
Sesaat setelah dokter Rita datang, dan bercakap-cakap sebentar dengan Mama Alina dan Tante Rasmi, dokter Rita dipersilahkan masuk.
Sesampai nya disana, dokter Rita melihat Alisa badannya yang menggigil, seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat dingin, dan juga bibirnya membiru.
''Astaghfirullah!! Alisa!!'' seru dokter Rita.
''Ya Allah... apa yang terjadi Mbak?? Kenapa seperti ini??'' tanya Tante Rasmi.
''Aku juga nggak tau, Mi! Aku kaget saat Alisa menggigil seperti ini! Dia mengigau memanggil nama seseorang, tapi tak jelas entah siapa? Yang kudengar hanya, jangan pergi tinggalin aku katanya?'' sahut Tante Rasmi.
''Ya sudah, biar saya periksa dulu!'' imbuh dokter Rita.
''Silahkan dokter!'' sahut Tante Irma.
Dengan cekatan Tante Irma mengeluarkan stated kop untuk memeriksa denyut jantung Alisa. Setelahnya ia membuka mata Alisa dan juga bibir Alisa. Ia memeriksa tekanan darah Alisa. Ternyata sangat rendah.
Setelahnya ia mengeluarkan satu buah jarum suntik dan menyuntikkan obat ketubuh Alisa. Setelah selesai, barulah ia memandang satu persatu anggota keluarga, termasuk Pak Yoga.
Dokter Rita menatap tajam padanya. Setelahnya ia beralih kepada Mama Alina.
''Kita perlu bicara Mbak! ini penting! menyangkut kesehatan Alisa.'' ucap dokter Rita.
Mama Alina mengangguk dan berlalu keluar. Mereka semua duduk diruang keluarga. Dimana tadi mereka berdebat tentang Alisa.
Dokter Rita menghela nafasnya. ''Aku tidak tau, ada masalah apa dalam kelurga kalian! Tapi ini sangat fatal untuk psikis Alisa. Ia tertekan dan stres!'' seru dokter Rita.
__ADS_1
Papa Yoga berdiri mematung didepan pintu kamar Alisa. Sedangkan Mama Alina menangis.
''Separah itukah?? Apakah tidak ada obat untuk menyembuhkan nya??'' tanya Tante Irma.
''Ada! Hanya satu, buat hati dan pikiran nya selalu bahagia! Jangan terlalu menekan batinnya! Jika itu sampai terjadi maka akan sangat fatal akibatnya!''
''Apa akibatnya??'' tanya Pak Yoga.
Mereka semua menoleh padanya. Dokter Rita menatapnya tajam.
''Aku tau, ini pasti karena Abang yang terlalu mengekangnya kan? Abang terlalu kuat menekan batinnya! Jika kejadian ini terulang lagi maka Alisa akan tinggal nama!''
''Apa?!'' kaget Mama Alina.
''Akibatnya sangat fatal, stres yang di akibatkan oleh Alisa ini akan membuat tekanan darah Alisa menjadi tinggi. Dan karena terlalu tinggi maka akan memicu gagal jantung dalam memompa darah ke seluruh tubuh. Jika ini sampai terjadi maka kematian lah yang akan menantinya! Apakah ini yang Abang inginkan?? Abang ingin melihat putri Abang MATI??'' tanya dokter Rita.
''Astaghfirullah! seberat apa derita hati putriku hingga harus seperti ini??'' lirih Mama Alina.
Dokter Rita menoleh, ''Jika ingin Alisa selamat, maka jangan terus menerus menekan batinnya! Buatlah hati dan pikiran nya menjadi tenang. Buat dirinya selalu bahagia! Jangan biarkan ia bersedih terlalu lama. Biarkan ia bahagia dengan pilihannya. Jika suatu saat ia mendapat masalah dengan pilihannya tersebut, jangan ikut campur! Biarkan ia menyelesaikan masalah nya itu sendiri. Aku tau seperti apa Alisa. Ia anak yang cerdas dan berbakti. Pasti ia tau mana yang bisa dipakai dan mana yang tidak. Ingatkah kalian kejadian sepuluh tahun silam, tentang Alisa yang selalu kalian larang bermain diluar?? Apa yang terjadi? Ia mengamukkan?? Berhari-hari tak mau bicara dan tak mau makan! Hingga aku datang dan membujuknya untuk mau keluar. Dan akhirnya ia mau keluar. Dengan cara aku membuat hatinya bahagia.'' ungkap dokter Rita.
''Apakah kalian tidak belajar dari masa lalu?? Masih ingin kekeuh dengan pendirian kalian sebagai orang tua?? Kita sebagai orang tua seharusnya mengerti akan keinginannya, bukan malah menentangnya! Kita hanya bisa berdoa untuk kebaikannya, bukan malah mengancam nya! Aku baru juga menjadi seorang dokter. Tapi ketika belajar, nggak hanya dunia medis yang kami pelajari, tetapi juga tentang kepribadian setiap manusia. Alisa ini memiliki kepribadian yang begitu lembut. Suasana hatinya akan berubah-ubah seiring dengan apa yang dilihat nya. Hatinya sangat lembut. Pantang sekali baginya merasakan sakit, maka sampai kapanpun rasa sakit akan terus terkenang olehnya! Seharusnya Abang sebagai orang tua lebih paham tentang putri sendiri! bukannya malah menekan batinnya seperti ini. Aku nggak ngerti jalan pikiran Abang seperti apa!'' ucap dokter Rita. Ia bersungut-sungut kepada pak Yoga.
Karena yang dia tahu, bahwa penyebab Alisa sepeti itu adalah Papanya, Pak Yoga. Pak Yoga yang mendengar penjelasan dokter Rita, termenung.
Pakde Tarman, terdiam. Ia tak bisa mengatakan apapun, karena apa yang dikatakan oleh dokter Rita semuanya benar.
__ADS_1
''Apakah sebelum ini, Alisa juga mengalami hal ini??'' tanya nya.
''Ya,'' sahut Mama Alina.
''Hah! Sudah ku duga! pastilah ada penyebabnya! kalau tidak, mana mungkin Alisa mengalami tekanan yang begitu berat. Udah untung saya cepat kesini. Terlambat sedikit saja, maka nyawanya akan melayang!'' ujar dokter Rita lagi.
Pak Yoga tertegun. Lagi dan lagi ia salah dalam mengambil keputusan. Keputusan nya berakibat fatal pada putrinya sendiri.
''Ya sudah, untuk sekarang biarkan Alisa istirahat! Untuk resep obat, mari ke klinik! Akan aku berikan nanti disana! Aku sudah selesai, waktunya untuk pulang! Siapa yang akan mengambil obatnya?? Saking buru-buru nya aku sampai tidak membawa obat sama sekali! Ishh..'' gerutunya kesal.
Tante Rasmi tertawa. Dari dulu dokter Rita tak pernah berubah. Masih tetap sama, jika berkaitan dengan kakak keduanya itu, dokter Rita selalu ketus. Dan juga jutek terhadapnya.
''Aku saja yang kesana! sekalian nostalgia sama Mamas Rizal! Udah lama nggak jumpa sama dia! Ingin ku jontos tuh kepalanya! Karena dulu, dia pernah jontos aku! huh!'' ujar Tante Rasmi. Dan disambut gelak tawa oleh mereka semua disana. Termasuk dokter Rita.
''Oke! Ayok sekarang! pasien ku masih banyak tadi! gara-gara orang tidak bertanggung jawab, akhirnya aku meninggalkan mereka semua!'' ketusnya lagi, seraya memandang Pak Yoga dengan tajam.
Setelah berpamitan dokter Rita dan Tante Rasmi pulang bersama. Dokter Rita membawa motornya, sedangkan Tante Rasmi membawa motor Pak Yoga.
Sesaat setelah mereka semua berlalu, Pak Yoga masuk ke dalam kamar Alisa. Ia mendekati ranjang Alisa.
Perlahan tapi pasti, air matanya menetes disana. Sangat sesak dadanya melihat Alisa tergolek tak berdaya di ranjangnya.
''Maafkan, Papa Nak? Papa nggak bermaksud menyakiti mu dengan keputusan Papa.. Papa hanya ingin yang terbaik untukmu.. bukan untuk menyiksa mu, Nak.. Papa ingin kamu bahagia, Nak.. tapi bukan dengan pemuda itu.. entah mengapa? Firasat Papa mengatakan jika pemuda itu akan membuat mu terluka, Nak.. Tolong.. mengerti lah keadaan Papa.. Papa juga berat melepas mu dengannya.. Papa tidak bisa membuktikan nya padamu.. apa yang Papa rasakan saat ini pasti akan terjadi kelak! Maafkan, Papa Nak..''
💕
__ADS_1
Ada yang nunggu kah??
TBC