Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Periksa


__ADS_3

Hari ini Alisa dijadwalkan untuk periksa kandungan di klinik bidan Novi. Rencananya Alisa akan periksa jam sembilan malam.


Karena diwaktu itulah bidan Novi ada dirumah. Alisa siap-siap karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.


Emil yang melihat Alisa bersiap mendekati nya. ''Mau kemana Dek??''


Alisa menoleh sekilas. ''Mau periksa.'' sahutnya datar.


''Abang antar ya??''


''Terserah Abang.'' sahut nya lagi masih dengan wajah datar.


Emil menghela nafasnya. Sangat sulit untuk meluluhkan hati istrinya ini. Setelah melihat Alisa siap-siap, Emil berlalu ke depan dan menunggu nya di motor.


Alisa keluar dengan menggendong Ira. Putri kecilnya. Sejak kejadian kemarin, kini Ira lebih irit bicara dengan ayahnya.


Emil hanya bisa diam. Alisa berjalan melewati Emil, tapi di cegah oleh nya. Agar bisa pergi bersama.


''Ayo! Abang antar!''


Alisa hanya diam tidak menyahuti. Ia menaiki motor itu. Setelah ia naik, Emil membawa motor itu dengan perlahan. Takut akan Alisa yang sedang hamil.


Hanya butuh waktu lima menit saja mereka sudah tiba di kliniknya bidan Novi. Setibanya disana, Alisa masuk menemui bidan Novi.


''Assalamualaikum.. kak...''


''Waalaikum salam Lis! Loh?'' tunjuk nya pada Emil


''Hehehe.. kebetulan aja kak, orang nya ada!'' celutuk Alisa.


Membuat Emil menghela nafas kesal. ''Ayo Lis! naik dulu ke bangkar.'' titah bidan Novi.


Setelah itu bidan Novi mulai memeriksa Alisa. Dari tensi darah hingga ada keluhan apa saja.


''Baik, sekarang sudah memasuki lima bulan ya? Ada keluhan??''


''Sedikit kak.. kadang pinggang sering ngilu.. cuma itu aja sih.''


''Hem, itu sih hal biasa Lis! Apa lagi jika sering di jengukin! ya sakitlah pinggangnya!'' sindir bidan Novi.


Membuat Emil melototkan matanya. Bidan Novi yang melihatnya mencebik ke Emil. Emil hanya bisa pasrah.

__ADS_1


''Ini vitamin jangan lupa untuk diminum, susunya juga nggak lupa di minum kan??'' tanya bidan Novi.


''Hehehe.. kadang-kadang sih kak!''


''Ishh... minta duit sama suami kamu! untuk beli susu. Masa' nyetak aja dia mau? Sedang untuk beli vitamin nya nggak mau? Suami apaan macam gitu?!'' ketus bidan Novi, membuat Alisa jadi tidak enak pada Emil.


''Kak...''


''Biarin! Kemana kamu selama dua bulan ini nggak pernah antar Alisa kesini?! Sibuk apa kamu?!'' ketus nya pada Emil.


''Sibuk kerja kak.. bukannya nggak datang.. tapi memang sibuk kak...'' lirih Emil.


''Halah! banyak alasan! kerja kok berbulan-bulan nggak bisa antar istri?!'' ketus bidan Novi lagi.


''Kak.. udah ah!''


''Biar Lis! biar tau suami kamu ini?! bisa-bisanya alasan kerja?! kerja kan ada juga libur nya?! Dasar nggak punya perasaan?!'' ketus bidan Novi lagi.


Emil hanya bisa menghela nafas pasrah. Setiap omongan dari bidan Novi selalu saja menyudut kan nya.


''Jangan lupa bulan depan diperiksa lagi?! Alasan kerja! tapi malah kelayapan?!'' ketus bidan Novi lagi.


Lagi dan lagi, Emil hanya bisa diam. Pasrah selalu disalahkan. Tapi jika dipikir, memang iya sih.


Lagi bidan Novi menggerutu. ''Dasar nggak punya perasaan?! Giliran enak nya aja dia mau! Giliran hamil kayak begini lepas tangan! Ishh... lama-lama ku timpuk juga kepala suami mu itu Lis!'' ujarnya lagi begitu ketus.


Membuat Alisa terkekeh namun meringis. Emil mendadak berwajah masam. Ia keluar duluan dan menunggu Alisa di motor nya.


Alisa keluar dengan menggandeng Ira. Saat ini berat badan Alisa begitu turun. Seperti kekurangan gizi.


Bahkan kandungan Alisa yang sudah beranjak lima bulan saja seperti terlihat empat bulan.


Maka dari itu, bidan Novi sengaja menyindir Emil. Agar suami pasien nya itu sadar akan kesalahannya.


Bukan apa bidan Novi berbicara seperti itu. Sempat terjadi masalah dengan kandungan Alisa.


Tapi Emil tidak tau, begitu juga dengan Rita. Kejadian itu tepat saat Alisa mengetahui kelakuan Emil sebulan yang lalu.


Alisa begitu terpuruk. Berhari-hari Alisa menangis dan tidak selera makan. Seringkali orang suruhan Rita lah yang membeli makanan untuk mereka berdua makan.


Pada saat orang suruhan Rita mengantar Alisa ke klinik, betapa terkejutnya bidan Novi saat mengetahui kondisi Alisa yang begitu drop.

__ADS_1


Beruntungnya tidak terjadi apa-apa dengan kandungan nya. Hanya saja, kandungan Alisa menjadi sedikit kencang dan Alisa mengalami kram.


Setelah ditangani oleh bidan Novi, disuntik dan diberi obat barulah Alisa tidak merasa kan sakit lagi.


Bidan Novi begitu terkejut saat mengetahui sebuah fakta tentang suami Alisa. Orang suruhan Rita yang mengatakan nya.


Itupun karena didesak oleh bidan Novi. Makanya bidan Novi begitu kesal saat melihat Emil ketika pemeriksaan tadi.


Melihat sikap Emil terhadap Alisa, membuat bidan Novi menjadi resah. Bagaimana tidak, jika sampai kejadian yang sama terulang lagi, maka Alisa pasti akan kehilangan bayi nya.


Bidan Novi hanya bisa pasrah sekarang. Jika memang sudah ditakdirkan oleh Allah SWT, maka itulah yang akan terjadi.


Sebagai seorang bidan, ia hanya bisa membantu sebisanya. Selebihnya, Allah lah yang punya keputusan.


Bidan Novi menghela nafas panjang. ''Semoga tidak terjadi sesuatu dengan kandungan mu Lis...'' gumam nya dengan lirih dan terdengar oleh sang suami bidan Novi.


''Kita hanya bisa berusaha saja sayang.. selebihnya hanya Allah yang punya kuasa.'' ucap suami bidan Novi.


''Ya,'' sahut bidan Novi dengan pasrah.


Semua tergantung yang maha kuasa. Semoga saja Alisa tidak apa-apa saat melahirkan nanti.


Setibanya Alisa dirumah mereka, ia langsung saja beranjak masuk dan menuju ke dapur untuk makan.


Tak lupa ia membuat segelas teh hangat untuk Emil dan juga susu coklat kesukaan Ira. Mereka bertiga duduk diruang tivi.


Alisa makan begitu lahap, walau hanya dengan ikan sambal. Padahal Alisa sangat benci dengan bau sambal balado. ( Ini pengalaman othor saat hamil anak kedua 😄😄)


Alisa menutup hidungnya, agar tidak kebagian dengan bau sambal balado. Entah kenapa Alisa sangat tidak menyukai aroma sambal balado.


Saat terhirup bau itu, Alisa rasanya ingin muntah. Tapi tidak jadi. Tidak masak sambal, putri kecilnya sangat menyukai sambal balado.


Jadilah Alisa terpaksa memakan nya. Ingin masak makan yang lain, takut nanti uang simpanan untuk biaya melahirkan habis.


Jadilah Alisa makan seadanya. Yang penting kenyang pikir nya. Saat sedang enak-enak nya makan, Emil memberikan sesuatu padanya.


''Dek... ini uang yang Abang kumpulkan selama seminggu ini. Maaf kalau Minggu kemarin Abang tidak memberikan nya pada mu. Abang sengaja menyimpan hingga banyak, baru setelah itu Abang serahkan padamu. Untuk biaya sehari-hari, beli susu dan vitamin, serta biaya melahirkan mu nanti. Maafkan Abang Dek.. selama seminggu ini Abang mencari uang lebih dengan cara menjadi tukang ojek.''


''Ojek??''


💕

__ADS_1


Abang sialan jadi abang ojek?? 🤔🤔


TBC


__ADS_2