
''Hiks.. hiks.. aku bukan pembawa sial!!!" pekik Alisa dalam hati.
Andai kata-kata keramat itu bisa ia keluarkan maka akan sedikit mengurangi rasa sakit di hatinya.
''Menyesal aku menikah dengan mu! Mulai besok, aku tak mau tau! Kau harus mencari ganti uang ku itu! Ganti semua uangku selama aku bekerja di pekan baru dan juga di Berastagi tiga bulan ini!! Gantii! Atau kau harus pergi dari rumah ini!!!'' pekik Emil.
Saking geram nya Emil, ia melayangkan tas ransel nya ke tubuh Alisa.
Bug!
Bug!
''Astaghfirullah!! Mak!!'' pekik Ira, saat melihat Alisa memejamkan matanya karena menahan sakit di seluruh tubuhnya.
Emil tidak peduli dengan lengkingan suara Ira yang mengatakan sudah.
''Sudah Yah! jangan siksa Mak lagi! Kasihan Mak, Yah! Mak lagi hamil adek!'' pekik Ira.
Bukannya berkurang, malah bertambah. Alisa hanya bisa diam. Air mata terus berjatuhan di pipi tirus nya.
Hasbunallahi wani'mal wakil ni'mal Maula wani'mannashir..
Berulang kali Alisa melafalkan zikir ini dalam hatinya. Berharap pertolongan Allah datang pada nya.
Hingga...
''Cukup Yah!! Jangan siksa surga ku lagi!! Apa kau mau, jika aku membalas menyiksa surga mu hah?!'' pekik Lana begitu lantang.
Ia berlari untuk memeluk Alisa yang terus di pukuli secara membabi buta. ''Nak??''
''Biar Mak! Biar dia tau! Siapa yang sebenarnya bersalah disini!!! Jika bukan Mak yang meminta nya, sedari dulu aku sudah membunuh nya!!!!!'' pekik Lana begitu melengking.
Hingga Emil berhenti dari memukul tubuh Alisa. Ia berdiri mematung dengan ucapan putra semata wayang nya.
''Kita pergi dari sini, Mak!! Abang nggak tahan melihat Mak terus disiksa seperti ini! Jika pun Abang punya uang, Abang yang akan bayar semua uang orang itu! Kita pergi, Mak! Abang mohon..'' pinta Lana dengan sangat.
Ia memeluk Alisa dengan erat. Begitu juga dengan Ira. Mereka bertiga menangis sesegukan.
Emil yang melihat nya mematung. Lana masih saja memeluk Alisa dengan erat. ''Mak??''
__ADS_1
''Mak nggak bisa, Nak.. Mak lagi hamil.. kita harus kemana, Nak?? Sementara uang Mak sudah habis untuk membayar nya..'' lirih Alisa masih dengan menangis.
Lana tau akan arti kata 'membayarnya' yang dimaksud oleh Alisa. ''Abang mohon, Mak .. ayo...'' ajak nya lagi dengan bibir bergetar.
Alisa menggeleng. ''Tak apa Nak.. Mak ikhlas .. Mak harus mengganti yang sudah habis. Abang yang sabar ya?''
''Mak??''
''Ya, Nak! Besok Mak akan cari kerja untuk mengganti uang itu. Abang harus tetap disini sama Mak ya? Temani Mak, hem??'' sahut Alisa sembari mengelus kepala Lana dengan sayang.
Sedangkan Emil masih berdiri mematung disana. Ia masih sibuk dengan pemikiran nya tentang seseorang yang ingin di bunuh oleh Lana.
Siapa? Pikirnya. Tak sanggup memikirkan hal itu, Emil memilih pergi meninggalkan Alisa dan kedua anak nya yang masih dalam rasa kesedihan yang mendalam.
''Lebih baik sekarang kita beberes ya? Rumah kita sangat kotor. Ayo.. sama-sama kita membersihkan nya..'' lirih Alisa.
Ia berusaha bangkit dari duduknya. Tapi tak bisa. Kan yang melihat itu semakin menangis. ''Mak duduk saja ya? Masih sakit kan perutnya?''
''Ssssttt... ya, Mak duduk aja deh disini..'' lirihnya lagi.
Setelah nya ia duduk menyender di dinding dengan sedikit demi sedikit ia mengusap perut nya itu.
Aku sudah tidak kuat.. kapan kita bisa bertemu lagi?? Aku sudah tak sanggup..
bawa aku pergi... lirihnya dalam hati dengan memejamkan kedua matanya.
Ira dan Lana yang melihat nya hanya bisa pasrah sekarang. Berulang kali Lana berusaha membujuknya, tapi tetap tidak di gubris oleh Alisa.
Sekarang apa yang bisa ia lakukan selain hanya bisa pasrah akan keadaan?
Semakin lama bukannya semakin berkurang rasa sakit dihati Alisa. Ia semakin tersiksa dengan kelakuan Emil yang selalu saja menyalahkan nya.
Lagi, Lana berusaha mengajak mereka untuk pergi. Tapi tetap saja Alisa tidak mau. Hingga setiap harinya hatinya makin tersiksa dengan perlakuan Emil padanya.
Contohnya pada malam ini, Emil mengusir Alisa dari kamarnya dengan cara mendorong Alisa dengan kakinya hingga mengenai perutnya.
''Pergi!!! Jangan kau tidur di dekat ku! Muak aku melihat mu! Tidur kau diluar!!'' sentak Emil dengan gigi menggelutuk.
Dug.
__ADS_1
Dug.
''Astaghfirullah! Ya Allah! Baik! aku akan keluar! Kamu boleh marah padaku, tapi jangan pada perutku! Didalam sini ada anakku! Jika kau tidak menginginkan anak ini, tidak apa-apa! Tapi aku menginginkan anak ini! Dia tak bersalah! Dia anugerah untukku!'' sahut Alisa begitu kesal dengan kelakuan Emil.
''Halah! usah banyak bicara kamu! keluar!!'' sentak Emil lagi.
Alisa menghela nafasnya. ''Ya Allah.. kuatakn aku.. aku yakin dia pasti akan berubah.. Aku tau, aku salah karena telah membohongi nya. Tapi aku terpaksa harus melakukan semua ini.. demi diriku, dirinya dan keluarga ini..'' lirih Alisa dengan memejamkan kedua matanya.
Lana yang melihat Mak nya semakin tersedu di belakang pintu kamarnya. Begitu juga Ira. Mereka berdua menangis sambil berpelukan.
''Kita pergi Kak.. Abang nggak sanggup lihat Mak kayak gitu... Ayo kak... kita pergi...'' ajak Lana lagi pada Ira.
''Nggak bisa Dek.. kita mau ke mana? Kita nggak punya rumah Dek.. nggak mungkin kita pulang ke kampung Mak? Mak bakalan nggak mau.. belum lagi uang Mak hanya tinggal sedikit di rekening, kita bisa apa dengan uang itu Dek..'' bisik Ira di telinga Lana.
''Hiks.. hiks.. Mak... Mak.. Mak.. kita pergi Kak.. Abang nggak kuat terus menerus melihat Mak seperti itu..'' isaknya lagi.
Begitu juga dengan Alisa. Tubuhnya berguncang karena sedang menangis. Sudah berapa hari ini ia mencari pekerjaan tapi tak kunjung ia dapatkan.
''Aku harus kemana sekarang?? Uangku tinggal sedikit.. paling hanya cukup untuk biaya melahirkan saja.. kayaknya aku harus buat risol deh. Besok aku mulai beli dengan uang yang ada saja. Ku titipkan sama Ira dan juga Lana nantinya. Juga di sekolah nya Tama. Tama...'' lirih Alisa begitu pelan.
Ia mengingat putra angkatnya itu sudah sebulan tidak datang kerumah mereka. Entah kemana putra angkatnya itu.
Sekarang Tama sudah besar. Ia sudah bisa cari uang sendiri. Bahkan uang jajan nya pun Tama tidak lagi meminta dari Linda.
''Kamu kemana Nak?? Kenapa sudah sebulan ini kamu tidak datang kesini?? Mak kangen..'' lirih Alisa lagi.
Tanpa diketahui oleh mereka sekeluarga jika Tama sedang berada didepan pintu rumah mereka.
Tama terisak di depan pintu rumah Alisa. Niat hati ingin mengunjungi Mak nya malah mendapatkan berita yang begitu menyakitkan untuknya.
''Mak tenang aja hiks.. Abang akan bantu Mak untuk bayar hutang pada orang itu. Selama sebulan ini Abang kerja Mak.. Abang udah dengar dari Lana, karena Lana sendiri yang bilang sama Abang. Abang akan bantu Mak. Nanti Abang bilang sama Mama. Mama kemarin baru saja dapat arisan dari kantor nya. Semoga Mama mau bantu Mak Alisa. Mak tenang aja.. Abang akan bantu... hiks.. hiks.. Mak..'' lirih Tama di sebalik pintu rumah Emil dan Alisa.
Tahan berlalu dari sana dengan hati yang terluka. Ternyata kepergian nya selama sebulan untuk bekerja, demi menolong Alisa malah menjadi runyam karena masalah hutang yang tiada berkesudahan.
💕
Sedikit lagi mendekati end!
TBC
__ADS_1