
Alisa merasa dirinya akan segera di sidang. Alisa takut, lututnya gemetar, tubuhnya panas dingin, serta tangannya berkeringat. Seluruh keluarga besarnya sudah berkumpul, dan saatnya ia akan disidang. Mama Alina duduk menjauh darinya, begitu juga dengan Papa Yoga.
Bibi Alisa yang melihat keadaan Alisa begitu ketakutan, ia pun berpindah duduk disebelah Alisa guna untuk menyemangati Alisa jika dirinya nanti dihukum oleh papanya.
Suasana terasa mencekam, hening.. hanya ada suara jangkrik diluar sana. Alisa semakin takut, tangannya meremas ujung bajunya saking takutnya Alisa bisa mendengar sendiri detak jantungnya yang begitu cepat.
Alisa menunduk tak berani menatap papanya. Sedangkan pak Yoga menatapnya datar, mama Alina hanya diam saja. Paman Alisa yang melihat semua keluarga diam diaman, ia mencoba untuk memecah keheningan diantara mereka.
''Ehm.. tak adakah yang ingin bertanya? Mengapa rumah ini sepi kayak kuburan? Kemana semua orang??'' tanyanya dengan pura pura bingung.
Pak Yoga yang mendengarnya pun menghela nafasnya.
''Sejak kapan??''
Deg!
Alisa terkejut begitu mendengar suara papanya. Ia semakin ketakutan, bibi yang berada disebelah nya, mengusap bahu Alisa supaya menjawab pertanyaan papa nya.
''Sejak kapan Lis ? Sejak kapan kamu membohongi papa seperti ini ?? Apakah ini ajaran yang kamu dapatkan selama ini ketika kamu belajar sekolah agama ?? Jawab Lis..!''
Alisa tersentak mendengar perkataan pak Yoga. Matanya mengembun. Penglihatan nya menjadi buram karena air mata yang sudah terbendung dipelupuk matanya. Bibirnya bergetar menahan tangis. Ia memilin ujung bajunya dengan kepala menunduk.
''Jawab nak.. sejak kapan??'' tanya pak Yoga lagi
Alisa tak tahan dengan laju air matanya. Air mata itu luruh tanpa bisa dikendalikan.
''Maaf Pa...'' ia hanya mampu berkata maaf saja.
''Haahh.. berapa lama kalian berhubungan ?? Apakah larangan Papa kamu tidak dengarkan Lis ?? Apakah selama ini kamu berbohong sama Papa ?? Tiap pagi kamu selalu pergi lebih awal sudah berapa bulan ini Papa perhatikan, adakah yang ingin kamu jelaskan Lis ??'' desak pak Yoga membuat Alisa tak bisa berbicara.
Bibirnya terasa Kelu hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan pak Yoga. Alisa terisak, ia tetap menunduk wajahnya sudah penuh dengan air mata.
''Mengapa kamu berbohong Lis ?? Apakah kasih sayang yang papa berikan selama ini kurang ?? Hingga kamu mencari ditempat lain..??'' cecar pak Yoga.
''Ma-maafkan Al-Alisa Pa-pa..'' ucapnya terbata.
''Jawab yang benar Lis..!!'' tegur mama Alina.
__ADS_1
Sebagai seorang ibu, ia merasa gagal dalam mendidik Alisa, hingga Alisa berani membohongi mereka. Mama Alina kecewa dengan sikap Alisa. Selama ini ia selalu mendukung apapun yang dilakukannya.Tapi sekarang apa? Alisa bahkan tega membohongi mereka berdua.
Pak Yoga yang sudah tidak tahan dengan diamnya Alisa akhirnya membentaknya.
''Jawab Alisa !!!'' bentak pak yoga membuat Alisa terjingkat kaget.
Alisa membatu.
Selama ini papanya tak pernah membentak dirinya. Karena seorang pemuda yang baru saja melamar sekaligus mengikatnya membuat pak Yoga membentaknya. Bagaimana kalau nantinya Emil akan menikahinya setelah tamat sekolah..??
Semua yang ada yang ada disana terkejut. Mereka saling tatap membuat suasana terasa hening. Hanya terdengar suara isakan Alisa.
Paman mengusap bahu adiknya '' sabar Ga.. jangan dahulu kan emosi.. kendalikan dirimu.. Alisa itu putrimu!!''
Pak Yoga mengusap wajah nya . Ia menarik nafasnya dan mengeluarkan nya dengan kasar. Emosi nya sudah mencapai ubun ubun. Jika saja tidak ada kakaknya, mungkin ia akan memukul anaknya sendiri.
''Tega kamu membohongi kami selama ini! Inikah yang kamu inginkan?! Sudah sampai sejauh mana hubunganmu dengannya hah?!!'' bentaknya lagi.
Alisa terjingkat lagi mendengar suara pak yoga yang begitu keras. Paman Alisa menyuruh nya untuk tetap sabar.
''Ingat Allah Ga..!! Istighfar!! Pelan kan suaramu.. malu didengar tetangga! Apa kata mereka nantinya, baru saja anaknya dilamar orang tapi dirumahnya sudah ribut saja! sabarrrrrrr... .''
''Hahh... mengapa kamu diam saja.
Ayo jawab Lis.. sudah sejauh mana hubunganmu dengan pria itu?? Apakah kamu sudah ditiduri olehnya?? Kamu berzina dengannya?? Hingga ukuran tanganmu pun ia tau??'' ucapnya membuat semua orang yang ada disana terkejut dengan perkataan nya itu.
Mama Alina menutup matanya. Ia tak tahan melihat Alisa dituduh seperti itu. Belum lagi paman Alisa ia beristighfar berulang kali. Seluruh keluarga besar Alisa ternganga mendengar ucapan pak Yoga.
Alisa yang sedari tadi diam akhirnya mendongak. Hatinya perih ! Sakit disaat yang bersamaan. Belum kering luka yang digoreskan oleh Emil, kini bertambah lagi dengan luka baru. Luka yang sengaja dibuat oleh papanya. Tanpa melihat keadaan sebenarnya, pak Yoga menuduhnya berbuat dosa.
*Apakah segitu hinanya Alisa.. hingga papa menuduh Alisa berbuat dosa??
Alisa tidak seperti itu pa..
Alisa masih suci bahkan sampai saat ini..
Pemuda yang papa bilang sudah meniduri Alisa, sekalipun ia tak pernah menyentuh Alisa melainkan ditangan saja.. itupun tanpa disengaja..
__ADS_1
Teganya papa menuduh Alisa seperti itu*..
Alisa memejamkan matanya sejenak. kemudian beralih menatap mamanya. Mama Alina yang ditatap Alisa, membuang mukanya. Ia tak mau melihat Alisa.
Mama pun sama?? Hanya segini kah rasa percaya mama terhadap Alisa??
Alisa menatap nanar mamanya.
Hatinya terluka, disaat ia mendapatkan apa yang ia mau, ia malah mendapatkan rasa sakit. Apakah rasa bahagianya disandingkan dengan rasa sakit?? Ia begitu terluka bahkan sangat parah! Sangat menyakitkan, melihat orang yang kita sayangi benci pada kita. Alisa tak mampu berbuat apapun, ia hanya bisa pasrah.
Sekali lagi ia terluka.
Sakit tapi tak berdarah.
Pak Yoga tersenyum sinis memandang putrinya. Ia sudah tebak, jika Alisa tidak patuh pada perintah nya. Sekarang ia merasa gagal sebagai papa mendidik Alisa. Ia menatap Alisa dengan datar, tanpa ekspresi. Tanpa permisi ia pergi meninggalkan mereka dengan sejuta pertanyaan dibenak mereka.
Bagaimana mungkin seorang Yoga Sebastian tega menghakimi putrinya sendiri tanpa melihat dan mendengar pembelaan dari putrinya.
Paman Alisa menatap sedih pada Alisa. Tak disangka di umur yang sangat muda, ia sudah mendapatkan rasa sakit seperti ini. Baru saja ia berbahagia melihat keponakannya itu dilamar oleh seseorang, tak disangka nya bahwa bahagia yang Alisa dapat bersanding dengan luka. Paman Alisa memejamkan matanya sejenak, kemudian memberikan kode kepada istrinya agar membawa Alisa masuk kedalam kamar karena situasi sudah tidak memungkinkan lagi untuk membahas Masslah Alisa ini.
''Buk.. bawa Alisa masuk! biarkan ia beristirahat, besok kita akan lihat seperti apa selanjutnya masalah ini.. untuk sekarang cukup disini. Bagi yang lain sebaiknya kalian jangan pulang dulu ya.. kita harus temani mereka disini sampai mereka berdamai dengan keadaan Alisa barulah kita tinggalkan tempat ini..'' ucapnya dan mendapatkan anggukan dari keluarga besar Alisa.
Alisa menatap nanar pada papa nya yang meninggalkan ruangan tanpa pamit. Suara panggilan dari bibi nya pun tak ia dengarkan. Matanya menatap lurus kedepan sana, dimana papanya baru saja pergi tanpa pamit pada keluarga besarnya.
Alisa termenung, apakah ia salah menerima lamaran Emil?? Tapi dimana letak kesalahannya?? Bahkan ia tak menjawab pertanyaan dari pakdenya tadi ketika ditanya apakah ia bersedia menerima lamaran Emil atau tidak.
Dalam lamunannya itu ia merasa melayang, seperti sedang diatas awan dan terhempas diatas taburan bunga yang begitu lembut, membuat dirinya rileks dan santai.
Sesaat ia merasakan kehangatan disana. Matanya yang mengantuk mulai terpejam hingga terlelap kedunia mimpi.
Paman Alisa yang melihatnya melamun, mendekati Alisa dan menggendong nya masuk ke kamar lalu ditidurkan dengan bibi Alisa disebelah nya menemani Alisa.
Bukan apa sih.. bibinya sengaja menemani Alisa, karena ketika diluar tadi Alisa tak merespon panggilannya hingga berulang kali bibinya itu memanggilnya tapi tetap saja ia diam dan melamun. Pamannya yang melihat Alisa begitu terpuruk mengangkat nya hingga sampai ke kamar dan dibaringkan disana.
Sungguh kasihan melihat nasib Alisa, baru saja mendapatkan kebahagiaan tak lama setelah nya ia terluka. Ia terluka dengan orang yang begitu disayanginya.
Mampukah Alisa melewati hari hari berikutnya dengan keadaan hati yang terluka??
__ADS_1
Maaf banyak typo, ini udah othor revisi kok..
See you..