
''Setelah dua bulan dari sekarang saya menikahi Alisa, saya akan membawa Alisa ikut dengan saya ke Medan. Saya tidak bisa selamanya disini, karena ada orang tua saya yang sudah renta disana. Jadi saya harap bapak dan keluarga maklum.'' ujar Emil.
Membuat seluruh keluarga Alisa diam membisu. Pakde Tarman yang merasa semua keluarga besarnya diam, akhirnya angkat bicara.
''Baiklah Nak, jika itu yang kamu inginkan, maka akan kami pertimbangkan. Saya salut dengan mu, berani mengutarakan niatnya. Walaupun kamu belum sah menjadi suami Alisa.'' ucap pakde Tarman.
Emil tersenyum lega. ''Saya sadar siapa saya, jika dibandingkan dengan kelurga besar anda Pak! Saya hanya orang biasa, walaupun begitu saya masih punya sopan santun untuk menghargai pendapat yang lebih tua dari saya. Bukankah, sebelum Alisa menjadi milik saya, kalian lah pemiliknya ??'' tanya Emil.
Pakde Tarman tertawa. ''Haha.. ya.. ya.. kamu memang benar! Kamilah pemilik dari seorang gadis yang bernama Alisa Febriyanti! Baik, akan kami rundingkam dulu dengan keluarga besar, dan sekarang saya ingin bertanya, bolehkan ??'' tanya nya
''Silahkan, Pak!'' sahut Emil.
''Panggil saja Pakde! seperti Alisa memanggil saya!'' ujarnya lagi.
Emil hanya mengangguk.
''Yang ingin saya tanyakan ialah, Apakah semua keluarga mu sudah menyetujui bahwa kau akan menikah dengan gadis dimana tempat kerja mu berada ?? Dan juga, apakah setelah menikah denganmu, kau akan melarang nya untuk sekolah lagi??'' tanya pakde Tarman.
Emil terkejut dengan pertanyaan dari pakde Tarman. Tapi secepat mungkin, ia merubah raut wajah ya menjadi tersenyum.
Sungguh pandai kau bajingan!
Seseorang menatapnya dengan Nyalang disana. Tak berbicara sepatah kata pun. Tapi matanya selalu awas memandang pemuda itu. Ia menatap sinis pemuda itu.
''Tentu Pak, eh Pakde! Saya tak akan melarang Alisa untuk sekolah lagi, jika saya mampu, maka saya sendiri yang akan menyekolahkan nya!'' ucap Emil meyakinkan.
Membuat Pakde Tarman bernafas lega.
''Bukan apa, saya berbicara seperti itu, karena Alisa ini sangat pintar! Ia selalu juara umum disekolahnya! Belum lagi, Alisa putri kami ini sangat kreatif, ia bisa membuat apapun dengan pemikiran nya! Dan juga cantik tentunya, plus rajin ibadahnya!" seru pakde Tarman.
Alisa yang mendengarnya, menunduk malu.
"Ya, saya bisa melihatnya sendiri. Alisa begitu rajin dalam ibadahnya!" sahut Emil.
"Tentu dong, harus rajin dalam ibadah. Karena ibadah merupakan hal yang wajib tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan apapun! Dan juga, Alisa Ini adalah salah satu ciri-ciri wanita Sholehah! Jadi kamu jangan coba-coba menyia-nyiakan nya! Karena sekali kau melakukan itu, maka kami pastikan! Jangankan kau bisa menyentuhnya, untuk bertemu sekalipun kau tidak kami ijinkan lagi! Jadi ingat, jangan sekali-kali kamu menyakiti nya! Sekali tersakiti, maka selamanya kau tidak akan pernah melihatnya lagi! bahkan bayangannya sekalipun!'' tegas Tante Irma.
Tante Irma terkenal begitu tegas dalam berbicara. Semua lawannya akan kalah jika berhadapan dengan Irma Kumala Sari ini.
__ADS_1
"Tante.." lirih Alisa. Ia begitu terharu dengan ucapan tantenya ini.
"Iya sayang! Kamu harus ingat! Jika suatu saat terjadi hal tidak mengenakkan dalam rumah tanggamu, maka segeralah kabari kami! Maka kami akan datang untuk menjemput mu! Kau permata kami, Nak! Takkan ku biarkan, seekor kumbang menjajahi dirimu! Jika dia berani melakukan kesalahan, maka ku pastikan! Aku lah lawannya!" ujar tante Irma, sambil menatap tajam pada Emil.
Yang ditatap membalas tatap oleh Emil.
Alisa terisak. "Terimakasih Tante... Alisa sayang Tante.."
"Iya sayang.. kami semua disini menyayangi mu!"
"Oke! sudah di putuskan, bahwa kami sekeluarga akan merundingkan dulu masalah pernikahan kalian! dan akan kami kabarkan setelah satu Minggu dari sekarang! Karena kami butuh Persiapan untuk segalanya!" imbuh pakde Tarman.
Emil mengangguk setuju. Dan pada akhirnya, semua itu akan dibahas sekarang. Malam ini juga. Tepat setelah Emil dan perwakilannya pulang.
Emil dan pak Daman, pamit untuk pulang karena waktu sudah tidak memungkinkan lagi untuk bertamu.
Setelah berpamitan, Emil segera pulang. Dan sekarang, tinggal lah seluruh keluarga besar Alisa.
Semuanya terdiam, tak ada yang buka suara.
Semua tersentak dengan ucapan pak Yoga. Dari tadi pak Yoga hanya diam saja. Tapi sekarang, malah buka suara dengan menentang apa yang di inginkan oleh Emil.
''Eh? Kenapa Mas??'' tanya Tante Irma.
''Aku tak mengijinkan siapapun membawa putriku, jauh dariku!'' ucap Pak Yoga.
''Tapi.. setelah kita mengikat Alisa dengan pemuda itu, otomatis sekarang Alisa sudah separuh menjadi miliknya! Apalagi sebentar lagi, kita akan menikahkan mereka berdua! Sebagai seorang istri, Alisa harus mengikuti kemana pun suami ya pergi Yoga!'' ujar pakde Tarman.
Ia masih berusaha bersabar dengan kelakuan Yoga yang sedang gusar tidak menentu.
''Sekalli ku bilang tidak! tetap tidak!! selama nya Alisa akan tetap bersama ku! Jika pemuda itu menginginkan Alisa untuk dibawanya, sampai matipun aku tak kan merestui hubungan mereka!!'' sentak pak Yoga.
Ddddduuuaaarrrr..
Tak ada angin, tak ada hujan tapi suara petir menggelegar diluar rumah mereka. Seluruh keluarga yang berkumpul tersentak kaget.
''Astaghfirullah!!''
__ADS_1
''Ya Allah..''
''Lailahailallah..!!''
''Allahu Akbar!!''
Lutut mereka gemetaran. Suasana yang tiba-tiba hangat, dengan sekejab menjadi dingin dan mencekam!
''Hahaha... kalian dengar?! bahkan semesta pun mendukung ku!!'' ujar pak Yoga dengan suara yang begitu menyeramkan.
''Astaghfirullah Yoga! kau kenapa bisa berubah seperti ini Dek! Ini Alisa! putri kandungmu! tega-teganya kau tak merestui hubungan mereka?! hah?!'' sentak pakde Tarman.
''Hehehe... kan sudah aku katakan! jika aku tak merestui pernikahan mereka, jika sampai pemuda itu membawa putri ku ketempat asalnya?!'' ucapnya, masih dengan suara yang begitu menyeramkan.
''Pa...'' tegur Mama Alina
Pak Yoga menoleh. ''Jangan membantah ku Ma!'' ucap pak Yoga dengan dingin.
Mama Alina tersentak, tak pernah selama hidupnya melihat suaminya seperti itu.
''Ya Allah Mbak... yang sabar..'' ujar Tante Irma.
Rasmi yang tau, jika kakak keduanya ini berubah menjadi menyeramkan, ia terdiam. Tak berani menyahut sepatah katapun. Ia tertunduk. Karena ia tak berani menyahuti pak Yoga yang sedang dalam kondisi di senggol bacok.
''Kamu dengar Alisa! Papa tidak akan merestui hubungan kalian berdua! jika sampai kau pergi dari sini! Ingat! satu langkah kakimu keluar dari rumah ini, maka selamanya kau bukanlah putri ku lagi! Jika kau lebih memilih pemuda itu? Silahkan! angkat kaki dari rumah ini!'' seru pak Yoga dengan dingin.
Deg!
''Yoga!! ku sudah gila!!'' sentak pakde Tarman.
''Ya!! aku memang sudah gila!! gila karena memikirkan nasib putri ku bersama dengan pemuda itu!! Taukah kalian, apa yang aku rasakan? Hah?! Aku!!! Aku ayahnya!! aku lebih berhak dari pada pemuda itu!! Dia hanya orang asing! yang baru saja masuk kedalam kehidupan putriku!! Siapa dia?? hingga berani memisahkan kami.. hah?!!?'' teriak Pak Yoga.
''Astaghfirullah Yoga....''
💕
TBC
__ADS_1