Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Perjalanan cinta baru tapi membawa Nestapa


__ADS_3

Selesai dengan menolong Alisa, Tian kembali ke tempatnya untuk melaksanakan tugas berikutnya.


Tadi ia memang sengaja datang ke kamar Alisa untuk meminta maaf dan juga membantu gadis itu.


Dari yang ia dengar, jika kelurga Alisa termasuk suami nya hanya datang pada sore hari saja.


Setelah Tian selesai ke tempatnya kini tinggallah Alisa seorang diri. Ia tersenyum ketika mengenang Tian.


Pemuda yang baru saja di kenalnya. ''Kenapa aku merasa jika Tian sangat mirip dengan Shinta ya?? Hmm.. apa kabar sahabat ku yang satu itu? Jadikah ia kuliah di Medan mengambil jurusan kebidanan?? Kalau iya, pasti suatu saat kalian akan bertemu. Dan aku doakan, jika Tian dan Shinta berjodoh nantinya. Amiiin..'' gumamnya pada diri sendiri.


Sore harinya Emil datang setelah selesai dari pulang kerja. Dengan tubuh yang lelah, Emil masuk ke ruangan Alisa.


''Assalamualaikum..''


''Waalaikum salam.. Abang udah pulang??'' tanya nya


''Udah.. kmau udah makan?? Abang belum.'' ucapnya sembari menghela nafas lelah.


''Belum. Ayo kalau begitu kita makan! Abang cucu tangan gih!'' titah Alisa.


Emil mengangguk pasrah. Setelah nya mereka makan bersama. Seusai makan Emil yang lelah, langsung saja tepat di bangkar tempat tidur Alisa.


Alisa yang melihat nya terkekeh. ''Capek ya bang.. semoga keringat mu dibayar surga oleh Allah ya bang? Amiiin...'' ucap nya tulus sembari mengecup kening Emil.


Emil yang terganggu pun menggeliat sedikit. ''Tidurlah! aku tak akan mengganggu Abang! aku mau sholat Maghrib dulu.'' imbuhnya seraya bangkit dan menuju kamar mandi untuk berwudhu.


Setelah nya ia sholat sampai waktu isya ia belum juga bangkit dari sajadah nya. Tian yang ingin masuk tidak jadi.


Lantaran melihat ada seseorang di bangkar tidur Alisa. Tian menebak jika itu adalah suami Alisa.


Maka ia hanya bisa melihat dari celah pintu saja.


Keesokan harinya.


Hari ini Alisa sudah di perbolehkan pulang, karena keadaannya sudah membaik. Saat Alisa ingin pulang, Tian masuk dan bertegur sapa dengan Emil.


Emil tidak merasa curiga dengan Tian, karena Tian memakai seragam perawat. Emil pikir hanya sekedar perawat biasa.


''Bang Emil, boleh saya bicara dengan Alisa??''


Emil menoleh. ''Masalah apa??''

__ADS_1


''Tidak ada, hanya masalah saya ingin mengatakan, jika saya siap untuk pindah agama. Bisakah kamu membantu ku Alisa??'' tanya Emil dengan penuh harap.


Alisa menatap Emil. Emil tertegun mendengar perkataan pemuda itu.


Alisa menunduk. ''Maaf Tian,-''


''Boleh, besok datanglah kerumah untuk membicarakan hal ini! kamu simpan nomor saya, besok kamu hubungi dan akan saya tuntun untuk sampai kerumah saya.'' ucap Emil seraya tersenyum tipis.


Alisa mengucap hamdalah dalam hati. Ia pikir, jika Emil akan marah tadinya. Ternyata tidak.


''Terimakasih bang! kalau begitu saya permisi!'' imbuhnya, kemudian berlalu meninggalkan Alisa dan Emil yang terdiam tanpa kata.


''Bang...'' tegur Alisa.


''Eh?? ayo kita pulang! kamu harus banyak istirahat.'' imbuhnya, kemudian mengambil tas Alisa dan menggamitnya ke bahu.


Kemudian membawa Alisa dengan memegangi kedua bahunya dan mereka berjalan bersisian hingga ke luar dari Puskesmas.


Tiba di luar, Emil menyetop angkot yang ternyata orang yang ia kenal. Dan mereka pulang dengan diantar oleh angkot teman Emil.


Sesampainya disana, Alisa masuk. Didalam telah ada kak Rita, ibu mertua, ayah mertua serta kak Kania.


Alisa di sambut dengan suka cita oleh keluarga Emil. Walaupun ibu mertuanya terkesan masih ketus terhadapnya, tapi Alisa tidak mempermasalahkan itu.


Yang penting tidak timbul keributan seperti dulu, itu saja sudah cukup untuk Alisa.


Malam hari.


''Dek.. Abang pulang ke rumah ayah ya?? Sebagai mana janji Abang ketika dirumah sakit, selama sebulan ini Abang tidak akan tinggal disini. Kamu hati-hati! pintu dikunci dari dalam. Abang bawa serap nya. Kamu langsung istirahat aja ya? Abang pergi!'' ucap Emil.


Membuat Alisa murung. Emil tau itu. Sebenarnya berat meninggalkan Alisa disana seorang diri, tapi apalah daya jika ia sudah berjanji kepada kak Rita maka harus di tepati nya.


''Ya,'' sahut Alisa begitu pelan.


Setelah Emil pergi, Alisa masuk kamar dan tidur membelakangi pintu. Bahunya bergetar, ia kesepian dirumah seorang diri.


Tanpa Emil ia sepi. Belum lagi tidak ada satu pun yang di kenal nya di kontrakan itu. Membuat Alisa terisak pilu.


Perjalanan cinta baru seharusnya bahagia, malah menjadi nestapa untuk dirinya karena peraturan yang di buat oleh Rita.


Sedangkan Emil tidak beranjak sedikit pun dari kontrakan itu. Hati nya merasa tercubit, saat ia mendengar Alisa terisak seorang diri tanpa dirinya.

__ADS_1


''Masuklah!''


''Eh??'' kejut Emil. Ia mengusap air bening yang mengalir di sudut matanya.


''Masuklah! Alisa membutuhkan mu! Kakak memang sengaja mengatakan hal itu pada mu. Bagaimana? apakah kau sudah merasakannya??'' tanya Rita.


Sejak dari kepulangan Alisa ia terus saja menatap adik dan adik iparnya itu. Mereka berdua sangat bahagia.


Tidak tega rasanya untuk di pisahkan. Tapi ini memang harus ia lakukan. Agar Emil tidak berulah lagi.


Maka dari itu ia sengaja mengatakan nya sekali lagi tadi saat ia akan pulang. Namun hati kecilnya tidak tega melihat Alisa wajah ya yang berubah menjadi sendu.


''Ya, aku sudah merasakannya.. sangat sakit mendengar orang yang kita sayangi menangis seorang diri tanpa ada yang menemani.'' lirih Emil dengan suara tercekat.


''Maka dari itu, sengaja kakak mengatakan jika kau harus tidur terpisah dari istri mu! sekarang kamu pahamkan rasanya seperti apa??'' tanya Rita lagi untuk memastikan.


Emil mengangguk. ''Masuklah! dan jangan buat ulah lagi! kakak akan terus memantau kamu Emil. Jika sampai kau berulah lagi, jangan salah kan kakak jika Alisa kakak kembalikan kepada keluarga nya.'' tegas Rita.


''Kaka pulang!'' ucap Rita, kemudian ia berlalu meninggalkan Emil yang masih memandangi dirinya dalam pekat nya malam.


Setelah Rita tidak kelihatan lagi, Emil membuka pintu dengan kunci serep. Ia masuk kedalam dan mengunci pintu.


Setelahnya ia mencuci kaki dan masuk ke kamar yang ternyata tidak di kunci oleh Alisa. Saat masuk kesana, masih terlihat jika tubuh Alisa masih sesegukan dengan mata terpejam.


Emil mendekati Alisa dan tidur di sebelah nya. Emil memeluk Alisa dari belakang.


Hangat, itulah yang Alisa rasakan. Ia merasa jika Emil sedang memeluk nya di dalam mimpi.


Alisa tersenyum dalam tidurnya. Emil pun ikut tertidur karena memang hari itu adalah hari yang melelahkan untuk mereka berdua.


Perjalanan cinta babak baru akan segera di mulai, semoga tidak ada nestapa lagi di dalam nya.


Semoga saja.


💕


Othor ubah jam updatenya ya! jika siang othor sibuk ngurusin rumah tangga 😄😄


Jangan bosan sama cerita recehan othor ini i ya!


TBC

__ADS_1


__ADS_2