
Malam itu juga seluruh keluarga Alisa dihubungi dan mereka melakukan rapat mendadak saat itu juga.
Alisa yang merasa dirinya akan dalam masalah hanya terdiam tanpa kata. Bibirnya terasa Kelu untuk menjawab satu patah kata dari keluarga besarnya.
Emil merasa gelisah diluar sana. Ia menjadi gundah gulana.. risau tak ketentuan. Ia masih menerka nerka apa yang terjadi didalam sana. Pak Oman yang melihat Emil gelisah, menepuk bahunya supaya Emil tenang. Demikian juga dengan pak Daman, ia juga resah apakah lamarannya diterima atau ditolak.
Jika ditolak maka malulah yang ia dapatkan. Dan kalau pun diterima maka hubungan itu pun akan berlanjut ke tahap yang lebih serius.
Sesaat kemudian mereka, keluarga besar Alisa keluar. Sempat mereka memandang Emil dengan tatapan yang entah tak tau seperti apa. Emil yang ditatap gugup, ia jadi gelisah. Apakah akan berakhir dengan bahagia atau... hah Emil menarik nafasnya terasa berat.
Para tetua dari keluarga Alisa membuka suara dan mulai berbicara. Sedangkan Pak Yoga hanya diam karena keputusan sudah diserahkan kan kepada tetua di dalam keluarga nya.
''Ehm.. baiklah seperti diawal tadi bahwa adik saya Yoga mengatakan bahwa putri kami Alisa sudah ada yang melamar, begitu kan ya??''
Mereka semua yang ada disana mengangguk, termasuk Emil dan pak Daman. Emil berwajah pucat pasi. Ia sangat takut akan ditolak.
''Santai atuh tong.. kagak usah tegang begitu... santai aja kita mah orangnya nggak gigit kok..''
Paman Alisa sengaja menggoda Emil, karena melihat pemuda itu wajahnya sudah pucat pasi seperti mayat hidup. Semua yang ada disana tertawa tapi tidak dengan Emil, wajahnya datar saja. Demikian juga dengan pak Yoga, wajahnya datar tanpa ekspresi.
''Baiklah Karna waktu semakin malam, lebih baik kita selesaikan segera permasalahan ini. Baik, saya perwakilan dari keluarga Yoga ingin menyampaikan bahwa kami sekeluarga menerima pinangan dari saudara Emil, kami sekeluarga menerima dengan lapang dada dan kami pun sudah bertanya kepada putri kami dan dia hanya diam, pertanda ia mau dengan nak Emil. Jadi untuk itu sebagai tanda kami sudah menerima lamaran ini, bagaimana kalau kita langsung saja mengikat mereka berdua dengan ikatan pertunangan, yang menandakan bahwa putri kami sudah memikirkan seorang pria yang sudah mengkhitbah nya. Bagaimana saudara Emil kamu bersedia??''
__ADS_1
Emil menatap Paman Alisa, iaenarik nafasnya dalam-dalam sebelum berbicara.
''Ya saya bersedia, saya bersedia mengikat Alisa dalam ikatan pertunangan sebagai tanda bahwa Alisa sudah menjadi milik saya walaupun kami belum sahenjadi suami istri, saya akan menunggu Alisa sampai tamat sekolah. Setelah tamat berulah nanti kita bahas kembali kelanjutan dari hubungan ini.'' calonya lugas.
Paman Alisa tersenyum, tapi tidak dengan pak Yoga ia hanya menatap datar pada mereka semua.
Emil dengan sigap mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna biru dan menyerahkan nya pada Paman Alisa yang diterima oleh nya dengan tersenyum lembut.
''Baiklah, saya sudah mendapatkan sesuatu dari nak Emil untuk mengikat putri kami, kira kira apa ya isinya?? Saya buka ya..??''
Mereka disana tertawa mendengar lelucon aman Alisa. Bukan apa , sengaja beliau membuat lelucon itu karena melihat situasi yang begitu tegang, belum lagi yoga adiknya, saat ia menoleh yang terlihat hanya wajah datar tanpa ekspresi, Paman Alisa menarik nafasnya.
''Bismillahirrahmanirrahim.. dan ternyata sebuah cincin seberat tiga gram dua Mili lengkap beserta suratnya, wah.. nak Emil ini berniat sekali ya untuk Minang putri kami?? Baiklah, saya akan berikan ini kepada kedua orang tuanya agar segera dipasangkan. Alina, ini cincinnya! pakai kan segera pada Alisa.''
Deg!
Jantung Alisa berdebar kencang melihat tatapan papanya yang begitu menghujam ke jantung. Alisa menunduk ia tak berani menatap papanya lagi.
Mama Alina yang melihat keadaan semakin tidak nyaman lagi, ia segera memakai kan cicncinitu dijari manis Alisa sebelah kanan. Pertanda jika Alisa sekarang sudah terikat dan memiliki hubungan nya Emil.
''Waahh.. cincinnya sangat pas dijari Alisa! Kayaknya nak Emil sudah mengetahui semuanya tentang Alisa luar dan dalam ya..??'' selorohnya lagi.
__ADS_1
Pak yoga melotot mendengar ucapan kakaknya itu.
''Mulai sekarang, Alisa sudah resmi menjadi calon istri Emil. Untuk kelanjutan hubungan ini, seperti yang sudah dikatakan nak Emil, kita lihat nanti setelah Alisa tamat sekolah. Akan seperti apa lanjutannya nanti karena Alisa saat ini sekolahnya hanya tinggal empat bulan lagi, jadi nak Emil harus bersabar ya..??''
Emil mengangguk setuju
Setelah semuanya usai, cincin sudah , cakap cakap dengan mempelai pria juga sudah, sekarang saatnya membubarkan semua orang disana. Emil sangat bahagia karena lamaran nya diterima oleh keluarga Alisa.
Tapi tidak dengan Alisa, setelah ini ia akan disidang oleh papanya habis habisan.
****
Pak Oman dan pak Daman mengucapkan selamat kepada Emil, dan dibalas dengan senang hati oleh Emil.
Waktu sudah menunjukkan hampir jam sepuluh malam, Emil serta pak Daman ijin untuk pulang nggak baik terlalu lama bertamu sampai malam. Emil bangkit dari duduknya dan pamit pada seluruh keluarga besar Alisa. Ia menyalami seluruh keluarganya tapi tidak dengan Alisa, karena satpam disebelah nya menatap nya nyalang seperti ingin mengulitinya sampai habis.
Emil salah tingkah, kemudian pergi meninggalkan Meraka yang menatapnya yang entah tak tau tatapan seperti apa.
Setelah mereka pulang, kini giliran Alisa yang akan disidang oleh Papa nya.
Mampukah Alisa melawan Papa nya untuk tidak menolak Emil?? Atau hubungan mereka cukup sampai disitu saja??
__ADS_1
Nantikan lanjutannya..
See you...