
POV Alisa.
Aku pergi dengan membawa luka hati. Luka yang masih basah akibat perbuatan mantan suamiku.
Ternyata orang yang selama ini ku sebut di dalam doa ku tidak bisa berubah. Padahal aku sangat berharap kepadanya.
Nyatanya aku salah. Berharap kepada manusia itu sangat menyakitkan. Aku lelah. Sedari dulu ingin pergi, tapi tidak bisa.
Takut akan dosa dan juga rasa bersalah ku terhadap ketiga anakku. Padahal aku sangat ingin jika rumah tangga ku berlanjut hingga sampai kakek Nenek.
Ternyata itu hanya impian semua belaka. Impian yang tidak akan pernah terwujud lagi.
Karena kami berdua tidak bersama lagi mulai dari tadi malam. Rasa sakit di kepalaku tidak ku hiraukan saat ini.
Yang terpenting aku harus segera pergi dan mencari tempat tinggal baru. Dengan berbekal uang pemberian Tante Irma dan Mama dari Aceh, aku bisa ngontrak rumah untuk sementara waktu ini.
Tapi aku bingung, harus kemana aku di pagi-pagi begini? Di mana tempat yang bisa ku datangi?
Ya Allah.. sedih sekali nasib ketiga anakku. Di buang dan tak di akui oleh Ayah dan Neneknya karena terlahir dari rahimku.
Aku tak tau harus kemana saat ini. Kami baru saja selesai dari sekolah Ira untuk mengambil surat kepindahan Ira.
Dan ternyata sulit sekali untuk bisa mendapatkan karena temapt sekolah Ira yang baru belum lagi ada.
Ingin aku menangis melihat nasib ketiga anakku. Bagaimana nanti jika kami tinggal di tempat lain? Apakah tidak ada yang akan membuly putri ku?
Apakah di sekolah yang baru nanti mereka berdua akan di beda-beda kan saat berteman?
Ya Allah.. membayangkan saja, membuat hatiku sakit. Lebih sakit saat aku di talak olehnya malam tadi.
Hah! Sekarang aku tetap harus kuat menghadapi ujian ku ini. Aku yakin, setelah ini pastilah ada kebahagiaan yang mengikuti kami.
Bukankah Allah sengaja memberikan ujian untuk menguji hamba-nya? Dan di setiap ujian itu pasti Ia selipkan kebahagiaan?
Aku percaya tentang itu. Dan aku yakin, setelah ini pasti kebahagiaan itu menyertaiku dan ketiga anakku.
Aku hanya kecewa. Kecewa dengan diriku sendiri. Ternyata melanggar perintah orang tua adalah musibah untukku.
Papa.. Maafkan Alisa Pa.. Alisa salah.. Alisa sadar sekarang.. Maafkan Alisa Pa.. maafkan Alisa...
Alisa akan pulang disaat Alisa sudah sukses nantinya. Mama dan Papa harus selalu sehat ya? Sampai dimana nanti kita dipertemukan kembali.
Kepercayaan dan kejujuran adalah awal mula pondasi dari sebuah hubungan. Aku masih ingat kata-kata ini.
__ADS_1
Kata-kata ini adalah pesan Mama saat aku akan berangkat ke Medan mengikuti nya ketika baru menikah dulu.
Aku nekat menikahinya walau tanpa restu Papa. Karena aku yakin, jika apa yang dipikirkan Papa itu adalah salah.
Dan benar! Bukan Papa yang salah. Tapi akulah disini yang bersalah. Tanpa berfikir panjang, aku menikah dengan pemuda yang bahkan aku tidak kenal seperti apa watak aslinya.
Aku bisa apa? Jika memang inilah takdir hidupku.
Aku membangun sebuah pondasi yang kokoh saat rumah tanggaku dengannya sudah berlangsung.
Tapi sayangnya, pondasi itu harus runtuh karena masalah yang membelit nya. Aku tak menyangka, karena kebohongan ku, berakibat panjang di dalam kehidupan rumah tangga kami.
Padahal tujuan ku baik. Aku tak ingin merusak hubungan antara anak dan ibu itu. Tetapi sayangnya, malah aku yang dituduh menjadi pelaku kebohongan itu.
Sebenarnya aku tidak ingin berbohong darinya. Tapi aku terpaksa melakukan nya. Jika nanti aku berbicara, dia akan ngamuk dan marah-marah padaku.
Dan Jika ku tutupi, itupun lebih bersalah lagi. Aku tak tau harus berbuat apa lagi. Semua usaha ku untuk membuat rumah tangga ku tidak hancur, jadi percuma.
Karena ia tidak pernah menerima apapun yang aku katakan.
Pondasi yang sudah kokoh sedemikian rupa roboh hanya karena masalah yang membelit nya.
Ingin ku pertahankan tetap saja tidak bisa. Semua yang sudah di bangun begitu kokoh, hancur seketika.
Dan juga ketika aku berniat ingin membuatnya lagi, malah segala bahan yang dibutuhkan sudah tidak ada.
Sedangkan aku membutuhkan diri nya untuk menjadi nakhoda ku dalam membawa sebuah perahu untuk berlayar sampai nanti di surga nya Allah.
Aku ingin membangun pondasi ku kembali bersama nya untuk yang kedua kalinya. Tapi..
Bisakah aku membangun pondasi itu sendirian? Sedang dirinya sudah tidak mau bersama ku lagi.
Pondasi di dalam rumah tangga itu butuh dua orang untuk bisa membangun nya. Mereka berdua harus saling melengkapi kekurangan nya. Bukan saling menyalahkan saat pondasi itu goyang.
Aku sedih memikirkan hal ini. Aku berharap terlalu tinggi kepada manusia. Dan ternyata aku salah.
Ingin mengulang lagi, tapi sudah tidak bisa. Pondasi yang ku bangun bersamanya, memang sudah tidak kuat sedari awal.
Tapi karena aku kekeh jika aku bisa membangun pondasi itu kembali, maka aku berusaha sekuat mungkin untuk bisa mewujudkan nya.
Bukankah segala sesuatu nya harus dimulai dulu? Baru setelah itu di putuskan? Apakah pondasi itu bisa didirikan sendiri, atau harus berdua? Atau juga harus ikut campur tangan orang lain dalam membangun sebuah pondasi itu?
Semua itu butuh pemikiran yang matang. Hidup berumah tangga itu seperti kita sedang berlayar di lautan.
__ADS_1
Jika nakhoda kita jalan ke depan, maka kita akan ikut ke depan. Dan jika ia berjalan ke kanan, maka kita pun akan ikut ke kanan. Begitupun sebaliknya.
Semua itu saling berkesinambungan. Berlayar sendiri tanpa nakhoda itu juga tidak bisa. Siapa yang menyetir biduk perahu itu jika nantinya terjadi sesuatu saat mereka sudah di tengah jalan?
Semua itu harus di pikirkan matang-matang sebelum mengambil keputusan. Ku pikir ia bisa membawaku bersama ketiga anakku di dalam perahunya. Ternyata tidak.
Dan ternyata aku salah. Pondasi yang ku bangun hancur seketika bahkan sebelum aku memulainya kembali.
Ia tak ingin membawaku bersama nya. Ia hanya ingin membawa orang lain, bukan aku.
Dan ternyata membangun sebuah pondasi dari awal sudah salah, maka tiba di pertengahan pun akhirnya rubuh juga.
Segala sesuatu yang di bangun tanpa memikirkan persetujuan nya, maka semua itu percuma saja.
Walaupun ingin di bangun kembali tetap tidak akan kokoh. Maka dari itu, apa yang sudah hancur tidak bisa di bangun lagi.
Untuk membangun yang baru harus membuang dasar pondasi yang lama. Dengan cara mencari bahan dari tempat lain lagi.
Dengan kata lain. Jika ingin membangun rumah tangga bersama nya, itu tidak bisa lagi. Karena pada dasarnya pernikahan itu tanpa ada restu kedua orang tua.
Dan jika ingin membangun pondasi yang baru, maka harus di mulai dari orang yang baru juga.
Harus di atur ulang segala sesuatunya. Inilah kisah antara pondasi dan cinta.
Membangun sebuah pondasi, butuh cinta di dalamnya. Tanpa cinta pondasi itu tidak akan kokoh seperti yang sebelumnya.
Ia akan goyah saat badai menghantam nya. Inilah kisah ku yang penuh liku-liku dalam biduk rumah tangga.
Jika aku ingin membangun pondasi yang baru maka harus dengan orang yang baru. Tapi untuk sementara ini, aku tidak ingin lagi membangun pondasi itu.
Aku akan fokus pada hasil dari pembangunan pondasi itu. Karena ketika aku membangun pondasi itu, aku mendapat sesuatu yang istimewa disana.
Semoga ke depannya jika aku ingin membuka lembaran baru lagi dan juga ingin membuat pondasi baru lagi, aku harus belajar dari pengalaman masa lalu.
Masa lalu tetap akan menjadi masa lalu. Dia tidak akan kembali ke masa depan dengan kita terus mengingat nya.
Aku memaafkan segala yang terjadi pada diriku karena nya. Karena kunci sebuah kebahagiaan adalah merelakan dan melepaskan.
Ikhlas dan sabar harus selalu mengikutinya. Semoga aku kuat ke depannya dalam mendidik ke tiga anakku.
Selamat tinggal mantan suamiku. Aku pergi. Pergi meninggalkan dirimu yang bukan menjadi milikku lagi.
Aku pergi dan tidak akan pernah kembali lagi.
__ADS_1
Alisa Febriyanti.
The End.