
Seminggu berlalu.
Hari ini adalah dimana hari pernikahan Alisa dan juga Emil. Sejak perdebatan di malam itu, kini Alisa mulai menjaga jarak dengan kedua orang tuanya.
Ia tidak ingin menyakiti hati kedua orang tua itu. Hatinya sangat sedih, saat dimana ia selalu terbangun di tengah malam, Mama Alina dan papa Yoga menangis di dalam sujud nya.
Alisa selalu sesak saat melihat kedua mata orang tuanya terlihat sembab. Ingin rasanya berlari memeluk mereka. Tapi ia tidak berani.
Karena batasan yang telah di tetapkan oleh Papa nya, Alisa harus mengikuti itu. Dan tiba pada hari ini, hari sakral untuk dirinya mengucap janji dengan pemuda pilihan hatinya.
Walau Papa Yoga menentang. Tapi ia tetap kekeuh pada pendiriannya. Alisa melamunkan dirinya di dalam cermin.
Terlihat disana, matanya yang sembab dan hidung yang memerah. Tante Irma yang melihat Alisa melamun, ia datang menghampiri dan memeluk keponakan tersayang nya itu.
''Kamu harus kuat sayang! Jangan tunjukkan kepada seluruh orang jika kamu sedang terluka karena Papa mu sendiri! Kamu harus kuat sayang! Buktikan pada mereka, jika kamu bisa menjalani pernikahan ini sebaik mungkin dengan Emil! Kamu dengar sayang?? Ayo.. cuci wajahmu dulu dan kompres mata mu dengan air dingin ini, agar tidak terlihat sembab! pengantin nggak boleh nangis loh.. kan mau nikah??'' goda Tante Irma. Membuat Alisa terkekeh didalam tangis nya.
Alisa menuruti perkataan Tante Irma. Pukul 7.00 Alisa sudah dirias oleh penata rias pengantin.
Acara pernikahan akan segera dimulai pukul 9.10. Karena menurut para tetua, jika melakukan pernikahan harus pada pagi hari. Karena pagi hari melambangkan kesucian dan kemakmuran.
Alisa yang sudah siap di rias, kini segera menggunakan baju kebaya berwarna gold. Dengan rok batik bersulam benang emas.
Kepunyaan Mama Alina. Alisa menatap dirinya setelah dirias. Begitu cantik dan anggun. Semua yang melihatnya merasa takjub.
Mama Alina dan Papa Yoga sibuk dengan menyambut tamu di depan. Mereka berdua tidak sempat melihat seperti apa Alisa sekarang ini.
Karena semenjak semalam, Alisa mengurung diri di kamar nya. Hingga pada subuh hari, barulah pintu kamarnya terbuka.
Pukul 9 lewat sepuluh menit, waktunya untuk ijab qobul. Emil dan pak Daman sudah duduk di depan Pak Yoga.
Sebelum ijab qobul dimulai, terlebih dahulu pembacaan ayat suci Al-Qur'an. Dan kata sambutan dari pakde Tarman selaku keluarga mempelai wanita.
Terakhir kata sambutan dari pak penghulu. Banyak yang disampaikan nya.
"Santai Nak, Emil.. tenang aja.. pengantin nya tidak akan kemana-mana.. nggak akan di gondol kucing, kok. Tarik nafas.. buang nafas.. lalu istighfar! acara akan segera kita mulai! Pak Yoga selaku dari ayah mempelai silahkan berjabat tangan dengan saudara Emil, untuk melakukan ijab qobul. Sudah siap??''
__ADS_1
Mereka berdua mengangguk bersama. Emil sangat gugup saat ini. Di dahinya keluar sebutir keringat dingin. Dan itu tak luput dari tatapan Pak Yoga.
''Wah kompak ya ternyata!!'' goda pak penghulu lagi.
Semua yang disana tertawa mendengar kelakar pak penghulu.
Pak Yoga menjabat tangan Emil, dan mulai mengucapkan kalimat tauhid sebagai pembuka.
''Dengan mengucapkan, bismillahirrahmanirrahim, Asyhaduanla ilaha ilallah Waasyhaduanna muhhammadurrasulullah.. Saudara Milham Syahputra saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya Alisa Febriyanti binti Yoga Sebastian dengan mas kawin perhiasan emas seberat 15gram dibayar tunai!''
''Saya terima nikah dan kawinnya Alisa Febriyanti binti Yoga Sebastian dengan mas kawin perhiasan emas seberat 15 gram dibayar tunai!''
''Bagaimana para saksi?? Sah??''
''Sah!''
''Sah!''
''Alhamdulillah.. Barakallahu'alaikuma wabaroka Alaikuma fi khair..'' pak penghulu menutup ijab qobul itu dengan untuk kedua pengantin.
Emil hanya tersenyum kikuk. Pak Yoga masih saja menatapnya.
Lima menit kemudian, Alisa keluar dari persembunyiannya.
''Masyaallah.. cantiknya mempelai wanita... waaah.. ini akan membuat pengantin pria tidak bisa tidur nih!'' goda pak penghulu lagi.
Alisa berjalan dan duduk di sebelah Emil.
Deg, deg, deg.
Jantung mereka berdua berdetak kencang. Ingin menoleh, tapi tak berani. Karena pak Yoga masih saja menatapnya dengan wajah datar.
''Sekarang istri Nak Emil sudah ada di sebelah nya! Mari silahkan pasang kan mahar yang sudah ditujukan untuk sang istri.'' imbuh pak penghulu.
Emil menoleh, dan matanya terpaku melihat Alisa yang begitu cantik. Alisa yang ditatap seperti itu menunduk. Malu. Itulah yang dirasakan Alisa sekarang.
__ADS_1
''Yah.. lihat tuh, pengantin prianya bengong! Ayo nak Emil, pasangkan maharnya.'' ujar pak penghulu dengan menepuk bahu Emil.
Emil terkejut, ''i-iya..''
Emil memakai kan sebuah kalung berliontin batu merah delima. Kalung itu langsung di pesan nya dari Medan.
Setelah memakaikan kalung itu, Emil mengulurkan tangannya untuk disalami oleh Alisa.
Cup
Alisa mengecup tangan Emil dengan lembut, membuat pria itu bergetar panas dingin.
Hadeuuuhhh.. ini jantung kok begini sih?! Baru di cium doang? Gimana kalau yang lainnya?? Nggak sabar euuuyyy pingin ehm.. ehm.. ya elah serak nih suara ku! ishh.. desis Emil dalam hati.
Aku masih belum bisa percaya padamu anak muda! Aku belum bisa mempercayai mu sepenuh nya! Sebelum kau.. benar-benar bisa menerima putri ku seperti aku menerima kehadiran nya! Sampai saat itu juga aku tidak akan menerima mu sebagai menantu ku! Jika suatu saat aku mendengar kabar burung, bahwa kau telah menyakiti putriku! Maka kupastikan, jangankan untuk menyebut namanya, untuk melihat bayangannya pun tidak ku izinkan! Aku berjanji! Aku seorang ayah! Firasat ku tidak pernah salah! bisik hati Pak Yoga.
Alisa menatap nanar pada Pak Yoga yang juga tengah menatapnya. Pandangan mata yang sendu ketika menatapnya. Alisa tau itu, ia membalasnya dengan tersenyum manis.
Pak Yoga tersentak mendapati Alisa tersenyum manis padanya. Ia tahu, jika waktunya telah tiba untuk Alisa akan pergi.
Air mata pak Yoga menetes tanpa di pinta. Begitu juga dengan Mama Alina.
Putriku.. sekarang kau telah menjadi istri orang.. Mama harap kau bisa menjaga Marwah mu sebagai seorang istri. Hanya doa yang bisa Mama panjatkan agar kehidupan rumah tangga mu dengan Nak Emil bahagia.. dan kalian akan menua bersama. Mama sangat berharap, setelah ini.. kau akan pergi.. tapi tidak pernah lupakan Kami disini kedua orang tuamu yang telah membesarkan mu! Kodrat mu sebagai wanita memang harus dijalankan! Mama ikhlas Nak.. Semoga pernikahan mu mawadah warahmah.. gumam Mama Alina.
Ia menatap sendu pada putrinya disana. Yang sedang menerima ucapan selamat dari para tamu.
''Selamat menempuh hidup baru Alisa...''
Deg!
💕
Hayoo.. siapa itu yang datang??
TBC
__ADS_1