
Setelah mendapat kabar dari Alvian, jika Maya sedang mengamuk memukuli Emil, Alisa dengan cepat berlari untuk mengejar nya.
Alisa berlari dengan kencang. Tiba disana, ia melihat Maya yang sedang menyepak Emil terus menerus hingga lelaki itu kesakitan. Ia meraung menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Jangan salahkan Maya jika memukul Emil seperti itu. Sebelum ia sekolah jurusan perawat, Maya adalah seorang juara karate tingkat kabupaten. Dirinya pemegang piala terbaik wanita dalam hal karate.
Alisa yang melihat Emil di pukuli seperti itu tertegun. Wajah lebam dan juga tubuh yang sudah di penuhi tanah.
Belum lagi ia meringkuk menahan sakit di pusat tubuhnya akibat terdangan Maya. Alisa segera mendekati Maya yang sedang kalap memukul Emil.
Beruntungnya Alvian dengan sigap menahan tangannya. Maya hanya bisa memukul Emil dengan kaki nya.
Alisa mendekati Maya yang lost kontrol. Ia memeluk adik angkat nya itu dengan erat.
''Berhenti Maya! Cukup! Kau akan membunuhnya! Apa kau ingin bersifat sama seperti nya?!''
Deg!
''Mbak Alisa!'' pekik Maya.
Kakinya berhenti untuk menendang Emil yang sudah terkapar tak berdaya. Sesekali lelaki itu meringis menahan sakit.
''Mbak! Kamu sudah mendingan? Kepala mu gimana? Masih sakit? Lana mana?'' cecar Maya dengan banyak pertanyaan.
Alvian terkekeh mendengar istrinya itu sudah kembali lagi. Sedangkan Alisa mengusap tubuh Maya.
''Tenang Dek-,''
''Astaghfirullah Ya Allah.. ada apa dengan mu Nak.. siapa yang melakukan ini!" pekik Nenek Rima saat melihat ayah Emil jatuh terkapar di tanah, dengan Alisa memeluk Maya.
"Hei! Kamu wanita pembawa sial! Kamu apakan hah? anak saya?! Berani-beraninya kamu main keroyokan! Saya akan laporkan hal ini pada pihak berwajib!"
Maya kesal mendengar ucapan nenek Rima. Dengan cepat ia melepaskan pelukannya dari Alisa dan menoleh nenek gayung itu.
__ADS_1
"Apa katamu? Melapor pada polisi? Nggak salah tuh? Yang ada saya yang akan melapor kan anak Ucu untuk di bawa ke kantor polisi atas tuduhan penganiayaan dan pembunuhan terhadap istri dan anaknya!"
"Apa?!" pekik Nenek Rima.
"Apa? Terkejut? Ya, itulah yang dilakukan oleh putra sialan mu itu?! Gara-gara mendengar ucapan mu dan ucapan calon menantu durjana mu itu, lelaki ini dengan tega nya memukuli istrinya! Dan juga Lana yang jadi korban ke brutalan nya! Saya yang menjadi saksi saat tadi Emil mencekik Lana hingga tidak bernyawa!"
Deg!
"Apa?! Lana?! Meninggal?! Apa benar itu Emil?! Kenapa kamu harus membunuh darah daging mu sih! Mak menyuruh mu untuk menceraikan wanita sial itu! Bukan untuk membunuh darah daging mu!" pekik Nenek Rima dihadapan wajah Emil.
Emil diam. Ia tidak ingin menyahuti ucapan Mak nya ini.
"Cih! Mak dan anak sama saja kelakuan nya! Yang satu sialaaaannn yang satu lagi nenek gayung! Benar-benar keluarga tidak tau adab kalian! Jika kak Rita ada disini, pastilah kalian berdua sudah habis di tangannya!"
"Diam kamu wanita buluk! Kamu tidak perlu ikut campur dalam urusan keluarga ku! Kamu bukan siapa-siapa disini! Ayo Mil! ceraikan wanita itu sekarang juga. Setelah ini kau bebas bersama nya! Tidak usah memikirkan anak-anak mu! Suatu saat ia akan tau yang mana ayahnya! Ia akan mencari saat ia butuh wali nanti! Ayo! Tunggu apalagi? Kamu ingin Mak mati jantungan karena setiap hari harus berhadapan dengan istrimu itu? Wanita itu tidak pantas bersanding dengan mu! Dia pembawa sial Nak! Ingat itu! Ayo selesai kan segera!" desak nenek Rima.
Emil terdiam, ia masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya akibat tendangan Maya tadi.
"Cuih! Tak Sudi aku!" ketus Maya.
Alisa menarik tangan Maya dan menggeleng kan kepalanya. Nenek Rima semakin geram dengan kelakuan Alisa ini.
Sementara dirumah, Ira dan Lana dibuat bingung karena Mak nya tak kunjung kembali. Belum lagi Annisa yang terus menangis sedari tadi.
"Kak? Kita susulin Mak aja yuk! Kasian adek.." ucap Lana.
Ira bingung, tapi melihat Annisa terus menerus menangis membuatnya luluh dan mengangguk.
"Ayo kita susulin Mak kesana! Barangkali Ayah parah banget luka nya ya?"
"Entahlah kak! Abang juga nggak tau kak.. sebaiknya kita lihat saja sendiri seberapa parahnya lelaki itu!" ketus Lana.
Ira menoleh dan melihat Lana. Terlihat wajah Lana tidak bersahabat sama sekali saat mengucapkan seseorang yang baru saja mencoba membunuhnya.
__ADS_1
"Ayo! Jangan lupa pintunya di kunci!" titah Ira.
Lana mengangguk, dengan segera ia mengunci pintu dan mulai berjalan tergesa dimana Mak mereka berada.
Dari kejauhan sudah terdengar suara melengking Nenek Rima saat adu mulut dengan Maya.
Mereka berhenti mendengarkan ucapan nenek Rima yang begitu menohok hati mereka.
Mereka bertiga berdiri tepat di belakang dokter Alvian. Sedangkan Annisa saat mendengar suara lengkingan nenek Rima berhenti menangis.
"Ayo Mil! ceraikan wanita sial itu! Kamu masih ingat tidak, seperti apa kelakuan istri mu sama Mak kemarin saat Mak menjenguk nya? Tega-teganya dia menyuruh Lana untuk berbicara begitu kasar terhadap Mak. Kamu masih ingin bertahan dengan wanita seperti itu? Buat apa memiliki anak yang tidak patuh sama orang tua. Lagipun mereka bertiga kan keturunan Alisa? Keturunan pembawa sial! Masih inginkah kamu bertahan dengan nya? Ayo Mil! cepat ceraikan wanita sial itu!" seru nenek Rima lagi.
Ia begitu kesal melihat Emil yang hanya terdiam saja. ''Apalagi yang kamu tunggu?!'' desak nenek Rima
Maya terkekeh melihat kelakuan Nenek Rima. ''Ternyata yang jadi orang ketiga dalam rumah tangga mu Mbak, adalah ibu mertua mu sendiri! Bukan wanita lain! Wanita lain itu hanya sampingan buat suami Mbak! Dan juga hobi barunya!'' celutuk Maya, membuat Nenek Rima meradang.
''Diam kamu! Jangan urusi urusan keluarga anakku! Pergi kau! Kami tidak ada urusannya dengan mu! Saudara bukan! Adik apalagi? Kau! Hanya seorang benalu yang sedang numpang hidup bersama suami mu! Kau pun sama seperti Alisa! Wanita pembawa sial! Semua wanita yang memakai jilbab tidak ada yang baik! Semua nya buruk! Cih! Sok alim! Tapi kelakuan seperti iblis!''
''Kau yang seperti iblis! Dengan teganya kau menyuruh putramu untuk menceraikan istrinya! Apa nama nya kalau bukan iblis! Iblis nyata berupa manusia!''
''Diam kalian!!'' sentak Emil.
Membuat nenek Rima dan Maya terdiam seketika. ''Kau Alisa! Mulai malam ini, kau bukanlah istriku lagi! Aku menceraikan mu! Aku talak kau dengan talak tiga!'' seru Emil begitu lantang.
Ddduaarr..
Petir di langit kelam tiba-tiba saja menyambar. Annisa yang terlelap jadi terkejut. Bayi kecil itu mengusap kencang.
Sedangkan Kelima orang itu membatu di tempat mendengar ucapan talak dari Emil.
''Akhirnya... lepas juga! Ingat kau Alisa! Mulai malam ini kau bukanlah menantu ku! Dan juga ketiga anak mu bukanlah cucuku lagi! Aku benci keturunan ku yang lahir dari rahim wanita pembawa sial seperti mu!!''
TBC
__ADS_1