
Emil menarik paksa tangan Lana. Alisa yang setengah sadar merasakan jika Lana tertarik dari tubuhnya secara paksa memaksa membuka matanya.
Matanya melotot saat melihat Emil mencekik leher Lana. Wajah Lana merah padam. Alisa membulat kan matanya.
Lana terbatuk-batuk dengan wajah memerah. Sedang Emil semakin kuat mencekik putra semata wayang nya itu.
Seseorang berdiri diluar mereka mematung. Ia tidak bisa berbicara apapun. Lidahnya terasa Kelu walau hanya untuk memanggil Alisa saja.
Sedangkan Alisa, melihat Lana semakin kuat di cekik oleh Emil, entah kekuatan darimana ia bangkit dan memukul belakang Emil dengan gagang sapu begitu kuat.
Puk.
Puk.
''Hentikan!!!! kau bisa membunuhnya!'' pekik Alisa.
Ira terkejut. Ia berlari keluar. Tiba di depan pintu ia mematung. Ia melihat Lana dengan kaki menggantung sedang lehernya sedang di cekik oleh Emil dengan kuat.
Lana tidak bisa berbuat apapun, selain kedua tangan kecilnya memegang tangan Emil dengan lemah.
Ia meneteskan air matanya saat merasakan jika ini adalah akhir dari hidupnya. Semakin kuat Emil mencekik semakin kuat Alisa memukul tubuhnya.
Geram, Emil tidak mau melepaskan. Alisa berlatih mengambil sebuah kayu lumayan besar untuk memukul Emil agar cekalan itu terlepas dari tangan kasarnya.
Lana semakin lemah, pergerakan tangan nya semakin mengendur dari tangan Emil. Melihat itu Emil menyeringai puas.
Namun...
Bugghhh..
Plaakk..
Buggh..
Bugghh...
''Lepaskan putraku! Kau ingin membunuhnya hah?! Baik! aku juga akan membunuh mu!!!'' pekik Alisa.
Bugghh..
Bugghh..
Terakhir, Buggh...
Cekalan tangan Emil terlepas dari leher Lana, karena Alisa memukul bagian tengkuknya lumayan kuat.
__ADS_1
Brruukkk..
Lana terjatuh dilantai dengan mata terpejam. Alisa yang melihatnya segera berlari mendekati Lana.
Emil jatuh terduduk karena tidak tahan dengan sakit yang melanda tengkuknya. Ia jatuh terduduk dan bersandar di tepian lemari tivi.
''Tidaaaaaakkkkk... abaaaaangg...''
Deg!
Deg!
''Lana!!! Bangun Nak!! Bangun! Jangan tinggalin Mak!!!'' Pekik Alisa
Ia memangku kepala Lana dan mulai menyadarkan nya. Ia merasai nafas Lana, tak ada.
Alisa mendekatkan telinganya nya ke dada Lana, tetap sama. Alisa mulia panik. Melihat itu Ira bergegas mendekati Lana.
''Hiks.. Lana! Mak!! pegang adek! Biar kakak yang bangunkan!'' seru Ira.
Ia juga panik melihat Lana terdiam dengan bibir memucat. Dengan cepat Ira memompa jantung nya.
Kemudian ia berikan nafas buatan di mulut Lana. Air mata terus bercucuran saat itu juga. Rasa asin yang menderita mulutnya tak ia pedulikan. Takut, jika apa yang ia pikirkan benar adanya.
''Hiks.. bangun Dek! Jangan tinggalin Kakak! Bangun! Kamu kuat! Hiks .. kamu janji bakalan jaga kami bertiga kan? Sekarang buktikan! Bangun dek! Bangun!!'' seru Ira dengan terus berusaha memompa dada Lana.
Ia berusaha mendekati Alisa dan Ira yang sedang membuat Lana sadar. Melihat pergerakan Emil, Ira dan Alisa menoleh.
Deg!
Jantung Emil bagai tertusuk duri ketika melihat tatapan kedua mata orang yang begitu ia sayangi menatapnya dengan tatapan membunuh.
Mata itu begitu kecewa kepadanya. Namun tersirat akan kebencian. Tidak dengan Alisa. Ia menatap sendu pada Emil.
Tangannya terus menimang Annisa yang juga ikut menangis sedari tadi. Lagi, Emil mendekati Alisa.
''Berhenti disana! Jangan mendekat! Gara-gara Ayah, adikku begini! Menjauh! Atau aku yang akan mencekik Ayah nantinya!'' seru Ira begitu dingin kepada Emil.
Emil tersentak. Ia berhenti di tempat. Matanya nanar melihat putra semata wayangnya sudah lemah tak berdaya.
''Bangun Dek! Kakak janji, jika kamu bangun, maka hari ini ini juga kita pergi dari rumah ini! Kita tinggalkan neraka ini! Kakak mohon.. bangun Dek! Jika bukan untukku maka lakukan untuk Mak dan adek Annisa. Tidakkah kamu dengar jika mereka berdua menangisi mu?! Bangun Lana! Bangun Maulana Akbar!!!!!'' pekik Ira begitu kuat.
Uhuuukk..
Uhhuukk..
__ADS_1
Uhhuukk..
Lana terbatuk-batuk ketika Ira terus memompa dada nya dan juga memberinya nafas buatan berulang kali.
''Bangun Dek! Ini perintah dari kakak untukmu! Setelah ini, kita akan pergi dari sini! tunggu sampai kondisi mu baik dan pulih! Bangun Maulana Akbar!!'' seru Ira lagi.
Lana semakin terbatuk-batuk hingga menyemburkan air ludah. Ira yang melihat itu langsung saja memeluknya.
Ia menangis sesegukan sambil memeluk Lana. Begitu juga dengan Alisa. Ia juga terharu, ternyata putra semata wayangnya masih diberikan kesempatan hidup.
''Alhamdulillah.. terimakasih ya Allah..'' lirih Alisa sembari membawa Annisa masuk ke dalam kamar mereka. Karena bayi itu terus saja merengek.
Ira bangkit dan berlari ke dapur untuk mengambil minum. Ia berjalan tergopoh-gopoh saking buru-buru nya ingin memberikan minum untuk Lana.
Sedangkan Lana masih terbatuk-batuk disana. Emil menatap datar pada putra semata wayang nya itu.
''Uhukk.. uhukk.. air... uhukk.. uhukk..'' pinta Lana masih dengan terbatuk-batuk.
''ini Dek! Minum dulu!'' Ira menyerahkan air ke mulut Lana.
Dengan segera ia menenggak minuman itu. Setelah minum ia menoleh pada Emil dengan tatapan datar nya.
''Bawa Abang masuk kak..'' pinta Lana masih dengan melihat Emil.
''Ya, ayo! Kakak temani adek bobok ya?'' Lana mengangguk patuh.
Dengan segera ia membawa Lana menuju ke kamar mereka. Tiba disana. ''Jaga Mak kak! Jangan sampai Ayah melukai Mak kita. Cukup Abang saja. Pergilah! Selalu kawal Mak jika Mak sedang berbicara dengan Ayah.'' pinta Lana dengan wajah sendu nya.
''Ya, kakak akan segera keluar untuk menemani Mak kita. Kamu bobok aja. Besok kita pergi dari sini!''
''Ya,'' sahut Lana dengan segera merebahkan tubuhnya dan memejamkan kedua matanya.
Ira keluar setelah memastikan Lana tidur. Saat ia tiba disana, terlihat Emil masih duduk bersandar dengan wajah meringis menahan sakit.
''Pergilah Yah! Pulang ke rumah Mak Ayah! Bukan maksudku mengusir Ayah! Untuk sekarang, lebih baik Ayah pulang dulu! Besok kembali lagi kesini untuk memutuskan, apa yang ingin Ayah putuskan! Lagipun aku sudah tau apa yang ingin Ayah sampaikan!'' seru Ira begitu dingin.
Emil menatap datar pada putri sulungnya ini. Dengan segera ia bangkit dan meninggalkan rumah itu.
Sebelum pergi ia menatap Ira dengan wajah sendunya. Tapi dibalas Ira dengan tatapan dingin nya.
Ira tak ingin melihat lagi wajah Ayah nya. Dengan cepat ia menutup pintu rumahnya dan menguncinya.
Luruhlah sudah pertahanan nya. Ia duduk dilantai dengan terus menangis. ''Hiks.. Ayah tega! Ayah tega menyiksa adikku! Apa salah nya? Ia hanya ingin melindungi Mak kami! Tega Ayah! Hiks.. sakit sekali hatiku! Jika aku tak takut dosa, pastilah aku juga akan memukul Ayah! Aku menyayangi Ayah, tapi Ayah membenci kami karena terlahir dari Mak Alisa! Apa salahnya jika kami terlahir dari Mak Alisa? Hiks .. Ayah kejam! Hiks.. hiks..''
Tiga orang itu menangis tersedu di belakang pintu masing-masing. Menangisi nasib mereka yang tidak beruntung memiliki Ayah dan juga Mak mau memiliki suami seperti Ayah Emil.
__ADS_1
💕💕
TBC