan Alisa.
Pakde menatap pak Yoga dan menghela nafasnya.
''Kamu tau kenapa kamu dipanggil kesini??''
Pak Yoga hanya diam saja. Tidak menyahuti ia hanya diam saja. Pakde Tarman melanjutkan lagi perkataan nya membuat pak Yoga dan mama Alina menatap mereka dengan datar tanpa ekspresi.
''Hanya sampai disini kah rasa sayang mu sebagai orang tua Yoga?? Apakah kata kata kasih sayang seorang ibu tiada batasnya' hanya berlaku ketika kalian merasakan senang saja saat bersamaan putri kalian?? Dimana nurani kalian?? Pantaskah kalian disebut orang tua?? Saya kira kamu tidak pantas disebut sebagai ayah Yoga dan juga kamu yg tidak pantas disebut sebagai ibu Alina!
Kalian berdua egois! Kalian hanya mementingkan ego kalian saja! Tanpa melihat dan mendengar alasan yang sebenarnya dari Alisa. Kalian menghakiminya seolah olah kalian lah disini yang paling terluka!
Lihat didalam sana! semalaman dia menangis hingga demam. Adakah sedikit saja rasa iba dihati kalian untuknya?? Kurasa tidak! karena mulai dari semalam hingga hari ini kalian bahkan sama sekali tak peduli dengannya!!
Bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya disaat kami tidak ada disini??
__ADS_1
Bagaimana jika tiba tiba saja kepala bekas kecelakaan itu kambuh lagi??
Dan hahh.. bagaimana jika tadi malam ia mati?? Apakah kalian juga tidak mau melihatnya untuk yang terakhir kali??''
Kalian berdua tidak pantas disebut sebagai orang tua. Banyak diluar sana yang ingin memiliki anak tapi tak bisa. Tapi kalian? Kalian bahkan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh yang maha kuasa.
Kalian berdua telah lalai!! Lebih baik kalian tidak memiliki anak sekalian!! Biar kalian tau seperti apa sakit nya tidak memliki anak!!
Sungguh !! Aku kecewa dengan kalian berdua!!!''
Dduuuaaaarrrr
Bagai disambar petir disiang bolong. Pak yoga dan mama Alina tersentak mendengar perkataan pakde Tarman.
Mereka terkejut dengan perkataan pakde Tarman begitu juga dengan adik adik ya yang lain mereka pun sama. Terlebih lagi yang mereka tahu bahwa selama ini pakde Tarman, tak mau berkata yang akan menyakiti hati orang. Tapi hari ini pakde Tarman mengeluarkan kata kata yang sangat menyakitkan bagi yang mendengar.
''Kenapa?? Kaget saya berbicara seperti ini?? Kamu terkejut Yoga?? Saya tidak akan berbicara seperti ini jika kamu tidak memulainya!!
Kamu ingat tidak bagaimana dulunya kamu berjuang untuk mendapatkan Alisa?? Kalian berdua mati-matian berusaha kesana kemari mencari pengobatan agar kalian mendapatkan seorang anak. Tapi sekarang?? Kalian malah menyia-nyiakan nya. Seolah apa yang sudah kalian dapatkan tidak ada, dibandingkan dengan perasaan kecewa kalian terhadapnya!!
Kalian egois!!
Akan saya putuskan! Mulai hari ini saya yang akan mengurus Alisa dan menganggapnya sebagai putri kandungku sendiri!!
Aku akan mengurusnya dengan baik! Kami tidak akan menyia-nyiakan pemberian dari yang maha kuasa bukan seperti kaliian!!''
Tes
Tes
Tes
Air mata mama Alina jatuh di tangannya. Ia terisak hingga bahunya berguncang karena menangis.
Tidakkah mereka tahu jika ia juga sama sakitnya seperti Alisa ?? Ia hanya kecewa itu saja! bukan berarti ia mengabaikan Alisa. Sungguh! pernyataan dari pakde Tarman sangat menyakiti hatinya.
Pak Yoga menatap pakde tanpa ekspresi, datar. Ia terdiam cukup lama, hanya matanya saja yang bergerak kesana kemari pertanda ia gelisah dengan perkataan pakde Tarman.
Bukan ia tak peduli, hanya saja rasa kecewa itu masih ada. Siapa sih yang mau seperti itu?? Nggak akan ada yang mau.. hanya saja ia masih belum bisa menerima bahwa putrinya telah dipinang oleh anak orang.
Kalau bisa ia memilih, lebih baik Alisa menjadi gadis tua daripada ia harus menikah dengan orang yang jauh, otomatis Alisa akan dibawa pergi oleh suaminya.
__ADS_1
Pak Yoga belum siap kehilangan Alisa.
Ia masih sangat menyayangi Alisa.
Ia tak mau Alisa dibawa pergi.
Oleh karenanya ia terpaksa melakukan hal ini agar Alisa paham jika ia sangat menyayangi putrinya itu.
Dan ternyata sikapnya seperti ini telah menyakiti perasaan Alisa. Apa yang harus ia lakukan sekarang??
Pak yoga hanya bisa menunduk, ia tak mau menunjukkan sisi lemahnya kepada adik serta kakaknya.
Kelemahannya adalah *Alisa.
Putri kesayangannya*. Putri kebanggaan nya.
Ia akan lemah jika menyangkut Alisa. Sayangnya pakde Tarman beserta saudaranya yang lain tak memahami hal itu.
Sesaat terasa hening.. sunyi.. hanya terdengar isakan Mama Alina.
Pakde terus menatap mereka berdua. Ada rasa tidak sampai hati tapi terpaksa ia melakukan nya agar mereka sadar! Bahwa memiliki itu bukan berarti disia siakan. Memiliki itu bukan berarti tidak diperhatikan, tapi karena memiliki itulah rasa cinta dan sayang akan tumbuh menjadi rasa kerelaan.
Merelakan bukan berarti melepaskan.
Apakah mereka takut akan kehilangan Alisa??
Maka dari itu mereka berbuat seperti ini??
Pakde Tarman menghela nafasnya.
Biarlah waktu yang menjawabnya.
****
Tahan nafas ya.. karena setelah ini akan banyak cabai dan bawang othor selipkan disini..
😁😁😁
See you...
''
__ADS_1