
''Setelah kau pulang dari sini, kalian berdua akan berpisah!'' ucap Rita tanapeliaht kedua adiknya terkejut.
''Apa?!'' kejut Alisa.
''Kenapa kau terkejut seperti itu?? Semua ini di kebaikan mu! Jadi untuk sementara kau harus menjauh dari suami sialan itu! Tidak sadarkah kau? Jika penyebab kau masuk rumah sakit adalah dirinya??''
Alisa menunduk. ''Tapi kak.. aku mau bang Emil selalu ada bersama ku.. aku tidak bisa tidur jika tidak mencium bau tubuhnya...'' lirih Alisa begitu pelan.
Rita terkekeh sumbang. ''Kau lihat adik sialan?! Bahkan ketika tidur pun dia ingin bau tubuh mu! lantas mengapa kau mendorong nya demi gundik mu itu?!'' sewot Rita.
Emil hanya bisa terdiam tanpa bisa harus berkata apa. Memang benar selama sebulan ini, Alisa selalu tidur dengan mencium bau tubuhnya terlebih dahulu baru sesudahnya ia terlelap.
Kadang memikirkan itu Emil terkekeh. Ada apa pikirnya dengan istri nya itu. Tidaklah ia tahu, jika istrinya itu sedang hamil pada saat itu.
''Kenapa?? Kenapa kau terkekeh?! Kau senang? Karena istrimu sekarang dirumah sakit?! Itukah yang kau mau bersama gundik mu itu?!'' Ketus Rita lagi.
Membuat Emil berhenti untuk terkekeh. Wajahnya menjadi datar kembali seperti tadi.
''Kak... sudah... aku tidak apa-apa.. kakak duduk aja ya??'' bujuk Alisa, tidak tega juga melihat suami nya yang terus menerus disalahkan.
''Jangan membela nya Alisa! kau tentu tau, seperti apa kelakuan bejat suami mu itu?! Dengan teganya bermain api di belakang mu! Aku heran dengan mu Lis! kenapa sih? kau masih bertahan dengan lelaki brengsek ini?? Apa kelebihan nya! Hingga kau begitu rela disakiti oleh nya!'' Ketus Rita lagi.
''Apapun keadaan nya.. dia tetaplah suami ku kak.. dia imam ku.. dialah yang akan membimbing aku dan anak-anak ku nantinya menuju surga Nya.. Aku tau ia punya masa lalu yang kelam.. tapi... bukankah, manusia bisa berubah kak? Seiring waktu? Ya.. walaupun ku tau.. Abang selalu saja menyakiti ku luar dan dalam.. Aku ikhlas kak! Walaupun aku harus mati di tangan nya sekalupun! Aku ikhlas.. karena itu adalah takdir ku...'' lirih Alisa dengan bibir bergetar dan begitu lirih ditelinga Rita.
Sedangkan Emil terkejut dengan ucapan Alisa.
Apa maksudnya semua itu?? Apakah ia tidak salah dengar?? Inikah istrinya yang selalu ia tinggalkan demi kesenangan nya??
''Maaf...'' lirih Emil.
Rita menoleh. ''Kakak pulang! besok kakak kembali lagi kesini! untuk membawa sarapan untukmu! Kalau kamu ingin sesuatu, bilang saja pada Abang ipar mu! Nanti dia akan menyampaikan nya kepada kakak! Kaka pulang! jaga diri baik-baik! Temani istrimu! jangan sibuk berbalas pesan dengan gundik mu itu?! Satu kata sayang yang kau ucapkan untuk gundikmu itu, maka.. sepuluh pintu neraka terbuka untuk menunggu dirimu yang akan segera dibakar!!'' tegas Rita.
Setelah nya ia berlalu, meninggalkan Emil yang terpaku dengan ucapan Rita baru saja. Setelah nya ia menatap Alisa yang juga kini sedang menatap nya dengan tersenyum lemah.
''Abang sini... aku mau peluk Abang.. '' lirih Alisa.
Emil menggelengkan kepalanya. ''Nggak.. Abang disini saja.. kamu tidurlah!'' titah nya.
Namun ia tetap tidak bergerak dari tempat duduk nya itu.
Alisa kecewa. ''Hoo.. ya udah.. aku duluan tidurnya bang..'' ucapnya lagi.
__ADS_1
Emil mengangguk. ''Ya.. tidurlah!'' sahutnya.
Setelah nya Alisa membelakangi Emil yang masih memandangi tubuh belakang nya.
Buliran bening mengalir di sudut pipinya. Padahal kan.. aku mau cium bau tubuhnya.. gumamnya dalam hati.
Setelah nya ia pun terlelap. Tanpa sadar Emil mendekati bangkar itu dan menaiki nya. Emil tidur dengan memeluk Alisa begitu erat.
Alisa merasa di peluk Emil di dalam mimpi, ia tersenyum. Ia semakin erat memeluk lengan Emil.
Dan mencium bau lengannya. Alisa terlelap begitu damai. Sedangkan Emil terisak di balik ceruk leher Alisa.
Maafkan Abang dek.. Abang memang tidak pantas untuk menjadi suami mu.. semoga kelak, kau mendapatkan pengganti yang lebih baik dari Abang ...
Abang berdoa.. agar kau dan anak kita selalu dalam keadaan sehat.
Abang memang seperti ini keadaannya. Tapi demi Abang. Kau rela disakiti oleh ku.. Maafkan Abang Alisa..
Abang sangat, sangat menyayangi mu..
Abang butuh waktu untuk bisa menghilangkan kegiatan ini.. berulang kali Abang coba.. tapi tetap saja kembali lagi seperti semula.
Semoga anak kita nantinya akan tumbuh secantik dan sebaik dirimu sayang.. maafkan Abang yang penuh dengan dosa ini..
Maafkan Abang...
Andai semua ini bisa ku putar, pastinya aku tidak ingin melukai buah hatiku sendiri.. tapi waktu itu...
Maafkan Abang Dek.. karena kesalahan Abang, kau yang menjadi imbasnya. Abang tak bermaksud demikian..
Sekali lagi.. maafkan Abang Dek...
Maafkan Abang.. lebih baik kita berpisah sementara untuk Abang bisa menata kembali rumah tangga kita..
Lirih Emil di dalam hati. Ia semakin terisak hingga terlelap karena damai memncium bau harum tubuh Alisa.
Obat penenang baginya ialah bau harum tubuh Alisa yang selalu hatimu bau mawar. Entah sejak kapan ia menyukai mawar, tapi sejak kehamilan nya ini, Alisa merasakan jika itu sangat ia butuhkan untuk relaksasi di tubuhnya.
Mereka berdua terlelap hingga pagi. Emil bangun duluan, karena mendengar suara ribut orang ngomong yang lagi menyapu lantai Puskesmas.
''Sudah pagi...'' lirih Emil sembari mendongak dan mengambil ponsel nya diatas nakas kecil yang ada di ruangan itu.
__ADS_1
''Sudah jam enam. Aku harus bangun sebelum Alisa bangun.'' imbuhnya.
Setelah nya ia berusaha bangkit dan duduk sebentar. Kemudian ia berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai, ia mendekati Alisa yang juga sudah bangun.
''Udah bangun??'' tanya Emil.
''Udah.. bang.. pingin makan lontong pecal.. sama es tebu...'' lirih Alisa begitu pelan.
Ia menggigit bibirnya, takut Emil akan menolak.
''Ada yang lain??''
''Eh??'' Alisa mendongak menatap Emil. Ia mengerjabkan mata nya.
''Dek..''
''Hah? Ya! Sayur gulai daun ubi campur melinjo sama kerupuk melinjo, lauknya ikan tongkol sambal. Itu yang sering dikasi kak Rita...'' lirihnya lagi.
''Oke! Nanti Abang sampaikan! sekarang Abang beli sarapan dulu ya?''
Dan dipanggil oleh Alisa. Setelahnya ia berlalu dan meninggalkan Alisa seorang diri disana.
Sepuluh menit kemudian, Emil kembali dan membawa pesanan Alisa. Beruntungnya Alisa jika apa yang di pesanannya ada di depan Puskesmas itu.
Jadi, tidak repot-repot untuk kasi tau Rita tentang apa yang di inginkan nya.
''Makanlah! semua pesanan mu sudah ada! Tidak usah menyuruh kak Rita lagi. Semua yang kau mau ada di depan. Satu yang tidak ada..''
''Air tebu??'' tebak Alisa.
''Apa?! kau ingin membelikan Alisa air tebu?? Jangan! Alisa baru saja mengalami pendarahan! Nanti saja setelah sehat!'' ucap Rita sembari melangkah kan kakinya masuk ke dalam ruangan Alisa.
Mereka berdua menoleh. ''Kak Rita!'' kejut Emil.
''Loh, loh, kamu beli sarapan??''
''Ya! karena Alisa yang menginginkan nya!''
💕
__ADS_1
Ada yang gedek nggak, bila ada seseorang selalu jutek seperti itu kepada kita??
TBC