Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Alvian Dharmawan


__ADS_3

''Maukan Om Vian, nemani kakak saat ayah pergi kerja?? Bukannya kakak nggak mau sama Ayah... hanya saja... ayah berubah Om! Ayah nggak kayak dulu lagi..'' lirih putri kecil Alisa.


Membuat Alisa mematung diambang pintu dapur saat mendengar ucapan putri kecilnya. Alvian tersenyum.


''Kakak nggak boleh ngomong gitu.. Ayah Emil itu kerja. Cari uang untuk kakak dan adek yang sebentar lagi akan lahir. Jadi nggak boleh ngomong kayak gitu ya? Om akan nemani kakak setiap hari, kalau Om nggak lagi kuliah. Kakak kan tau, jika Om sedang kuliah menjadi dokter anak!'' sahut Alvian.


Membuat Ira mendongak. ''Dokter?? Om ingin jadi dokter?? Kalau begitu kakak juga mau ah jadi dokter! Tapi... ayah pasti nggak ngizinin. Katanya sekolah itu menghabiskan banyak uang!'' celutuk gadis kecil itu, setelahnya bibirnya merenggut dan mencebik.


Membuat Alvian tertawa. ''Nggak akan habis sayang.. apalagi kalau kamu rajin berdoa. Minta sama Allah, agar Allah memudahkan rezeki ayah. Jadi anak yang baik dan patuh sama orang tua, pastilah rezekinya selalu mengalir deras.'' jelas Alvian membuat Ira tersenyum.


''Kakak akan rajin berdoa dan minta sama Allah, agar Mak kakak akan mendapatkan rezeki banyak!''


''Eh? kok Mak?? Bukan ayah??'' tanya Alvian, karena terkejut dengan ucapan putri kecil Alisa.


''Karena jika Mak yang dapat banyak uang, Mak nggak akan pernah lupa sama kakak. Berbeda dengan ayah, kalau ada uang banyak, ayah pasti keluar setiap malam Minggu nya tanpa mengajak kakak sama Mak! Om tau, jika Mak selama ini sering menangis sendirian di kamar kalau ayah pergi di setiap malam Minggu nya!''


Deg.


Alvian terkejut. Begitu juga dengan Alisa. Ia tak habis pikir, bagaimana putri kecilnya itu bisa tau, jika ia selama ini sering menangis kalau melihat Emil pergi.


''Kakak!'' tegur Alisa.


Membuat putri kecilnya itu menunduk. Ia tak berani menatap Alisa. Ia beringsut duduk di sebelah Alvian.


Alisa menghela nafasnya. ''Nak.. nggak baik ah! ceritakan Mak sendiri dihadapan orang lain. Dosa loh.. itu namanya kakak sedang membuka aib nya Mak. Mau kakak masuk neraka, karena membuka aib Mak sama orang??'' tanya Alisa begitu lembut kepada putrinya.


Alvian tertegun mendengar ucapan Alisa. Ia menatap Alisa yang juga kini sedang menatap nya.


Alisa tersenyum. Alvian tersentak. ''Jangan di dengarkan ya bang, apa yang Ira katakan? Maklumin aja, karena ia masih anak kecil.''


''Anak kecil lebih jujur dari pada orang dewasa loh Lis..'' sahut Alvian masih dengan menatap Alisa.


Setelah sadar ia mengalihkan perhatian nya pada Ira yang sudah bersembunyi dibalik tubuhnya.


Alvian terkekeh. ''Kamu kenapa kak??''


Ira menggeleng. ''Takut...'' cicit nya.


Membuat Alvian lagi lagi terkekeh. ''Takut sama siapa, hem??''


''I-it-itu...'' tunjuknya pada Alisa.


Alisa melototkan matanya. Alvian yang melihat Alisa tertawa. ''Nggak boleh gitu sama Mak.. dosa loh.. Mak nggak akan marahin kakak kok.'' bujuk Alvian, agar Ira mau keluar dari persembunyiannya.


Ira menggeleng. ''Mak galak loh, Om! kakak takut...'' cicitnya lagi.


Alvian menoleh pada Alisa. Alisa sudah berwajah datar. Pertanda dirinya sedang tidak baik-baik saja.


Alvian tertawa. Alisa mendengus. Sedangkan Ira masih saja bersembunyi di balik tubuh Alvian.


Saat mereka lagi asik-asik nya menggoda Alisa, terdengar suara seseorang mengucapkan salam.

__ADS_1


''Assalamualaikum... Lis!'' sapa Rita.


''Waalaikum salam kak.. ih bawa apa itu??'' tanya Alisa saat melihat Rita membawa rantang.


''Makanan buat kamu dan ponakan ku! Mana Ira??'' tanya Rita.


Ia belum sadar jika ada seseorang disana. Setelah ia duduk baru ia melihat Alvian.


''Loh?'' tunjuknya pada Alvian.


''Kak.. aku kesini bawa Niko! tuh sibuk sama nonton. Sedang yang satunya lagi ngumpet! takut sama Mak nya. Katanya Mak nya itu galak kalau lagi marah.'' Ucap Alvian sengaja untuk menggoda Ira.


Ira mencubit tubuh Alvian. Membuat sang empu terkekeh. Rita yang melihat pun ikut tertawa.


Alisa menghela nafas pasrah. Pasti seperti itu jika tiap kali Alvian datang menemui mereka.


Mereka asyik bersenda gurau dengan Alvian sebagai tokoh pembuat kelakarnya. Sedangkan Ira jadi korban dari kelakar Alvian.


Alvian sangat menyukai gadis kecil itu. Karena dengan melihat Ira seperti melihat Alisa versi kecilnya.


Alvian terkekeh. Bukan tanpa sengaja ia selalu datang ke rumah Alisa dengan alasan Niko.


Tapi ia memang ingin melihat Alisa secara langsung. Entah mengapa, sejak pertama kali Rita menugaskan nya untuk selalu mengawasi Alisa dan juga Emil, Alvian merasa jika ia benar-benar menyukai Alisa.


Walaupun ia tau, jika Alisa itu istri orang. Tapi itu semua bukan salah nya kan?? Jika ia menyukai Alisa??


Kita tidak tau pada siapa kita akan jatuh cinta nantinya. Sama seperti Alvian ini. Pertama kali ia melihat Alisa, hatinya berdesir terhadap wanita itu.


Maka lebih baik ia pendam sendiri saja. Cinta dalam diam.


Pukul dua siang, Rita pulang kerumahnya. Meninggalkan Alisa dan Alvian disana. Mereka duduk di depan tivi dengan dua bocah itu tertidur di depan mereka.


Alisa menatap ke depan tivi, tapi pikiran nya melayang entah kemana. Melihat waktu terus berjalan, Alvian ingin minta ijin untuk sholat dirumah itu.


''Dek...''


''Eh? Apa bang??'' Alisa terkejut saat Alvian memanggilnya.


''Boleh Abang numpang sholat nggak?? Abang nggak mungkin pulang, Karena Niko masih tidur disini. Apakah boleh??'' tanya nya dengan menatap Alisa.


Alisa mengangguk. ''Boleh bang! Sebentar aku ambilkan sajadah dulu ya?''


Alvian mengangguk. Sedangkan Alisa masuk ke kamar dan mengambil sajadahnya yang biasa ia gunakan untuk sholat.


Ia bentangkan ke arah kiblat. Melihat Alisa telah siap dengan sajadahnya, Alvian bangkit menuju dapur untuk berwudhu.


Selesai wudhu, Alvian sholat disebelah Alisa duduk. Karena memang posisi rumah Alisa yang kecil jadilah hanya tersisa sedikit saja tempat untuk sholat.


Melihat Alvian sholat, hati Alisa menghangat. Ia mengingat Emil yang tidak pernah melakukan sholat sama sekali.


Alisa menghela nafas panjang. Kini Alvian sudah selesai sholat, ia kembali duduk di dekat Alisa yang sedang menyender untuk merebahkan punggung nya sejenak karena merasakan sakit.

__ADS_1


Alvian tau itu, karena ia juga seorang dokter. Seharusnya setahun yang lalu ia telah lulus. Tapi karena terkendala biaya, jadilah ia mengambil cuti selama setahun untuk mencari pekerjaan.


Beruntung nya universitas itu memberikan izin. Karena Alvian adalah mahasiswa yang kompeten dalam tugasnya.


Maka dari itu, kepala universitas memberikan izin cuti untuknya tapi hanya setahun saja.


Alvian mencoba membuat Alisa nyaman bersamanya. Ia mencoba untuk bercakap-cakap berbagai hal, termasuk kandungan Alisa.


Alisa menjawab nya dengan lugas. Walaupun ia tau, jika Alisa selama tiga bulan ini ialah yang mengantarkannya.


Termasuk saat Alisa mengalami pendarahan. Untungnya tidak terjadi apa-apa. Saat mereka sedang asyik-asyiknya berbicara dan tertawa bersama, terdengar suara deru motor diluar.


Alisa tau itu siapa, termasuk Alvian. Saat orang itu masuk, pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah Alisa sedang berbicara dengan Alvian sembari tertawa-tawa.


Membuat hatinya terbakar. Emil mengepalkan tangannya. Ia berdehem untuk menghentikan obrolan mereka berdua.


Dan berhasil.


Alisa dan Alvian menoleh. Raut wajah mereka berdua menjadi datar seketika. Emil yang melihat itu semakin panas hatinya.


''Hooo.. jadi ini yang kau lakukan dibelakang ku, heh?! Saat suami kerja, kau malah asik berduaan dengan pemuda lain! Dasar wanita tidak tau diri!!'' ucap Emil begitu menohok hati Alvian.


Alvian menatap Emil dengan tatapan membunuhnya. ''Jaga bicara mu bang! yang kau sebut istri tidak tau diri itu, istri sah mu! bukan gundik mu!'' balas Alvian.


Membuat Emil semakin meradang. ''Sedang apa kau di rumah ku?! Untuk apa kau kesini?! Apakah kau juga ingin menggoda istri orang?? Untuk kau jadikan istri mu begitu?!'' sindir Emil.


Membuat Alvian tersenyum sinis ke Emil. ''Nggak salah Abang ngomong gitu ke aku?? Bukannya Abang ya? Yang ingin menikahi gadis lain sementara masih berstatus kan suaminya Alisa?!'' balas Alvian lagi.


Emil semakin meradang. Ia menatap Alisa yang juga sedang menatap nya dengan raut wajah datar.


''Cih! jika dengan orang lain kau tersenyum manis dan tertawa lebar! Sedang dengan ku? Selalu wajah datar itu yang kau tunjukkan! Bagaimana aku bisa betah dirumah jika wajah mu selalu membuatku mual dan malas setiap kali pulang ke rumah?? Cih! Cantik paras tapi kekakuan ?? heh! Ja laang!!'' tukas Emil begitu melukai hati Alisa.


Alisa yang mendengar nya hanya bisa menatap Emil dengan tatapan datar nya. Sedangkan Alvian, ia semakin mengepalkan tangannya saat Emil kembali menghina Alisa.


''Aku tegaskan disini pada kau bang Emil! Aku tau, kau lebih tua setahun dariku! Tapi pikiran dan otak mu itu hanya bisa untuk berfikir yang buruk-buruk saja terhadap istrimu! Sadarkah kau bang Milham, jika perkataan mu itu, telah melukai hati istrimu?? Sadarkah kau jika selama ini, Alisa terluka karena kelakuan mu?! Sekarang kau sebut ia sebagai ja laang?? Dimana nya Alisa bisa menjadi seorang ja laang?? Bisa Abang jelaskan??''


''Cih!!'' Emil berdecih.


''Ja laang yang kau sebut itu adalah ja laang yang selama ini telah mengurusmu! Ja laang yang kau sebut itu adalah ja laang yang telah melahirkan penerus mu! Dan sekarang karena kau selalu menggagahi ja laang mu ini, dia jadi hamil lagi keturunan mu! Itukah yang namanya ja laang bang Emil?!? Apakah serendah itu penilaian mu terhadap istrimu?!'' balas Alvian menggebu-gebu.


Emil menatap datar pada Alvian yang sedang menggurui nya sekarang ini.


''Kenapa Abang diam?! Apakah yang aku katakan ini benar?! Jaga cara bicara mu bang Emil! Kau harus ingat jika Alisa ini gadis baik-baik yang kau ambil secara paksa dari kedua orang tuanya! masihkah kau ingin menuduhnya macam-macam?! Padahal kalau di pikir kaulah yang selalu berbuat yang macam-macam! Hebat sekali kau bang! Lempar batu sembunyi tangan! Semut diseberang sana terlihat oleh mata jeli mu! sedangkan gajah didepan matamu tak kau hiraukan! Sebelum kau menuduh istrimu bermacam-macam, maka ingatlah dulu seperti apa kelakuan mu selama ini!''


Deg.


💕


Aduh... kena lawannya nih bang Emil!


Habis lu bang! Rasain!!! 🤣🤣🤣

__ADS_1


TBC


__ADS_2