
''Kau ingat Mil, apapun yang kau lakukan sekarang, nanti kau akan menuai hasilnya. Hukum tabur tuai itu ada Mil.. apa yang kau tabur itu yang kau tuai! Ingat Mil, segala perbuatan mu sekarang kau akan mendapatkan hasil dari perbuatan mu itu.'' ucap pak Daman.
Emil termenung sesaat dengan perkataan Abang ipar nya itu.
''Abang ingin tanya, apakah kau memang bertujuan mendapatkan Alisa hanya untuk menikmati kesucian nya saja? Tak ada yang lain??'' selidik pak Daman.
Emil menoleh, ia menghembuskan nafasnya.
''Ayo kita kembali dimana kak Rita tadi melihat ku bersama gadis itu. Biar nanti ku jelaskan semuanya disana.'' lirihnya begitu pelan.
Pak Daman mengangguk dan mengikuti Emil yang telah berjalan duluan dimana gadis itu sedang menunggu mereka.
Sesampainya disana, gadis belia itu mendekati Emil dan ingin memeluk nya. Tapi tidak jadi karena mendengar suara bariton seseorang.
''Abang...''
Emil diam di tempat. Mata nya menatap gadis belia itu dengan dalam. Gadis itu tersenyum. Ia ingin menubruk Emil dan memeluknya tapi..
''Jangan menyentuh sesuatu yang seharusnya bukanlah menjadi milik mu! kau seorang gadis tetapi sikap mu itu mencerminkan dirimu yang sesungguhnya! Menjauhlah! kalian berdua bukan mahram!!'' seru pak Daman dengan suara bariton nya.
Deg.
Gadis itu berhenti di tempat, ia mengurungkan niatnya untuk memeluk Emil. Dan menatap Emil ingin bertanya.
Emil diam saja.
''Duduk!'' titah pak Daman.
Mereka berdua duduk. Dengan pak Daman ada dihadapan mereka berdua.
''Berapa umur mu??'' tanya nya pada gadis belia itu.
''16 tahun pak.'' sahutnya.
''Masih muda ternyata dan masih sekolah ya?'' ucap pak Daman sembari manggut-manggut.
Gadis itu masih saja diam.
''Kamu tau siapa wanita tadi yang datang bersama ku??'' tanya nya lagi.
Gadis itu menggeleng. ''Aku tidak tau.. yang aku tau jika wanita itu mengakui jika dia istri nya bang Emil dan yang satu lagi jika dia kakak nya bang Emil.'' sahutnya.
''Siapa nama mu??''
''Eva Sinaga.'' sahut gadis itu.
''Dari mana kamu kenal dengan Emil??'' selidik pak Daman.
''Dari Pak Jali. Beliau mengatakan jika bang Emil ini sedang mencari seorang istri, karena dia masih lajang..'' sahutnya lagi sembari menatap Emil.
__ADS_1
''Hoo.. begitu rupanya.. Dan kau, Emil! Apakah kau benar mengakui pada gadis ini jika kau masih lajang??''
''Aku sengaja tidak memberi tahunya, karena aku pikir itu tidak penting. Cukup aku saja yang tau jika aku bukanlah pria lajang lagi.'' sahut Emil.
Membuat gadis itu terkejut.
''Lalu, mengapa sampai seminggu ini kau tidak pulang kerumah pada istrimu? Apakah karena kau punya mainan baru, makanya istri mu kau lupakan??''
Deg.
''Ti-tidak! Bu-bukan begitu bang!''
Pak Daman terkekeh melihat tingkah Emil seperti ketahuan sedang mencuri.
''Seberapa nyaman nya kau tinggal dengan gadis lain yang bukan istrimu, tidak bisa merubah status mu! Jika kau! adalah seorang suami! Seorang pemimpin! Belum puas kau kau bermain-main Emil?!''
Deg.
Lagi dan lagi Emil terkejut. Begitu juga dengan gadis itu.
''Jika tujuan mu hanya untuk kesenangan semata, ingatlah Milham Syahputra! ketika nanti kau! memiliki seorang putri, maka putri mu juga akan diperlakukan demikian! Sama seperti kau sekarang, sengaja mempermainkan gadis lain! Apakah itu yang kau inginkan Milham Syahputra bin Ibrahim???''
Deg.
Lagi, Emil terkejut dengan perkataan kakak iparnya ini.
''Kenapa?? Kau terkejut dengan pernyataan ku Emil?? Ingatlah Emil, hukum tabur tuai itu berlaku di dunia ini! Sering disebut dengan hukum karma. Apakah itu yang kau ingin kan Emil? kau ingin melihat putri mu nantinya di perlakukan sama seperti yang kau lakukan sekarang kepada gadis lain??''
''Dan kau! Apakah kau juga ingin melakukan hal yang serupa dengan Emil? Apakah kau tidak mengingat jika kau itu seorang perempuan? Bagaimana nantinya jika kau sudah menikah, dan memiliki anak perempuan. Sedang anak perempuan kau itu bersifat sama seperti mu, ingin merebut suami orang??''
Ddddduuuaaarrrr..
Gadis itu tersentak dengan ucapan pak Daman. Ia terkejut, tak pernah menyangka jika perbuatan nya itu akan berimbas pada putri nya kelak.
''A-aku.. sebenarnya tidak berniat seperti itu, pak! Aku hanya tau jika bang Emil ini masih lajang.. tidak ku tau jika dia sudah menikah.. dia nya diam saja tidak mengatakan apapun pada ku.. jadi aku tidak salahkan pak dalam hal ini??'' tanya gadis yang bernama Eva itu.
''Ya, kau tidaklah salah! Yang bersalah disini adalah pemuda yang duduk di samping mu ini! Demi bisa mempermainkan gadis lain, ia rela menutupi identitasnya bahwa sebenarnya dia sudah menikah! Baru dua Minggu! Aku yang menjadi saksi nikah nya saat dia menikah dengan Alisa.''
Emil memejamkan matanya. Bayangan raut wajah sendu Alisa masih terbayang di pelupuk matanya.
Sakit melihat istri yang dicintai nya menangis seperti itu. Tapi karena ia lebih mementingkan nafsu, maka inilah yang sekarang terjadi pada dirinya.
''Aku heran dengan kau Emil! Kurang puaskah kau dengan Alisa?? Bukankah dia masih perawan saat menikah dengan mu?? Jarang-jarang loh.. gadis jaman sekarang ketika menikah masih perawan? Apalagi kita ini di Medan? Sangat sulit mendapatkan yang seperti itu, terkecuali dia adalah gadis istimewa!''
Deg.
Lagi gadis itu terkejut. Ia jadi salah tingkah mendengar ucapan pak Daman. Sedangkan Emil menghela nafasnya.
''Ya, aku tau itu bang! Makanya aku sangat merasa bersalah saat aku tidak pulang selama seminggu ini. Tapi karena permintaan Eva.. aku terpaksa bekerja dari sini. Tapi Abang jangan salah paham pada ku. Aku dengan nya tidak tidur bersama. Kami tidur terpisah! Ku tidur dengan pak Jali di kamar lain. Tapi malam kemarin iya, aku tidak sadar ketika Eva tidur bersama ku. Lagipula aku tidak melakukan apapun padanya. Jangankan menyentuhnya, memeluk nya pun aku tidak! Cuma tadi saja, karena ia merengut terpaksa aku harus menyuapi nya makan. Dan juga aku berjanji membawanya malam Minggu ini..'' lirih Emil.
__ADS_1
Bang Daman tersenyum smirk. ''Kau lihat Emil, perbedaan antara istri sah mu dan selingkuhan mu ini?!''
Emil membulatkan matanya begitu juga dengan gadis itu.
''Kenapa?? Ada yang salah?? Apapun perbuatan mu terhadap gadis ini kau telah melakukan dosa besar Emil! Menyia-nyiakan istrimu tanpa memberi kabar apapun padanya hingga ia menangis menanti kepulangan mu! Sungguh tega kau Emil! Jika memang kau tidak bisa memperlakukan Alisa dengan baik, untuk apa kau menikahi nya?! Jika akhirnya kau torehkan luka yang begitu dalam untuknya! Seumur hidupku, aku tidak pernah menyakiti hati kakak mu! Kau tau Kenapa? Karena jika aku melakukan hal itu, tidak menutup kemungkinan bukan, jika putri ku nantinya yang menerima imbas akibat keserakahan ku karena lebih memilih gadis lain daripada istri sah ku?!''
''Sadarlah Emil sebelum semuanya terlambat! Jika sudah, maka kau tidak bisa berbuat apapun lagi. Ingat Mil, hukum tabur tuai berlaku di dunia ini.'' tegas pak Daman lagi.
Sengaja ia mengulangi beberapa kali agar Emil sadar jika apa yang dilakukan nya adalah salah.
Emil terdiam, tidak bisa mengatakan apapun lagi. Lama mereka bertiga diam bersama.
''Pulanglah! Alisa menunggu mu! Seberapa kuat ia menahan rasa sakit ini, namun ia tetaplah seorang istri. Apa yang bisa ia perbuat jika suaminya melakukan kesalahan seperti ini selain menangisi nasibnya karena telah menikah dengan mu. Pulang lah Emil, Abang akan memberikan gaji mu sekarang. Setelah nya temui istri mu! Pasti saat ini dia sedang meratapi nasibnya. Jika memang kau tidak menginginkannya lagi, maka kembalikan sebagaimana dulu kau mengambilnya dari kedua orang tua nya.''
Emil menunduk menyesali perbuatannya.
''Ya aku akan pulang sekarang juga.'' sahutnya.
''Dan kau Eva! kembali lah pada keluarga mu! kau lebih berhak bersama keluarga mu di bandingkan dengan suami orang. Kau masih muda, masih banyak yang harus kau kejar. Pesan ku, jadi lah perempuan yang punya harga diri, jangan karena punya ambisi ingin memiliki, kau menghalalkan segala cara. Itu tidak baik untuk mu. Ingat hukum tabur tuai. Apa yang kau tabur itu yang kau tuai kelak. Pulanglah!'' titah nya pada gadis belia itu.
Gadis itu mengangguk kemudian berlalu pergi meninggalkan Emil dengan pak Daman disana.
''Ini uang gaji mu Minggu ini. Jangan paksakan kehendak jika Alisa masih tidak ingin berbicara pada mu. Ingat pesan ku tadi. Semua ini demi keutuhan keluarga mu! Jangan di ulangi lagi Emil! cukup sampai disini saja. Jika sampai terjadi lagi, maka aku sendiri yang akan memutuskan hubungan mu dengan istrimu.'' tegas Pak Daman.
Emil mengangguk. ''Terimakasih bang.. aku pulang..''
''Ya,'' sahut pak Daman.
Setelah nya Emil berlalu pergi kerumah gadis itu, dimana pakaian nya sudah di letakkan oleh gadis itu di kursi depan rumahnya.
Begitu juga dengan gadis itu. Ia menatap dalam pada Emil. Matanya berkaca-kaca. Tapi tak berani mengungkapkan nya pada Emil.
Emil tau, tapi apa yang harus ia perbuat, jika Alisa lebih penting dari pada gadis itu. Setelah berpamitan dengan ibu dari gadis itu, Emil berjalan ke depan dan naik angkot untuk sampai ke tujuan.
Ibu gadis itu terlihat kecewa. Tapi ia tidak bisa berbuat apapun jika Emil lebih memilih istrinya ketimbang putrinya.
Pak Daman menghela nafas panjang.
''Semoga kau berubah Cu. Jika tidak, maka kau sendiri akan tau akibat dari perbuatan mu terhadap putri pak Yoga. Aku yakin, pak Yoga pun berat melepas putri nya pada mu. Karena ia tau seperti apa dirimu. Firasat seorang ayah tidak pernah salah dalam menilai.'' gumam pak Daman pada diri sendiri. Sembari menatap gadis yang sedang menangis di pelukan ibu nya.
💕
TBC
Hai hai.. mampir yuk ke cerita baru othor. Sekuel dari cerita ini sudah terbuat loh udah hampir seratus juga bab nya.
Cus kepoin! Ramaikan disana dengan like dan komen klean!
__ADS_1
Yuk! Mampir disana! ceritanya nggak kalah seru dari yang disini! 😊😊😘😘