
Sedang asyik-asyiknya mengepel, Alisa terkejut karena mendengar seseorang berbicara kepadanya dengan ketus.
''Kamu ngapain?? heh?! Baru saja datang udah cari muka kamu?! Duduk sana! awas saya mau lewat! ishh.. sok-sokan ngepel segala! padahal dirumah nya ia tidak pernah sama sekali memegang pel an! Apalagi yang kau tunggu?! sana pergi?!!'' sentak nya
Membuat Alisa terjingkat kaget.
''Ta-tapi...''
''Apa?? Ingin ngadu sama Emil?? Iya?? Coba aja kalau berani! akan saya katakan padanya agar segera menceraikan perempuan bermuka dua seperti mu! paras aja yang cantik. Sedang kelakuan, nol besar! Pergi sana!!'' serunya garang.
''Astaghfirullah.. ya Allah..'' lirih Alisa.
Baru pertama kali menginjak kan kaki di rumah mertua, sudah di suguhi dengan sport jantung luar biasa.
Alisa masih berdiri mematung disana. Sedang tersangka, malah ngoceh tidak jelas. Ia masih saja menghina Alisa.
Bahkan menunjuk-nunjuk wajahnya. Alisa hanya bisa diam. Tidak menyahuti sepatah katapun. Ia hanya bisa menunduk.
Menahan perih dihati hingga ketulang. Sedangkan Emil, bingung mencari Alisa.
Sedang yang dicari sedang di ceramahi habis habisan.
''Dasar! perempuan bermuka dua! pelet apa yang kau gunakan hingga adikku menyukai wanita kelas rendahan seperti mu?? hah?! sentaknya lagi.
''Dasar pelacur! sekali pelacur tetap pelacur!!''
Deg.
Alisa memejamkan matanya. Hatinya begitu sakit mendengar tuduhan tak berdasar dari wanita yang tidak ia kenal ini.
Saat ingin memukul Alisa dengan tangannya, seseorang menghardiknya begitu kencang. Hingga seluruh penghuni rumah terkejut.
''Ross!! apa yang kau lakukan?! kau ingin menampar istri Emil?! hah?! Apa salah nya padamu, hingga kau menghinanya begitu kejam! Apakah dia merebut suami mu? hingga kau mengatai dirinya pelacur?? jawab Ross!!'' sentak seseorang itu.
__ADS_1
Yang Alisa tau, jika beliau adalah ayah mertua nya.
''Ross!!'' Sentaknya lagi.
Sedang tersangka terdiam. Tidak berani menjawab ataupun membela diri.
''Ross??'' beo Alisa pada dirinya sendiri.
''Jawab Ross!! tega-teganya kau menghina orang yang baru saja membersihkan rumah ini dengan suka rela. Tanpa di perintah ia mengerjakan sendiri. Sedang kau! kau malah sibuk bercerita diluar! tak tahu kau membersihkan rumah! hingga istri Emil lah yang membersihkan nya! tega sekali kau Ross! salah apa dia padamu! Jawab Ross!!!'' pekiknya begitu lantang.
Hingga seluruh keluarga berdatangan menghampiri Alisa. Alisa hanya bisa diam. Ia tidak tau harus berbicara apa.
Melihat ada keributan di dapur, Mama mertua Alisa datang.
''Ada apa ini?? Ada apa Yah??'' tanya nya pada sang suami.
''Tanyakan pada keponakan tersayang mu itu!! Hah! tega-teganya dia menghina Alisa menantu kita! dengan tuduhan yang tak berdasar! sungguh aku kecewa dengannya! Apa yang harus aku katakan nantinya pada kedua orang tuanya di akhirat? Jika aku telah gagal mendidik putrinya?? Inikah didikan yang kau berikan selama ini padanya?? heh?!'' cecar ayah mertua Alisa yang bernama Bram itu.
Sedangkan Mama mertua Alisa terdiam tidak berani mengatakan sepatah kata pun. Jika salah menjawab, maka dirinyalah yang akan menjadi sasaran kemarahan suami nya.
''Dek.. kamu ngapain?? Ini ada apa?? Kok pada ngumpul disini??'' tanya dengan raut wajah bingung.
''Ayah.. ada apa ini?? Kenapa Alisa memegang pel an seperti itu?? Siapa yang menyuruhnya??'' tanya Emil lagi.
Melihat seluruh keluarga terdiam, Alisa angkat bicara.
''Maaf Bang.. tadi aku hanya berniat membersihkan rumah ini saja.. tidak lebih.. tidak ada yang menyuruh ku.. ini inisiatif ku sendiri.. karena melihat rumah yang begitu berserakan. Mama pernah bilang, kebersihan itu sebagian dari Iman. Dan jika kita melihat dirumah seseorang banyak piring kotor, sampah yang menumpuk, jangan hanya melihatnya saja.. tapi bersihkanlah! Karena sekecil apapun pekerjaan rumah itu bagi seorang istri itu adalah pahala..'' lirih Alisa begitu pelan.
Emil yang mendengarnya terkekeh. Sedangkan Ayah mertua tersenyum. Sedangkan yang lain menunduk.
''Kau lihat Ross?? Istri Emil begitu bijak! bagaimana kau menuduhnya dengan kasta rendahan?? Pelacur pula! Sungguh aku malu memiliki keponakan seperti mu! Baru satu hari disini menantuku, tapi kau sudah menunjukkan sisi sombong mu padanya. Jangan terlalu sombong Ross.. diatas langit masih ada langit! Alisa.. sekarang kamu masuk dan istirahat. Biarkan semua pekerjaan ini Kakak mu yang akan mengerjakannya. Rita! Lakukan!!'' titahnya.
''Ayo Dek.. kita istirahat! kamu pasti capek kan??''
__ADS_1
Alisa mengangguk, ia berjalan dengan menundukkan kepalanya. Tidak mau melihat Seseorang disana yang begitu sinis memandang nya.
''Pergi Ross!'' titah Ayah Bram.
Ross berlalu meninggalkan dapur dengan melewati Alisa ia berdecih.
''Kakak!! jaga mulut mu itu! jika tidak ingin ku robek! Bang Awal bawa istri mu pulang!'' titah Emil.
Awal mengangguk. ''Ayo Dek.. kamu bikin malu saja!'' gerutunya
Alisa menunduk. ''Maaf...''
Emil tersenyum dan mengusap kepalanya yang tertutup hijab.
''Tidak apa-apa.. maafkan kesalahan Kakak sepupu ku tadi ya?? Dia memang seperti itu orangnya! jangan diambil hati perkataan nya! ayo kita masuk..'' ajaknya.
Alisa mengangguk dan menurut. Ia mengikuti Emil masuk kedalam kamar pemuda itu.
Bagimu mungkin iya Bang.. tapi aku tidak! sekali aku merasakan sakit maka selama nya akan terus teringat.
Kau bisa saja mengatakan jika mulutnya memang seperti itu. Tapi itu salah Bang! Karena kalian selalu terbiasa membiarkan nya maka nya dia bisa seperti itu.
Lidah tak bertulang! Lebih tajam mulut dari pada pisau. Bisik Alisa di dalam hati.
Hari pertama dirumah mertua sudah di suguhi dengan ucapan pedas. Hidangan pembuka melongo.
Sedangkan hidangan penutup, begitu pedas. Saking pedasnya hingga merasuk ke relung hati.
💕
Mampukah Alisa melewatinya??
Nantikan saja kelanjutannya!
__ADS_1
TBC