
Seorang lelaki bertubuh kurus tinggi masuk kedalam ruangan Alisa, ia melihat Alisa tak berkedip.
Ia bertugas sebagai pembantu Alisa saat Alisa membutuhkan dirinya. Saat melihat Alisa begitu gelisah dalam tidur nya, ia berusaha untuk mengguncang tubuh wanita yang dikira gadis olehnya.
Dekat dan semakin dekat. Baru pertama kali ini, ia menemukan gadis cantik alami seperti Alisa.
Ia adalah perawat pindahan dari rumah sakit besar ke Puskesmas itu. Tepat pada hari itu ia ditugaskan disana.
Dan tugas nya ialah untuk menolong Alisa apapun yang di butuhkan oleh gadis itu. Dia tidak mendengar apapun penjelasan dari kepala perawat tentang Alisa.
Baginya semua gadis itu sama. Dan tepat saat masuk keruangan itu ia mencoba untuk membangunkan Alisa si gadis yang sedang sakit.
Berulang kali ia berusaha untuk menyadarkan gadis itu, tapi tidak juga mempan. Hingga untuk yang kesekian kalinya ia sadar.
Dan kata yang pertama kali keluar dari mulutnya ialah siapa dia?? Pemuda itu tersenyum.
Dikira Alisa terpana karena ketampanan nya. Belum tau aja di Gilang?? Kekasih masa depan Alisa?? Beuuhh.. kalah euuuyyy..
Alisa mengerjabkan matanya. ''Kamu siapa??'' tanya nya
''Saya petugas yang ditugaskan untuk merawat kamu selama disini!'' sahutnya.
Alisa setengah sadar saat berbicara dengan pemuda itu. Setelah matanya terbuka sempurna, mata nya melotot menatap pemuda yang memakai baju perawat itu.
''Kamu!! Laki-laki!!''
''Ya! saya laki-laki!'' sahutnya
''Kamu yang bertugas merawat saya??''
''Ya!'' sahutnya tanpa menoleh sedikit pun dari wajah Alisa.
''Termasuk memandikan saya begitu?!''
Pemuda itu terkekeh. ''Ya, itulah tugas saya!'' sahutnya lagi.
Wajah Alisa berubah menjadi merah padam dan tangannya mengepal erat.
__ADS_1
''Astaghfirullah hijab! mana hijabku! berbalik! kamu berbalik! jangan lihat! bukan mahram! saya tidak mau disentuh oleh seseorang yang bukan mahram saya! kamu berbalik!!'' seru Alisa begitu lantang.
Alisa tidak sadar jika suaranya itu hingga terdengar keluar ruangan.
Lelaki itu terkejut, ia pikir pasien ini sama dengan pasien yang lain.
''Aneh!'' celutukan tanpa sadar.
Alisa menoleh padanya setelah memakai hijab.
''Ya! aku aku memang aneh! Agama ku melarang jika ada seseorang lelaki masuk ke dalam kamar seseorang, sedang seseorang itu tidak ada pendamping nya, maka nanti akan menimbulkan fitnah! Apalagi saya seorang istri! kamu paham?!'' sentak Alisa begitu tegas.
Membuat pemuda itu terdiam mematung.
''Dan kau! masuk ke kamar ku apakah tidak tau kau mengetuk pintu dulu?? Mengapa kalian selalu menganggap semua pasien itu sama?? Aku berbeda! Aku berbeda dengan yang lain! Mereka dengan mudah bisa keluar masuk tanpa seizin nya! Tapi aku tidak mengijinkan siapa pun untuk masuk disaat seluruh keluarga ku sedang tidak berada di dalam ruangan ini! Apakah kau tidak bertanya tentang permintaan yang dibuat pada pihak Puskesmas ini?? Aku disini bukan gratis! Tapi berbayar! Se enak nya saja kau masuk tanpa ijinku! para perawat disini sudah tau itu! Karena sejak pertama kali aku masuk, aku sudah meminta kakak ku untuk tidak ada seorang pun yang masuk keruangan ini tanpa seijinku!'' tegas Alisa lagi
Membuat pemuda itu lagi dan lagi terdiam. Cukup lama mereka terdiam hingga terdengar celutukan yang menjengkelkan di telinga Alisa.
''Heh! sok suci!''
''Ya! aku memang sok suci! Oleh karena aku adalah seorang istri! aku harus menjaga nama baik suamiku, selama suamiku tidak ada bersama ku! aku suci untuk suamiku tapi bukan untuk orang lain! Aku hanya bisa dilihat oleh suamiku saja! bukan orang lain!! keluar!'' titah Alisa begitu dingin.
''Aku tidak akan keluar karena tugas ku disini adalah merawat mu! karena itu adalah tugasku!'' tegas pemuda itu sangat keras kepala.
Alisa semakin geram. Ia menatap pemuda itu dengan tatapan yang begitu dingin. Pemuda itu merasakan nya, tapi karena tugas pikir nya ia harus tetap bertahan.
''Keluaarr...'' pekik Alisa begitu lantang. Hingga suara nya begitu kuat membuat orang terkejut hingga berlari ke arah ruangan nya.
''Aaakkhhh... saaakiiittt... Mama... aaahhh...'' jerit Alisa saat merasakan sakit yang tiada Tara pada perutnya.
Membuat lelaki itu terkejut. ''Apa yang terjadi padamu! sini aku bantu!'' bujuknya ingin menyentuh Alisa.
Alisa menepis tangan pemuda itu. ''Keluaarr...'' titah nya lagi.
''Tidak akan!'' sahutnya
''Akkkhh.. Allahu Akbar! Sakitnya... jangan tinggalin Mak, sayang.. bertahan...'' lirih Alisa mencoba untuk menenangkan hatinya yang sedang dilanda rasa amarah.
__ADS_1
Lagi, pemuda itu mematung.
''Kamu lagi hamil?? Siapa ayah nya??'' tanya nya pada Alisa tetap kekeuh ingin membantu Alisa.
''Huffft... hufffttt... hufffttt...'' Alisa tak menyahuti perkataan pemuda itu, ia menepis tangan pemuda itu saat ingin di sentuh oleh nya.
''Keluaarr..'' titah nya lagi.
''Nggak akan! Kasi tau dulu! siapa bayi ayah yang kamu kandung??'' tanya nya tetap ngeyel dan keras kepala.
Alisa terkekeh sumbang. Matanya berkilat amarah melihat pemuda sok kepo itu.
''Untuk apa kamu tau?! kamu bukan siapa-siapa saya! kamu hanya seorang petugas! jangan berlagak jika kamu orang yang sangat dekat dengan saya! ketemu saja baru hari ini? Apa hak mu mengetahui siapa ayah bayi yang saya kandung?! Kamu tidak punya hak sama sekali! Tugas mu sudah selesai! pergilah! saya tidak membutuhkan dirimu!'' tegas Alisa lagi untuk kesekian kali nya.
Pemuda itu menurunkan tangannya dari tubuh Alisa. Walau belum sempat tersentuh oleh pemuda itu.
Tangan pemuda itu mengambang di udara. Sedangkan orang-orang yang berdiri di depan pintu tadi, kini sudah bubar karena melihat karena ada seorang petugas di dalam.
Tapi tidak dengan seorang dokter kandungan, ia berjalan tergesa dan masuk tanpa melihat ada seorang pemuda berdiri mematung disana.
''Kenapa kamu jadi histeris seperti itu?? Bahaya nak.. kamu sedang hamil tujuh Minggu. Hamil seperti ini sangat rawan akan keguguran. Tahan emosi mu. Jika memang tidak mau bicarakan baik-baik ya??'' ucap dokter kandungan itu kepada Alisa.
Alisa hanya meringis dan mendesis menahan rasa kram di perut bagian bawah nya.
''Ada apa, hem?? Ada masalah?? Lihatlah janin mu jadi tegang seperti itu, karena kamu stress dan emosi mu tidak terkontrol.'' ucap dokter itu, lalu menyuntikkan sesuatu ke infus Alisa dan membuat Alisa menjadi lebih tenang.
Setelah tenang, barulah Alisa berbicara. ''Tanyakan pada petugas anda dokter!'' sahut Alisa tanpa memandang pemuda itu. Ia memejamkan matanya sejenak.
''Petugas??'' gumam nya dan saat ia berbalik dokter itu terkejut.
''Loh? Tian?? Sedang apa kamu dikamar Alisa, hah? jangan bilang kamu pelaku nya? Hingga membuat Alisa jadi seperti ini?? Harus berapa kali sih ibu bilang pada mu?? Setiap pasien itu berbeda-beda, nak.. nggak akan ada yang sama seperti yang kamu temani selama ini! Haduuhh.. hampir saja! Ayo keluar! Nanti ibu bicarakan! Kamu ngapain masuk ke kamar ini?? Tugas mu di kamar ujung! bukan kamar ini! Kamar ini tidak butuh petugas seperti kamu! Lihatlah apa yang kamu lakukan?? Kamu hampir saja membunuh calon bayi orang Tian!!''
Deg.
''Aku...''
💕
__ADS_1
Ada yang kesel nggak sama Tian??
TBC