
Tama tersenyum tapi ada yang aneh. Ia menangis dan memeluk bayi itu.
Alisa masih saja melihat Tama dengan seksama. ''Mak?''
''Eh?'' Alisa terkejut. Baru saja ia melamun tentang Tama dan bayi perempuan nya itu.
Tama mendekati nya dan memberikan bayi perempuan itu pada Alisa.
''Siapa nama adek, Mak?'' tanya Lana begitu antusias.
Alisa tersenyum. ''Menurut bang Tama, siapa?''
Tama menatap bayi perempuan itu dengan tersenyum manis.
''Nisa. Annisa. Seperti nama surah dalam Al-Qur'an yang artinya Wanita atau Perempuan!''
**
Sedari tadi malam hingga pagi ini, aku begitu gelisah. Gelisah mengingat jika Mak Alisa akan segera melahirkan.
Hah! Sejak hari dimana aku melihat Ayah Emil berbuat mesum dengan perempuan lain, sejak itu pula Ayah Emil tidak pernah pulang lagi ke rumah.
Walau sekedar hanya untuk melihat Mak Alisa. Sedih sih. Namun apa yang harus di perbuat jika Ayah tidak mau menanggung Mak lagi.
Belum lagi saat kami datang ingin mencoba membujuk ayah untuk pulang kerumah, malah kami yang dibuat shock.
Ya, kami. Aku dan Lana. Adik laki-laki kesayangan ku. Bagaimana tidak, jika penyebab terjadinya perpecahan di dalam keluarga Mak Alisa dan Ayah Emil disebabkan oleh nenek Rima.
Huh! kesal aku! Jika bukan atas permintaan Mak, Mak aku sudah membenarkan semau rahasia itu.
Ck! Herman sekali aku. Mengingat Lana, aku jadi sering terkekeh-kekeh sendiri.
Pembawaan nya seperti orang dewasa, namun masih kecil. Tapi pribadi nya itu loh.. sungguh tegas!
Sekali mengatakan tidak, maka selamanya akan tidak. Tidak bisa diganggu gugat lagi. Keputusan nya mutlak.
Kami tidak bisa mengubah nya, termasuk Mak kami. Mak Alisa. Dan pagi ini, setelah subuh tadi aku pulang sebentar untuk menyusul kedua adikku itu, tiba dirumah ternyata sudah ada Ayah disana.
Namun bukannya bertanya, ia malah nyelonong masuk ke kamar dan menutup pintunya.
Kami bertiga saling pandang. Kesal aku terhadap Ayah Emil. Ingin rasanya ku hajar itu muka.
Tak ada rasa bersalahnya sama sekali. Ck!
Kami bertiga bergegas ke klinik bidan Novi tanpa memberi tahu Ayah, jika Mak mau melahirkan.
Buat apa di beritahu. Toh, ia tidak menginginkan bayi itu. Kesal sekali aku pada nya! Huh!
Tiba disana, langkah kami serentak berhenti karena mendengar suara tangisan yang begitu nyaring.
Aku tersenyum, namun air mataku berlinangan. Entah kenapa, aku sangat menyukai suara tangisan itu.
Tidak sabar menunggu, kami langsung saja berlari masuk ke dalam ruang bersalin. Bidan Novi hanya menggeleng kan saja kepalanya melihat tingkah kami.
Hehehe.. maaf Buk! Kami sangat ingin melihat bayi itu. Kataku dalam hati. Kami bertiga mendekati Mak Alisa.
__ADS_1
Dan terlihat Mak kesayangan ku itu masih lemah. Walaupun begitu, ia tersenyum kepada kami.
Aku terharu melihatnya. Aku menangis melihat perjuangan Mak selama ini ketika hamil adek kami.
Adek. Ya, adek. Eh, kira-kira orang nya apa ya?? Sibuk dengan pemikiran ku tentang adek bayi itu, terdengar suara Mak Alisa memanggil ku.
''Nak.. adzan kan adikmu ya, kamu pengganti ayah seorang untuk mengadzani nya.'' Katanya padaku.
Betapa senang nya aku, diberikan kesempatan seperti itu. Seorang suster berjalan di depan kami sambil membawa bayi kecil nan mungil itu.
Ternyata adikku perempuan. Aku tersenyum namun air mata ini tidak berhenti untuk keluar.
Pertama kali menyentuh bayi itu hati ku bergetar.
Deg, deg, deg.
Jantung ini berdegup begitu kencang untuknya. Entah kenapa aku sangat menyukai bayi kecil ini.
Bayi kecil yang mungil. Bibir tipis, pipi chubby dengan rambutnya begitu hitam. Aku membayangkan bagaimana jika ia besar nanti ya?
Pasti akan sangat cantik. Melebihi Mak Alisa dan juga adik ku Ira. Kecantikan nya bukan hanya pada wajah nya namun juga pada hatinya.
Aku memandangi wajah nya dengan terus menangis haru. Mak Alisa melihat ku dengan diam.
Begitu juga dengan semua yang ada disana. Aneh kurasa. Seperti tidak pernah melihat orang yang sedang jatuh cinta saja!
Eh? Jatuh cinta? Pada bayi? Ck! Dasar pemikiran ku ini! Masih labil. Tapi memang iya loh.. pertama kali menerima nya di tangan ku, Aku merasakan sesuatu yang aneh.
Entah perasaan apa aku pun tak tau. Yang jelas aku sangat menginginkan bayi ini. Tapi.. itu tidak mungkin terjadi.
Nggak tau aja, hatiku bergetar melihatnya. Sekilas aku melihat wajahnya begitu mirip... dengan ku?!
Hah?! Masa' sih?! Tapi ini beneran loh.. Aku masih ingat saat Mama Linda menunjukkan foto ketika aku masih bayi dulu.
Memang mirip! Haissshhh... sadar Tama! Bayi itu sangat terpaut jauh dengan mu! Jika dengan Ira baru cocok!
Tapi aku tidak menyukai nya! Aku menyukai bidadari kecil ini. Sangat menyukai nya!
Dan beruntung nya aku diberikan kesempatan untuk mengadzani nya. Aku lantunkan adzan yang begitu syahdu di telinga nya.
Bayi kecil itu menggeliat. Sangat menggemaskan. Tanpa sadar setelah aku mengadzani nya, aku mengecup kening bayi itu begitu lama.
Hingga rasanya masuk ke relung hatiku yang paling dalam. Aku menyayangimu adikku. Aku terisak. Aku tak peduli dengan tatapan semua orang tertuju pada ku termasuk Mak Alisa.
Bagiku, adik kesayangan ku ini. Setelah puas menciumi serta memeluknya, kini aku mendekati Mak Alisa yang sedang melamun.
Entah apa yang ia lamunkan, aku pun tak tau. ''Mak?'' panggilku.
Mak Alisa terkaget, namun hanya sebentar setelahnya ia tersenyum hangat pada ku.
Aku mendekati Lana dan menyerahkan bayi itu pada Mak Alisa, namun Mak menolaknya. Jadilah bayi itu masih berada di tangan ku.
''Siapa nama adek, Mak?'' tanya Lana begitu antusias.
Mak Alisa tersenyum. ''Menurut bang Tama, siapa?'' tanya nya.
__ADS_1
Eh? Kok malah aku? Tapi biarlah, ini kesempatan bagiku untuk memberikan nama yang cantik untuknya.
Aku menatap bayi perempuan itu dengan tersenyum manis. Bahkan saaaaangat manis. Mengalahkan gula dan semut! Eh?
''Nisa. Annisa. Seperti nama surah dalam Al-Qur'an yang artinya Wanita atau Perempuan! Namanya Annisa. Nama yang cantik untuk orang yang cantik pula seperti adikku ini!''
Cup!
Aku mengecup lagi kening lembut dan halus adik kesayangan ku ini. Ya, mulai sekarang Annisa adalah adik kesayangan ku.
Aku akan menjaga nya sampai kapan pun! Bahkan jika suatu saat Mak memintaku untuk memberikan nyawaku untuknya, aku bersedia.
Aku ikhlas!
Tidak tau kenapa, seperti ada sesuatu yang begitu menarik ku kepada adik kecil ku ini.
Apakah ini hanya perasaan ku saja atau? Entahlah! Yang jelas berdekatan dengan bayi ini sangat membuatku nyaman.
Bahkan sangat nyaman hingga merasuk kedalam hatiku. Bahkan jantungku sampai saat ini masih berpacu dengan hebat.
Ini hanya perasaan ku saja kali ya? Hmmm.. entahlah! Ikuti saja kemana arah arus mengalir membawaku.
Dimana tempat terakhir aku berhenti, disanalah rumahku. Disanalah tempatku berlabuh untuk selamanya.
Kita tak pernah tau, pada siapa jatuh cinta. Bisa pada orang sebaya, bisa pada orang dewasa, bisa juga pada anak kecil?
Cinta itu buta. Tapi kitalah yang harus jadi penunjuk jalan nya. Jika dia buta, maka kitalah penuntun nya.
Hem, semoga cinta itu berpihak padaku. Tak masalah jika cinta itu masih kecil sekarang. Tapi jika sudah besar kan bisa?
Jodoh itu tidak ada yang tau. Termasuk diriku. Bisa jadi Annisa sekarang adikku, tapi tidak menutup kemungkinan bukan jika di masa depan nanti dia yang akan menjadi istriku?
Tempat dimana aku melabuhkan hatiku? Ya, semoga saja. Berharap pada takdir, karena takdir lah yang memutuskan nya.
Aku senang, jika itu sampai terjadi padaku. Tapi jika tidak pun, tidak masalah. Semua itu sudah goresan takdir yang tidak bisa di elak lagi.
Segala sesuatu yang sudah di tetapkan. Termasuk juga dengan jodoh ku. Aku pasrah akan takdir hidup ini. Biarlah seperti air mengalir saja.
Ikuti arusnya maka kita akan selamat, tapi jika menentang nya pun percuma. Kemana pun kita melangkah, jika memang itulah takdir kita maka ia akan menemukan jalannya.
Adrian Pratama.
💕
Ada yang pingin tau seperti apa kisah Adrian Pratama?
Seperti apa dirinya dan siapa jodohnya?
Ikuti terus cerita othor ini. Dan jangan lupa follow akun othor ya, agar kalian tau nanti jika othor udah rilis cerita tentang Tama.
Hihihi.. ngarep ya othor!
Tak apa! pembaca othor kan setia? Ya nggak?? 😎😎
TBC
__ADS_1